“Kalian jangan khawatir apalagi sedih. Aku janji, aku akan baik-baik saja.” Syam tidak tahu bagaimana caranya bersikap lembut atau setidaknya layak.
Kehidupan kejam yang selama ini Syam jalani, menjadi penyebab Syam tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Ia bahkan bingung harus memulai dari mana, bahkan itu memulai ucapan yang kiranya mampu membuat Cinta, maupun anak-anak mereka paham. Terlebih jika sudah ditatap lekat layaknya kini oleh Cinta. Tatapan yang membuat dadanya menjadi terasa sangat sesak. Tatapan yang juga Syam yakini akan makin sering ia miliki.
“Tatapannya, ... ibarat nyawa sekaligus kelemahanku,” batin Syam. Ia yang awalnya membatasi sekaligus menghindari tatapan Cinta, justru tak sengaja menatapnya. Hingga yang ada, kenyataan tersebut justru membuat dunianya seolah berhenti berputar.
Sambil tetap membiarkan kedua matanya menatap kedua mata Cinta, Syam berkata, “Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu!”
Cinta tahu, Syam sudah memberinya peringatan keras, tapi ia tetap nekat menatap Syam.
“Aku kan sudah bilang, bahwa aku akan baik-baik saja! Aku janji, aku akan selalu baik-baik saja untuk kalian. Apa pun aku lakukan untuk kalian!” ucap Syam sambil menatap kesal Cinta.
Akan tetapi, ulah Syam kali ini dirasa Cinta merupakan wujud ketulusan dari Syam. Cinta bahkan sengaja kembali menyandarkan tubuhnya ke tubuh Syam, sebagai balasan sekaligus tanggapannya.
“Ini manis dan romantis versi papanya anak-anak,” batin Cinta.
“Aku enggak akan mempermasalahkan statusmu. Aku juga enggak akan mempermasalahkan pekerjaanmu. Terlebih tadi kamu sendiri yang janji, ... bahwa kamu akan melakukan yang terbaik demi kami.” Berderai air mata, Cinta menatap kedua mata suaminya. “Tolong tepati janji kamu ya. Tolong lakukan yang terbaik untuk kit-ta ... khususnya untuk anak-anak. Karena kami juga akan melakukan yang terbaik untuk kita!”
“Hah ...? Apa lagi ini? Rasanya terlalu aneh, tapi ... ini yang dinamakan manusiawi,” ucap Syam kebingungan. Ia juga berangsur menarik kedua tangannya dari tubuh Cinta.
Syam merasa masih sangat aneh dengan interaksi mereka. Syam belum terbiasa, dan memang takut membuat Cinta terlalu ketergantungan kepadanya.
“Jangan manja-manja. Aku enggak suka wanita manja,” sinis Syam kepada Cinta, dan lagi-lagi bersikap keji. Namun, Cinta yang masih berlinang air mata, berangsur mengangguk.
“Istirahat. Istirahatlah dan tidur!” ucap Cinta berusaha pengertian kepada Syam yang masih ia tatap. Ia tak lagi membatasi tatapannya kepada Syam.
Seolah bisa merasakan ketulusan Cinta, Syam justru terpaku menatap kedua mata Cinta. “Sepertinya sebenarnya, Syam juga mau. Namun Syam terlalu gengsi memulainya denganku,” pikir Cinta.
Diam-diam ketika akhirnya Syam tidur dan itu masih di kamar Hasna, Cinta menyelimutinya. Cinta menjaga Syam sambil terus mengurus Hasna. Tak sengaja, Syam yang terusik memergoki.
“Rasanya masih seaneh ini, tapi dia benar-benar peduli,” batin Syam jadi tak tega pada Cinta yang sampai terkantuk-kantuk.
Cinta yang menaruh Hasna di dada, sampai ketiduran di sebelah Syam sambil duduk selonjor. Syam yang menyadari Cinta ketiduran dan itu benar-benar lelap, sengaja membimbingnya untuk tidur dengan benar. Sementara Hasna, sengaja Syam tidurkan di antara dirinya dan Cinta.
Sekitar satu jam kemudian, dan selama itu juga Syam terjaga mengawasi kedua mata Cinta, Cinta akhirnya terbangun. Detik itu juga, Syam pura-pura tidur.
“Nih orang masih tidur? Tapi kok, aku bisa ketiduran di sini. Dan, kak Hasna juga anteng tidur di tengah gitu. Ini beneran, kak Hasna sudah enggak perlu masuk di tabung inkubator?” pikir Cinta yang kemudian jadi berpikir, bahwa kehangatan orang tua mampu mengalahkan hangatnya tabung inkubator yang akan membuat Hasna nyaman.
“Doakan saja yah, Kak. Doakan agar papa kamu bisa menerima mama. Hingga kebersamaan seperti kali ini, bukan hanya ada karena terpaksa lagi,” batin Cinta.
Cinta memutuskan untuk memasak sup ayam untuk Syam. “Iya, lebih baik aku masak. Enggak kebayang, tiga peluru bersarang di tubuhnya,” batin Cinta.
Karena Hasna sampai merengek dan memang bangun, dengan hati-hati Cinta membawanya.
“Dia mau ke mana?” pikir Syam.
Syam nyaris berseru sembari menyusul, tapi hati kecilnya melarangnya. Hati kecilnya memintanya untuk memberi Cinta kesempatan. “Ya sudahlah, aku memang tidak boleh terlalu mengekangnya. Takutnya dia beneran jadi baby blues. Lagian, rumah ini selalu dalam pengawasan. Semua pekerja akan mengawasi selama dua puluh empat jam.”
Keluarnya Cinta dari kamar, sudah langsung mengejutkan Hans. Hans yang ketiduran di kursi dan keberadaannya ada di sebelah pintu kamar Hasna, langsung mengawal.
“Ibu Cinta mau ke mana?” tanya Hans sangat santun. Ia melangkah di belakang Cinta, tapi kedua matanya selalu terjaga memastikan setiap langkah Cinta.
“Saya mau ke dapur,” balas Cinta yang kemudian meminta Hana untuk menyiapkan troli Hasna.
“Ke dapur? Ada yang perlu saya siapkan lagi selain troli?” balas Hans.
“Enggak usah, cukup troli saja. Soalnya saya mau masak sup untuk pak Syam. Andai sampai tidak ada nasi, berarti saya juga akan sekalian masak nasi.” Setelah mengatakan itu, Cinta juga meminta Hans untuk merahasiakannya dari Syam.
“Tolong, sekalian minta yang lain merahasiakannya juga, ya!” mohon Cinta lagi.
Meski masih ragu, pada akhirnya Hans mengangguk juga. Hans membantu Cinta menyiakan segalanya.
Di lain sisi, memasak ditemani sang anak, membuat Cinta menemukan kebahagiaan sekaligus keasyikan tersendiri.
“Belum apa-apa sudah seasyik ini. Enggak kebayang kalau kamu sudah besar, dan papa kamu juga mau menerima Mama!” batin Cinta jadi sangat bersemangat.
Hati Cinta menjadi dipenuhi harapan menggebu-gebu. Tentang keluarga bahagianya yang akan selalu bersama, dalam formasi lengkap. “Amin!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Muhammad Fauzi
oooh sekarang aku ngerti kenapa saat hasna nikah ma rain, walinya gak si syam.
lamjut thor
2024-03-16
2
Nancy Nurwezia
sepertinya Syam masih gamang dengan hatinya
2023-12-15
2
Sugiharti Rusli
jangan takut tuk terus berharap yah Cin,,,
2023-12-14
0