“M—mereka ... mereka anak-anakmu!”
“Jadi aku mohon tolong aku! Aku janji, apa pun akan aku lakukan asal kamu membantuku!”
Apa yang Cinta katakan barusan membuat dunia Syam mendadak berhenti berputar. “Aku punya anak? Aku punya anak bahkan kembar?” batinnya sulit percaya.
“Aku mohon, Syam. Aku mohon tolong aku karena aku tidak tahu harus meminta tolong ke siapa lagi.”
“Anak pertama dan berjenis kelamin perempuan, aku lahirkan secara normal di puskesmas, sekitar satu jam lalu. Namun anak kedua dan itu berjenis kelamin laki-laki, terpaksa dirujuk ke rumah sakit besar karena tak kunjung mau lahir. Dia lahir lewat persalinan sesar karena ditakutkan meminum air ketuban lebih banyak. Semuanya dalam keadaan prematur, tapi si adik telanjur keracunan air ketuban. Mereka benar-benar terlantar karena aku sendiri belum punya tenaga untuk mengurus.”
Dari seberang, suara Cinta kembali merintih tak ubahnya penge-mis yang sangat mengharapkan belas kasih.
“Ibu Cinta mohon maaf, bayi laki-laki Ibu kritis!”
Suara asing dari seorang wanita yang juga sudah langsung membuat Cinta menangis meraung-raung, tak ubahnya tamparan panas untuk seorang Syam. Hingga beberapa menit kemudian, Syam yang awalnya masih berdiri merenung di balkon kamarnya dengan keadaan serba gelap, kini mengemudikan motornya dengan kecepatan penuh.
Menggunakan motor gedenya, Syam yang lagi-lagi memakai pakaian serba hitam, termasuk topi dan juga masker yang menutupi sebagian wajahnya, membelah keheningan jalan dini hari ini yang terbilang sangat sepi. Malahan di beberapa titik jalan, Syam menjadi satu-satunya pengemudi yang lewat.
Tanpa direncanakan, kejadian masa lalu dan itu ketika Syam masih kecil, mendadak terputar di ingatan Syam. Kejadian yang tentu saja jauh dari kata bahagia. Sebab menjadi yatim piatu sejak dini, membuat Syam kecil hidup terlunta-lunta. Bahkan meski Syam sempat ikut keluarga paman dan bibinya, yang ada Syam justru dipaksa bekerja sejak dini. Sejak dirinya belum genap berusia enam tahun.
“Mau jadi bajin-gan kamu, masih kecil sudah berani mencuri! Kamu pikir makanan ini buat kamu? Kerja dulu, baru boleh makan!” ucap bibi Syam, ketika memergoki Syam mengambil nasi di sangku nasi.
Padahal, Syam yang kala itu berusia enam tahun, baru beres bantu-bantu. Syam sudah menyuci gerabah dua ember, selain tiga ember tak kalah besar berisi pakaian milik keluarga bibinya.
Kejadian tersebut memang bukan yang kali pertama Syam lakukan. Karena hal seperti itu, bahkan kejadian yang sampai membuat Syam diamuk, sudah berulang kali Syam kecil alami.
“Jangan sampai anak-anakku mengalami seperti itu!” batin Syam tak terima jika anaknya sampai terlantar hanya karena tidak adanya biaya seperti yang Cinta kabarkan.
Di lain sisi, Syam marah karena Cinta baru mengabarinya di saat anak-anaknya justru terancam keselamatannya. Namun di sisi lainnya lagi, hati baik Syam justru tak percaya, seorang Cinta mau mengandung bahkan bertaruh nyawa melahirkan benihnya.
“Padahal dia bisa menggug-urkannya,” pikir Syam yang lagi-lagi menambah kecepatan laju motornya.
Sekitar setengah jam kemudian, kehadiran Syam langsung mengejutkan Cinta. Cinta benar-benar terkejut, sulit baginya untuk percaya lantaran Syam langsung datang dini hari ini juga.
“Kamu masih hidup setelah mengaku menjalani dua proses persalinan sekaligus?” sinis Syam yang memang memandang ren-dah Cinta.
Sebenarnya, Cinta memang disarankan untuk istirahat total setelah menjalani sesar maupun persalinan normal sebelumnya. Namun, kekhawatiran Cinta kepada anak kembarnya membuat Cinta tak melakukannya. Cinta nekat memanfaatkan kursi roda untuk memantau keadaan kedua bayinya. Meski yang ada, pertemuannya dengan Syam langsung membuat perasaannya tak karuan. Cinta seolah mendadak merasakan gejolak kontraksi lagi, saking takutnya ia kepada Syam.
Kembali bertemu Syam setelah apa yang terjadi membuat kewarasan Cinta seolah diuji. Rasa takut tak hentinya menghantui Cinta. Iya, Cinta takut Syam justru melukai anak kembarnya.
“Tapi dia datang, ... berarti dia peduli,” pikir Cinta jadi memiliki penilaian berbeda kepada pria di sebelahnya. “Atau jangan-jangan, ... ada rencana lain?” pikirnya makin takut.
Di depan ruang NICU, atau ruang perawatan intensif di rumah sakit yang diperuntukkan khusus bagi bayi lahir prematur maupun bayi yang memiliki masalah kesehatan tertentu, pertemuan Cinta dan Syam terjadi. Dunia Cinta menjadi terasa berputar lebih lambat karenanya.
“Yang mana anak-anakku? Anak-anakku yang mana?” tanya Syam tak sabar.
“Y-yang tengah paling kanan. Dua itu, terus yang adik yang masih dipantau suster,” jelas Cinta takut-takut.
Detik itu juga kedua mata Syam langsung mengawasi kedua bayi yang dimaksud. “Berarti itu yang perempuan. Cantik banget ... terus, itu yang laki-laki. Ya ampun jagoan Papa, kenapa kamu sampai sakit?” sedih Syam dalam hatinya. Syam tak tega, dan memang tak rela anak-anaknya dalam keadaan seperti sekarang.
“Menikahlah denganku, dan aku akan menyelamatkan anak-anakmu. Terlebih baru melihat mereka saja, aku sudah langsung menyayangi mereka!” ucap Syam benar-benar dingin.
“Dia masih ingin mengikatku dalam pernikahan?” batin Cinta benar-benar tak percaya. Selain itu, Cinta juga jadi penasaran, apa sebenarnya maksud Syam begitu ingin menikahinya jika pria itu saja sampai membuatnya hamil bahkan melahirkan di luar pernikahan?
“Jika kamu memang peduli kepada mereka, harusnya kamu mau menikah denganku!” kecam Syam menatap marah wanita di kursi roda yang kali ini masih memakai pakaian termasuk itu cadar serba hitam.
Selain tak memiliki pilihan lain, Cinta juga tak memiliki banyak waktu. “Baik! Namun apa pun yang terjadi, semarah dan sebenci apa pun kamu kepadaku, tolong ... tolong jangan melukai anak-anakku. Kamu bebas mengh-ajarku, asal itu tidak kamu lakukan di depan mereka.”
“Aku tahu bagaimana rasanya itu, terlebih alasan mamaku meninggal karena dibu-nuh papaku. Aku tahu bagaimana sepi dan sakitnya hidup tanpa orang tua kandung. Jadi tolong, jangan buat anak-anakku merasakan pedihnya hidup tanpa orang tua.” Cinta menunduk dalam dan berharap Syam mau menerima syaratnya.
“Aku akan langsung mengurus administrasi kalian!” sergah Syam langsung pergi dari sana. Namun, Syam mendadak kembali meminta berkas kesehatan sekaligus data pribadi milik Cinta, untuk mengurus administrasinya.
Meski tak sampai memberikan penjelasan sekaligus kesepakatan secara gamblang, Cinta yakin Syam menerima syaratnya.
Yang membuat Cinta makin tak percaya, Syam dan ia ketahu sangat kejam kepadanya, ternyata sangat antusias menemui anak kembar mereka. Dari kursi rodanya, Cinta mendapati Syam adzan untuk kedua bayi mereka. Anehnya, kedua bayi mereka langsung merespons melalui gerakan tangan di setiap suara yang Syam lakukan.
“Kalian kangen banget ke papa, apa bagaimana?” lirih Cinta tersedu-sedu menyaksikan pemandangan manis di dalam ruang NICU. Interaksi manis antara anak kembarnya dengan sang papa.
“Kalian selucu ini? Masyaallah ....” Syam benar-benar girang. Ia tidak bisa untuk tidak tersenyum apalagi menghentikan senyumnya. “Yang perempuan wajahnya mirip aku banget, tapi yang laki-laki mirip mamanya banget ....” Kemudian, fokus Syam tertuju kepada anak laki-lakinya.
Persis di sebelah Syam masih ada suster yang jaga-jaga. “Bagaimana Sus? Bayi laki-laki saya, bisa sembuh, kan?”
Sang suster mengangguk-angguk. “Alhamdullilah, ini langsung ada perubahan baik yang sangat pesat, Pak. Bismillah, bertahap, pelan-pelan pasti sembuh!”
“Alhamdullilah ...,” refleks Syam untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya kembali bersyukur. Syam sampai kaget, tak percaya dirinya bisa kembali manusiawi bahkan ingat untuk bersyukur. Kedua bayinya lah penyebabnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Priskha
ceritanya bagus tapi bahasanya kadang2 sulit dimengerti 🙏🙏
2025-02-18
0
Riana
alhamdulilah papa Syam datang❤😘😘😘
2023-12-26
1
Nancy Nurwezia
jangan terlalu kejam Syam..
2023-12-14
1