Elio berbalik dengan mata berbinar saat melihat sosok David yang berdiri dalam balutan jas sepasang berwarna cream, bersama dengan para dewan. Auranya yang kuat selalu mendominasi di setiap tempat.
David kebetulan baru saja menyelesaikan rapat bersama dewan direksi berjalan ringan menghampiri putranya, membuat semua orang tercengang juga penasaran dengan hubungan diantara mereka.
"Anak kecil ada urusan apa berkeliaran di Megantara Group?" Tanyanya iseng membuat orang sekitar sedikit bingung juga merasa lucu.
Elio mendongak meneliti papinya yang sudah berdiri tepat dihadapannya dengan kedua tangan berada dalam saku celana.
"Aku ingin menemui anda." Balasnya layaknya orang dewasa dengan mata mengedip.
David berjongkok tersenyum, "Panggil saja papi dimanapun kamu berada!" Sontak membuat semua orang terkejut.
"Papi?"
"Apa ini? Dia anaknya pak David?"
"Tapi sepertinya dia tidak pernah terlihat sebelumnya."
"Benar ini pertama kalinya aku melihat, tapi dia pintar dan lucu."
David sedikit mengerling saat mendengar bisikan para karyawan bahkan beberapa dewan yang masih berdiri di belakang David pun semakin penasaran.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Keduanya tersenyum. David berbinar membuatnya terlihat sangat berbeda dari biasanya. Karyawan pun seperti melihat sosok lain di depannya, tidak terlihat seperti pimpinan yang selalu saja berwajah datar, dan terlihat kaku.
"Pak maaf tadi saya membawa dokumen ke bagian pemasaran, dan den Eli..." Ucap Haris dengan sedikit terburu-buru namun terhenti saat menyadari kerumunan.
"Tidak masalah, lanjutkan saja kerjamu!" Seru David lalu menggendong sang putra menuju ruangan.
Haris pun hanya tersenyum kecil lalu sedikit menunduk diikuti karyawan lain saat David meninggalkan mereka.
Hari itu juga karyawan lantai 20 dihebohkan dengan berita itu, mereka saling bergosip dan bertukar informasi prihal kemunculan putra lain dari sang pemimpin untuk pertama kalinya.
Beberapa diantaranya berpikir itu mungkin anak kedua, ada juga mengatakan kemungkinan dia anak yang sengaja disembunyikan selama ini, bahkan ada yang berpendapat kalau dia putra dari selingkuhan pimpinan. Namun ada juga yang beranggapan kalau ia mungkin saja anak dari istri kedua atau istri siri.
Selain itu mereka juga saling menebak jika melihat kecerdasannya berbicara mungkin dia adalah penerus Megantara Group, meski begitu beberapa lagi mengatakan jika anak dari istri sah seharusnya yang jadi penerus.
Sejak awal, mereka tidak mengenal sosok Maura karena pernikahan David saat itu digelar secara sederhana dan tertutup hingga hanya sebagian kecil yang mengetahuinya. Sementara, sosok Valen pun lebih populer di bandingkan Maura.
Bukan karena David memperkenalkan melalui pernikahan mewah, melainkan karena Valen yang beberapa kali datang mengunjungi David bahkan pernah membawa Athar. Selain itu, Valen juga beberapa kali hadir pada pesta perayaan perusahaan mendampingi David.
Namun ia tidak pernah diajak dalam acara apapun terkait dengan perayaan bisnis dan lain-lain yang melibatkan para kolega bisnis atau pemegang saham selain perayaan perusahaan Megantara Group sendiri. Jadi Valen hanya populer dikalangan Megantara Group saja sih sebenarnya. Dengan kehadirannya itulah sehingga karyawan mengetahui jika dia istri sah David.
*
*
*
(RS MEDICAL CENTER)
"Bertemu papinya?" Ucap Maura dan kedua perawat itu hanya mengangguk.
Maura memegangi kepalanya, Elio semakin saja berulah.
"Baiklah kalian boleh pergi!" Maura menarik napas panjang, tidak ada hal yang bisa ia lakukan mereka terlalu lengket dan tidak ingin melukai hati putranya.
**
Maura memilih ke kantin untuk makan, di sana sudah ada Tania bersama Zam duduk manis menunggu. Maura tersenyum menghampiri mereka saat Tania melambaikan tangan.
**
"Makan lah sup ini mumpung masih hangat!" Tawar Zam mendorong semangkuk sup ke depan Maura.
"Eh, untukku?" Tanya Tania.
"Kamu bisa ambil sendiri!"
Tania memutar bola mata beranjak dari duduknya, sementara Maura dan Zam tertawa kecil.
*
*
*
(MEGANTARA GROUP)
"Ini ruangan papi?" Tanyanya dengan mulut mengerucut.
"Hem, bagaimana kamu suka?"
"Em!" Mengangguk.
David menurunkan bocah itu dari gendongannya, duduk di sofa hingga kedua kakinya menggelantung.
Haris menyusul mereka membawa beberapa dokumen, bersama dengan salah satu karyawan wanita yang membawa nampan berisi cemilan dan buah.
"Letakkan saja dimeja!" Seru Haris kepada karyawan itu."
"Coba katakan bagaimana bisa kamu berada di sini hem?" Berjongkok menggenggam tangan kecil itu.
"Aku menelpon uncle Haris."
David melirik Haris yang berdiri di samping mereka, sementara karyawan wanita itu beranjak keluar.
"Benar begitu?" Haris mengangguk.
"Elio dapat nomor uncle dari mana?" Haris pun baru berpikir saat David menanyakan hal itu. Jelas-jelas mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya.
"Aku tidak sengaja melihat log panggilan papi saat di hotel waktu itu." David dan Haris mengangguk mengingat kejadian tersebut.
"Hanya dengan melihat?" mengangkat kedua alisnya.
"Itu mudah saja aku bisa menghafal dengan cepat hanya sekali lihat. Hie.Hieh." Diakhiri tawa kecil, Haris membulatkan mata cukup takjub dengan kecerdasannya.
"Elio bosan pi berada dalam ruangan petugas selama 2 jam, mami tidak membiarkanku keluar. Aku sudah bermain game hampir sejam dalam ruangan, jika bermain kelereng akan mengganggu yang lain. Jadi aku memutuskan untuk menemui papi." Tersenyum memperlihatkan barisan gigi kecilnya.
"Elio ijin sama mami?" Bocah itu mengerutkan dahi lalu menggeleng.
David dan Haris saling melirik, jika benar Elio tidak meminta ijin bisa-bisa Maura akan mengomel lagi.
"Dengar Elio harus ijin sama mami dulu jika ingin kemana-mana!"
"Papi tenang saja, mami tidak akan marah!" Balasnya tersenyum.
"Bukan Elio yang dimarahi tapi papi!" Bisiknya namun didengar oleh Haris.
"Sorry!" Memiringkan kepala setengah tertunduk dengan raut sedih namun menggemaskan.
"Lihat dirimu masih kecil sudah pintar menggoda!" Mencubit kedua pipi mungilnya.
"Ya sudah mainlah, papi harus menyelesaikan pekerjaan dengan uncle." Lanjut David.
"Boleh bermain kelereng?" Melirik ruangan yang luas itu dan David pun mengangguk.
Dengan cepat Elio berlari ke sudut menjauh dari sofa tempat David.
"Derrt.. Dertt.."
Baru saja membuka lembaran untuk membubuhi tanda tangan ponselnya berdering. David merogoh ponselnya dari saku jas, benar saja panggilan dari Maura.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, David apa Elio bersamamu?"
"Benar dia meminta Haris menjemputnya!"
"Kamu yakin bukan kamu yang meminta Haris menjemputnya?" Sedikit ketus.
David mengangkat sebelah alisnya, "Katakan saja apa maumu!" Balasnya juga ketus.
"Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Ingat jangan berikan terlalu banyak makanan yang manis!" Serunya.
"Baiklah, dia putraku sudah pasti ku jaga dengan baik!"
"Tut.tut.tutt.." David mengerutkan dahi saat Maura memutuskan telepon begitu saja.
David pun mulai menyelesaikan pekerjaannya selama kurang lebih 15 menit.
**
David duduk melipat tangan memandangi bocah 5 tahun itu bermain kelereng seorang diri. Beberapa butir kelereng berukuran kecil berserakan di lantai. Tangan kecil itu terus membidik satu persatu kelereng didepannya.
Wajahnya terlihat serius penuh konsentrasi, setiap sentilan yang dikeluarkan selalu saja mengenai tepat sasaran. David pun cukup takjub melihat ketangkasan putranya. David yang cerdas pun bisa memahami jika kecerdasan Elio cukup tinggi, ia memiliki keseimbangan dalam motoriknya, terbukti dengan konsentrasinya yang cukup tinggi hingga kemampuan menembak habis setiap sasarannya.
"Papi ayo main bersama!" Ajaknya.
"Drrrggg drrrg."
"Drrrggg."
"Drrrggg drrrg."
"Hie.Hieh. / Hehehh!" Kompak.
Keduanya bermain bersama sambil tertawa ringan menikmati keseruan permainan.
Terakhir Elio membidik kelereng di depannya, sentilannya cukup kuat "Drrrggg!" Kelereng tersebut menggelinding cukup jauh dan diikuti pandangan keduanya hingga perlahan berhenti tepat mengenai sepatu lebih tepatnya heels berwarna merah.
Elio mendongak sedikit terkejut saat mendapati tatapan Valen yang sedikit dalam. Ia pun bisa merasakan aura yang tajan dari tatapan itu terlebih saat itu Valen mengenakan lipstik berwarna senada dengan heelsnya.
Begitu juga dengan David perlahan menarik senyumannya tergantikan raut datar memandangi Valen berdiri dengan menenteng rantang ditangan kirinya. Valen rupanya cukup lama melihat interaksi mereka dan itu membuat hatinya sedikit tertusuk akan senyuman David yang terlihat lepas.
Valen merasakan kedua kakinya lemas, namun tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menyampaikan amarah juga rasa tidak sukanya.
"Aku membawakan makan siang." Tersenyum kecil meletakkan rantang di atas meja.
Elio berdiri mendekati David, ia sedikit gugup melihat Valen saat itu.
**
Kini ketiganya duduk di sofa. Valen menyajikan makan siang untuk David, Elio pun hanya diam tidak berani berbicara. Ia seakan memahami jika suasana diantara kedua orang dewasa itu sangat canggung.
"Elio juga makan!" Tawar Valen sontak bocah itu mengangguk.
Untuk pertama kalinya David terlihat menikmati makan siang dari Valen, itupun karena ia makan ditemani dengan putranya. Valen merasa iri dengan kedekatan mereka, Valen mengamati keduanya yang tidak hanya terlihat begitu mirip, namun dari selera dan gerak geriknya pun seakan sama.
Hal itu justru membuat Valen merasa tidak suka dan bisa sakit mata jika terlalu lama melihatnya. Tanpa sengaja ia mengepalkan kedua tangannya yang berada diatas paha.
Valen menekan emosinya sebisa mungkin. "Aku akan pulang sekarang." Ucapnya beranjak.
David mengangguk santai, semakin membuat hati Valen memanas. Ia sengaja mengunjungi David untuk menciptakan momen berdua namun nyatanya malah ia menelan momen pahit .
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Holipah
salah kamu Valen merebut milik orang lain dengan cara licik sakit hati kn 😅 lanjut Thor
2023-12-23
1
tia
thor belom update ???
2023-12-20
0
Kasih Bonda
next Thor semangat
2023-12-19
1