Sampai detik ini, Syam masih bertanya-tanya, mengenai wanita yang sempat melakukan penemba-kan kepadanya. Wanita yang juga sudah langsung diselamatkan oleh beberapa orang berseragam serba hitam. Hanya saja, meski seragam mereka tampak mirip dengan seragam dari mafia Syam, Syam yakin itu bukan mafianya.
“Siapa sebenarnya wanita itu? Juga, sejak kapan ada mafia wanita? Masa iya, itu rombongan Jay dan Cobra?”
“Bukankah semuanya sudah binas-ah? Jay pun masih menetap di penjar-a bawah tanah markas.”
“Namun, wajah dan bentuk tubuhnya seperti tidak asing.”
Syam memang sudah melihat sosok yang menemb-aknya. Sosok yang ia yakini sebagai seorang wanita, terekam di CCTV tetangganya. Di kamera CCTV memang tidak begitu jelas, tapi Syam yakin, wanita itu tidak asing. Syam merasa mengenal sekaligus yakin, setidaknya, sebelumnya mereka memang pernah berjumpa bahkan mengenal.
“Kenapa?” tanya pak Helios lantaran Syam tampak melamun.
Untuk sejenak, Syam kebingungan. Namun, ia keceplosan cerita mengenai apa yang mengganggu keadaannya.
“Aku berpikir untuk pindah rumah saja. Mungkin ke Jakarta,” ucap Syam.
“Alasanmu membeli rumah itu karena kamu yakin, dulu di sana merupakan rumah orang tua kamu, sebelum dijual oleh paman dan bibimu, kan?” balas pak Helios.
“Tidak usah melarikan diri karena itu hanya akan membuat kita makin lelah. Hadapi dan habi-si, jika memang mereka tak mau tunduk kepada kita!”
“Siapa pun bisa menjadi musuh kita. Bahkan orang terdekat sekalipun. Karena garam dan gula saja, nyaris tidak ada bedanya sebelum kita merasakannya,” lanjut pak Helios. Di hadapannya, Syam tampak putus asa.
Syam menghela napas dalam kemudian mengangguk-angguk.
“Ada masalah lain?” tanya pak Helios lantaran baginya, gerak-gerik Syam layaknya orang yang menahan banyak beban. Padahal biasanya, sesibuk apa pun Syam dengan urusan pekerjaan, Syam tetap santai-santai saja.
“Aku rasa, akhir-akhir ini aku jadi makin si-al. Padahal sudah aku yakin pasti, tapi tetap saja malah parah banget, Mas!” cerita Syam. Ini mengenai dirinya yang sampai mendapatkan empat peluru di waktu yang sama. Malahan sampai sekarang, rasa sakitnya masih terasa.
Pak Helios menghela napas dalam. Ia tak langsung berkomentar. Namun, pria yang kiranya enam tahun lebih tua dari Syam itu menatap Syam dengan tatapan berat. “Sepertinya kamu kurang ibadah. Kamu kurang amal. Enggak usah jauh-jauh cari orang enggak lebih mampu dari kamu. Cukup pastikan saja anak dan istri kamu bahagia.”
Setelah terdiam sejenak karena tanggapan Syam yang jadi gelisah, seolah pria itu merasa berdosa, pak Helios berkata, “Doa orang apalagi pasangan yang terzali-mi ampuh banget loh, Syam. Aku sudah merasakannya sendiri. Dulu, awal-awal aku belum menikah dan aku masih cuek ke istri, kerasa banget apesnya.”
“Hubunganmu dan istrimu baik, kan? Sejauh ini, kamu enggak pernah cerita. Yang kamu ceritakan hanya tentang anak-anak kamu.” Pak Helios masih menatap Syam penuh kepastian. “Kalau aku pribadi sih, yakinnya, alasan kamu apes, ... karena kamu belum membahagiakan istri kamu!”
Bak disambar petir di siang bolong, itulah yang Syam rasakan hanya karena balasan sang sahabat yang sudah ia jadikan panutan.
“Tanggapan kamu begini membuatku makin yakin, kalau kamu memang salah. Malahan sepertinya memang fatal. Sudah sudahi, jangan dilanjut lagi sakit-sakitnya!”
“Sebahagia-bahagianya hal yang ada di dunia ini hanyalah kebahagiaan dengan pasangan halal. Anak mungkin bisa membuat kita senang. Anak selalu bisa membuat kita bahagia. Namun, akan ada masanya anak meninggalkan kita apalagi jika mereka sudah berumah tangga.”
“Pasangan akan menjadi satu-satunya yang menemani kita. Hanya ada dua kemungkinan yang membuat mereka meninggalkan kita dan itu masih berkaitan dengan sikap kita.”
“Andai pun ajal lebih dulu menghampiri pasangan kita, paling tidak jika semasa hidup kita sudah membuatnya bahagia, kita tidak akan merasa terlalu bersalah. Tinggal menunggu masa kita tiba, sambil terus berdoa agar di masa selanjutnya, kita bisa bersama.”
“Termasuk dampak ke anak-anak. Orang tua yang bahagia akan jauh lebih membuat anak-anaknya bahagia, ketimbang orang tua yang tidak bahagia.”
“Kalaupun anak-anak harus kehilangan orang tua mereka, setidaknya kenangan baik apalagi bahagia yang mereka rekam dalam ingatan, bisa membuat anak-anak bisa lebih bahagia. Mereka akan terbiasa meski mereka tidak bersama orang tuanya secara nyata.” Pak Helios meyakinkan Syam. Ia menepuk-nepuk kedua lengan Syam. Terlebih ia paham, Syam belum berdamai dengan masa lalu bahkan kenyataan. Syam masih sangat tempramental, grasa-grusu atau ceroboh. Syam masih sangat membutuhkan bimbingan dan itu darinya.
Pak Helios yakin, andai ada orang lain yang menasihati selain dirinya dan anak-anak Syam, Syam akan sulit menerima. Termasuk pasangan Syam yang justru itu Cinta. Pak Helios yakin, Syam tidak pernah mendengarkan Cinta apalagi jika Syam belum mencintainya.
***
Sepanjang perjalanan pulang dari kediaman pak Helios yang masih satu kabupaten, Syam terus merenungi ucapan dari pak Helios.
“Masa iya, alasanku si-al karena Cinta? Benar gitu, Cinta enggak bahagia? Dia kan santai di rumah sama anak-anak. Dia beneran enggak kerja karena makan saja, sudah ada yang masak. Beres-beres kucek pakaian, juga cuma punya anak-anak. Karena Cinta memang tipikal yang protektif juga ke anak-anak.”
Di perjalanan yang makin malam makin sunyi, awalnya Syam baik-baik saja. Syam menjalaninya dengan santai meski kini nyaris dini hari, dan ia juga mendadak ditahan rombongan beg-al.
Ada empat motor dan semuanya berboncengan. Keempatnya sudah langsung mengepung motor Syam. Setiap mereka yang dibonceng, beranjak turun sambil menatap bengis Syam yang memang tak sampai memakai helm. Syam hanya memakai topi hitam, dan juga masker hitam.
“Apa lagi ini? Kok iya apes dilanjut terus mirip sinetron!” batin Syam. Ia sengaja melajukan motornya, tapi dengan gesit, keempat pria yang turun dari boncengan mengeroyo-knya.
Dua dari mereka sudah langsung mengikat leher Syam mengunakan tali nilon dua sekaligus. Syam yang jadi gampang emosi sudah langsung mengamuk. Syam menggunakan belat-i yang ia ambil dari balik pinggangnya untuk memutus tali dari lehernya. Tali yang juga membuatnya kesulitan bernapas sekaligus berkeringat parah.
Kendati demikian, para begal yang jumlahnya ada delapan orang, kompak terus menyer-ang. Meski yang ada, Syam tetap bisa menghalau. Namun, Syam yang sempat nyaris menang, justru mendadak dibaco-k punggungnya. Salah satu bega-l yang sempat lari, tapi kembali datang lah pelakunya.
Bukannya tumbang, Syam malah jadi makin bringas. Segera ia mengambil celuri-t yang masih menancap di punggungnya. Tanpa pikir panjang, Syam menghantamkan celuri-tnya ke leher pelaku.
Darah sega-r langsung muncr-at karena ulah Syam. Namun, Syam tak peduli dan memilih pergi. Sya. Meninggalkan jalan yang kanan kiri merupakan hutan pinus, dengan kecepatan penuh.
Semua begal terkapar, tapi di sana memang benar-benar tidak ada orang lain selain Syam. Itu saja sudah pergi dan tak mungkin menolong mereka.
Syam pulang dalam keadaan terluka parah, tapi ia tak sengaja melihat penampilan baru Cinta. Cinta yang diam-diam sudah membeli pakaian baru, sukses membuat Syam pangling. Syam bahkan terpesona.
“Dia dandan ...? Buat apa? Dia lagi jatuh cinta, maksudnya, ... dekat sama orang?” pikir Syam tidak bisa untuk tidak curiga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Nia Sulistyowati
kayaknya syam buruh di ruqiyah biar otaknya lurus😁
2024-03-07
2
❤️Rizka Aulia ❤️
syam km perlu di doain biar jd baik
2023-12-28
1
Nancy Nurwezia
Syam suka buruk sangka dengan cinta..
2023-12-15
1