“Kamu dan Hasna sudah boleh pulang. Jadi, sore ini juga kita pulang,” sergah Syam yang baru datang. “Sekalian biar si pakde tidak bisa menemukan kalian!” batin Syam masih saja jengkel jika ingat pakde Ilham. “Bisa-bisanya Cinta mengaku menutup diri, tapi ternyata ada duda kesepian yang sangat perhatian!” batin Syam lagi sambil kerap melirik Cinta. Ia meluapkan rasa jengkelnya kepada pakde Ilham melalui lirikannya kepada Cinta.
Mendengar Syam mengajaknya pulang, Cinta sudah langsung menatap Syam. “Pulang ke mana? Omong-omong kamu orang mana sih?” Karena jujur saja, Cinta sangat penasaran pada latar belakang Syam.
“Kita pulang ke rumah yang masih di dekat sini agar andai apa-apa dengan Hasan, aku bisa langsung datang.” Syam menjelaskan dengan nada dingin sekaligus cepat.
“Kamu asli mana? Kok bisa kenal Helios?” tagih Cinta karena dari gelagatnya, Syam seolah tidak akan menjawab pertanyaannya yang sebelumnya. Pertanyaan yang masih berkaitan dengan latar belakang Syam.
“A-ku orang ....” Ditanya mengenai asal-usulnya, Syam jadi bingung. “Yang Cinta tahu, aku dan mas Helios bekerja di bidang keamanan. Dia tidak tahu jika aku malah sudah menjadi bos mafia menggantikan mas Helios,” batin Syam refleks sibuk melirik Cinta.
Cinta yang telanjur penasaran, jadi tidak bisa untuk tidak menatap Syam. “Aku tidak mempermasalahkan latar belakang kamu. Intinya cuma mau tahu saja. Selain itu, meski rumah mantan keluarga angkat aku yang di kampung, mereka kasih ke aku. Aku enggak mau mengusik.”
“Karena meski tanah itu memang milik almarhum mamaku, masalahnya yang mereka kasih ke aku maupun kakakku, lebih berkali-lipat dari tanah itu,” ucap Cinta.
Cinta masih berucap lembut. Kebersamaannya dan Syam dalam merawat Hasna lah penyebabnya. Karena kepedulian Syam kepada Hasna, Syam mau membantunya mengurus Hasna, membuat rasa nyaman hadir dalam kebersamaan mereka. Cinta merasa, hubungan mereka nyata. Hingga Cinta menganggap Syam suami yang bisa ia andalkan meski pria itu berdalih tidak akan pernah mencintainya.
“Jadi, kalau memang belum ada tempat tinggal, kita bisa tinggal di tempat tinggalku. Tempatnya memang tidak luas, tapi—” Selanjutnya, Cinta tak lagi bisa bicara lagi karena Syam mendadak kembali bengis.
“Kamu enggak usah atur-atur aku! Kamu lupa dengan perjanjian kita? Aku bos kamu dan kamu wajib tunduk kepadaku!” bentak Syam menatap marah Cinta.
Detik itu juga, Cinta yang sudah langsung deg-degan dan memang efek takut, refleks meminta maaf. Selain itu, Cinta juga jadi sibuk menenangkan Hasna karena bayi perempuannya itu mendadak menangis.
“Jangan berpikir aku akan baik kepadamu! Aku hanya menyayangi anak-anak, tidak lebih!” lanjut Syam masih marah-marah.
Untuk kali ini, Cinta sudah tidak berani membalas. Ia memilih fokus menenangkan Hasna.
Lima menit berlalu, Hasna masih saja menangis. Tangis yang benar-benar pecah. Syam yang geregetan kepada Cinta lantaran tak kunjung bisa membuat Hasna tenang, sengaja mengambil alih. Namun tak beda dengan saat sedang bersama Cinta, Hasna tetap tidak bisa tenang. Barulah ketika Cinta beranjak mendekat, kemudian turut mengelus-elus punggung Hasna yang masih Syam dekap sambil melangkah pelan. Detik itu juga Hasna beranjak tenang.
Dalam diamnya, sebenarnya baik Cinta bahkan Syam sadar, Hasna tidak mau orang tuanya bertengkar. Hasna ingin mereka selalu kompak, saling menyayangi. Hanya saja, selain Cinta yang tidak berani memulai karena Cinta sadar diri, Syam tetap bertekad untuk selalu memperlakukan Cinta layaknya tawanan.
Sekitar setengah jam kemudian, Syam memboyong Cinta maupun Hasna. Syam yang membawa Hasna, mendekapnya hangat di dada menggunakan kedua tangan. Di belakangnya, ada Cinta yang tertatih menenteng sebuah ransel. Namum setelah keduanya sampai di lobi, seorang pria yang penampilannya mirip Syam, datang membantu.
Awalnya, Cinta mundur, menjaga jarak dan memang takut kepada si pria. Namun karena Syam berdalih bahwa pria tersebut merupakan sopir Syam, Cinta berangsur menyerahkan ranselnya.
“Kenapa mereka selalu pakai serba hitam? Dulu, sebelum menikah dengan Chole, mas Helios juga gitu. Mereka bukan pengan-ut sekt-e sesa-t, kan?” pikir Cinta yang lagi-lagi memilih diam. Cinta tidak berani mengusik Syam yang tengah mengemban Hasna. Cinta takut Hasna menjadi sasaran marah Syam, andai Cinta berulah. Ulah yang apa pun wujudnya akan selalu salah di mata Syam.
“Aduh!” refleks Cinta nyaris terjatuh karena menginjak ujung gamisnya sendiri.
Ketika Syam langsung menoleh memastikan maksud Cinta mengeluh, sopir Syam yang ada di sebelah Cinta dengan sigap menangkap tangan Cinta. Cinta tak jadi jatuh, tapi kenyataan tersebut langsung membuat kedua mata Syam melotot. Syam menatap marah tahanan tangan sopirnya ke pergelangan tangan kiri Cinta.
Syam melepas masker hitamnya. “Siapa yang menyuruh kamu pegang-pegang istri saya?!”
“Nah, kan, ... kesur-upan lagi!” batin Cinta sambil diam-diam melirik tak habis pikir Syam. Sementara di sebelahnya, sopir Syam langsung sibuk minta maaf sambil membungkuk-bungkuk. Dan kini, Cinta hanya bisa pasrah ketika tangan kiri Syam menyeretnya. Benar-benar diseret, bukan digandeng.
“Jangan cepat-cepat ih, jahitanku sakit semua,” mohon Cinta sambil menatap tak habis pikir Syam yang perlahan melepaskan tangannya.
Cinta langsung agak menarik ke atas, ujung gamisnya. Pakaiannya memang jadi sangat kedodoran sejak ia melahirkan. Mungkin karena biasanya, perutnya sangat besar, dan kini sudah tidak begitu lagi.
Tak sampai dua puluh menit kemudian, perjalanan menggunakan mobil mahal membuat mereka sampai di sebuah rumah mewah. Mereka masih tinggal di Cilacap kota, tak jauh dari rumah sakit Hasan menjalani perawatan.
Dibawa pulang oleh Syam dan sudah langsung menempati rumah mewah, membuat Cinta makin penasaran pada latar belakang Syam. Namun, Cinta tak berani menanyakannya. Cinta memilih fokus mengurus Hasna.
Seperti janji Syam, di kamar Cinta akan tinggal, sampai dilengkapi inkubator. Hasna segera ditaruh di sana, dan Cinta benar-benar merasa lega. Karena meski kepadanya, Syam sangat kejam, tidak kepada anak-anak mereka.
Namun yang membuat Cinta sedih, Syam tak sampai menyediakan makanan atau sekadar minuman untuknya.
“Ini beneran enggak ada makanan, bahkan sekadar minuman?” pikir Cinta yang terpaksa hanya meminum jamu pemberian pakde Ilham.
Detik berlalu menghadirkan menit dan bahkan menciptakan jam. Namun, tak ada tanda-tanda Syam akan datang. Lebih parahnya lagi, setelah Cinta cek, rumah keberadaannya benar-benar kosong. Bukan hanya tidak ada makanan atau setidaknya air minum. Karena di rumah berlantai dua tersebut, juga hanya ada Cinta dan Hasna.
“Si Syam beneran enggak kira-kira, ... sudah pergi enggak pamit, ini sekarang malah gini. Mana enggak ada tanda-tanda asiku bakalan banjir. Aku saja kurang gizi!” jujur, Cinta mulai jengkel. Namun lagi-lagi, Cinta berusaha bersabar. “Jangan sampai, dugaanku bahwa Syam penganu-t sekt-e sesa-t memang benar. Soalnya, cara pikirnya terlalu ajaib. Masa iya, apa yang terjadi di rumah sakit, belum bisa dia jadikan pembelajaran. Aku ini wajib kasih asi. Otomatis wajib jaga asupan makan, pola istirahat, dan lainnya.” Cinta memutuskan untuk kembali ke lantai atas. Lantai di mana Hasna ada di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Nartadi Yana
kejam banget ya kaya bukan manusia yang nggak ngasih asi saja butuh makan apalagi yang menyusui anak kembar lagi
2024-12-20
1
Nancy Nurwezia
nggak ada perhatian sama sekali si syam nih
2023-12-14
1
Erina Munir
ya ampuun syam...orang abis oprasi kamarnys d atas yg bner aja thoor...
2023-12-14
1