Jika bisa kembali ke waktu 6 tahun lalu dan mendapat kesempatan untuk memilih takdir hidupnya. Maka Maura akan menolak garis pertemuan antara dirinya bersama David, dan memilih menyerahkan hidupnya untuk menemani sang ibu menciptakan momen bahagia di setiap harinya.
"Ibu, Tania?" Lirihnya bergetar.
Kedua wanita itu menoleh, saking terkejutnya mereka hanya melongo tanpa kata sedangkan Maura menggertakkan rahangnya menahan linangan air mata.
**
"Tania ibu mau istirahat, sepertinya aku mulai berhalusinasi." Seru ibunya merasa tidak percaya apa yang dia lihat, sedangkan Tania sendiri hanya mematung.
"Ibu, ini Maura." Menarik tangan ibunya yang berbalik hendak masuk.
Saat merasakan sentuhan yang terasa dingin menggenggam telapak tangannya, ibu Maura menghentikan langkahnya lalu perlahan menoleh. Selama beberapa saat dia tidak berbicara, namun matanya meneliti wajah di depannya. Meski 6 tahun telah berlalu dan Maura semakin dewasa namun wajahnya tidak banyak berubah, sebagai ibu yang melahirkannya tentu akan selalu mengenali putrinya.
Perlahan mengangkat tangannya menyentuh wajah anaknya untuk memastikan apa yang dia lihat. Wajah yang halus sedikit dingin membuatnya tersentak, seperti berada dalam mimpi yang begitu nyata. Saat itu juga tangannya bergetar mulai mengelus kecil pipi, hidung juga dagu Maura memastikan sentuhan itu lebih nyata.
Maura memejamkan matanya perlahan saat tangan hangat dari ibunya membelai lembut wajahnya. Tetesan air dari sudut matanya pun berhasil lolos membasahi pipinya kala itu juga. Sentuhan hangat yang selalu dia rindukan selama 6 tahun itu kini kembali dia rasakan.
"Maura anakku. Kamu kembali nak?" Lirihnya dengan mata berkaca-kaca membingkai wajah Maura.
"Ibu, hisk. hiks. Ibu Maura sangat merindukanmu maaf jika Maura baru kembali sekarang. Hiks. Hiks. Hiks."
"Hiks. Hiks. Hiks." Ibu dan anak itu menangis dalam pelukan satu sama lain.
**
"Tania aku juga merindukanmu." Memeluk sahabatnya.
"Dasar bodoh, kenapa baru kembali sekarang." Memeluk Maura. "Hiks. Hiks. Hiks." Ikut menangis saat Maura memukulnya dan merasakan keberadaannya benar-benar nyata.
Setelah keadaan sedikit lebih tenang, Elio memuncul dari belakang badan Maura. Bocah tampan bertopi hitam itu hanya memperlihatkan kepalanya lalu perlahan melebarkan senyuman.
Sontak membuat keduanya mengerutkan dahi, sedikit bingung terlebih saat melihat wajahnya yang tidak asing.
"Keluar lah sapa nenek juga tantemu!"
Barulah Elio memperlihatkan seluruh badannya berdiri di samping Maura.
"Ibu, Tania, ini Elio putraku!"
"Halo nenek, tante. Aku Elio umurku 5 tahun." Melambaikan tangannya dan lagi-lagi membuat kedua wanita di depannya kembali terkejut.
"Elio? Jadi aku sekarang sudah menjadi seorang nenek?" Menatap Maura sebelum memeluk Elio dan di sambut hangat olehnya.
*
*
*
(D&M MALL)
"PAPI...?" Teriak bocah laki-laki itu berlari.
"Hay, kok kamu di sini bukannya sekolah?"
"Papi bekerja terlalu keras lagi, sampai lupa waktu. Ini sudah siang dan anak TK memang seharusnya sudah pulang. Hiehie." Tertawa kecil.
"Athar, ibu kan sudah bilang kalau ketemu papi yang lagi kerja jangan digangguin!" Tegur wanita yang berlenggak menghampiri mereka.
"David maaf kami tidak bermaksud mengganggumu!"
"Tidak apa-apa."
"Oh yah aku dan Athar ingin makan siang kamu mau ikut?"
"Tidak usah. Aku masih ada kerjaan!"
"Bye papi!"
"Bye jangan nakal yah!"
Valen mengiringi langkah David yang meninggalkannya. Sudah 6 tahun kebersamaan mereka dan Athar sudah semakin besar, namun David tetap saja masih cuek bahkan lebih dingin jika hanya ada mereka berdua.
*
*
*
"Maura, wajah Elio terlihat sangat mirip dengannya, apa dia benar anak David?"
Maura menoleh memandangi Elio yang sibuk bermain kelereng di lantai ditemani seekor kucing peliharaan neneknya.
"Benar Bu, dia putra kandung David yang aku lahirkan 5 tahun lalu di Singapura."
Ibu Maura dan Tania kembali terkejut.
"Apa David mengetahuinya?"
Menggeleng "Tidak." Tatapan Maura menjadi sendu.
"Memangnya kenapa? Apa yang terjadi?"
"Bu dia tidak menginginkan kehadirannya. Dia bahkan ingin menyingkirkannya, kalau saja 6 tahun lalu aku tidak meninggalkan Indonesia mungkin aku dan Elio tidak ada di depan kalian saat ini!" Maura mencengkram kuat gelas ditangannya dan sorot matanya menjadi tajam, setiap kali membahas soal David dadanya akan berdebar membangkitkan emosinya.
Ibu Maura, Tania terkejut mendengar penuturannya, mereka juga dapat melihat jelas tatapan dan caranya membicarakan tentang David menyiratkan amarah juga kebencian.
"Tapi bagaimana mungkin? Bukannya selama ini dia cukup baik nak?"
"Aku mendengarnya sendiri!"
Ibu Maura hanya mampu menutup mulutnya saking syoknya. Dadanya ikut berdebar beradu dalam kebingungan.
"Itu sebabnya Maura pergi tanpa pamit, Maura hanya ingin menyelamatkan darah dagingku Bu, Maura tidak bermaksud meninggalkan ibu." Menatap sendu ibunya.
"Ibu mengerti perasaanmu nak, tapi ibu tidak pernah menyangka David bisa sekejam itu kepadamu. Rasanya ibu tidak percaya."
"Ibu aku tidak ingin membicarakannya lagi. Bisakan?" Tersenyum kecil.
Tania menggeleng kecil memberikan isyarat kepada ibunya untuk tidak melanjutkan pembicaraan mereka dan ibunya pun hanya mengangguk kecil. Tania dan ibu Maura masih bingung namun mereka tidak berani lagi bertanya lebih jauh.
"Lalu apa rencanamu sekarang? Kamu tinggal dimana?"
"Semalam kami menginap di hotel Bu. Aku menjadi dokter disalah satu rumah sakit Singapura dan sekarang pindah ke Indonesia!"
"Syukurlah Ibu senang ternyata kamu berhasil melanjutkan kariermu nak!"
"Wah kamu hebat Maura."
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Tentu saja aku tidak seburuk yang kamu kira. Aku menjadi Analis di rumah sakit Medical Center!"
"Yang bener? Kebetulan sekali aku akan dinas di sana!"
"Hehehe!" Kompak.
Bertemu dengan orang tercinta lalu sama-sama berada dalam lingkup kerja yang sama tentu menjadi kebahagiaan besar bagi Maura saat itu.
Kini Maura memutuskan untuk kembali tinggal bersama dengan ibunya, lalu menjalani profesinya bersama dengan Tania.
Elio sendiri sudah mulai aktif di sekolah TK yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat maminya bekerja. Hari itu setelah pulang sekolah, Maura membawanya ke rumah sakit karena dia lumayan sibuk sehingga tidak sempat mengantar putranya pulang ke rumah.
"Elio, mami harus memeriksa pasien kamu jangan kemana-mana yah!"
"Baik mi!"
Meski Elio cerdas dan penurut, tetap saja jiwa anak-anak melekat pada dirinya dan memiliki rasa penasaran yang tinggi serta ingin mencoba-coba, bahkan memiliki kenakalan tersendiri.
Beberapa menit setelah Maura meninggalkan ruangan khusus petugas, Elio pun perlahan membuka pintu. Setelah celingukan memastikan sekitar terlihat sunyi juga aman, dengan gesitnya dia berlari ke ujung lorong.
Saat di ujung lorong dia berbalik lalu mengamati sekitar dan mencoba mengingat sesuatu yang bisa dia jadikan penanda agar tidak tersesat. Dia cerdas membuatnya bisa dengan mudahnya menghafal sesuatu dengan cepat. Setelah meyakini diapun kembali berjalan dan lebih santai, dia berencana mengelilingi ruangan rumah sakit untuk melihat seperti apa keadaan tempat kerja maminya.
Setelah beberapa menit berjalan, tanpa sepengetahuan bocah itu, ternyata langkahnya telah membawanya melewati sebuah ruang rawat inap VIV. Awalnya dia berniat mengabaikan karena telah sudah pasti di dalamnya orang sakit, dan juga anak-anak tidak diperbolehkan berkeliaran di rumah sakit.
Jika maminya mengetahui dia akan di marahi dan bisa jadi tidak akan mendapat kesempatan untuk ikut ke rumah sakit lain waktu. Namun, saat langkahnya melewati kamar 05 kebetulan pintu dalam keadaan tidak tertutup rapat.
Sontak Elio menghentikan langkahnya, lagi -lagi rasa penasarannya muncul. Perlahan menjulurkan kepalanya, kebetulan keadaan ruangan saat itu sunyi hanya ada seorang laki-laki dewasa yang terbaring. Wajahnya tidak terlihat jelas tapi justru semakin mengudang rasa penasarannya.
Setelah mengendap memasuki ruangan, Elio berdiri tanpa bersuara memandangi wajah laki-laki yang terlihat tertidur itu. Wajahnya tampan dan yang lebih mengejutkan terlihat mirip dengannya, lalu pandangannya tertuju pada gelang tangan penanda pasien yang melingkar di lengan nya "David Megantara." Sontak membuat Elio membulatkan mata.
Yah, David. Pasien yang berbaring itu memang benar papinya jadi tentu akan memiliki wajah yang mirip dengannya.
Merasa terusik perlahan David membuka mata saat merasakan keberadaan seseorang di dekatnya. David yang awalnya mengira itu Athar tiba-tiba mengangkat sedikit kepalanya memasang raut keheranan.
Elio melepas maskernya, sontak membuat David terkejut. Entah dari mana datangnya bocah itu dan yang lebih mengejutkan dia memiliki wajah yang mirip dengannya.
"Uncle sakit yah?"
Hati David seperti bergetar namun memberikan kehangatan saat Elio menanyakan keadaannya. Bahkan Athar yang juga selalu perhatian tidak pernah memberikan kehangatan seperti saat itu.
"Uncle hari rajin minum obat! Mami selalu memberiku pil saat alergi kambuh dan besoknya akan sembuh. "Hiehieh!" Tertawa kecil membuat David mengaguminya.
"Siapa namamu nak? Kamu tampan dan cerdas!"
"Elio!"
"Elio?" David mengerutkan dahi seakan mengingatkannya sesuatu.
"Mami yang memberikannya, katanya saat melihat ketampananku yang bersinar seperti matahari waktu lahir, dia memberiku nama Elio."
"Boleh aku tahu nama uncle?" Pura-pura bertanya.
"Aku Da,,"
"Elio?"
Suara teriakan dari luar membuat keduanya terkejut bahkan David tidak sempat memberitahu namanya.
"Maaf aku harus pergi, kalau mami tahu aku berkeliaran dia akan memarahiku karena tidak patuh!" Merogoh sakunya mengeluarkan sebuah kelereng berukuran besar.
"Aku akan menemui uncle besok!" Elio berlari sambil sedikit berteriak.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
RossyNara
elio udah ketemu sama papa nya.
2023-12-22
0
范妮·廉姆
segi tulisannya rapi kak
semangat
2023-12-14
2
tia
update thor
2023-12-07
1