(KEDIAMAN KELUARGA DAVID)
Sekitar pukul 21:00, David kembali menemui Athar.
"Ceklek!"
David melangkah ringan menghampiri bocah laki-laki yang sedikit berisi itu tengah tertidur memeluk guling. Di sebelahnya terdapat robot Iron Man hadiah dari David yang diberikan beberapa waktu lalu.
David duduk di pinggir kasur memandangi wajahnya yang bulat. Perlahan membelai rambutnya.
Athar yang merindukan papinya cukup peka, saat sentuhan David mendarat perlahan ia merasakan hingga membuatnya membuka mata.
Ia mengedipkan matanya lalu tersenyum "Papi pulang?" Lirihnya serak.
David tersenyum lalu mengangguk. Maaf papi membangunkan mu."
Athar pun menggeleng kecil sambil mengulurkan tangannya, David membantunya duduk.
"Athar merindukan papi." Memeluk David.
"Papi juga merindukanmu." Mengelus kecil bahunya.
"Athar, papi masih ada kerjaan Athar tidur lagi yah!" Ucapnya namun Athar semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mau ditemani papi tidur!" Bermanja.
Karena tidak ingin melukai perasaannya David sepakat untuk menemani sampai ia tertidur.
"Baiklah." Membantunya kembali berbaring lalu menyelimuti.
Tak butuh waktu lama, bocah itu pun kembali terlelap.
*
*
*
(RUMAH MAURA)
"Mami tidur lah, malam ini tidak perlu membacakan dongeng!" Ucap Elio berbaring miring sambil mendongak menatap maminya yang duduk sedang memegang buku bersiap mendongeng untuknya.
Maura mengerutkan dahi keheranan, "Tumben sekali tuan Elio tidak ingin mendengarkan dongeng?" Tersenyum menutup bukunya.
"Puk. Puk."
Maura meletakkan buku ditangannya lalu berbaring disamping Elio, saat putranya menepuk kecil bantal.
"Mami sudah bekerja keras untuk ku. Aku cerdas dan sudah besar sekarang, kelak aku akan menjadi orang hebat seperti papi. Mami tidak perlu lagi bekerja, Elio akan memberikan mami uang yang banyak!" Ucapnya menatap maminya dengan kedua matanya yang jernih.
"Pintar sekali anak mami!" Menggelitik kecil putranya.
"Hie. Hieh. Ampun mami hie.hieh!"
**
Setelah beberapa saat bocah itupun terlelap sambil memeluk lengan maminya. Maura pun mencoba memperbaiki posisi putranya dengan sedikit mengangkat badannya. Menyelimuti dengan baik, lalu merogoh beberapa butir kelereng yang berada di bawah bantalnya.
"Sampai sekarang mami belum mengerti mengapa kamu sangat menyukai kelereng." Lirihnya tersenyum memandangi wajah Elio.
"Ting."
Maura segera memasukkan kelereng itu ke dalam laci meja, saat mendengar notifikasi ponselnya berbunyi.
"Besok aku ingin membawa Athar bertemu neneknya!"
Maura membulatkan mata saat membaca chat dari David. Entah mengapa ia merasa cemas jika Elio semakin dekat dengannya. Tentu saja ia masih belum terima dengan perlakuan David dimasa lalu hingga sulit untuk menerima kehadiran begitu saja.
"Aku sibuk!" Balasnya.
"Kalau begitu biar aku menjemputnya."
"Tidak bisa!" Maura mengetik setiap balasnya dengan kekesalan.
"Jangan keras kepala!"
"Jangan sok akrab! Kita sudah punya jalan masing-masing dan Elio itu putraku. Aku berhak untuk mengatur dengan siapa dia akan bertemu!"
Usai membalas, Maura langsung mematikan ponselnya lalu berbaring memeluk putranya bersiap untuk tidur.
*
*
*
(KEDIAMAN KELUARGA DAVID)
"Jangan sok akrab! Kita sudah punya jalan masing-masing dan Elio itu putraku. Aku berhak untuk mengatur dengan siapa dia akan bertemu!" David mengerutkan dahi saat melihat balasan Maura yang cukup membuatnya kesal.
"Aku papinya!" ( centang 1).
David terkejut saat chatnya ke Maura yang tiba-tiba tidak bisa terkirim. Ia menutup lalu membuka kolom chatnya berulang kali namun tetap saja centang 1.
David mengangkat ponselnya lalu menggoyangkan beberapa kali berharap chatnya terkirim. Alangkah baiknya jika jaringan yang sedang mengalami gangguan, namun setelah beberapa saat tidak mengubah apapun. Sudah sangat jelas Maura dengan sengaja mematikan ponselnya.
"Maura!!" Geramnya dalam hati menggenggam kuat ponselnya.
"Cek!" Decak-nya melempar ponsel lalu bersandar di sofa.
**
"Thing!"
Notifikasi ponselnya tiba-tiba berbunyi, dengan cepat meraba ponselnya namun bukannya membuat emosinya membaik justru malah semakin menggeram.
"Pak?"
David menghela napas kasar kembali melempar ponsel. Bagaimana tidak ia menunggu balasan dari Maura, namun justru Haris lah yang mengirimkan chat.
"Thing. (Bapak dimana?)"
"Thing. (Apa bapak tidak ingin kembali ke hotel?)"
"Thing. (Pak saya sudah ada di depan rumah bapak!)"
Chat dari Haris masuk secara berente tan hingga membuat David mengepalkan tangannya, mengatupkan gigi Merakan emosinya yang memuncak.
"Hhhfftt. Hhhfftt." Mengatur napas menekan emosi.
Maura benar-benar telah mempu membuat emosinya berubah setiap saat layaknya pasang surut.
**
David pun mengambil mantel juga ponselnya, lalu menuruni anak tangga karena sudah cukup lama Haris menunggu.
"Mas?" Tegur Valen saat David melewatinya begitu saja.
David menghentikan langkahnya menoleh menatap Valen.
"Apa tidak bisa bermalam di rumah? Hampir setiap malam mas tinggal di hotel! Apa mas tidak memikirkan Athar?" Untuk pertama kalinya Valen mengutarakan isi hatinya.
"Aku masih ada kerjaan."
"Kerjaan lagi? Mas sudah 6 tahun masih sibuk setiap malam seperti ini. Mau sampai kapan mas?" Tanya Valen.
"Valen aku harus pergi. Maaf!" Melangkah.
"Apa mas akan bermalam lagi bersama anak dan mantan istri? Ucap Valen lantang.
Sontak David menghentikan langkah, "Valen kuharap jangan melewati batas!" Menatap tajam.
"Aku istrimu, 6 tahun aku bersamamu tapi apa pernah kamu memikirkan keberadaan ku? Menunjuk dadanya dengan mata memerah David pun hanya mengepalkan tangannya.
"Tidak sekalipun kamu memujiku sebagai istri atau bahkan sebagai ibu Athar." Menatap dalam David.
"6 ta..hun, Lanjutnya pelan namun penuh penekanan. 6 tahun David aku hanya menghabiskan setiap malamnya seorang diri, selain Athar aku tidak memiliki teman tidur!" Dengan nada lebih tinggi sampai tubuhnya bergetar merasakan emosinya yang memuncak.
"Valen!" Ucap David dengan nada tinggi sontak Valen membulatkan mata meneliti raut David yang masam.
"Dari awal pernikahan kita tidak didasarkan cinta." Melangkah mendekati Valen. "Aku menikahi mu sebagai tanggung jawab dan kamu tahu itukan? Ucapnya dingin menatap tajam."
"H'he!" Valen tersenyum bodoh.
"Selama pernikahan tidak ada perjanjianku untuk membuka hati. Aku tahu kamu mungkin lelah, tapi aku tidak bisa. Sekeras apapun aku mencoba melangkah, tetap saja hatiku kembali ke awal. Jadi tolong jangan pernah lagi menuntut apapun dariku!" Lanjutnya dengan dingin namun matanya berlinang.
"Aku tahu kamu bukannya takut untuk melangkah. Tapi kamu masih belum mampu melupakan Maura cinta pertama mu kan? Kamu bodoh David bodoh jelas-jelas dia meninggalkan mu tapi kamu malah terperangkap dalam cinta yang tidak terbalas!" Balasnya sinis.
"AKH!" Ringis-nya saat David mencengkram lengan kanannya, "Dengar! Jika kamu masih ingin bersama Athar jangan terlalu dalam mencampuri atau mengatur perasaanku!" Mendekatkan wajahnya hingga Valen dapat merasakan deru napasnya yang dingin.
Valen menelan saliva saat tenggorokannya terasa kering dan tercekat. "Apa kamu yakin masih memikirkan Athar, setelah menemukan anak biologis mu?" Valen tidak mengala.
David memicingkan mata meneliti wajah Valen yang memerah memancarkan emosi. "Sampai kapanpun Athar tetap jadi putraku, darah keluarga Megantara mengalir di dalam tubuhnya." Melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Valen terhuyung bersama dengan tetesan air mata yang mulai mengalir.
Valen menjatuhkan badannya dilantai, "Hiks. Hiks. Hiks." Isaknya merasakan sayatan di dadanya, sedangkan David berlalu meninggalkannya dengan langka lebar dan tergesa.
**
"Pa..."
"Kita ke hotel sekarang!" Serunya dengan raut masam sambil menutup pintu mobil dengan keras.
Haris yang menunggu cukup lama terpaksa menelan perkataannya yang tidak sempat diucapkan. Bagaimana tidak. Baru saja ia ingin menyampaikan kekesalannya tapi malah justru David lah yang lebih marah dan terlihat menakutkan saat itu.
Haris pun membawa David meninggalkan kediaman utama menuju hotel. Selama beberapa saat diperjalanan mereka tidak berbicara, Haris hanya sesekali meliriknya di spion. Sangat jelas raut David yang tidak baik-baik saja.
"E'hem" Berdehem mulai buka suara.
"Pak ada masalah?" Tanyanya melirik sejenak namun David hanya terdiam menata keluar kaca mobil.
"Aku tahu kamu bukannya takut untuk melangkah. Tapi kamu masih belum mampu melupakan Maura cinta pertama mu kan? Kamu bodoh David bodoh jelas-jelas dia meninggalkan mu tapi kamu malah terperangkap dalam cinta yang tidak terbalas!" Perkataan Valen kembali terlintas.
David kembali berpikir, apa mungkin selama ini ia begitu mencintai Maura hingga sulit melupakannya? Dan apa benar sebenarnya dia tidak membencinya tapi masih mencintainya?" Kepala David terasa berdenyut membuatnya semakin rumit untuk mengartikan perasaannya untuk Maura.
"Ada masalah dengan istri?" Tanya Haris sengaja memancing.
"50 % bonus hangus." Balas David tanpa memalingkan wajahnya tapi tidak membuat Haris menyerah.
"Atau mantan istri?" Lanjutnya.
"100 % hangus." Masih dengan nada yang sama.
"Berarti benar mantan istri!" Godanya membuat David semakin memanas.
"Cek!" Decak-nya menatap Haris.
"Ok. Ok." Mengangguk Kemabli fokus menyetir.
Sebenarnya Haris cukup senang jika melihat David yang mulai menunjukkan emosinya, tidak seperti patung yang hanya bermodalkan muka datar, senyum yang hampir tidak terlihat, nada bicara monoton dan hanya memikirkan kerjaan.
Haris sebenarnya bukan hanya sekedar sekretaris saja, namun mereka sudah berteman cukup lama. Dari awal memulai karier mereka sudah bersama, hingga hanya Haris yang menjadi orang terdekatnya di perusahaan dan hanya dia suatu-satunya menjadi teman bicara David sejak kepergian Maura.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
gilaaa
2024-01-16
0
Kasih Bonda
next Thor semangat
2023-12-15
1
tia
dugaan bener ada David dijebak valen … maura pergi ad hubungan dengan valen … dilihat usia antara Eliot dan athar sama
2023-12-14
0