Andai Syam juga sedikit memberi Cinta fasilitas, selain makan. Mengingat status Cinta merupakan istri Syam, tapi Syam batasi geraknya termasuk untuk bekerja. Atau, setidaknya Syam menghargai Cinta. Pasti Cinta tak merasa asing di lingkungannya sendiri.
Sudah dua hari berlalu dari obrolannya dan sang kakak, Cinta makin stres. Apalagi sampai detik ini juga, Cinta masih baby blues. Hanya diam dan menjadi orang asing di keluarga kecilnya sendiri, membuat Cinta yang sebelumnya sibuk bekerja kemudian mendapatkan penghasilan cukup, jadi jenuh. Terlebih, sekadar pakaian layak saja, Cinta tidak punya. Karena meski Syam memperlakukan anak-anak mereka layaknya anak raja yang lebih dari berkecukupan, kepada Cinta, Syam sama sekali tidak mengurus.
Cinta menjelma menjadi istri kucel tak terurus. 24 jam waktu yang Cinta miliki Syam wajibkan untuk mengurus sekaligus terjaga untuk kedua anak mereka. Makin hari bobot tubuh Cinta makin berkurang. Kini tubuhnya benar-benar kurus melebihi ketika dirinya masih gadis.
“Malahan ketika masih gadis, meski aku sudah sampai tidak makan dan tidak minum, aku tidak pernah sekurus ini.” Diam-diam, Cinta menatap sedih penampilannya di cermin rias yang ada di hadapannya.
Sambil terus mengurus kedua anaknya yang sudah lancar tengkurap, Cinta membandingkan fisiknya yang dulu dengan yang sekarang.
“Andai ini terjadi dulu, pasti ibarat kemenangan. Pasti aku kegirangan. Karena dulu, cara pikirku, makin kurus makin baik. Malahan aku sempat berpikir, lebih baik aku sakit biar berat badan turun, daripada sehat tapi enggak kurus-kurus.”
“Dan sekarang, lihat aku yang begini, ... kurus, kucel, pakaian kedodoran mirip kelelawar ... angkat bayi saja sempoyongan. Nikmat sekali teguran dari Engkau kepadaku yang dari dulu pilih-pilih pasangan.” Cinta begitu yakin, penderitaannya dari Syam, ibarat balasan atau itu karmanya. Ini mengenai Cinta yang pernah menyia-nyiakan ketulusan Helios maupun Akala.
Rasa jenuh, stres, dan memang baby blues yang Cinta alami, dirasa Cinta baru akan hilang jika ia memiliki kesibukan lain. Cinta ingin bekerja, dan pekerjaan itu harus pekerjaan online.
“Benar, ... aku memang harus bekerja. Pekerjaan online yang tidak perlu membuatku keluar rumah. Aku bisa melamar jadi asisten dan mengambil beberapa, agar gaji yang aku dapatkan juga lumayan,” batin Cinta yang memang jadi sangat semangat. Bahkan meski kedua anaknya kembali kompak menangis dan mengharuskannya menenangkan keduanya di waktu bersamaan, Cinta tak lagi melakukannya dengan menangis.
“Sayang, ... sayang ... jangan nangis. Doakan saja semoga Mama bisa kerja, syukur-syukur sukses. Hasilnya pun juga bakalan kita nikmati sama-sama.
Di tengah kesibukannya, Cinta sudah mulai mencari pekerjaan online. Ia melakukannya menggunakan ponselnya.
“Dari kemarin, Hasna dan Hasan jadi makin sering nangis?” ucap Syam yang baru datang. Lebih tepatnya, Syam baru pulang.
Seperti biasanya, Syam sudah dalam keadaan rapi sekaligus steril, jika memasuki kamar anak-anak. Selain pakaiannya yang sudah ganti meski masih serba panjang sekaligus berwarna gelap, kepala Syam pasti dalam keadaan setengah basah.
“Mungkin kangen sama kamu. Emban saja.” Cinta mengambil Hasna dan segera membawanya dari sana.
Cinta sengaja memberi Hasna asi secara langsung, di sofa yang ada di sudut kamar. Cinta sungguh mengabaikan Syam.
“Dia masih begitu,” batin Syam yang merasa Cinta jadi berubah. Namun, Syam sama sekali tidak merasa bersalah. Ia bahkan tidak ingat bahwa mulu-t jahatnya, sudah melukai hati sekaligus mental Cinta. “Dia terkesan menghindariku. Namun kenapa?” pikirnya lagi.
“Setiap bersama seperti ini, bahkan aku sengaja menghindarinya, hingga kami selalu berjarak, rasanya hatiku seperti disa-yat-saya-t. Apalagi selain tetap kejam, dia juga terlihat sama sekali tidak bersalah,” batin Cinta.
Cinta masih melihat-lihat ponselnya. Ia masih berusaha mencari pekerjaan di tengah kesibukannya menyusui Hasna.
“Dia makin sibuk dengan ponselnya,” batin Syam.
Kesibukan Cinta dengan ponsel, Syam temukan makin sering terjadi akhir-akhir ini. Syam memantau semua itu melalui CCTV. Karena selain di area luar, khusus di kamar anak-anak memang sampai ada beberapa CCTV. Termasuk juga di kamar mandi anak-anak. Yang terbebas dari CCTV hanya arena untuk mandi.
Setelah keluar dari kamar pribadinya, Syam sengaja menuju kamar anak-anak. Kamar yang keberadaannya ada di lantai bawah. Bukan lagi kamar Hasna yang sempat mengalami penemba-kan.
Malam sudah makin larut, dan suasana juga sudah sangat sunyi karena aktivitas pekerja nyaris tidak ada. Hanya tinggal Hans dan seorang rekannya yang tengah berjaga di depan kamar anak-anak. Kamar yang juga menjadi keberadaan Cinta. Hingga sampai kapan pun, Cinta yakin dirinya tidak bisa melarikan diri dari sana. Kecuali, ada izin khusus, atau malah Cinta yang dibuang dari sana.
Syam sengaja masuk kamar anak-anak karena saat di CCTV, Syam melihat Cinta sudah ketiduran di sofa sebelah ranjang anak-anak. Seperti yang Syam lihat di CCTV, keadaan di sana juga tidak jauh berbeda. Anak-anaknya sudah lelap di ranjang masing-masing. Sementara Cinta juga sudah lelap. Ponsel milik Cinta yang Syam curigai, masih Cinta genggam menggunakan tangan kanan.
“Tidur di kasur, biar aku yang jaga mereka,” ucap Syam diam-diam mengambil alih ponsel Cinta. Itu caranya mengelabuhi Cinta yang masih setengah sadar.
“Hah?” selain tidak begitu jelas, Cinta juga tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Syam memintanya tidur di kasur? Tumben?
“Tidur di kasur, biar aku yang menjaga mereka. Di kulkas masih ada asip, kan?” ucap Syam sengaja agak mendorong Cinta, agar wanita itu segera meninggalkannya. Syam tak sabar ingin memastikan ponsel Cinta. Terutama, riwayat pesan maupun panggilannya.
“Masa iya, dia masih berhubungan atau malah pacaran sama pakde Ilham?” pikir Syam belum apa-apa sudah emosi.
Yang langsung Syam cek ialah riwayat panggilan telepon. Namun, di sana tidak ada telepon lain selain telepon dari Cikho.
“Penjaga Lapas? Ini nomor siapa? Ngapain juga Cinta masih berurusan dengan penjaga lapas?” pikir Syam.
Kemudian, yang Syam lakukan ialah mengecek apli-kasi pesan. Dari pesan biasa, hingga WA, semua pesan yang Cinta terima kebanyakan dari orang kampung. Dari yang menanyakan Cinta karena tak lagi jualan makanan, juga pihak murid ngaji yang menanyakan alasan Cinta tak lagi mengajar. Syam membaca semua itu. Termasuk pesan dari kontak pakde Ilham yang juga sangat perhatian kepada Cinta.
Meski semua pesan dari Syam, Cinta balas dengan sangat wajar, Syam tetap cemburu.
“Pesan terakhir, Cinta balas delapan hari lalu. Selebihnya hanya si pakde Ilham yang sibuk chat dan itu pun enggak ada yang Cinta baca. Terus kira-kira, apa yang membuat Cinta sibuk banget dengan ponselnya?” pikir Syam yang kemudian melirik Cinta. Di tempat tidur sana, Cinta sudah sampai mendengkur. Cinta terlihat sangat kelelahan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Ida Ulfiana
bener2 menyedihkan nasib cinta
2024-05-29
1
Sugiharti Rusli
benar" miris sama nasib Cinta selama di 'sekap' si Syam
2023-12-14
2
Rumini Parto Sentono
dari semua tokoh Syam yang paling kejam bahkan Helios aja yg jadi bos mafia masih bisa luluh dengan Chole. Syam gengsi nya aja di gedein, padahal cemburu sama Ilham.
2023-12-14
0