Kembar Genius Kesayangan Bos Mafia Kejam
Berhijrah menjadi hal yang langsung Cinta lakukan setelah dirinya keluar dari penjara. Di usianya yang sudah menginjak 34 tahun, Cinta dengan segala kekurangannya, memilih bekerja sekaligus mengabdi di sebuah pondok pesantren.
“Masyaallah ... hari ini banyak banget yang dibereskan. Semangat-semangat!” ucap Cinta sembari memboyong alat pelnya. Ia baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya. Area teras depan pondok akhirnya ia pel tuntas.
Siang menjelang sore, semuanya terasa baik-baik saja meski Cinta merasa jauh lebih lelah dari biasanya. Malahan, tak ada hambatan berarti bagi Cinta yang tak sengaja mengawasi interaksi manis keluarga kecil pak Helios dan ibu Chole. Pasutri dan baru ia ketahui merupakan pimpinan sekaligus pemilik pesantren dirinya bernaung itu masih di depan rumah sebelah pesantren. Rumah paling megah di desa tempatnya menetap, yang ternyata juga masih rumah pak Helios dan ibu Chole.
Pak Helios dan ibu Chole tampak sangat bahagia mengawasi bocah perempuan bergamis merah muda yang begitu menggemaskan. Bocah perempuan bernama Calista itu tengah mondar-mandir, hingga menghasilkan suara terbilang berisik. Sepatu bulu berwarna pink di kedua kaki Calista selalu bunyi cit-cit, di setiap Calista melangkah apalagi ketika Calista berlari.
“Aku baru tahu kalau ternyata, pesantren ini milik mereka. Andai dari awal aku tahu, tentu aku tidak akan pernah memiliki keberanian untuk ada di sini,” batin Cinta sambil menunduk bingung.
“Kalian benar-benar sudah sangat bahagia,” batin Cinta masih diam-diam mengawasi dari teras pesantren. “Padahal dulu aku berpikir, menikah dengan Helios sama saja bunuh d-iri, musibah. Namun aku sungguh salah. Dan sekarang, aku jadi ingin menertawakan diriku sendiri jika keadaannya justru begini.”
“Ukhti ... ayo kita menikah agar kita juga bisa bahagia seperti mereka!” ucap seorang pria dan sudah langsung membuat Cinta yang baru balik badan, membatu.
Di hadapannya, sepasang sepatu Cinta pergoki berdiri tegap. Yang dengan kata lain, pria itu menghadap bahkan menjadikannya lawan bicara.
Tanpa berniat melirik apalagi menatap kemudian membalas si pria, Cinta memilih pergi. Langkah Cinta menjadi makin cepat dan perlahan berubah menjadi lari karena pria itu, sampai menyusul. “Enggak mungkin dia sengaja mengajak aku. Karena jangankan orang lain, aku saja takut lihat wajahku sendiri! Andai pun memang iya, yang dia maksud aku. Pasti karena dia belum tahu. Apalagi selama dua bulan aku di sini, aku memang selalu memakai cadar!” batin Cinta masih berusaha menghindari si pria.
Kecelakaan fatal yang Cinta alami sebelum dirinya dipenjara, memang membuat wajahnya buruk rupa. Hingga Cinta begitu yakin, normalnya tidak ada laki-laki yang akan menerima, terlebih mencintainya lagi.
“Cinta! Aku serius! Aku benar-benar ingin menikah dengan kamu!” lantang pria tadi. Suaranya menggema karena kini mereka ada di lorong menuju dapur pesantren, sementara suasana di sana benar-benar sepi.
Mendengar itu, Cinta tetap sulit untuk percaya. Dadanya yang masih tertutup gamis syari warna hitam, menjadi bergemuruh hebat. “Dia bahkan tahu namaku? Namun sebentar, ... kalau dipikir-pikir, suaranya memang enggak asing,” pikir Cinta yang menjadi gemetaran lantaran pria tadi sudah sampai ada di hadapannya.
Cinta memberanikan diri untuk menatap wajah pria di hadapannya melalui lirikan. Seperti yang ia yakini, pria tersebut memang tidak asing. Cinta mengenalnya sebagai Syam, orang kepercayaan pak Helios. Dulu mereka kerap bertemu karena sebelum akhirnya Cinta meninggalkan pak Helios, mantan bos mafia itu teramat bucin kepada Cinta. Iya, di masa lalu, pak Helios pernah memperlakukan Cinta layaknya seorang ratu yang harus selalu dicintai sekaligus disegani.
“Kamu sadar apa yang kamu katakan? Padahal harusnya kamu juga tahu keadaanku,” ucap Cinta terus menunduk dan memang sengaja menjaga pandangannya. Ia memberanikan diri untuk membalas Syam, agar pria itu tak salah jalan.
Syam yang menatap Cinta dengan tatapan dingin terbilang keji, mengangguk-angguk. “Ya! Bahkan karena aku sudah tahu semuanya juga, lebih baik kamu menikah denganku daripada kamu jadi pengga-nggu!”
Balasan sinis dari Syam sudah langsung membuat dada Cinta makin bergemuruh. “Pengga-nggu bagaimana, maksudnya? Apa karena aku justru ada di sini? Niatku di sini murni untuk bekerja. Sementara alasanku sampai tinggal di dapur pesantren karena aku memang tidak punya tempat tinggal!”
“Jangan pura-pura bo-doh! Wanita ular sepertimu memang paling pandai bersandiwara, tapi kamu tidak akan pernah bisa menip-uku!” sengit Syam.
Detik itu juga Cinta menggeleng tak habis pikir, kemudian mundur. “Sumpah demi apa pun, tak ada sedikit pun niatku mengusik apalagi mengganggu mereka. Alasanku ada di sini, murni karena untuk kerja. Sebelumnya aku sungguh belum tahu kalau ternyata—” Cinta sudah langsung tidak bisa berbicara lagi. Sebab tangan kanan Syam mendadak mence-kiknya dengan keji. Ia yang awalnya menunduk dan sengaja menjaga tatapannya, jadi menatap Syam.
Hidup dan mati seolah tengah menghantui Cinta detik itu juga. Cinta jadi tidak bisa bernapas, suhu tubuhnya terasa jauh lebih panas. Perubahan tersebut Cinta rasakan dengan sangat drastis.
“Menikah denganku! Kamu harus menikah denganku agar kamu tidak menjadi pengga-nggu!” kesal Syam benar-benar emosi lantaran baginya, Cinta sengaja mengulur waktu. Saking kesalnya, ia sengaja memba-nting Cinta, hingga wanita itu meringkuk kesakitan di hadapannya. “Aku bisa saja mema-tahkan lehermu, tapi sekarang itu belum menjadi tujuanku!”
“Pertama, dia bilang alasannya menikah agar aku juga bisa bahagia bersamanya seperti hubungan mas Helios dan Chole. Lalu, dia menganggapku sebagai pengga&nggu, dan sekarang, selain terang-terangan melukaiku dengan kejam, dia juga bilang mematahkan leherku belum menjadi tujuannya. Dengan kata lain, alasannya ingin menikahiku, hanya agar dia bisa menyiks-aku dengan leluasa?” batin Cinta yang sekadar bernapas saja masih sangat kesulitan.
Diperlakukan layaknya sekarang, Cinta hanya bisa menangis. Masa lalunya yang membuatnya gagal dalam segala hal, memang membuat hijrah yang ia jalani tidak mudah. Terlebih bagi mereka yang menjadi bagian dari masa lalunya, khususnya mereka yang turut dirugikan akibat ulah Cinta di masa lalu.
“S-sekarang juga, ... sekarang juga aku akan pergi dari sini. A-aku janji! Aku benar-benar hanya ingin hidup tenang!” Susah payah Cinta berucap karena ulah Syam sudah langsung membuatnya tak berdaya. Nyawa Cinta seolah dicabut paksa, hanya saja Cinta masih berusaha menahannya.
“Untuk yang terakhir kalinya aku tegaskan, aku sama sekali tidak pernah berniat menjadi pengga-nggu. Baik itu ke mas Helios, maupun ke Akala yang semuanya sudah berkeluarga, dan mereka sudah sangat bahagia!”
“Karena setelah apa yang terjadi di masa lalu dan membuatku gagal dalam segala hal, sekarang, satu-satunya yang ingin aku lakukan hanya fokus berhijrah! Aku mohon, biarkan aku menjadi manusia lebih baik lagi!” Cinta terus menunduk membatasi pandangannya.
Di masa lalu, Cinta memang hidup dengan tidak tahu diri padahal ia yang merupakan seorang anak angkat di keluarga kaya raya, sudah mendapatkan banyak cinta. Puncaknya, kejahat-annya yang tega memb-eli seorang wanita muda bernama Nina, kemudian mengubah wajah Nina menjadi wajahnya, agar Nina menggantikannya menikah dengan Helios si ketua mafia cac-at, membuat Cinta diga-njar hukuman penja-ra hampir lima tahun lamanya.
Karena masa lalunya juga, kini Cinta yang merasa hi-na, sengaja menutup diri, termasuk itu dari keluarga angkatnya.
“Kamu harus menikah denganku!” paksa Syam, tapi Cinta sudah langsung menggeleng.
“Aku tidak akan pernah menikah. Sampai kapan pun aku tidak akan menikah! Aku mohon, maafkan aku yang dulu. Aku benar-benar memohon, tolong izinkan aku hidup tenang!” Berderai air mata bahkan perlahan tersedu-sedu, Cinta memilih pergi dari sana mengandalkan tenaga yang tersisa.
Cinta bahkan meninggalkan alat pelnya begitu saja karena ia telanjur ketakutan kepada Syam.
“Aku pastikan, kamu akan menikah denganku! Kamu harus menikah denganku!” lantang Syam sembari melepas kepergian punggung Cinta yang benar-benar meninggalkannya. Ucapan yang masih sama ketika dua hari kemudian, ia menemukan Cinta.
Terhitung sejak dua hari lalu, Cinta sudah tak lagi bekerja apalagi menjadi bagian dari pesantren milik pak Helios.
“Kamu harus menikah denganku!” tegas Syam lagi untuk ketiga kalinya. Ia sengaja memaksa dan mewajibkan Cinta untuk menerimanya.
Cinta yang masih menahan pintu warung tempatnya bekerja sekaligus menjadi tempat tinggal barunya, langsung menggeleng. “Maaf, aku enggak bisa. Karena aku memang enggak akan menikah. Cari wanita lain saja. Maaf ini sudah malam. Warung sudah tutup, enggak enak ke bos!” ucapnya lirih sekaligus santun, padahal dadanya sudah berdebar tak karuan.
Ulah Syam yang terus saja memaksa memang sudah membuat Cinta sangat takut. Terlebih di pertemuan terakhir mereka saja, Syam tak segan mence-kik bahkan membanti-ngnya.
Padahal Cinta pikir, asal dirinya tak ada di pesantren lagi kemudian menghilang dari kehidupan orang di masa lalunya, semuanya benar-benar sudah selesai. Namun kini, selain Syam masih memaksa agar mau menikah dengannya, orang kepercayaan pak Helios itu juga nekat menerobos masuk. Syam menutup pintu warung, kemudian menguncinya dengan sangat cekatan.
“Keluar! Keluar, atau aku teriak!” ucap Cinta sengaja mengancam. Ia marah, bahkan sangat marah. Terlebih bisa ia pastikan, ia sama sekali tidak berulah. Cinta merasa harusnya semuanya sudah selesai. Mereka tidak punya urusan dan harusnya Cinta boleh hidup tenang.
Cinta sengaja terus mundur di ruangan sana yang luasnya tak seberapa, lantaran Syam tak segan melangkah kasar menghampirinya. Entah apa yang akan Syam lakukan, tapi Cinta yakin, bukan hal baik karena tampang Syam saja sangat emosional. Bahkan kini, tangan kanan Syam dengan cekatan menc-ekik leher Cinta, dan lagi-lagi, tubuh Cinta, Syam ban-ting.
Meski sempat berteriak, mulut Cinta berhasil Syam bek-ap. Cinta hanya bisa menangis karena usahanya memberontak juga tak mendapatkan hasil. Tenaga Cinta tak seberapa dari Syam yang apa-apa selalu cekatan.
Tanpa peduli pada Cinta yang sudah berlinang air mata dan tak hentinya memberontak, Syam dengan begitu keji menindih kemudian mereng-gut kesucian Cinta.
Kenyataan mereka benar-benar hanya berdua di warung, membuat ulah Syam tak diketahui orang lain selain. Ditambah lagi, hujan deras lengkap dengan angin sekaligus guntur, juga mendadak berlangsung. Semua itu menciptakan suara yang selalu meredam tangis sekaligus permintaan tolong dari Cinta.
“Sesulit ini jadi orang baik, padahal aku hanya ingin fokus hijrah!” batin Cinta masih tersedu-sedu sambil memakai pakaiannya, tak lama setelah Syam pergi. Bukan hanya tubuhnya yang terasa rem-uk. Karena ulah Syam juga membuat hati, mental, bahkan kehidupannya han-cur.
Syam dan segala kekasarannya membuat Cinta memilih melarikan diri untuk ke sekian kalinya. Namun sekitar delapan bulan setelah kejadian itu, malam-malam, Cinta tertatih dituntun oleh satpam dan juga wanita paruh baya, memasuki sebuah puskesmas.
“Bayi kembarku lahir jauh lebih cepat dari HPL. Bismillah lancar dan semuanya selamat, sehat! Bisa yah, Nak, lahirnya secara normal saja. Iya, wajib bisa karena mama enggak punya banyak tabungan!” batin Cinta lagi.
Kini, Cinta ditemani seorang wanita paruh baya dan merupakan tetangganya yang berprofesi sebagai dukun beranak. Cinta siap melahirkan di ruang bersalin puskesmas keberadaannya. Dua orang suster sudah siap membantu Cinta, sementara seorang bidan baru saja datang. Tak sedikit pun Cinta berniat mengabari Syam, meski anak kembar yang akan ia lahirkan memang benih pria kejam itu.
Catatan :
Novel Helios, Chole, Cinta : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam (Merupakan juara 2 Terjerat Benang Merah S3)
Novel Akala, Cinta, Helios : Pembalasan Istri yang Haram Disentuh. (Merupakan juara 1 lomba novel Pembalasan Istri)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
ANNTIE
/Smile/
2024-11-02
0
Sri Widjiastuti
bab 1 nya singkat,tp ceritanya rumit
2024-07-18
0
azka myson28
pengen nempeleng syam yang arogant
2024-06-12
0