Setiap luka-luka Syam membuat Cinta makin semangat menjadi istri mandiri. Cinta ingin membantu Syam dalam mencari nafkah. Agar bayi-bayinya tetap memiliki waktu lebih lama lagi dengan Syam. Juga, agar Syam tidak capek kerja sendiri.
“Anak-anak butuh waktu kamu lebih banyak lagi.” Cinta menatap sedih kebersamaan keluarga kecilnya.
Di tempat tidur kebersamaan mereka yang terbilang luas, Cinta duduk selonjor berseberangan dengan keberadaan Syam. Cinta memang tidak bisa leluasa apalagi bisa tidur, jika ada Syam. Karena setelah apa yang terjadi, Cinta merasa serba salah. Beberapa kali Cinta berpikir untuk menyerah. Entah itu memohon perceraian, atau malah bunu-h diri. Namun, Cinta masih berusaha bertahan demi anak-anaknya.
Dinikahi Syam memang membuat Cinta merasakan dilema besar seorang istri. Mirip kisah istri sengsa-ra pada kebanyakan dan sebelumnya kerap Cinta simak curhatannya di sosial media. Alasan yang juga membuat Cinta susah menikah.
“Kalau gitu, aku beresin kerjaan dulu,” pikir Cinta yang sudah langsung bekerja menggunakan ponselnya.
Menggunakan gawai yang tak sekeren dengan yang Cinta miliki sewaktu belum dipenjara, Cinta mengurus segala pekerjaannya. Pekerjaan online, yang membuatnya tak harus sibuk pulang pergi meninggalkan kedua anaknya. Juga, pekerjaan yang tak harus membuatnya berinteraksi dengan banyak orang secara langsung.
“Taruh ponselmu biar enggak kena radiasi!” ucap Syam kembali dingin. Ucapan yang tentu saja tidak menginginkan bantahan.
Cinta yang sudah paham watak suaminya langsung mematikan ponselnya. Ia yang refleks menahan napas karena takut, berangsur menaruh ponselnya di meja nakas sebelahnya.
“Tatap mataku!” tegas Syam yang sampai detik ini masih mengangkat kepalanya hanya untuk menatap Cinta.
Di seberang Cinta, Syam yang membiarkan dadanya tak disertai baju, masih tengkurap. Dan kini, Cinta mendapati pria itu benar-benar menunggu tatapannya.
“Maaf ...,” lirih Cinta.
“Siapa yang meminta kamu minta maaf?” balas Syam lirih tapi bengis.
Detik itu juga Cinta menunduk.
“Aku memintamu untuk menatapku, bukan meminta maaf apalagi menghindari tatapanku!” sergah masih menjaga suaranya.
“Ini ...?” batin Cinta kebingungan harus bagaimana. Namun, ia memberanikan diri untuk menatap Syam.
Setelah mendapatkan balasan tatapan dari Cinta, Syam menyadari bahwa sang istri takut kepadanya. Syam sadar, bahwa dirinya telah membuat Cinta tertekan. “Tidur lah ....”
Ucapan Syam yang terdengar manusiawi, membuat dada Cinta menjadi diselimuti rasa hangat. Dirasa Cinta, Syam sedang bisa diajak komunikasi.
“Biarkan aku kerja. Kita sama-sama kerja, agar kamu punya pekerjaan yang tak membahayakan nyawa kamu lagi.” Sadar Syam langsung menatapnya, Cinta segera berkata, “Ini murni demi anak-anak. Jangan pernah berpikir aku baper kepada kamu apalagi hubungan kita. Karena tanpa harus kamu ingatkan, aku juga sadar diri.”
“Maksudku murni untuk anak-anak. Karena sebagai orang tua, sudah semestinya kita bertanggung jawab. Jadi, andai aku bekerja, aku juga bisa bantu-bantu ekonomi keluarga!” ucap Cinta. Kali ini ia benar-benar takut. Jantungnya jadi sibuk berdetak sangat kencang.
“Kalau pekerjaanmu bisa membuat anak-anak mendapatkan lebih dari yang aku berikan, oke-oke saja. Namun jika pekerjaanmu justru membuat mereka makin terlantar, jangan harap hidupmu bisa tenang!” sinis Syam.
“Hidupku memang jadi tidak pernah tenang, semenjak kamu datang. Perpisahan dan bun-uh diri selalu menjadi dua pilihan yang tersisa untukku, andai aku tidak ingat anak-anak!” tegas Cinta sambil menatap sengit Syam.
Balasan tegas Cinta membuat Syam deg-degan. Bersamaan dengan itu, tubuhnya juga menjadi memanas tak ubahnya dibakar.
“Jika menurutmu aku tidak ada baiknya bahkan termasuk untuk anak-anak, kenapa kamu tidak menikahi wanita lain dan hidup bahagia bersamanya? Kalau memang alasanmu tidak mau membunu-hku agar kamu bisa menyik-saku dengan leluasa, kenapa kamu tidak mengurungku saja? Kenapa kamu masih membiarkanku dekat dengan anak-anak? Kenapa kamu tidak melangkah ke kebahagiaan kamu sendiri dan malah membuang-buang waktumu?” tegas Cinta cepat dan memang berisik bahkan di telinganya sendiri. Namun, Cinta sudah langsung diam karena Syam menghentikannya. Syam membentaknya dan membuat kedua anak mereka kompak menangis.
“Hanya ingin menyik-saku, tapi masih mengizinkan aku mengurus anak-anak. Meski adanya aku tak lebih dari pengasuh, apa maksudnya?” pikir Cinta tak sedikit pun melirik Syam.
Cinta sibuk menenangkan anak-anak mereka. “Kalau dipikir-pikir, apa yang aku lakukan sudah bikin aku jadi istri durhaka. Aku sering memberontak dan juga sering melawan.” Memikirkan itu, Cinta jadi merasa bersalah. Cinta takut dosa, terlebih niatnya melanjutkan hidup memang untuk berhijrah.
“Namun, Syam bahkan belum tentu menganggap aku sebagai istrinya. Kalau begini keadaannya aku jadi ragu, ... apakah pernikahan kami masih tergolong sah? Aku rasa tidak karena niatnya menikahiku saja hanya untuk menyik-saku. Alasan Syam menikahiku agar aku sengsa-ra dan tak mengganggu rumah tangga Helios maupun Akala. Hubungan kami benar-benar tak lebih dari status ...,” pikir Cinta yang jadi makin membatasi interaksinya dengan Syam.
Cinta sudah langsung menarik tangan kanannya ketika tangan kiri Syam meraihnya. Niat Syam memang sengaja menyentuh Cinta, tapi Cinta berpikir Syam tak sengaja melakukannya. Malahan, Cinta yang berakhir meminta maaf karena membuat mereka bersentuhan.
“Kenapa dia minta maaf? Karena dia menolak tanganku? Memangnya dia tahu kalau aku memang mau menyentuhnya? Atau, alasan lain yang membuatnya sengaja jarak dariku? Alasan karena aku terlalu sering menghinanya termasuk mengatai keadaannya yang bur-uk rupa, dan aku juga beberapa kali bilang jij-ik kepadanya?” pikir Syam mulai menata segala sesuatunya.
Syam berniat mengakhiri keegoisannya agar dampaknya tidak berlarut-larut. Bukan hanya karena ia yang jadi makin sering sia-l. Namun juga nasib anak-anaknya yang akan selalu rewel bahkan sakit di setiap ia dan Cinta ribut.
Keesokan harinya, Hasna dan Hasan sudah rapi ketika akhirnya Syam terbangun. Tampak Cinta yang juga tak kalah rapi dengan gamis biru gelapnya. Sebuah ransel tengah Cinta siapkan. Popok sekali pakai, tisu, botol dot dan juga beberapa bungkus asip, menjadi isi ranselnya.
“Kalian mau pergi?” tanya Syam memberanikan diri untuk memulai kare meski tatapannya dan Cinta sempat bertemu, Cinta tetap sibuk sendiri.
“Hari ini jadwal anak-anak imunisasi. Pukul sepuluh sudah harus di rumah sakit,” balas Cinta tanpa menatap Syam.
“Kenapa kamu enggak kabari aku dari kemarin?” tanya Syam berangsur duduk.
Cinta yang awalnya memunggungi Syam, berangsur balik badan. Ia menatap Syam dengan tatapan putus asa. “Selain karena kamu sibuk, sekarang kamu juga sakit. Lagipula, kamu sendiri yang bilang, mengurus anak sudah menjadi kewajibanku. Andaipun aku mengabari apalagi minta kamu buat menemani, yang ada kamu pasti marah. Kamu sendiri yang minta aku buat selalu diam.”
Menjadi istri mandiri yang dituntut untuk selalu diam, itulah yang Cinta lakukan. Terlepas dari semuanya, Cinta juga yakin, hubungannya dan Syam tak lebih dari status. Alasan mereka ada murni karena Syam ingin menyi-ksanya, selain anak-anak yang membutuhkan Cinta.
Untuk kali ini, Syam benar-benar diam. “Aku siap-siap dulu,” ucapnya yang sebenarnya juga ingin meminta maaf. Hanya saja, meminta maaf masih menjadi hal yang sangat berat untuk ia lakukan kepada Cinta.
Yang membuat Cinta takjub, Syam benar-benar ikut serta mengantar ke rumah sakit. Bahkan, Syam turut andil di imunisasi anak-anak mereka. Syam yang mengemban anak mereka ketika diimunisasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
helios & chole g pingin lihat anaknya syam kah??
2024-07-18
0
Mas Bos
tingkahnya syam lumayan lucu
bikin nyiksa pikirannya sendiri
2024-02-07
1
👏Zhenonk🏚️²²¹º
kalo dipikir ya, cinta memang sudah dapat karma nya, dy pernah meninggalkan mas akala yang segitu bucin nya dan selalu memperlakukan cinta dgn lembut.. terus dy mengkhianati bang helios dgn alasan karena beliau cacat rupa..
sekarang dy dapat syam yang walaupun tampan tapi minus ahklak n memperlakukan dy dgn kasar n cenderung jijik..
tapi sesuai dgn niat hati nya yang bener2 ingin berhijrah n berubah lebih baik, apakah ga ada balasan baik nya?
semoga aja syam bener2 mau berubah n memperbaiki rumah tangga mereka menjadi keluarga yang bahagia, Aamiin
2023-12-17
6