"Heghh,," Maura memegangi kepalanya perlahan membuka mata. Memicingkan mata keheranan meneliti seisi kamar yang terlihat berbeda dari biasanya.
Kemudian meraba ponselnya, sontak membulatkan mata saat melihat jam sudah menunjukkan angka 09 : 00. Sepertinya semalam ia tertidur lebih nyenyak sampai bangun kesiangan.
"Haaa!" Teriaknya syok.
Tanpa berpikir panjang Maura membuka selimut yang menutupi setengah badannya lalu melompat turun dari tempat tidur, berlari kecil mencari kamar mandi.
"Mami hari ini hari minggu, mami tidak memiliki shift pagi ataupun malam."
Langkahnya terhenti saat mendengar teguran dari Elio. Spontan Maura menoleh kembali terlonjak membulatkan mata.
Rupanya David yang mengenakan celana kain dipadukan kemeja putih tengah duduk sambil memegangi secangkir kopi latte. Selain menyukai rasa vanilla ia juga menyukai kopi latte. Sedangkan Elio tersenyum tangannya memegangi roti sandwich.
Melihat pemandangan itu membuat Maura kikuk seketika, wajahnya sedikit memerah.
"Sarapan!" Ucap David ringan.
Dengan malu - malu Maura terpaksa duduk bersama mereka.
"Hie.hieh mami?" Menyodorkan roti sambil tertawa kecil, dengan pasrah Maura mengambil lalu memakannya dalam keadaan sedikit menunduk enggan memperlihatkan wajahnya.
Sangat jelas jika ia salah tingkah, Elio melirik papinya dan David langsung mengedipkan mata tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya Elio menikmati sarapannya dengan perasaan yang begitu bahagia.
David menyodorkan segelas susu vanilla, perlahan Maura mengambil lalu meneguknya.
"Elio makan ini agar tidak menjadi pelupa!" Menyuapi sebutir buah blueberry dan Elio pun langsung membuka mulut dengan lebar.
Sontak saja Maura merasa tersinggung, memutar bola matanya kembali kesal dengan David yang memang sengaja menggoda.
"Mami apa mami tahu separuh hotel ini milik papi?" Tanyanya.
"Tahu." Sambil mengunyah roti dengan gaya cuek.
Saat Maura dan David menikah, Megantara Group sudah menanam saham di Sweet Hotel sehingga bisa dibilang separuh hotel miliknya.
"Apa mami juga tahu kalau D&M Mall milik papi?"
Maura terkejut, lalu melirik David sekilas "Sudah setua ini masih saja sombong dengan anak kecil." Gerutunya kembali mengunyah roti.
Maura berpikir jika David sengaja menarik perhatian Elio dengan memamerkan segala yang dia miliki, meskipun dia juga cukup terkejut jika ternyata D&M Mall milik David.
"Bukan papi yang memberitahu. Aku melihat artikelnya beberapa hari lalu, dan masuk dalam daftar Mall dengan pengunjung terbanyak." Ucap Elio dengan wajah serius.
Maura kembali melirik David. David pun hanya mengangkat kedua alisnya tanpa bersuara.
"Hebat kan?" Tersenyum memperlihatkan barisan gigi kecilnya yang rapi.
"He'em" Berdehem "Apa hebatnya? Mami ini dokter sudah menyelamatkan nyawa banyak orang!" Menyilangkan tangan.
"Jadi dibandingkan dengan papi mu mami lah yang lebih hebat!" Tidak ingin mengalah.
"Tapi mami pernah bilang kalau papi tampan seperti ku dan juga berpengaruh, itu artinya dia hebat kan?" Dengan polosnya Elio memperjelas membuat Maura lemas kehabisan kata sedangkan David dalam hati berbangga diri tersenyum samar.
Wajah Maura kembali memerah, tubuhnya seakan mengecil berada di dekat David. Adakalanya melahirkan Elio yang cerdas membawanya pada keadaan yang kurang menguntungkan dirinya didepan David.
"He,heh!" Maura tertawa garing lalu dengan cepat beranjak menuju kamar mandi.
"TOS!" Dua laki-laki berbeda generasi itu mengangkat tangan melakukan tos kemenangan.
*
*
*
(KEDIAMAN KELUARGA DAVID)
"Ibu apa papi tidak pulang lagi?" Tanya Athar saat Valen sedang menyisir rambutnya.
Valen terdiam sejenak, "Papi lagi sibuk jadi tidak sempat pulang." Tersenyum menyembunyikan kegelisahannya.
Jujur saja Selama pernikahan mereka ia merasa dirinya hanyalah sebuah pajangan saja, bahkan lukisan dinding mungkin akan lebih bernilai dari dirinya.
David terbilang cukup jarang pulang ke rumah, dia selalu memilih bermalam di Sweet Hotel mengerjakan pekerjaannya juga menikmati kesendiriannya. Beruntung selama pernikahan David tidak pernah melakukan kekerasan kepadanya, tapi sikap dinginnya jauh lebih menyakitkan dari luka pisik.
*
*
*
(SWEET HOTEL)
Elio berlari mengambil bingkisan lalu mengeluarkan tembakan dan mobil - mobilan yang kemarin ia beli.
David memandangi putranya, dibandingkan dengan Athar maina Elio tidak ada bandingannya baik dari segi jumlah, ukuran maupun harganya.
"Elio, apa mami selalu membelikan mainan?" Memegang kepala anaknya.
"Hem, saat di Singapura kami sering jalan ke taman bermain, makan ice cream vanila lalu mami akan membelikan ku mainan."
"Apa Elio mau mainan yang lebih banyak dan besar?"
Biasanya anak-anak akan gemar berbelanja mainan yang banyak dan besar.
Elio menatap papinya, "Tidak!" Menggeleng.
David mengerutkan dahi, "Kenapa?"
"Elio lebih suka memilih mainan kecil, dan jumlahnya tidak banyak. Lagipula Elio menyukai kelereng. Elio tidak ingin menyusahkan mami."
"Sejak kecil hanya mami yang Elio punya, kalau Elio nakal mami bisa sedih. Mami sudah bekerja keras di rumah sakit, dia juga merawat ku, mami akan bangun lebih awal membuatkan ku bekal, setiap hari mengantar dan menjemput ku sendiri sepulang sekolah." David bergetar mendengar perkataan Elio.
"Setiap pertemuan orang tua di sekolah, Elio menjadi satu-satunya murid yang hanya di dampingi oleh mami." Tanpa David sadari matanya memerah.
"Papi, mami bukan pelupa, tapi dia terlalu bekerja keras." Tersenyum.
"Em, papi tahu mami Elio yang paling hebat!" Tersenyum mengecup kepala putranya. Ia berjanji akan menebus semua untuk membahagiakan anaknya.
**
Maura yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka terpaku, matanya berkaca-kaca mendengarkan Elio. Lagi-lagi ia menyadari jika selama ini bukan dia yang melindungi Elio, namun Elio lah yang melindunginya.
Semakin memikirkan semakin membuatnya merasa bersalah. Harusnya Elio menjalani hidup hanya bermain, tertawa tanpa beban.
**
"Apa ada orang yang jahat kepada Elio dan mami?"
Elio terdiam, rautnya sendu dengan netra gelap. "Papi apa benar papi tidak menginginkan Elio?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Elio sering dirundung dan tidak memiliki banyak teman disekolah. Elio belajar dengan giat dan menjadi paling cerdas agar disenangi, tapi mereka selalu mengatakan kalau Elio anak yang tidak diinginkan dan tidak memiliki ayah! Tapi Elio tidak bisa melawan mereka. Elio hanya bisa berlari mencari tempat bersembunyi." Perlahan air mata Elio menetes, bahkan kepada Maura pun ia tidak pernah terang-terangan menangis.
David membingkai lembut wajah anaknya, perlahan menyeka wajahnya sedangkan air matanya sendiri sudah berjatuhan.
"Dengar nak, papi hanya sibuk bekerja. Seumur hidup papi tidak pernah ingin kehilanganmu. Siapapun dirimu dan apa pun keadaannya papi akan selalu menerima dan menyayangimu. Mulai sekarang kamu tidak perlu takut dengan siapapun, karena papi akan selalu berdiri bersamamu meskipun harus mempertaruhkan segalanya untukmu bahkan walau terbang ke awan dan menembus langit pun papi akan menjadi satu-satunya orang yang bersamamu sampai akhir."
Elio terpana mendengar perkataan papinya, walau ia hanya bocah berumur 5 tahun. Namun ia cukup memahami jika cinta untuknya dari David sangatlah besar. Dan meyakini bahwa tidak akan ada orang yang mampu mendukungnya sejauh itu.
David mendekap erat tubuh kecil itu, merasakan setiap kehangatan. Elio memeluknya membenamkan wajahnya menghirup aroma wangi papinya yang selalu saja memberikan kenyamanan.
"Don't cry Papi! I'm Ok!" Lirihnya dan David pun semakin memeluknya.
**
Maura membekap mulutnya menangis tanpa suara. Tubuhnya terasa tidak berdaya untuk melangkah, sebesar itu penderitaan anaknya. Ia merasa malu, karena telah banyak mengeluh sedangkan Elio dengan tubuh sekecil itu mampu menahan setiap ombak kehidupan yang menghantam.
**
30 menit kemudian, kini Maura dan Elio bersikap pulang dan akan diantar oleh Haris.
Elio berdiri di samping maminya, sedangkan David berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Elio.
David mengeluarkan dau buah kelereng berukuran besar milik Elio. Kelereng yang berbeda warna itu diberikan Elio saat pertemuan pertama mereka di rumah sakit yang tidak disengaja, sedangkan satunya lagi David pungut saat Elio tidak sengaja menjatuhkannya di halaman sekolah.
Tatapan Elio berbinar, "Warna biru untuk papi! Katanya biru melambangkan kepercayaan juga kesetiaan. Elio percaya dengan papi!"
David tersenyum Elio lebih cerdas dari pikirannya, sedangkan Maura dan Haris melongo ikut terkejut.
"Warna hijau melambangkan harmoni dan kesehatan. Warna ini sama seperti papi yang selalu melindungi dan memberikan kenyamanan." Mengambil kelereng berwarna hijau lalu memasukkan ke dalam tas beruangnya.
"Hehehe!" Kompak tertawa kecil dan Maura cukup nyaman melihat mereka.
"Cup. Cup." David mengecup pipi Elio dan langsung di balas olehnya.
Maura menggandeng Elio masuk ke dalam mobil. Sementara di sisi lain ada Valen yang menyaksikan keharmonisan mereka. Meski tidak bisa mendengar jelas obrolan mereka, namun melihat interaksi mereka cukup membuatnya lemas.
Lebih menyakitkan lagi, seorang wanita yang ada bersama mereka. Valen memandangi mereka dengan mata memerah, wajahnya pucat seketika.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
🌹 for you thor
2024-01-14
1
💞Amie🍂🍃
Hahhaa, sombong gak tuh🤭🤣
2024-01-14
0
Holipah
makan nya jangan jdi pencuri milik orang lain
2023-12-23
1