Nyaris tiga jam berlalu. Suasana juga mulai petang, sementara Cinta sudah sangat kelaparan. Terlebih, asi yang Cinta hasilkan benar-benar sedikit.
“Kalau kayak gini, Hasan terancam enggak dapat asi. Mending aku cari makanan di sekitar sini, siapa tahu ada yang jualan!” sergah Cinta bersemangat. Ia tak mau menunggu karena yang otomatis kelaparan bukan hanya dirinya, tapi juga kedua anaknya. “Ya Allah, semoga Syam cepat berubah. Kasihan anak-anak, biar mereka juga seperti anak-anak lain. Anak-anak yang memiliki orang tua kandung lengkap!”
Cinta yang kelaparan, dan memang harus segera memompa asinya untuk dikirimkan ke Hasan, sengaja belanja di dekat rumah. Kebetulan, rumahnya tak sampai digerbang apalagi digembok. Lebih kebetulan lagi, di pertigaan depan rumah ada penjual sayur.
“Sekalian beli stok, soalnya ketimbang saat hamil, masa-masa menyusui gini justru lebih gampang lapar!” ucap Cinta sengaja melakukan segala sesuatunya dengan cepat lantaran ia memang meninggalkan Hasna sendirian di rumah.
Hasna yang ada di dalam tabung inkubator memang hanya diam. Hasna nyaris menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk tidur. Namun tetap saja, Cinta khawatir. Karena jangankan ditinggal sendiri dengan jarak terbilang jauh, meninggalkan Hasna ke dapur saja, Cinta sangat khawatir.
“Rasanya jadi seorang ibu beneran sudah beda. Apa-apa serba buat anak. Seluar biasa ini cinta ibu ke anak. Sebelumnya, aku beneran belum mencintai seperti ini,” batin Cinta.
Cinta sengaja membeli beberapa sayur sekaligus kebutuhan dapur. Ia menggunakan uang pribadinya yang tinggal tak seberapa. Karena saat pergi tadi, Syam memang tidak sampai memberinya uang.
Bahkan karena di rumahnya juga tidak ada pekerja, Cinta sengaja masak sendiri. Cinta melakukan segala sesuatunya dengan cepat, meski efek melahirkan membuat tenaga bahkan geraknya terbatas. Jahitan di jalan lahirnya benar-benar banyak dan rasanya sangat ngilu. Sementara bekas sesar, luka di sana juga tak kalah luar biasa.
“Kok bisa-bisanya Syam sangat tidak berperasaan, ya?” Cinta terus bertanya-tanya, kenapa Syam begitu kejam.
Sesekali, Cinta juga akan memastikan keadaan Hasna. Cinta sengaja menyetel yasin dengan suara lirih di meja nakas sebelah tabung inkubator Hasna, untuk jaga-jaga.
“Pintar yah, Kak. Solehah-nya mama,” batin Cinta menyemangati dirinya sendiri.
Tak lama setelah Cinta masuk ke area dapur, Syam pulang. Syam yang pulang dengan tangan kosong, langsung menaiki anak tangga menuju kamar Hasna.
“Kok bau masakan, ya? Siapa yang masak? Masa iya, rumah ini angker?” pikir Syam tak peduli. Sebab ia telanjur sangat rindu kepada sang putri.
Saking rindunya kepada Hasna, dada seorang Syam seolah dipenuhi bunga-bunga cantik yang bermekaran. Padahal, mereka baru berpisah hitungan jam. Tak sampai empat jam karena selain memantau keadaan Hasan, Syam juga memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
Rasa rindu yang menggebu kepada Hasna pula yang membuat Syam tersenyum lebar. Syam melepas masker, kacamata, topi, dan juga jaket kulit hitamnya. Ia menaruh semua itu di sofa tak jauh dari pintu kamar Hasna berada.
“Hasna sayang, ... Papa pulang!” lembut Syam bersama senyum lembut yang masih menguasai wajah bahkan kehidupannya.
Namun, sepinya suasana di sana tanpa ada kehadiran Cinta, membuat senyum di wajah bahkan hidup Syam, hilang. Lebih kebetulan lagi, ponsel Cinta yang awalnya memutar surat yasin, justru sudah kehabisan daya baterai.
“Loh! Enggak ada di kamar mandi, di balkon pun enggak ada. Terus, dia ke mana?” pikir Syam sudah langsung berpikir keras. Ia sungguh marah, bahkan andai alasan aroma masakan tadi memang Cinta.
“Jangan-jangan, alasan aroma masakan tadi memang dia?” pikir Syam. Keyakinan yang akhirnya terbukti dan benat-benar membuatnya emosi.
“Maksud kamu ninggalin Hasna begitu saja, apa?!” lantang Syam.
Cinta yang langsung terkejut, refleks menjatuhkan wajan bekasnya masak dan niatnya akan ia taruh di wastafel. Keputusan Cinta meninggalkan Hasna, membuat Syam murka. Bahkan meski Syam memergoki Cinta sibuk masak sambil memompa asi juga di dapur.
“Bisa-bisanya kamu malah sibuk sendiri! Begini yang kamu sebut sayanh ke anak?!” Syam menga-muk. Semua masakan yang Cinta buat berakhir di lantai. Begitu juga dengan bahan makanan yang ada di kulkas, maupun asi yang susah payah Cinta kumpulkan. Semuanya Syam banti-ng kemudian tendan-g.
Kali ini Cinta tak lagi diam. Cinta histeris, tersedu-sedu menyaksikan ulah Syam. Padahal, kini saja Cinta sedang sangat kelaparan. Tubuh Cinta sudah gemetaran menahan lapar. Selain, Cinta yang harus menghabiskan semua uangnya untuk membeli kebutuhan dapur, dan harganya memang terbilang mahal. Yang membuat Cinta sangat tidak habis pikir, asi miliknya sampai ikut menjadi sasaran amuk-an!
“Yang sibuk sendiri siapa? Yang tidak sayang anak siapa?!” kesal Cinta tersedu-sedu menatap Syam.
“Memangnya kalau aku hanya diam jagain Hasna, tiba-tiba bisa ada makanan jatuh dari langit? Kalau aku hanya diam, beneran tetap bisa ada bahan nutrisi agar anak-anakku dapat asi?” lantang Cinta yang memang emosi.
“Memangnya kamu mikir, aku di sini kelaparan, harus cari makanan sendiri, sementara aku juga harus terus menghasilkan asi?” lanjut Cinta yang kemudian berkata, “Kamu enggak sehebat itu karena sekadar mengontrol emosi kamu saja, kamu enggak bisa!”
“Padahal, cukup tanya baik-baik, aku juga bisa terima. Enggak harus ngamu-k gini dan yang ada hanya bikin keadaan makin runyam! Lagian, Hasna juga anteng.” Cinta mengakhiri ucapannya dengan menjerit. Benar-benar emosi, kenapa Syam begitu keji kepadanya tanpa mempertimbangkan setiap apa yang kini ia lakukan bahkan korbankan. “Kalau kamu memang sebegitunya benci ke aku, sudah bunu-h saja! Bunu-h aku di hadapan Helios, di hadapan Akala, di hadapan Nina dan semuanya. Bu-nuh aku, termasuk anak-anakku! Kumpulkan semuanya, ... bun-uh kami di hadapan mereka, aku ikhlas!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Nailaaryaomira Omira
semoga saja syam bisa luluh hatinya
2024-11-16
0
Sri Widjiastuti
nah lhoh
2024-07-18
0
azka myson28
sedih banget jadi cinta..sudah capek laper tertekan asinya g lancar masih dimarahi dan dibuang makanannya..syam perlu dihajar helios biar tahu kalo ibu menyusui perlu makanan bergizi dan hati yang tenang
2024-06-12
1