David terpaksa menahan tangannya yang mengudara, lalu menoleh mendapati wajah Maura. Perlahan tangannya bergetar ia turunkan. Begitu juga dengan Maura yang menatap layang kepadanya, tidak ada sapaan namun ketajaman tatapan mereka satu sama lain memancarkan emosi yang dalam.
Kaget, sedih, marah dan benci? Jelas ada bersarang di hati mereka. Lalu rindu? Entahlah.. karena dahulu mereka pernah sedekat nadi, saling berbagi hanya karena peristiwa dalam sehari mereka terpisah dan kembali menjadi asing.
Ada banyak luka yang mereka bawa selama perpisahan hingga sulit bagi mereka untuk menemukan rasa rindu diantara tumpukan kesedihan, amarah bahkan mungkin sudah berubah menjadi kebencian satu sama lain.
Langit begitu cerah tapi rasanya lebih gelap, seakan berada di ruangan kosong jauh dari berbagai suara dimuka bumi. Suhu terasa lebih dingin dan suasana lebih mencekam.
Elio memeluk pinggang maminya membenamkan wajahnya, David adalah orang paling ingin ia temui selama ini namun saat itu ia tidak berani menatapnya lebih lama. Seketika ia lemah dan lebih emosional, sikap ceria dan dewasanya hilang tergantikan sikap kepolosan anak kecil yang merajuk.
David mengepalkan tangannya menatap Maura, wanita cantik yang lugu kini sudah dewasa terlihat elegan. Tidak pernah menyangka akan kembali berada lebih dekat dengannya, sesaat David seperti merasa lega melihatnya setelah sekian lama, tapi semakin menatapnya hatinya malah terasa sakit.
"Papi Ayo, Athar mau ketemu ibu!" Teriak Athar memperlihatkan kepalanya dari kaca mobil.
David pun kembali tersadar mengalihkan pandangannya ke arah Athar dikuti oleh Maura. Maura tersentak, rasa sakitnya membesar. Bagaimana tidak 6 tahun lalu ia tega menyingkirkan anak dalam kandungannya sementara ia telah memiliki anak dari wanita lain. Semakin memikirkan ketidak Adilan untuk Elio semakin membuatnya marah dan enggan melirik David.
Maura menggendong Elio membawanya masuk ke dalam mobil. David sendiri masih berdiri termenung memandangi mereka. Saat ingin melangkah tidak sengaja melihat kelereng milik Elio yang terjatuh. Dia pun menunduk mengambil kelereng itu lalu memasukkan kedalam saku jasnya.
*
*
*
(MEDICAL CENTER)
Tania bersama Zam baru saja menyelesaikan tugas mereka di laboratorium. Mereka berjalan di lorong meninggalkan laboratorium.
"Makan yuk!" Melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam makan siang.
Zam terdiam tidak mendengar ajakan Tania, berjalan dengan tatapan lurus.
"Auw!" Ringis-nya saat Tania memukul kecil lengannya.
"Ada apsih?"
"Mengapa Maura memilih berpisah saat hamil?"
"Em,, Maura mengira David tidak menginginkan anak dalam kandungannya"
Zam menghentikan langkahnya menatap serius Tania, "Menurut mu apa yang akan dilakukan David setelah mengetahui Elio putra biologisnya?"
Pertanyaan yang mendadak membuat Tania mengerutkan dahi, "Em,, awalnya aku berpikir mungkin dia akan marah, tapi setelah melihat Elio yang tampan dan cerdas aku yakin dia menyesalinya!" Balasnya santai kembali melanjutkan langkahnya di ikuti Zam.
"Apa terjadi sesuatu?" Kembali menghentikan langkahnya saat menyadari keanehan lalu memicingkan mata meneliti wajah Zam sedangkan Zam sendiri mengalihkan pandangannya enggan menatap Tania.
"Zam.." Panggilnya menyilangkan tangan.
Zam menghela napas kasar lalu menatap balik Tania.
**
"APA?" Tania terlonjak saat Zam menceritakan hasil tes DNA yang ia lihat.
"Hust pelan-pelan!" Zam memutar bola mata.
"Kok bisa sih? Kamu kenapa nggak ngomong dari tadi?"
"Yah sorry, tadinya aku juga nggak sengaja baca pas hasilnya keluar."
Tania menggigit kecil jari tangannya berpikir dari mana David mengambil sampel Elio begitu cepat. Sementara yang ia tahu kalau pertemuan mereka hanya di rumah sakit dan itu tidak disengaja.
"Dari yang aku tahu yah biasanya dalam drama atau novel, sang ayah biologis berstatus konglomerat akan selalu menuntut hak asuh dan memisahkan anak dari ibunya begitu saja!" Ucap Zam dengan wajah serius.
"BUG!"
"AUW!" Kembali meringis dan lebih keras saat mendapat geplak dari Tania di kepalanya.
"Bisa nggak sih serius dikit?"
"Yah itu gue udah serius. Coba deh lu bayangin mereka keluarga kaya, punya perusahaan keluarga butuh penerus, secara kebetulan Elio putra pertama laki-laki yang secerdas sangat pas kan?"
Tania kembali berpikir kemungkinan yang dikatakan Zam.
"Ini bisa terjadi di dunia nyatakan? Bukan hanya di dalam drama atau apalah seperti yang kamu bilang?" Tanya Tania dan Zam langsung mengangguk.
Tania berpikir hal itu tidak boleh terjadi, Maura dan Elio sudah cukup menderita jika David sampai tega mengambilnya maka ia tidak akan tinggal diam.
*
*
*
(HOTEL)
Malam itu usai makan malam bersama beberapa klien sekaligus membahas tentang perpanjangan kontrak mereka. David yang mengenakan stelan jas hitam sepasang pamit pulang lebih dahulu.
Di dampingi Haris dia meninggalkan meja di mana beberapa pebisnis mudah maupun yang lebih senior masih duduk berbincang.
Selain wajah datar dan anggukan kecil tidak ada lagi yang terpancar selama ia berjalan bertemu dengan beberapa karyawan hotel saat menuju pintu keluar. Termasuk saat security menyapa dan membukakan pintu dia hanya membalas anggukan sebelum masuk kedalam mobil.
"Ini hasil tes DNA yang bapak minta." Haris menyodorkan amplop berwarna putih.
"Kita pulang sekarang!" Serunya sambil memasukkan amplop itu kedalam saku jasnya.
(KEDIAMAN KELUARGA DAVID)
"Mas David?" Sapa Valen yang duduk di ruang tengah
David menghampirinya sejenak, "Ada apa?" Tanyanya datar.
"Mas baru pulang, mau makan sesuatu?"
"Tidak perlu aku sudah makan." Menepuk kecil bahu Valen lalu menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Valen hanya tersenyum kecut, matanya memerah memandangi David yang berlalu meninggalkannya. Tidak ada kata romantis yang pernah terlontar dari mulut David untuknya. Setiap kali bertemu mereka seperti orang asing yang kebetulan tinggal dibawah atap yang sama.
**
Valen masuk ke dalam kamar menghampiri Athar yang tertidur pulas mengenakan kaos Iron Man favoritnya. Pandangannya meneliti ruangan luas dindingnya bercat biru, lemari kaca berukuran besar dipenuhi mainan milik Athar.
Perlahan merebahkan badannya memeluk Athar dari belakang. Dikecupnya perlahan kepala Athar, air matanya menetes bersamaan kecupannya membasahi rambut sang putra.
Sudah bertahun-tahun dirinya menjadi istri, hidup dalam kemewahan namun hari-harinya tidak se-glamor kemewahan yang diberikan. Setiap malamnya ia lalui dengan berbaring dan tertidur bersama Athar, dia seakan tidak mendapatkan ruang untuk masuk ke dalam kamar David.
**
Di dalam kamar berbeda, David melonggarkan dasinya lalu duduk di sofa memegang amplop putih. Perlahan membuka dan membaca kata demi kata, hingga tepat di angka 99 % tingkat kecocokan antara dirinya dengan Elio. Lebih jelasnya Elio merupakan putra biologisnya bersama Maura.
David membaca sekali lagi isinya, wajahnya memucat dan bergetar memandangi hasil tes DNA itu. Walau sebelumnya ia sudah meyakini Elio putranya, tapi setelah melakukan tes DNA rasanya jauh lebih berbeda bahkan lebih rumit. Bahagianya jauh lebih besar namun juga membuatnya semakin bingung.
**
David beranjak membuka brankasnya mengeluarkan sebuah map berwarna coklat. Lalu kembali duduk, tatapannya sendu saat selembar surat cerai dari Muara ia sandingkan dengan selembar hasil tes DNA Elio. Ingatannya membawanya kembali ke masa 6 tahun lalu.
(FLASHBACK)
Malam itu Maura dan David berdiri di balkon sambil merasakan hembusan angin malam.
"Mengapa kamu memilih kedokteran?"
Maura menoleh menatap David, "Em,, apa kamu tahu rasanya ketika melihat seseorang yang kita cintai pergi, namun tidak ada yang bisa kita lakukan selain menangis dan melepaskannya disaat kita belum siap?"
David hanya menggeleng, "Saat memasuki bangku SMA, papa mengalami serangan jantung. Jujur saja aku menangis karena menganggap diriku tidak mampu melakukan apapun untuknya. Tidak ada hal yang lain bisa kulakukan selain melihatnya terpejam, wajahnya pucat."
"Sekeras apapun aku berteriak memanggilnya dia tidak akan bangun lagi, sekeras apapun aku menangis dia tidak akan mendengarkannya." Lirihnya dengan mata memerah.
"Sejak saat itu aku bertekad untuk menjadi dokter, agar bisa menolong orang lain sehingga tidak mengalami hal seperti yang ku alami." Tersenyum namun tetesan air matanya terjatuh.
David memandangi wajah lugu nan cantik dari Maura, gadis yang baru 2 bulan ia nikahi karena perjodohan. "Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah dengan impianmu!" Menyeka wajah Maura.
Wasiat terakhir ayah David adalah menikahi Maura yang merupakan anak dari almarhum sahabatnya.
Awalnya ia mengira jika mereka mungkin saja tidak cocok, dan David hanya menjalankan amanah saja. Namun siapa sangka Maura begitu cantik dan cukup memikat. Bahkan dirinya yang tidak pandai mengekspresikan diri perlahan diam-diam mulai menyimpan rasa untuknya.
(FLASHBACK END)
"Kenapa? Kenapa Maura, kamu melakukan ini? Apa karena kamu tidak mencintaiku?" Batinnya meneteskan air mata yang telah bertahun - tahun yang dia bendung.
"Kenapa kamu membiarkan ku menaruh hati dan harapan untukmu, lalu dengan teganya meninggalkanku hingga terjatuh lebih dalam?" Hiks. Hiks. Hiks." David tertunduk menutup wajahnya terisak seorang diri dalam kamarnya.
Terakhir kali dirinya menangis dihari kepergian Maura, yang mengubah dirinya menjadi lebih dingin, penyendiri dan selalu menyimpan masalahnya sendiri. Ia tidak lagi meneteskan air matanya sejak memutuskan untuk melupakan semua kenangan bersama Maura. Tapi siapa sangka setelah 6 tahun Maura kembali bertemu dan lagi - lagi ia menangis.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
Siapa musuh David sebenarnya?
2024-01-12
0
💞Amie🍂🍃
Si David sat set banget
2024-01-12
0
tia
seperti arthar bukan anak david?? siapa musuh david yang ingin membunuh janin maura ? masih teka teki …
2023-12-10
1