Selain kelereng ada beberapa permen rasa vanilla yang lagi-lagi membuatnya tersenyum, rupanya mereka memiliki favorit rasa yang sama. Tanpa berpikir panjang Elio mungkin marah atau tidak, David membuka sebungkus permen lalu memakannya.
Nah kali ini manisnya vanilla terasa lebih dari sebelumnya. David menikmati permen itu sambil melirik putranya sejenak sebelum ia mengeluarkan buku gambar milik Elio.
Sebuah gambar induk ayam bersama dengan se ekor anaknya berwarna kecoklatan. Terlihat biasa saja dan wajar bagi seusianya menggambar hewan dan sejenis. Namun, David cukup memahami dari gambar putranya seperti mengandung makna seorang anak yang kesepian hanya memiliki ibu tanpa ayah.
David terpaku menatap gambar itu, lalu membuka lembaran selanjutnya. Matanya terasa pedih melihat gambar seorang ibu dan ayah yang terlihat menggandeng tangan anaknya.
David beranjak menghampiri Elio. Dibelai lembut kepala anaknya.
"Maafkan papi, kamu pasti sangat kesulitan." Lirihnya lalu mengecup kening Elio.
**
"Tok. Tok."
Ketukan dari balik pintu tiba - tiba terdengar. Davi beranjak membuka pintu dan Mendapati Maura yang berdiri di depannya. Terdiam sejenak.
**
"Dimana putraku?" Tanyanya.
David memicingkan mata, Elio sedang tidur."
Tanpa menjawab Maura menerobos masuk menuju kasur bermaksud mengambilnya. David dengan cepat mengikuti dan menarik tangan Maura.
"Dia baru saja tidur!"
"Aku harus membawanya pulang!" Balasnya ketus.
"Aku tidak mengizinkan!"
"Kamu tidak punya hak!" Mengulurkan tangannya.
"Aku papinya! Aku juga berhak atasnya!" Ucap David dingin.
"DUG!"
Maura terdiam menatap David. "Apa hakmu mengatakan putraku adalah anakmu?" Mengepalkan kedua tangannya.
David melirik Elio yang sedikit terusik. Karena tidak ingin mengganggu tidur putranya David menarik tangannya Maura sedikit kasar menuju ke kamar sebelah yang terhubung dengan satu pintu dalam ruangan.
"Lepaskan! David lepaskan!" Meronta namun David semakin mengeratkan genggamannya.
**
Di dalam kamar yang berbeda Maura duduk di sofa dengan raut kesal. Tak cukup sampai disitu, David mengeluarkan amplop putih dari saku jasnya langsung melemparkan ke atas meja.
Maura membuka secara perlahan dan membacanya selama beberapa kali. Tenggorokannya tercekat saat itu juga, ia marah karena David telah lancang melakukan tes DNA tanpa seizinnya.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" Berdiri mengangkat kertas.
David melangkah mendekati, "Apa aku harus memberitahu mu untuk mencari tahu tentang anakku?"
"Heg. Anak? Kamu berbicara anak seolah - olah kamu papi yang baik untuk Elio!" Menunjuk dada David.
"Lalu bagaimana dengan dirimu? Apa kamu termasuk mami yang baik dengan menelantarkan anaknya di tengah keramaian mall?" Dengan nada lebih tinggi.
"Tapi aku tidak pernah menolak kehadirannya sebelum ia terlahir di dunia!"
Sontak David menggertakkan rahangnya, Maura benar-benar melukai perasaannya. Jelas-jelas dialah yang memisahkan dirinya dengan Elio tapi menuduh dirinya sebagai papi yang tidak baik.
"Kenapa?" Lanjutnya saat David terdiam.
"Maura!" Lirihnya mengepalkan kedua tangannya.
Maura melihat dengan jelas wajah David yang mulai memerah, namun tidak membuatnya getar justru semakin menambah emosinya.
"Kenapa diam? kamu marah? Pak David Megantara yang terhormat apa kamu lupa perlakuanmu 6 tahun lalu?" Ucapnya dengan nada lebih tinggi.
"MAURA!" Bentaknya menendang meja dengan kasar "BRAK!!" hingga membuat vas bunga keramik terjatuh dan pecah.
Maura pun memejamkan mata secara spontan. Kali ini ia baru merasakan ketakutan setelah melihat amarah David untuk pertama kalinya. Cukup lama ia memejamkan mata tidak berani menatap David bahkan ia sempat berpikir apa David akan memukulnya.
David menatap Maura yang masih berdiri memejamkan mata, terlihat memucat. David memandanginya dengan mata memerah, ia marah bahkan sangat marah dan benci dengannya tapi mengapa ia juga merasa tidak tega melihatnya.
Maura perlahan membuka matanya. Anehnya saat pertama kali membuka mata dan mendapati wajah David terlihat malang.
"Da,,vid?" Lirihnya.
"Kenapa? Kenapa kamu membiarkan ku menaruh harapan kepadamu saat itu? Lalu meninggalkanku sendiri?" Ucapnya bergetar.
Maura tiba - tiba merasa sakit dalam dadanya, "Bukan aku, tapi kamu!" Balasnya berkaca-kaca.
David memicingkan mata, tatapannya rumit. Maura seakan tidak menyadari kalau kesalahannya terlalu besar, malah selalu mengembalikan kepadanya, seakan David yang jahat.
Sedangkan bagi Maura, David harusnya tidak memiliki hak untuk menanyakan hal itu. Sangat jelas Maura memilih jalan yang membawa mereka berada dalam keadaan seperti sekarang karena ulah David.
"Aku?" Ucapnya mencengkram kuat lengan Maura.
"Akh!" Ringis-nya merasakan denyutan pada lengan kirinya.
"Kamu bahkan menghilang 6 tahun lalu dan menyembunyikan Elio." Ucapnya dingin.
Meneliti wajah David yang memerah, tatapannya menyiratkan amarah juga kesedihan yang bersamaan.
"Bukan kah 6 tahun lalu kamu tidak menginginkan keberadaan ku? Apa kamu lupa dan menyesal karena telah menolak kehadiran Elio yang bahkan belum aku lahir kan?" Ucap Maura meneteskan air mata.
David melepaskan cengkraman nya, kepalanya berdenyut. Entah drama apa yang Maura mainkan untuknya, yang jelas dadanya terasa sesak.
"Berhenti memainkan dramamu! Apa tidak cukup kamu meminta berpisah kepadaku? Tolong jangan siksa aku lagi!" Ucapnya memegangi dadanya perlahan menjatuhkan badannya bersandar dipinggir sofa.
Tekanan yang ia rasa terlalu kuat hingga membuatnya sesak bahkan tidak dapat berpikir lebih jernih menjadikannya lemah.
Maura tetap saja merasa khawatir dan takut melihat keadaan David.
"David? David ada apa?" memegangi bahu David.
"Hey David kamu tidak papa kan? Apa kamu sakit?" Ucapnya dengan khawatir memegang pipi David.
"Demam?" Lirihnya dengan raut penuh kecemasan.
Tanpa berpikir panjang Maura memapahnya ka kamar tempat Elio tertidur. Maura merebahkan David diatas sofa sengaja agar tidak menggangu putranya.
"Dimana ponselmu? Aku akan menghubungi Haris." Meraba saku jasnya.
Namun David mengehentikan Maura, "Dia sudah pulang ambilkan saja obat ku!" menunjuk tasnya di atas kasur.
Dengan cepat Maura mencarinya, namun ia cukup terkejut saat menemukan bungkusan rokok dan pemetik berwarna gold. Setahunya selama menikah David tidak merokok.
Namun ia tidak terlalu menghiraukan, kembali melanjutkan mencari obat. Rupanya David sudah tidak enak badan sejak kemarin dan beruntung obat penurun panasnya ia bawa. Namun lagi-lagi Maura syok saat menemukan obat lain dalam tas David.
Rupanya David selain menjadi pecandu rokok, ia juga mengonsumsi obat yang biasa diberikan bagi penderita insomnia. Tapi Maura tidak terlalu memperdulikan yang terpenting saat itu membantunya meminum obat terlebih dahulu.
Maura menuangkan secangkir air lalu memberikan obat kepada David. Dengan hati-hati membantunya duduk lalu meneguk air. Seketika permasalahan mereka seakan tidak pernah terjadi saat itu.
"Bermalam lah di sini! Aku tidak bisa mengantarmu, Elio juga sudah tidur. Aku tidak akan mengganggumu!" Lirihnya dan Maura hanya terdiam juga tidak menolak.
David memejamkan matanya, Maura termenung melihatnya. Wajahnya terlihat tenang dan masih saja tampan.
Mengingat wajahnya yang hampir saja menangis. Maura membatin, apa benar laki-laki yang pernah menghabiskan waktu bersamanya, selalu bersikap baik dan tidak pernah berkomentar buruk padanya, benar - benar tega menyingkirkan kandungannya? Jika benar mengapa tadi ia terlihat begitu menyedihkan?
Maura menoleh melihat bungkusan rokok, pemantik berwarna gold juga botol obat yang berserakan di atas kasur. Sebagai dokter tidak asing baginya menemukan benda tersebut. Dengan mudah ia bisa menebak kalau keadaannya cukup sulit.
"Apa kamu tidak baik-baik saja selama ini?" Batinnya kembali memandangi David. "Bahkan saat tertidur pun masih mirip dengan Elio." Lanjutnya tersenyum kecil.
"Tidak. Tidak. Apa yang kamu lakukan Maura?!" Menggeleng mengembalikan kewarasannya, hampir sja dirinya kembali tergoda.
Maura merapikan isi tas David lalu berbaring di dekat Elio.
**
Waktu terus berjalan, jam menunjukkan pukul 01 : 00 wita. Demam David sudah turun.
"Tidak. Tidak. tolong jangan ambil..!"
David terbangun saat mendengar Maura yang mengigau.
"Maura." Batinnya beranjak menghampiri.
David cukup terkejut melihat Maura yang dipenuhi keringat pada bagian dahinya juga gelisah. "Tolong jangan ambil...! hiks.hiks."
Perlahan Dudu di tepi kasur, tangan yang terulur bergetar mencoba menyentuh wajah Maura untuk pertama kalinya setelah 6 tahun.
"Maura?" Memegang pipinya Maura, sontak Maura memeluk tangan David lalu kembali tertidur. David memandangi wajah itu dan dapat merasakan dinginnya setetes air mata yang perlahan terjatu membasahi tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mu? Mimpi apa yang kamu lihat?" Gumamnya memandang sendu dan matanya pun terlihat sayu memerah.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
Modus apa gmn yak🤭🤭
2024-01-14
0
tia
thor kenapa digantung /Sob//Sob//Sob/
2023-12-11
1