Mobil membawa mereka telah berlalu, kini tinggal David dan Valen. David terdiam saat melihat sosok Valen yang berdiri memandanginya. Valen pun menegakkan kepala lalu menghampiri David.
"Aku membawakan pakaian ganti juga sup iga untukmu!" Ucapnya tersenyum kecil, namun hatinya berkecamuk.
**
Saat berada dalam kamar, Valen mulai membuka bingkisan yang berisi sup iga. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja dan berusaha terlihat tenang, walau pikirannya sudah mulai kacau.
David duduk di sofa tepat dihadapannya hanya memandangi tanpa kata.
"Makan lah selagi masih panas!" Menyodorkan semangkuk sup.
"Kau melihatnya kan?" Tanya David saat pandangan mereka bertemu.
Sontak membuat Valen membeku, "Makan dulu!" Balasnya kembali tersenyum kecil.
David pun mengambil mangkuk itu, tapi bukan memakannya melainkan kembali meletakkan di atas meja. Pandangan Valen mengikuti mangkuk itu, perasaannya mulai semakin tidak karuan.
"Dia putraku yang dilahirkan Maura 5 tahun lalu, bernama Elio!"
"BOM!"
Seperti sebuah ledakan yang menembus dadanya. Valen mulai memucat, seketika seperti berada dalam ruangan gelap seorang diri dan sangat sunyi. Meski ia tahu sampai saat ini Davi belum membuka hati, tapi mendengar kabar tentang keberadaan putra David rasanya terlalu mendadak, ia belum siap sepenuhnya.
"Aku tahu ini terlalu mendadak, tapi inilah kebenarannya dan aku harus memberitahumu!" Lanjut David menatap Valen.
Valen meremas ujung bajunya, dadanya terasa sesak begitu saja namun sekali lagi ia menekan emosinya.
"Apa kamu yakin dia anakmu?" Mengangkat pandangannya menatap kedua mata David.
"Aku sudah melakukan tes DNA."
Kelompok mata Valen bergetar terasa pedih, "Lalu?" kembali bertanya.
"Kecocokannya 99 %."
Jantungnya berdebar lebih kencang, kedua sudut matanya mulai memerah kembali teringat dengan ucapan Athar beberapa hari lalu.
(FLASHBACK)
"Papi tau nggak kami kedatangan murid pindahan dari Singapore loh." Ucapnya dengan mulut dipenuhi ayam goreng.
Namun David hanya tersenyum sambil mengaduk makanannya.
"Namanya Elio, dia cerdas juga suka berbagi makanan denganku!"
(FLASHBACK END)
"Lalu bagaimana dengan Athar?" Lirih Valen.
David menatap serius Valen, "Dia putraku, akan tetap seperti itu!" Jawabannya.
Valen lemas kehabisan kata. "Aku tidak akan mengganggumu. Pulanglah jika ada waktu! Athar merindukanmu." Beranjak dari duduknya meninggalkan David.
David termenung memandangi semangkuk sup iga yang mulai dingin. Ia akui mungkin dirinya telah menjadi laki-laki pengecut Dimata Valen. Namun tepat saja, hati tidak bisa dipaksakan.
*
*
*
(RS MEDICAL CENTER)
24 Jam telah berlalu, Maura bersama kedua sahabatnya berkumpul di kantin.
"HAH?" Tania dan Zam kompak saat Maura menceritakan kejadian semalam kepada mereka. Sontak membuat orang disekitar mereka menoleh.
"Husstt!" Mengangkat telunjuknya sambil melirik sekitar, diikuti oleh mereka berdua.
"Jangan bilang..?" Tania menatap curiga.
"Ih apaan sih? Ini nggak seperti yang kalian pikir!" Bantah Maura.
"Ih apaan sih? Aku tetap positif thinking kok, Tania aja tuh negatif mulu." Celetuk Zam memutar bola matanya.
"Berisik lu!" Balas Tania menyikut lengan Zam. "Terus kalian ngapain aja semalaman? Untung aja ibu nggak sadar kalau kalian nggak pulang semalam."
Maura tersenyum kecut. "Kemarin David demam, Haris juga sudah pulang jadi mau tidak mau aku harus bermalam. Tapi sumpah nggak ada kejadian apapun." Mengangkat tangannya.
Tania dan Zam hanya terdiam, "Ayolah, kalian tahu aku kan nggak mungkin sebodoh itu?" Mengangkat kedua alisnya meyakinkan.
"Aku selalu percaya kok!" Balas Tania sontak membuat Maura tersenyum lalu melirik Zam. Zam pun langsung mengangguk.
"Trus gimana soal Elio? Sorry yah kemari kami belum sempat ngasih tahu kamu tentang tes DNA, soalnya aku juga nggak sengaja ngeliat hasilnya kemarin." Ucap Zam.
"Tidak papa kok."
"Terus rencana kamu apa selanjutnya?"
"Aku nggak tahu, sebelum kembali ke Indonesia aku berpikir akan menyembunyikan keberadaannya sebisa mungkin setelah semua yang terjadi dimasa lalu." Sedikit menunduk.
"Tapi setelah melihat pertemuan mereka kemarin, aku melihat binar bahagia di wajah Elio. Selama ini aku tidak menyadari kesepiannya, aku selalu menganggap kami berdua tetap bahagia tapi pada kenyataannya ia menyimpan keinginannya sendiri."
Zam dan Tania mendengar dengan serius setiap perkataan Maura.
"Untuk sesaat aku goyah melihat keharmonisan mereka. Namun saat mengingat kejadian 6 tahun lalu dan semua yang ku alami seorang diri rasanya sulit untuk menerima kenyataan jika harus melupakan begitu saja." Tatapannya sendu, "Apa aku salah dan terlalu egois?" Memandangi sahabatnya dengan mata memerah.
"Dengar, kamu ibu yang kuat. Aku tahu rasa sakit mu mungkin terlalu besar, tapi hidup terus berjalan. Kamu tidak boleh terperangkap dengan masa lalu yang hanya akan memberimu luka!" Tania menggenggam tangan Maura.
"Pikirkan tentang Elio, ia msih kecil perjalanan hidupnya masih panjang. Apa kamu tega melihatnya kehilangan separuh kebahagiaan yang harusnya ia nikmati? Hem?" Maura mengangguk.
"Aku tidak memintamu memaafkan David sekarang. Aku hanya ingin mulai saat ini kamu berpikir jernih, tanyakan isi hatimu yang sebenarnya!"
"Terima kasih!" Tersenyum, di ikuti oleh kedua sahabatnya.
*
*
*
(MEGANTARA GROUP)
Selain Maura yang bimbang akan perasaannya, tidak jauh berbeda dengan David yang saat itu sedang berada dalam ruangan kerjanya di temani beberapa dokumen. Namun ia tidak sedang memeriksa isinya atau membubuhi tanda tangan.
Ia duduk menghadap jendela kaca, tiada mengeluarkan sepatah kata pun, tatapannya lurus hingga membuat Haris yang duduk di sofa kebingungan. David mencoba menelaah perkataan yang keluar dari mulut Maura semalam juga ucapan Elio.
(FLASHBACK)
"Tapi aku tidak pernah menolak kehadirannya sebelum ia terlahir di dunia!"
"Bukan kah 6 tahun lalu kamu tidak menginginkan keberadaan ku? Apa kamu lupa dan menyesal karena telah menolak kehadiran Elio yang bahkan belum aku lahir kan?" Ucap Maura meneteskan air mata.
**
Saat pagi hari Elio lebih dulu bangun, ia duduk memandangi wajah maminya yang masih tertidur pulas dalam balutan selimut.
"Mami, apa mami semalam mimpi buruk lagi?" Membelai rambut maminya.
David yang berdiri melihat mereka memicingkan mata keheranan mendengar ucapan Elio.
"Hey, mami masih tidur jangan di ganggu!" Ucapnya berbisik.
Elio memalingkan pandangannya tersenyum melompat dalam pelukan papinya, saat David mengulurkan tangannya.
"Apa mami sering mimpi buruk?" Tanyanya sambil menggendong Elio ke sofa.
"Benar. Mami selalu saja ketakutan saat bermimpi. Setiap kali bangun dari mimpi wajahnya akan memucat."
David berpikir sejenak, "Apa Elio tahu mami mimpi apa?" Kembali bertanya dan Elio hanya menggeleng.
(FLASHBACK END)
David mengusap kasar wajahnya. Hatinya gelisah entah apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Maura saat mengatakan kemarahannya semalam juga mimpi seperti apa yang selalu ia lihat?
*
*
*
(TK PENERUS BANGSA)
"Arthar?" Panggil Valen saat menjemput anaknya.
"Ibu?" Memeluk pinggang ibunya.
"Ibu kenalkan ini temanku yang sering Athar ceritakan kepada ibu." Menunjuk Elio.
Sontak Elio melirik Athar yang dengan bangganya memperkenalkan dirinya. Dalam hati ia senang, rupanya Athar selain berteman baik dengannya ia juga sering menceritakan tentang dirinya kepada orang terdekatnya.
"Senang bertemu dengan Tante!" Melambaikan tangannya.
Valen terpaku saat melihat wajah Elio yang begitu mirip dengan David. Melihat wajahnya saja sudah bisa ditebak dia putra biologisnya. Tubuhnya kembali lemas, entah seperti apa ke depannya hubungan mereka terlebih lagi Athar sangat menyukai pertemanannya dengan Elio.
"Senang bertemu denganmu." Valen tersenyum dan Elio pun langsung membalasnya.
"Elio?" Suara Maura dari belakang sontak membuat mereka berbalik.
Maura berjalan ringan melihat sosok Valen, keduanya terlihat canggung saling menatap.
Maura cukup terkejut karena bertemu Valen kedua kalinya. Melihat sosok wanita yang telah mendampingi David setelah kepergiannya membuatnya sedikit goyah lalu menatap Athar.
Begitu juga dengan Valen yang tidak pernah menyangka akan dipertemukan dengan masa lalu David yang juga telah membawa seorang putra.
Mereka dua wanita yang melahirkan anak berstatus putra David. Tentu saja mulai hari itu cerita kehidupan mereka sedikit berbeda.
"Tante anda lebih cantik dari yang dikatakan Elio." Ucap Athar dengan polos saat pertama kali melihat Maura lebih dekat.
"Terima kasih sayang. Kamu juga tampan." Balas Maura tersenyum.
"Kami permisi dulu." Lirih Valen dan Maura hanya mengangguk.
Rupanya setelah kembali ke Indonesia tidak membawanya terlepas dari mas lalu. Di saat Elio merasa nyaman dan menemukan teman tapi hubungan mereka ternyata jauh lebih rumit.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
tia
ada kemungkinan 6 tahun lalu ad hubungan dengan valen ? karna umur Elio dan athar hampir sama
2023-12-13
1