D&M MALL

(RUMAH MAURA)

"Coba ibu lihat!" Ucap Maura merapikan pakaian Elio.

Elio pun berdiri bertolak pinggang tersenyum, "Wah tuan Elio memang sangat tampan." Lanjutnya.

"Hie. Hieh." Tertawa kecil khas bocah.

"Ayo sarapan!"

Elio mengambil tasnya lalu mengikuti maminya menuju meja makan, di sana sudah ada nenek dan Tania menunggu.

Sarapan mereka berlangsung cukup tenang, Tania sesekali menatap Maura sambil berpikir bagaimana caranya dia memberitahu tentang tes DNA yang dilakukan oleh David.

Jika diberitahu sekarang takut Maura bersedih atau kurang nyaman, tapi jika tidak bagaimana jika Maura marah? Terlebih saat ini dia belum tahu tindakan seperti apa yang akan dilakukan David.

"Coba deh lu bayangin mereka keluarga kaya, punya perusahaan keluarga butuh penerus, secara kebetulan Elio putra pertama laki-laki yang secerdas sangat pas kan?"

Tania menggeleng menyadarkan dirinya saat perkataan Zam kembali terngiang dibenaknya.

"Mami apa boleh nanti ke mall? Sejak pindah ke Indonesia Elio belum pernah jalan-jalan." Tanyanya mendongak.

"Mall?" Tanya Maura.

Elio mengangguk, "Em D&M mall." Balasnya membuat Maura sedikit mengerutkan dahi sedangkan Tania terlonjak membulatkan mata.

Ada beberapa Mall disekitar tempat tinggal mereka, mengapa Elio memilih D&M mall. Tenggorokannya terasa kering, diapun mengambil secangkir air lalu meneguknya sampai habis. Sementara ibu Maura hanya terdiam..

Setelah dipikir-pikir memang benar, sudah hampir sebulan mereka kembali namun Maura hanya sibuk bekerja tanpa membawa Elio jalan-jalan.

"Baiklah nanti kita ke Mall." Tersenyum.

*

*

*

(RS MEDICAL CENTER)

Dua wanita cantik berprofesi Dokter dan Analis itu berjalan dengan anggun memasuki pintu utama rumah sakit.

Langkahnya yang selaras sambil tersenyum dan saling menyapa. Setelah 6 tahun lamanya akhirnya kedua sahabat itu bisa kembali bersama mengingatkan momen semasa sekolah dan kuliah, walau mereka memilih jurusan berbeda namun tidak mengurangi kekompakan mereka sampai saat ini.

Di tengah gedung ruang tunggu, ada Zam yang berdiri melipat tangan, tersenyum menunggu mereka yang berjalan menghampiri.

"Selamat pagi dokter Maura yang cantik?" Godanya tersenyum melihat Maura sedangkan saat pandangannya tertuju kepada Tania, dengan sengaja memutar bola matanya."

Sontak saja Tania menghela napas kasar. Maura tertawa kecil melihat kedua temannya yang memang dari dulu selalu usil satu sama lain.

Selalu saja Maura menjadi penengah diantara mereka, sama seperti hari itu Maura pun langsung menggandeng kedua tangan temannya itu dan berjalan bersama. Maura bersyukur karena masih ada mereka yang masih setia menjadi temannya sampai saat ini.

*

*

*

(D&M MALL)

Sesuai janji, sore itu Maura membawa Elio berjalan - jalan di Mall.

Baik Elio maupun Maura cukup terkejut melihat kemewahan di dalamnya. Ternyata bukan hanya bangunannya yang besar namun fasilitas didalamnya juga modern dan berkelas. Hal pertama yang mereka lakukan adalah memasuki Playground. Elio mencoba beberapa jenis permainan di dampingi maminya, ia cukup menikmati sampai Maura bisa tertawa lepas bersama.

Setelah puas bermain Maura membawa Elio melihat mainan, sejak dulu Elio tidak rewel dan selalu mengerti maminya sehingga saat itu membeli satu buah tembakan dan satu buah mobil - mobilan saja baginya sudah cukup.

**

Kebetulan David yang hari itu juga datang melakukan kunjungan di Mall, guna melihat keadaan dan memastikan beberapa penjualan produk berjalan dengan baik. Selain itu ia juga sekalian memeriksa kesesuaian keadaan dilapangkan dengan laporan dari pegawainya.

"Tolong berikan jalan!" Ucap Haris.

David pun berjalan dengan kedua tangannya berada dalam saku celananya. Rautnya tenang memancarkan aroma tobacco khasnya memberikan kesan soft sekaligus misterius mampu mendominasi.

"Selamat datang pak David."

"Pak David."

"Pak David selamat datang."

Sapa beberapa orang yang ia lewati dan iapun hanya mengangguk. Terlihat cuek sekaligus menawan dimata orang sekitarnya terutama lawan jenisnya. Sosoknya yang tidak banyak bicara namun tampan selalu saja mampu menghipnotis mereka.

David di dampingi Haris dan 2 orang bodyguard berjalan melewati toko -toko, dan memasuki beberapa brand sambil melihat dan sedikit berbicara dengan pramuniaga.

**

Setelah itu, Maura membawa Elio makan. Selain kelereng, Elio menyukai ice cream vanila.

"Mami Elio mau ice cream vanila."

"Mba tambahkan satu ice cream vanila nya." Ucapnya kepada pelayan.

"Elio mami mau ke toilet sebentar, jangan kemana - mana yah?"

"OK!" Balasnya mengangkat tangannya.

Elio yang penurut hanya duduk sesekali melirik sekitarnya, setelah pelayanan membawakan pesanan termasuk ice cream nya. Ia langsung melepaskan masker bermotif Spongebob yang dari tadi menutupi sebagian wajahnya.

"Thank you." Ucapnya lalu menjilat ice cream ditangannya.

Sontak pelayanan wanita itu tersenyum, "Hey, kamu tampan sekali, boleh tahu siapa namamu nak?" Tanyanya.

"Elio, umurku 5 tahun." Balasnya mendongak.

Tak cukup sampai disitu, satu pelayan lainnya yang melihat mereka juga ikut nimbrung.

"Selain tampan dia juga pintar. Tapi kalau dilihat - lihat wajahnya seperti tidak asing."

Kedua pelayanan itu pun berpikir sambil terus melirik wajah Elio. Elio sendiri berpikir sejenak, ia takut jika pelayanan itu menyadari wajahnya terlihat mirip siapa.

"Maaf aku haru ke toilet." Ucapnya berlari membawa ice cream nya.

"Eh, mau ke mana?" Ucap Pelayan itu, namun Elio tidak memperdulikannya.

Setelah berapa saat berlari, Elio berjalan ringan lalu mencoba melirik sekitarnya sambil mengingat tempat yang mana saja ia lewati bersama maminya. Beruntung memiliki ingatan yang kuat sehingga tidak mudah baginya tersesat, namun tetap saja dia hanyalah boca berumur 5 tahun.

Elio menjilat ice cream nya lalu kembali memakai maskernya.

"Toilet di mana yah?" Gumamnya melirik.

Ia terus melangkah namun masih saja tidak menemukan toilet, dia juga tidak memiliki ponsel. Kakinya sudah terasa pegal ice cream nya juga sudah mulai mencair dan menetes ke lantai.

Wajahnya terlihat bingung. Bagaimana jika maminya tidak menemukan dirinya. Elio melihat laki-laki bertubuh tegap yang sedang berdiri. Perlahan mendekat, sebelum bertanya ia meneliti perawakannya takut jika dia bertanya kepada orang yang salah lebih jelasnya penjahat/ penculik anak.

"Ada apa nak?" Ucap Haris tersenyum.

Melihat wajah Haris yang terlihat baik, barulah Elio bertanya. "Bisa tolong beritahu di mana toilet?" Ucapnya sopan.

Haris terdiam melihat ice cream ditangannya yang sudah mencair bahkan mulai menetes di lantai. "Dimana ibumu?" Meneliti sekitar.

"Mami..."

"Haris kita pu..." Ucapan David menghampiri membuat Elio sontak mendongak, sedangkan David menghentikan perkataannya dan cukup terkejut mendapati anaknya seorang diri terlihat sedikit malang dengan tangan yang sudah dipenuhi ice cream meleleh.

"Elio? Dimana mami?" Ucapnya dengan nada khawatir sambil berjongkok memegangi bahu anaknya.

Haris membulatkan mata mendengar perkataan David, dengan cepat mengambil ice cream itu lalu memberikan saputangan kepada David.

"Mami ke toilet." Balasnya dengan raut sedikit melo.

David membersihkan tangan anaknya, wajah sedikit menegang. Bagaimana bisa Maura meninggalkan anaknya seorang diri ditempat keramaian.

"Mami pasti mencari ku, bisa pinjam ponsel uncle?"

Sontak David menatap putranya, hatinya sakit saat mendengar kata uncle yang terlontar dari mulut putra kandungannya. Bahkan Haris sedikit perihatin dengan bocah itu.

"Haris siapkan mobil!" Serunya.

David langsung menggendong putranya. Ia Mesa kesel dengan Maura sedangkan Elio hanya pasrah berada dalam gendongan papinya.

"Bagaimana dengan mami?" Tanyanya saat David membawanya ke dalam mobil.

David membuka masker bermotif Spongebob itu lalu tersenyum saat melihat wajah kecil yang mirip dengannya.

"Berapa nomornya biar papi yang menelepon mami!" Ucapnya sontak membuat Elio menatap binar lalu tersenyum.

**

"Mba anak saya kemana?" Tanya Maura saat melihat kursi Elio kosong.

"Maaf Bu, tadi anak ibu tiba-tiba berlari katanya mau ke toilet."

"Toilet? Mba membiarkan anak sekecil itu ke toilet sendiri?" Balasnya khawatir.

Kedua pelayanan itu saling sikut mengikut merasa bersalah. Maura tahu putranya bisa diandalkan dan cerdas, tidak mungkin Elio pergi begitu saja tanpa alasan.

"Dimana ruangan keamanan?" Tanyanya dan pelayanan itu pun menjelaskan.

Maura mengambil belanjaan milik Elio lalu dengan cepat menuju ruang kemanan. Baru beberapa langkah ponselnya tiba - tiba berdering.

"Derrt.. Derrt.."

Maura menghentikan langkahnya merogoh ponselnya. Panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

"Halo?"

"Elio ada bersama ku." Suara bariton mengejutkan Maura hingga kedua kakinya terasa lemas begitu saja.

"David?" Batinnya.

"Temui aku di Sweet Hotel!" Tegasnya membuat Maura terpaksa menelan saliva saat itu juga.

Setiap kali dirinya mengingat David dadanya berdebar lebih kencang, rasa takut dan amarahnya selalu muncul bersamaan.

*

*

*

(SWEET HOTEL)

Entah karena kecapean atau terlalu nyaman, Elio tidak sengaja tertidur dalam gendongan papinya saat David membawanya masuk menuju lantai 4.

Perlahan David membaringkan putranya diatas kasur, menyelimuti tubuh kecilnya. Cukup lama ia duduk memandangi Elio yang tertidur pulas.

"Pak ini tas den Elio." Haris menyodorkan tas beruang berwarna coklat itu.

"Terima kasih, kamu tidak perlu menungguku!"

"Baik pak saya permisi."

David sedikit penasaran dengan isi tas anaknya. Sedikit lucu namun juga perihatin saat melihat segenggam kelereng berukuran kecil dengan warna yang berbeda. Zaman sudah semakin modern, tapi putranya Mala memilih permainan tradisional sebagai mainan favorit.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

tia

tia

yang sudah up …terimakasih thor

2023-12-11

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 66 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!