"Elio kenalkan ini papi ku, namanya pak David dia pengusaha besar dan cerdas sama seperti mu! Hieh" Ucapnya dengan bangga diakhiri tawa kecil.
Dada David bergetar dan terpaku saat Elio mendongak menatapnya dengan kedua netra yang berbinar.
Tanpa ia sadari sudut matanya memerah, hatinya tiba-tiba terasa gelisah begitu saja. Jika memang benar anak di depannya adalah putra biologisnya maka dia akan menjadi ayah yang paling bahagia di dunia, namun juga tidak dapat melupakan sikap Maura yang membangkitkan emosi atas rasa sakit dan amarahnya.
"Senang bertemu dengan uncle."
Elio bersikap biasa saja, ia menekan keinginannya untuk berada lebih dekat papinya, bahkan dalam hatinya ia sangat ingin merasakan pelukan dari David.
Sontak David berjongkok mensejajarkan wajah mereka. Selama beberapa saat David mengamati wajah malaikat didepannya, semakin melihat semakin membuatnya bergetar.
"Bagaimana kabarmu nak?" Mengelus kecil kepala Elio.
Ikatan mereka terjalin begitu kuat hingga keduanya merasa getaran kehangatan dalam hati secara bersamaan. Hembusan angin menerbangkan aroma wangi parfum dari David menusuk hidung membuat Elio merasakan kenyamanan.
Diam-diam Elio menghirup dalam-dalam aroma yang menyejukkan hatinya. "Jadi seperti ini wanginya papi." Batinnya."
Untuk pertama kalinya dalam 5 tahun Elio merasakan sentuhan dan belaian papinya. Rasanya jauh lebih hangat dari yang ia bayangkan, bahagia? Tentu saja dalam hatinya merasakan bahagia yang luar biasa, meski menyadari akan selalu ada jarak diantara mereka karena keadaan.
Namun tidak membuatnya menjadi egois, baginya bisa mendapatkan belaian dan berbicara dengan David saat itu sudah cukup. Ia tidak bertingkah berlebihan takut jika maminya akan sedih lagi karena ulahnya.
"I'm Ok!" Melebarkan senyumnya memperlihat gigi kecilnya yang rapi.
David pun ikut tersenyum, saat itu wajah Elio sangat mirip dengan dirinya dimasa kecil. Athar yang tidak mengetahui tentang mereka pun hanya ikut tersenyum dengan polosnya.
*
*
*
(RS MEDICAL CENTER)
"Saat ini gula dara nyonya sudah normal. Tapi pola makan tetap harus dijaga karena sewaktu-waktu akan kembali naik!" Ucap dokter laki-laki.
"Terima kasih dokter." Balas nyonya Kamelia.
"Kalau begitu kami permisi!" Pamit Valen.
**
Setelah menemui dokter berkonsultasi dan mendapatkan beberapa suplemen vitamin, nyonya Kamelia didampingi Valen pun berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
Siapa sangka menjadi pertemuan mereka dengan Maura setelah 6 tahun. Maura yang berjalan ringan mengenakan pakaian dinasnya cukup terkejut saat melihat nyonya Kamelia di depan matanya.
Spontan menghentikan langkahnya saat kakinya terasa lemas. Selama beberapa saat saling menatap tanpa kata, Maura kemudian mengalihkan pandangannya sejenak menatap Valen yang yang menggandeng tangan nyonya Kamelia terlihat harmonis.
Rasa gugup dan canggung pun menghiasi saat itu juga, ruangan yang begitu luas terasa lebih sempit. Sebelumnya mereka merupakan mertua dan menantu yang harmonis, kini menjadi orang asing. Keduanya hanya saling menatap, hati Maura berkecamuk ia tidak tahu harus bersikap biasa saja atau berpura-pura seakan tidak pernah terjadi sesuatu setelah David menghancurkan perasaannya.
Sementara nyonya Kamelia masih memendam kekesalan akibat perlakuan Maura yang dengan teganya meninggalkan David begitu saja, membuatnya berada dalam keterpurukan yang mengubah hidupnya sejak 6 tahun terakhir.
Valen sendiri yang terlihat tidak memahami sebelumnya hubungan mereka seperti apa, hanya terdiam menatapnya secara bergantian.
"Ma ayo!" Serunya sontak nyonya Kamelia mengalihkan pandangannya kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga pintu keluar.
Maura mengepalkan tangannya memandangi mereka yang semakin menjauh. 6 tahun telah berlalu, sebelumnya nyonya Kamelia selalu bersikap baik kepadanya namun kini bahkan saling menyapa pun sulit. Maura kembali merasakan sakit melihat keharmonisannya bersama Valen, padahal Valen tidak ada hubungannya dengannya.
**
Siang itu matahari cukup trik, semua petugas yang berada di kantin terlihat senang, mereka menikmati makan siangnya sambil ngobrol satu sama lain terkecuali Maura yang sedari tadi hanya mengaduk makanannya.
Tania yang asyik menyeruput minuman dingin ditangannya itu memicingkan mata keheranan melihat kondisi sahabatnya.
"5 L!" Celetuknya membuat Maura mendongak memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Lemah, lelah, letih, lesu, lalai." Lanjutnya namun Maura tidak mengubah ekspresinya.
"Anemia." Tambah Zam teman laki-laki yang tiba-tiba nimbrung ditengah mereka.
Maura mengalihkan pandangannya menatap Zam berambut belah samping terlihat licin yang baru saja duduk.
"Dokter Maura yang cantik, jujur saja yah saat ini anda terlihat tidak ada bedanya dengan pasien Anemia!" Lanjutnya dengan wajah santai lalu memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
Sontak saja membuat Maura menarik pandangannya kembali melirik Tania. Tania pun dengan gesitnya mengangguk mengiyakan perkataan Zam.
"Hhhfftt!!" Menghela napas kasar.
"Maura ada apa?" Tanya Tania.
"Tadi aku bertemu mama Kamelia, ibunya mas David!" Mengangkat kedua alisnya.
"Hah? Terus dia ngomong apa? Apa dia marah atau mempersulit mu?" Tania lebih agresif sementara Zam hanya menyimak dalam kebingungan mendengar arah pembicaraan mereka.
Maura menggeleng kecil, "Kami tidak saling bicara! Tapi aku bisa lihat dari tatapannya menyiratkan rasa tidak suka saat melihatku!"
"Ah syukurlah!"
"Kok beda dari mertua dalam drama atau novel? Biasanya mereka suka marah dan merundung mantan menantu!" Celetuk Zam dengan perkataan yang lolos dari saringan.
"Auw!" Ringis-nya saat Tania mencubit lengannya.
Oh yah sebelumnya Zam juga merupakan teman Maura dan Tania. Sekarang bekerja sebagai Analis seperti Tania di Medical Center, jadi dia sedikit tau tentang permasalahannya meskipun saat ini masih belum mengetahui alasan sebenarnya mereka berpisah.
*
*
*
(TK PENERUS BANGSA)
"Nyam. Nyam. Emm... Nyam."
Elio terdiam memandangi Athar yang sedari tadi menikmati bekal ayam goreng.
"Elio kamu tidak makan?" Tanyanya dengan mulut berminyak.
"Aku sudah kenyang."
"Kalau begitu apa boleh ayamnya untuk ku?" Menatap ayam goreng dalam pangkuan Elio.
"Tentu saja!"
"Asyik terima kasih!" Memakan ayam goreng.
Hari itu mereka kembali duduk bersama di bawa pohon halaman sekolah. Elio sengaja membawa bekal ayam goreng lebih untuk diberikan kepada Athar. Sejak pindah ke Indonesia dia merasa seperti menemukan taman bermain juga saudara yang sebaya dengannya.
Tidak seperti saat dirinya masih bersekolah di Singapura, di sana dia tidak memiliki banyak teman dan lebih parahnya ada sekelompok anak laki-laki yang sering merundungnya dan mengolok-oloknya sebagai anak yang tidak diinginkan.
Tidak ada waktu yang luang untuknya duduk bersama menikmati bekal dari maminya. Yang ada dia hanya akan duduk di dalam kelas seorang diri, terkadang bermain dengan sebagian kecil dari temannya saja, terkadang ia hanya memakan bekalnya seorang diri. Tak hanya itu, sering kali dirinya berlari bersembunyi hanya untuk menumpahkan air matanya dikala ia tidak dapat lagi menahan ejekan teman-temannya.
"BBbrruuf!"
"Hie. Hie. Hieh!" Kompak tertawa saat Athar tidak sengaja bersendawa.
Setelah sekian lama, kini Elio benar - benar tertawa lepas terlihat tanpa beban layaknya anak seusianya. Mereka terus tertawa bersama sampai memperlihatkan seluruh barisan gigi depan masing-masing, dibawa sejuknya angin pepohonan yang bertiup hingga menjatuhkan beberapa lembar daunnya.
Dan yang lebih menyenangkan tawa mereka semakin lepas saat selembar daun itu terjatuh dan tidak sengaja mendarat tepat di kepala Elio.
"Hie .Hie .Hieh..." kompak.
*
*
*
(MEGANTARA GROUP)
Sebelumnya David memiliki perusahaan keluarga yakni Megantara Group yang bergerak di bidang retail. Dirinya menggantikan posisi sang ayah sebagai pemimpin karena telah meninggal.
Dengan kompetensi yang dimiliki membuatnya mengembangkan perusahaan menjadi lebih besar dengan melakukan kerjasama bisnis dengan beberapa perusahaan di bidang yg berbeda.
Belakangan David melebarkan sayap dengan melakukan investigasi perencanaan pembangunan sebuah Mall. Siapa sangka dengan kepemimpinannya yang lues, bersikap bijak banyak disenangi pebisnis dalam negeri untuk melakukan kerjasama sama sehingga terbentuklah D&M Mall.
Perlahan D&M Mall berkembang dan semakin dikenal ternyata sukses menarik minat para konsumen sehingga mengantarkannya masuk ke dalam daftar Mall dengan pengunjung terbanyak.
**
Setelah pertemuannya dengan Elio, David tidak hentinya memikirkan anak itu dan rasa ingin tahunya semakin menggebu. Ia teringat dengan secarik kertas yang diberikan oleh Elio beberapa hari lalu.
David merogoh saku mantelnya mengeluarkan kertas tersebut. Diluar dugaan namun mampu memberikan senyuman tipis dengan netra yang berbinar kala melihat helaian rambut Elio.
"Anak cerdik!" Gumamnya.
Tanpa berlama-lama David menghubungi Haris. "Derrt. Derrt."
"Assalamualaikum pak!"
"Waalaikumsalam, datang ke ruanganku sekarang!" Serunya.
**
Haris tidak mengatakan apapun, namun ia sibuk memandangi secara bergantian kedua plastik kecil yang berada di atas meja. Plastik itu berisi rambut Elio dan David.
"Tolong bawa ke Rumah Sakit. Aku ingin melakukan tes DNA dan ingat pastikan tidak ada orang lain mengetahui terutama Maura! Aku ingin hasilnya secepat mungkin!" Serunya diakhiri penekanan.
"Baik pak!"
"Hem!" Mengangguk.
Haris pun segera melaksanakan perintah David.
"Ma..ura,, kamu tidak akan mengelak lagi!" Gumamnya penuh penekanan sambil mengepalkan tangannya hingga ototnya mengeras.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
RossyNara
semangat thor.
2023-12-22
1
marrydiana
suka banget sama elio, smart banget/Kiss/
2023-12-10
1
💩Anti Mantan suami💩
keren
2023-12-09
1