ROLLER COASTER

"Ibu ada apa?"

Valen kembali tersadar saat mendengar suara Athar. "Tidak apa-apa, ayo kita pulang!" Ajaknya menutupi keberadaan papinya.

Kebetulan hari itu Valen telah membawa putranya menikmati beberapa wahana bermain anak.

**

Selain Valen, rupanya Tania bersama Zam pun berada ditempat yang sama. Mereka berjalan santai karena baru saja berenang bersama beberapa teman lainnya.

Tania berjalan sambil melihat hasil foto mereka dalam ponsel, sesekali tersenyum.

"Fotonya lucu - lucu." Memperlihatkan kepada Zam.

"Em!" Hanya mengangguk kembali meneguk minuman kalengnya

"Sayang sekali Maura tidak ada." Gumamnya masih terus melihat foto sedangkan Zam sendiri berjalan melihat sekitar, satu tangan dimasukkan kedalam saku celana.

Hal tak terduga pun membuat Zam memperlambat langkahnya, memicingkan mata mengamati 3 orang yang sedang duduk bersama.

"Cantik."

"Ini juga bagus."

Tania sendiri masih terus bergumam, sampai Zam tertinggal beberapa langkah.

"Akh!" Terkejut saat Zam menarik tangannya secara tiba-tiba.

"Liat deh!" Tania mengikuti arah telunjuk Zam, membulatkan mata.

Tania tahu jika Maura membawa Elio bersama David namun tidak menyangka jika mereka akan bertemu.

**

"Tante Tania." Sapa Elio saat melihat mereka berjalan menghampiri.

David dan Maura terlihat kikuk seakan kepergok.

"Cheers." Zam dengan kejahilannya melakukan chess ala-ala bersama dengan Elio. Yang benar saja bocah itu pun dengan senangnya mengangkat ice cream nya.

"Kebetulan sekali kami bertemu dengan keluarga cemara ini." Ucap Tania membuat David maupun Maura tersenyum.

"Tante, om Zam kalian habis berenang?" Tanyanya melihat rambut mereka yang masih sedikit basah.

"Tentu, Elio sendiri ngapain aja dari tadi coba?"

"Elio habis berfoto dengan biota laut, bermain komidi putar juga naik bianglala."

"Yaa Tante ketinggalan dong bianglala-nya." Memanyunkan bibir.

"Hie.Hieh." Bocah itu tertawa kecil diikuti yang lain.

"Bagaimana kalau tante naik roller coaster saja!" Memberi ide sebagai pengganti bianglala.

Sontak saja ketiga sahabat itu saling melirik dengan tatapan khas masing-masing namun sepemikiran, terkecuali David yang seakan berpura-pura tidak mendengar.

**

Tak butuh waktu lama, mereka berlima sudah berada di lokasi roller coaster, Elio duduk manis sambil melipat tangan bersiap menyaksikan teriakan heboh mereka.

Diam-diam David merapatkan bokongnya di samping Elio.

"Pak David mengapa anda masih duduk?" Tanya Zam.

"Em, kalian saja yang naik!" Balasnya sesantai mungkin.

"Ayo pak!" Ajak Zam.

"Tidak perlu, kalian nikmati saja kebersamaan kalian." Menggosok kedua pahanya menutupi kepanikan.

"Sudah lah tidak perlu mengajak seorang penakut!" Celetuk Maura tapi Tania malah menyikut lengannya membuat Maura mengerutkan dahi.

"Siapa yang takut?!' Berdiri.

"Cek." Decak Maura meremehkan tapi sebenarnya sengaja mengompori.

Alhasil David pun mulai terbakar, "Untuk apa takut dengan hal sekecil ini!" Sombong bertolak pinggang namun keringat jernih sudah mulai bermunculan di dahi.

Kompak Tania bersama Zam menggandeng lengan David, yang punya lengan hanya bisa membulatkan mata pasrah berada dalam tawanan mereka.

**

Jantung David mulai tidak beraturan saat sudah duduk berpegang pada palang pengaman. Baginya lebih baik jika melobi 10 klien sekaligus daripada duduk menguji adrenalin.

"Semangat papi!" Teriak Elio, namun apa gunanya, bagi David saat itu memejamkan mata memanjatkan 1000 doa lebih baik.

Waktu telah tiba, roller coaster mulai bergerak dengan laju normal, perlahan kecepatan semakin bertambah.

"Haaaa.." Teriak mereka.

Kecepatan pun semakin tinggi hingga membuat teriak semakin kencang.

"Haaa... Haaa..." Teriak ketiganya.

"HAAA..." Teriak David.

Teriakan-teriakan itu terus menggema saat mereka telah terbawa pada ketinggian lalu terhenti sejenak. Teriakan David menjadi lebih kencang diantara mereka hingga membuat ketiganya terkejut.

Untuk sesaat David mengambil napas, kepalanya sudah mulai puyeng. Namun detakan jantungnya belum kembali normal roller coaster pun kembali bergerak.

Tak tanggung - tanggung menurun dengan kecepatan tinggi hingga berputar 360 drajat

"HAAAA... HAAAA..." Teriak yang lain.

"HAAAA....HAAAA... ASTAGHFIRULLAH! HAAAA..." Teriak David.

Jika yang lain berteriak dengan mata terbuka, maka lain halnya David yang memejamkan mata dengan mulut yang terbuka lebih lebar hingga teriakannya selalu mendominasi. Wajahnya terlihat paling buruk.

**

Waktu yang paling dinantikan yakni berhenti dari sensasi guncangan roller coaster yang seakan memblender isi perut sampai terasa kosong juga puyeng.

Ketiga sahabat itu cukup santai merapikan rambut mereka yang sedikit kusut.

"Ye... Mami hebat." Puji Elio.

"Nggak nyangka setelah sekian lama gue baru naik roller coaster lagi, ternyata seasyik ini." Ucap Zam.

"Sepertinya lain kali kita harus mencobanya lagi, benarkan pak Da..."

"Hoek... Hoek..."

Tania menghentikan perkataannya saat melihat kondisi David, wajahnya pucat terus memuntahkan isi perutnya. Rupanya sensasi roller coaster yang begitu menyenangkan cukup menyiksa baginya.

Mereka tertegun beberapa saat termasuk Elio sedikit tidak menyangka, tuan bermuka datar itu terlihat begitu lemah.

 **

"Minum dulu!" Menyodorkan sebotol air mineral.

"Terima kasih." Meneguk air.

Maura meneliti wajah oriental pucat didepannya, tidak dipungkiri ada rasa khawatir dalam benaknya.

"Jika tidak bisa naik, kenapa dipaksa." Lirihnya menatap dalam.

"Mengkhawatirkan ku?" Masih sempat menggoda.

"Cek." Decak Maura memasang raut kesal, tapi membuat David tersenyum.

"Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin dia menangis!" Melirik Elio yang duduk berpangku tangan di depan meja.

"Papi baik - baik saja? Papi mabuk?"

"U'huk u'huk." Hampir tersedak.

**

"Derrt... Derrt..."

Maura merogoh ponselnya, ternyata panggilan dari Dirga.

"Assalamualaikum Maura."

"Waalaikumsalam Dirga." Tersenyum.

Sontak David memicing seperti tidak suka mendengar nama itu.

"Bagaimana kabarmu?"

"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?

David memberikan lirikan intens, membuat Maura sedikit risih hingga memilih beranjak dari duduknya.

"Aku baik-baik saja."

"Jadi kembali ke Indonesia?"

David terlihat tidak senang terlebih tidak dapat mendengar obrolan mereka. Hanya mampu menatap dari kejauhan.

"Dia temannya mami yang selalu membantu kami selama di Singapura." Celetuknya seakan memahami isi hati papinya.

"Teman?" Melirik.

"Hem teman dekat."

"Teman dekat?" Sedikit meninggikan suaranya.

"Dia bahkan pernah mengatakan perasaannya kepada mami!" Bocornya.

David sedikit memanas, "Lalu bagaimana dengan mami mu?" Penasaran.

David mengerutkan dahi menunggu jawaban Elio yang terkesan sengaja menggantung, "Papi ingin tahu jawaban mami?"

"Hem!" Mengangguk.

"Kalau begitu bisa berikan uang saku untukku?!" Membuka telapak tangan kanannya.

David seperti naik roller coaster kedua kalinya mendengar jawaban bocah itu.

"Aku punya beberapa informasi sedangkan papi membutuhkan informasi dariku kan?" Lanjutnya dan dengan polosnya David mengangguk.

"Jadi anggap saja aku sebagai layanan jasa informasi untuk papi.. Hiehieh."

Kepala David berdenyut, "Lihat dirimu baru berusia 5 tahun sudah pintar berbisnis." Memalingkan wajah.

"Mau tidak? Heh?"

David mendekatkan kupingnya mendengarkan bisikan bocah yang baru saja melakukan tawaran bisnis.

**

"Terima kasih!" Ucapnya saat 5 lembar uang kertas berwarna merah mendarat ditangan mungilnya."

*

*

*

(KEDIAMAN DAVID)

Malam itu David kembali ke kediaman utama namun siapa sangka menjadi malam perdebatan antara dirinya dengan Valen.

"Mas?!"

Langkah David terhenti saat Valen memanggil nya.

"Bisa jelaskan!" Serunya memperlihatkan foto saat ditempat wisata.

"Aku menemani Elio."

"Menemani Elio atau menghabiskan waktu dengan mantan istri?"

"Valen jaga bicaramu!"

"Mas yang jaga sikap! Apa mas tidak memperdulikan perasaanku? Aku istri mas, tapi mas malah jalan bersama mantan istri." Ucapnya dengan nada lebih tinggi.

David bertolak pinggang menghela napas, "Valen..."

"Apa tidak bisa sekali saja mas menghargai aku? Aku tidak ada bedanya dengan pajangan didinding mas yang akan lapuk termakan usia. Aku membawa Athar ke taman bermain, tapi kamu malah asyik dengan mereka." Menunjuk ke arah luar.

David tidak ingin berdebat lebih memilih ke kamar tapi bukan untuk istirahat, melainkan hanya mengambil tas kantornya lalu kembali menuruni tangga. Semakin hari Valen semakin sulit mengendalikan emosinya.

"Mas?"

"Mas? Mas mau kemana mas?"

Valen menarik lengan David mencegah untuk pergi namun David tidak peduli, malah semakin mempercepat langkahnya.

"Valen David ada apa ini?" Tanya nyonya Kamelia berjalan menuruni anak tangga, mendengar kegaduhan anak dan menantunya.

David terpaksa menghentikan langkahnya, lalu menghempaskan secara kasar Valen menyebabkan ponselnya terjatuh.

"Ada apa kalian ribut-ribut?" Mendekati keduanya.

"Mama tanya saja dengan anak mama!" Menyeka air matanya dengan raut marah.

David terdiam cukup lama, enggan membuka mulut. Nyonya Kamelia memungut ponsel Valen terkejut melihat foto itu.

"David..?" Lirihnya.

"Kenapa mas diam?" Berbalik menatap layang, "Kenapa mas tidak menjawab kalau mas baru saja menikmati weekend bersama mantan istri."

"Cukup Valen!" Ucap David dingin memancarkan raut marah.

"Tidak! Aku tidak akan berhenti sampai mas berhenti berhubungan dengan mantan istri mas!"

David mengepalkan tangan menahan emosi, kemudian berbalik meninggalkan Valen.

"Sana pergi! Sana temui mantan istrimu!" Teriaknya memaki.

"Hiks. Hiks. Hiks." Menangis dalam pelukan nyonya Kamelia.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

Sok bgt🤣🤣🤣

2024-01-23

1

Kasih Bonda

Kasih Bonda

next Thor semangat

2023-12-21

1

tia

tia

masih belom terjawab teka teki mengapa david dn valen bisa menikah ?

2023-12-21

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 66 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!