RASA BERSALAH

Maura merasakan tenggorokannya tercekat saat itu juga, kembali menatap tajam David yang berdiri di depannya.

David pun melayangkan tatapan yang tak kala menyala, sorot matanya memancarkan emosi juga sedih yang bercampur dalam waktu yang bersamaan. Namun, kejelasan mengenai Elio lebih penting sehingga dia berusaha meredam amarahnya.

"Apa Elio putraku?" Lirih dan penuh penekanan.

"DUG!"

Saat itu juga jantung Maura berdebar, sedangkan Elio hanya terpaku mendengar perkataan David.

**

Maura menyipitkan matanya, baginya David tidak pantas menanyakan hal itu dan dia juga tidak memiliki kewajiban untuk menjawab.

"Maura jawab aku!" David mencengkram lengan Maura, Auranya yang kuat memberikan tekanan hingga membuat Maura sedikit merinding.

Maura seakan berada dijalan buntu, pertanyaan David sangat terang-terangan. Rasanya tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk menutupi keberadaan Elio. Sekali pun dia mengatakan tidak berulang kali, David tidak mungkin percaya karena wajah mereka terlalu mirip hingga tanpa tes DNA pun sudah bisa ditebak kalau Elio putra biologisnya.

**

"Papi?"

Suara teriakan bocah laki-laki dari arah lain membuyarkan mereka. Dengan cepat Maura menggendong Elio meninggalkan David.

"Papi kenapa di sini? Ibu sudah menunggu!"

David hanya terdiam, hatinya berkecamuk terpaksa melangkah pergi mengikuti Athar berjalan kecil menggandeng tangannya. Diam-diam Maura yang berlindung di balik tembok mengintip mereka dan melihat dari kejauhan, di ujung lorong ada sosok wanita yang sedang tersenyum menunggu mereka.

Meski wajahnya tidak terlalu nampak jelas tapi sudah dipastikan olehnya kalau wanita itu pasangan David. Apa yang selama ini Maura pikirkan sudah terbukti bahwa kini David telah bersama orang lain bahkan telah memiliki seorang putra.

Sebelum kembali ke Indonesia dia berpikir jika suatu saat dirinya bertemu dengan David mungkin mereka akan seperti orang asing juga mungkin merasakan sedikit rasa sakit dan benci, namun ternyata hatinya jauh lebih sakit dari yang dia bayangkan sebelumnya.

Entah mengapa rasa sakitnya seperti dikhianati, sudah jelas 6 tahun lalu pernikahan mereka terjadi karena perjodohan semata dan lagi David tidak menginginkan keberadaannya jadi harusnya dia tidak merasa sakit bukan?

Kini perasaannya jauh lebih rumit, rasa sakit dan benci muncul secara bersamaan sampai membuat dadanya terasa penuh, sampai suhu sekitar terasa lebih dingin dan kian menyempit.

Maura mendekap erat Elio yang ada dalam gendongannya merasakan setiap tusukan di dadanya sampai air matanya kembali menetes.

*

*

*

Malam pun telah tiba, Maura berada dalam kamar terlihat tidak bersemangat. Dia berdiri memandangi langit yang terlihat gelap dari balik jendela kaca sambil memeluk tubuhnya. Elio pun mendekati memperlihatkan selembar kertas.

"SORRY!"

Maura memandangi tulisan yang dibuat oleh Elio lengkap dengan emot bersedih. Dia pun memandangi wajah putranya yang terlihat malang, perlahan tersenyum sambil berjongkok membentangkan kedua tangannya.

Elio melompat ke dalam pelukan maminya. Keduanya memeluk penuh dengan kasih sayang.

"Elio nakal, mami bisa memberiku hukuman apapun asalkan mami tidak marah lagi. Elio hanya ingin melihat wajah papi dan merasakan seperti apa rasanya berada di dekatnya! Hiks. Hiks. Hiks."

Maura mendekap erat tubuh kecil dalam pelukannya, seketika dia merasa bersalah kepada Elio. Selama ini dia mengira Elio anak cerdas yang lebih dewasa dari usianya hingga hampir tidak pernah lagi mendengar tangisannya.

Tapi kini dia semakin memahami, bukan sikapnya yang lebih dewasa dari usianya melainkan bebannya yang lebih besar dari usianya. Maura menyadari karena tidak memiliki sosok yang bisa dia temani berbagi dan tidak ingin menyulitkan dirinya, Elio memilih memendam semua keinginannya.

Air mata cinta untuk sang putra bersama dengan air mata sakit atas sikap David bercampur menjadi satu membasahi kedua pipinya.

*

*

*

Setelah kejadian hari itu, David memerintahkan asistennya untuk mencari tahu tentang kehidupan Maura, termasuk alasannya yang tiba-tiba meminta perceraian lalu diam-diam melahirkan seorang putra.

Walau David memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Maura, merasakan kebencian setelah kejadian itu, tapi sepertinya takdir berkata lain setelah melihat sosok Elio.

"Tok. Tok. Tok."

Suara ketukan dibalik pintu ruangan David Megantara, yang merupakan pengusaha muda sukses dalam negeri, pemilik salah satu mall besar dalam negeri, selain itu memiliki beberapa kerjasama dengan pengusaha - pengusaha di bidang lainnya.

Sosoknya berparas tampan dan oriental, berkulit putih, berambut hitam dan bibir tipis. Berkarakter cuek, tidak terlalu banyak bicara dengan orang luar namun memiliki sikap yang bijak dalam berbisnis. Auranya lebih kuat dan berwibawa.

David menutup berkas di tangannya saat Haris memasuki ruangan.

"Ada apa?"

"Pak berdasarkan informasi, ibu Maura baru kembali ke Indonesia seminggu yang lalu dan saat ini sedang bertugas di rumah sakit Medical Center."

"Jadi selama ini dia tidak tinggal di Indonesia?" Batinnya menautkan tangan di atas meja, menyimak lebih jelas laporan dari Haris.

"Dia telah membawa seorang putra biologisnya berumur 5 tahun yang dilahirkan di Singapura, sekarang bersekolah di TK Penerus Bangsa. Setelah bercerai dengan anda tidak ada lagi informasi pernikahan tentangnya."

Mendengar perkataan Haris membuat raut David sedikit lunak. Dengan kekuasaan yang dimiliki tidak sulit baginya jika ingin mencari seseorang dengan cepat.

"Lalu dimana mereka tinggal sekarang?"

"Ibu Maura kembali ke rumah ibunya pak!" David pun tersenyum kecil, dengan mengetahui tempat tinggal mereka akan lebih memudahkan dirinya untuk bertemu dengan Elio.

*

*

*

"Nah sekarang coba tulis ini!"

"Wah anak pintar!"

**

"Maura?"

Maura terkejut saat ibunya menghampiri dirinya yang sedang termenung di teras. Sedangkan Elio belajar bersama dengan Tania di ruang tamu.

"Ada apa?"

"Tadi aku bertemu mas David Bu." Menatap sendu ibunya.

"Apa? Apa dia melihat Elio?"

Maura mengangguk kecil, lalu perlahan memandangi putranya yang berada di ruang tamu.

"Tante ayo menggambar bersama!"

"Ok! Elio mau gambar apa?"

"Emm,, Elio mau gambar anak ayam bersama induknya."

"Wajah mereka terlalu mirip, sulit untuk menyembunyikan. Hanya saja aku tidak mengira akan secepat ini mereka bertemu. Bahkan Elio diam-diam menemuinya!" Menunduk.

"Bagaimana bisa Maura? Elio itu masih kecil."

"Bu Elio lebih cerdas dari yang kita lihat. Setelah kejadian tadi, dia memberitahuku kalau kemarin tidak sengaja bertemu mas David saat di rumah sakit. Wajah mereka terlihat mirip juga dia telah mengetahui nama mas David dari gelang tangan pasien di rumah sakit membuatnya meyakini kalau dia adalah papinya."

Ibu Maura hanya terdiam mendengar perkataan putrinya itu, dia sangat tahu seperti apa perasaan Maura juga tidak tega dengan cucunya.

"Bu apa selama ini Maura terlalu egois dan jahat dengan putraku ku sendiri?" berkaca-kaca.

Ibu Maura menggeleng kecil, menggenggam tangan anaknya yang terasa dingin membuat hatinya bergetar dan pedih, lalu membelai lembut wajah Maura.

"Selama ini aku berpura - pura menutup mata dan menganggap diriku cukup hebat bisa melindunginya seorang diri. Tapi pada kenyataannya dialah anak laki-laki berumur 5 tahun yang selalu melindungi ku, dia menyembunyikan rasa sedihnya, tidak pernah meminta untuk dipertemukan papinya, selalu meredam tangisannya sendiri agar aku tidak merasa sedih." Lirihnya dan kembali meneteskan air mata mengenai kedua tangannya yang berada dalam genggaman ibunya.

"Menangislah nak, jika ibu berada diposisi mu ibu pun akan melakukan hal yang sama demi mendapatkan kesempatan hidup yang lebih panjang denganmu!" Memeluk Maura.

"Hiks. Hiks. Hiks." Memeluk erat ibunya.

*

*

*

(KEDIAMAN KELUARGA DAVID)

Sama seperti hari - hari yang telah terlewati selama 6 tahun, David bersama keluarga kecilnya menjalani sarapan yang cukup hening, selain ngobrol beberapa kata dengan Athar tidak ada lagi yang menjadi perbincangan harmonis antara David bersama Valen.

"Papi tau nggak kami kedatangan murid pindahan dari Singapore loh." Ucapnya dengan mulut dipenuhi ayam goreng.

Namun David hanya tersenyum sambil mengaduk makanannya.

"Namanya Elio, dia cerdas juga suka berbagi makanan denganku!"

Sontak David berbinar mendengar perkataan putranya. Kemarin terlalu banyak kerjaan hingga dirinya lupa jika Athar juga tahun ini masuk di sekolah TK Penerus Bangsa.

"Oh yah? Ibu jadi penasaran dengan teman Athar. Nanti kenalin ke ibu yah kalau sudah sampai di sekolah!" Seru Valen.

"Hari ini biar aku yang antar Athar, kamu harus menemani mama check up kan?"

"Ah, aku hampir lupa hari ini jadwal check up mama."

"Papi beneran mau mengantar Athar ke sekolah hari ini?" Menatap binar papinya dan David pun mengangguk.

"Asyik!!" Teriaknya kegirangan mengangkat tangannya yang memegang ayam goreng terlihat lucu.

Valen dan David tersenyum melihat tingkah lucu bocah laki-laki itu. Athar bocah yang baik juga termasuk pintar, selalu bersikap sopan dan mengidolakan papinya. Wajahnya chubby lebih mirip dengan Valen. Sama seperti anak konglomerat pada umumnya, dimanja, memiliki segalanya namun tidak punya waktu banyak bermain bersama papinya yang sibuk.

*

*

*

(TK Penerus Bangsa)

"Elio?" Teriak Athar saat melihat Elio berjalan seorang diri memasuki halaman sekolah.

Elio pun menoleh, sontak membulatkan mata saat melihat sosok David yang berjalan menghampirinya bergandengan dengan Athar. Kakinya terasa lemas, rupanya orang yang dia yakini sebagai papinya merupakan orang tua dari teman sekolahnya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

Sedih loh😭

2024-01-09

1

tia

tia

lanjut thor

2023-12-08

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 66 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!