Setelah alarm di ponselnya bunyi, dan menandakan waktunya shalat subuh, Cinta yang tidur di sofa, sengaja membangunkan Syam.
“Subuhan dulu. Kamu masih bisa bertahan setelah tiga buah peluru bersarang di tubuh kamu, itu ibarat anugerah. Tak semua orang bisa mendapatkannya,” lirih Cinta.
Syam yang masih diam tak berniat membalas Cinta. Karena lagi-lagi, yang ia lakukan memang menjaga jarak. Namun diam-diam, ia mengawasi punggung Cinta. Wanita itu tampak sibuk mengawasi Hasna meski langkahnya tertuju pada meja pompa asi berada.
Sadar Syam tak kunjung beranjak, Cinta berangsur balik badan. “Mau aku bantu, apa mau sama Hans?”
“Masih ada waktu buat seka pakai air hangat,” lanjut Cinta masih berusaha merangkul hati Syam. Namun, perhatian yang ia lakukan kepada Syam benar-benar tulus.
Syam berangsur duduk. Kemudian ia mencoba berdiri. Rasanya lebih berat dari beberapa jam lalu, tak lama setelah ia menjalani operasi. Karena tadi saja, ia masih bisa mengangkat tubuh Cinta.
“Efek bi-usnya sudah habis dan rasanya jadi luar biasa,” batin Syam sudah langsung terkejut lantaran Cinta mendadak di hadapannya.
“Aku akan melakukan semuanya sendiri.” Syam tidak bisa untuk tidak bengis. “Melihatnya, sebenarnya aku merasa sangat kasihan. Apalagi jika sampai melihat bahwa dia mama dari anak-anakku. Namun jika ingat kelakuannya di masa lalu, maupun dia yang tipikal wanita ula-r, aku tidak bisa untuk tidak membencinya,” batin Syam.
Cinta yang tak mau meru-sak hubungan mereka dan terbilang sudah ada kemajuan, berangsur mundur. “Hati-hati.” Ia sengaja memberi Syam jalan, selain ia yang juga tetap mengawasi Syam hingga pria itu masuk kamar mandi yang keberadaannya masih ada di dalam kamar Hasna.
“Baru aku sadari, kepadanya, aku telah belajar menjadi istri setia. Mendadak aku juga jadi kepikiran, alasan aku pada akhirnya tidak berjodoh dengan Helios bahkan Akala, memang karena Allah lebih ingin aku mengabdi kepada Syam,” pikir Cinta.
Cinta baru pergi dari depan pintu kamar mandi, setelah mendengar suara air shower. Bertanda bahwa Syam yang masih bisa melakukan segala sesuatunya dengan cekatan, juga masih bisa membersihkan diri sendiri.
“Terlalu lama enggak shalat, aku jadi agak lupa tata caranya ... sebentar,” batin Syam sudah langsung disuguhi perlengkapan shalat oleh Cinta.
Hanya ada sajadah, dan itu bagian dari perlengkapan shalat yang Syam jadikan sebagai emas kawinnya kepada Cinta.
Di kamar Hasna, Syam benar-benar sendiri. Karena lagi-lagi, Hasna dibawa pergi oleh Cinta. Syam berpikir, Cinta masih malu jika harus memberi asi secara langsung kepada Hasna, di hadapannya. Atau, Cinta yang merasa tidak nyaman jika harus memompa asi di ruangan yang sama dengannya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Cinta datang sembari mengemban Hasna. Sementara Syam, Cinta pergoki tengah melakukan sujud akhir.
“Masyaallah, adem banget lihatnya,” batin Cinta sengaja tak langsung memasukan Hasna ke tabung inkubator.
Cinta sengaja menghampiri Syam, menyalamkan tangan kanan Hasna kepada pria itu setelah shalat subuh yang dijalani, usai.
Untuk sejenak, hadirnya tangan mungil Hasna di hadapannya, membuat Syam terpana.
“Dibiasakan. Cukup kita saja yang pernah jadi orang kas-ar, tidak dengan anak-anak,” ucap Cinta.
Detik itu juga hati Syam terenyuh. Baru Syam sadari, banyak hal baru yang ia dapatkan dari kebersamaannya dan Cinta. Hal baru yang dipenuhi warna, terlebih adanya anak dalam hubungan mereka. Syam merasa, keluarga kecilnya telah membuat hidupnya yang awalnya hanya penuh warna gelap, menjadi penuh pelangi.
“Barakallah ...,” lembut Cinta ketika akhirnya, Syam menjabat tangan kanan Hasna.
Syam refleks tersenyum dan membiarkan Hasna menyalaminya dengan sangat takzim. Namun ketika itu berakhir dan otomatis ia harus memberikan tangan kanannya kepada Cinta juga, suasananya jadi bed. Syam merasa sangat canggung, selain ia yang sengaja memalingkan wajah.
Sekitar lima menit kemudian, satu mangkuk sup ayam dan sayur buatan Cinta, Fia jadikan sebagai menu makan untuk Syam.
Kini memang belum waktunya sarapan, tapi jika melihat kondisi Syam, Cinta sengaja meminta Fia untuk menyiapkan makanan. Terlebih, nyatanya Syam juga tak segan langsung makan.
“Sup ayamnya mirip soto khas masakan orang sini. Dari aromanya saja sudah enak banget. Makanan dari tanah kelahiran memang paling enak! Mmmm, asli ini enak banget! Mirip masakannya uminya mas Heri!” batin Syam sangat bersemangat.
Di meja depan Syam, Cinta yang akan menyeka Hasna, jadi harap-harap cemas. “Semoga dia suka. Soalnya andai enggak, takutnya pekerja di sini yang kena semprotnya!” batinnya.
Cinta yang terlalu takut Syam tidak menyukai sup ayam dan memang ia racik layaknya soto kuning lengkap dengan sayur, jadi kerap menahan napas. “Bismillah ... bismilah yah, Kak Hasna. Bismillah papamu suka masakan mama!” bisik Cinta kepada Hasna yang meski kedua matanya dalam keadaan terpejam, masih saja meresponsnya dengan senyuman.
“Gemes banget ih ... masyaallah!” batin Cinta yang akan langsung tegang jika menatap Syam. Terlebih posisinya, ia tengah menghadap Syam.
Tanpa sedikit pun curiga, Syam yang duduk selonjor di kasur, memakan supnya dengan lahap. Diam-diam, Cinta yang tahu itu menjadi sangat bahagia.
“Alhamdullilah, lahap juga!” batin Cinta benar-benar merasa sangat bersyukur. “Kalau gitu, nanti aku masakin lagi yah, Mas!” batin Cinta yang memilih fokus mengurus Hasna.
Kini, Cinta yang jadi sibuk senyum sendiri, berangsur mengelap tubuh Hasna dengan sangat hati-hati. “Bismillah, pelan-pelan, kami bisa jadi keluarga bahagia juga!” lirih Cinta berbisik-bisik kepada Hasna.
Sekali lagi Cinta sengaja memastikan keadaan Syam. Pria itu tampak sudah menghabiskan sup maupun nasinya.
“Enak banget. Pengin nambah, tapi nanti tunggu Cinta enggak ada,” batin Syam.
“Doooooorrrr!”
Suara tembakan dan melesatnya sebuah peluru menembus kaca jendela di depan Cinta, sukses mengejutkan kebersamaan di sana. Bukan hanya Syam, maupun Cinta yang langsung nyaris jantungan. Karena Hasna juga langsung menangis sejadi-jadinya.
“Baji-ngan!” lirih Syam emosi lantaran sang putri langsung menangis dan sulit ditenangkan.
Cinta sengaja mengemban Hasna. Beberapa pekerja mereka langsung menerobos masuk. Keadaan mendadak berubah menjadi mencekam. Syam buru-buru melepas infus kemudian keluar dari jendela sebelahnya dengan loncat. Syam melakukan itu dengan sangat mudah, hingga Cinta yang menyaksikannya yakin, Syam sudah terbiasa melakukannya. Fia langsung mengamankan Cinta.
Cinta dipaksa pergi dari sana oleh Fia sambil terus menyertakan Hasna. “Kenapa bisa begini? Apakah hal seperti ini sudah biasa?” Cinta berusaha memastikannya kepada Fia.
“Apakah kejadian ini, masih berkaitan dengan luka tembak Syam?” pikir Cinta lagi sembari menunggu balasan Fia. Namun dari tanggapan Fia yang hanya kebingungan, Cinta jadi yakin bahwa tem-bak-menem-bak sudah menjadi hal biasa untuk suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Cinta Abadi
eh ternyata ada juga soto...salam sehat dn sukses athor...
2024-02-10
1
Animer's
kesukaan ku soto
2024-01-13
1
Animer's
masyaa Allah
2024-01-13
0