KEBAHAGIAAN SEDERHANA

Maura berdiri melongo melihat paper bag yang berjejer memenuhi ruang tamu, ditengah-tengahnya ada David yang menggendong Elio tertidur pulas.

"Apa ini?"

"Ini sedikit belanjaan Elio hari ini!" Balas David enteng melirik paper bag di sampingnya.

Seketika Maura pening mendengarnya, bukannya ia tidak senang hanya saja baginya anak sekecil Elio tidak perlu jika dibelikan barang sebanyak itu dan juga harganya yang tidak sedikit.

Maura menghela napas, "Aku mengijinkan Elio bersamamu tapi bukan berarti kamu bebas memberikan ini dan itu!"

David mengerutkan dahi, "Memangnya apa yang salah jika membelikan putraku?"

"Tapi aku tidak suka jika kamu bersikap seperti ini!"

"Maura.. Sebaiknya bicarakan nanti saja! Elio harus istirahat!" Seru ibunya yang berdiri di sudut sofa bersama Tania.

Maura pun melirik Elio yang tertidur dalam gendongan David, perlahan mengatur emosinya, "Lewat sini!" Menuntun dengan nada lebih rendah.

David melangkah mengikuti Maura, Elio mengeratkan pelukannya tersenyum saat menuju kamar sontak membuat Tania membulatkan mata menutup mulut melihat bocah itu yang ternyata pura-pura tidur. Sementara ibu Dewi alias ibunya Maura tidak memperhatikan karena ia bergegas masuk ke dalam kamar sendiri.

**

David membaringkan tubuh kecil itu diatas kasur, sudah ada beberapa butir kelereng berukuran kecil yang menemani. Menyelimuti lalu menatapnya sejenak sambil mengelus kecil kepalanya.

Sesaat Maura yang berdiri dibelakang memancarkan tatapan dalam melihat kelembutan David kepada putranya, tidak dipungkiri tersirat sedikit rasa hangat saat memandangi punggung laki-laki itu.

Tanpa disadari Maura tersenyum kecil, sebelum kemudian menggelengkan kepala kembali tersadar.

"E'hem" Berdehem menyilangkan tangan dan David pun hanya mengerling.

"Ku bisa pulang sekarang!" Ucapnya dengan bola mata yang bergerak liar enggan memandang David.

David Berdiri mendekati Maura, membuat Maura menatap dengan dahi mengerut.

"Jangan lupa bawa kembali barangnya!" Lanjutnya memasang wajah tidak senang.

"Aku sudah membelinya untuk Elio. Jadi itu milik Elio aku tak berhak lagi membawanya."

"Tapi Elio tidak membutuhkannya, aku bisa membelikan untuknya. Lagi pula kamu masih memiliki seorang putra bukan? Kamu bisa memberikannya!"

Sontak David kembali mengerutkan dahi, "Athar?" Balasnya.

Maura sedikit berdebar saat mendengar nama Athar, putra lain yang David miliki bersama dengan wanita pilihannya bagi Maura.

"Benar. Kamu bisa memberikan semua barang apapun dan memanjakannya tapi tidak dengan Elio!" Balasnya menatap dalam David.

"Kenapa?" Meneliti raut Maura yang sedikit menegang.

Maura terdiam namun wajahnya menegang juga kedua matanya mulai memerah. Yah, saat itu ia merasakan emosi yang dalam namun sulit ia jelaskan antara amara atau sedih yang jauh lebih besar.

"Sebaiknya kamu pulang!" Membuka jalan untuk David.

Namun bukannya pergi, David malah ngotot mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

"Maura?" Lirihnya dengan suara bariton, "Katakan kenapa?!" Lanjutnya namun Maura enggan menjawab bahkan menolak menatap David.

"Silahkan keluar!" Serunya bergetar.

"Akh!" Maura terkejut saat David mendorong tubuhnya hingga bersandar di dinding. Keduanya saling menatap dengan jarak beberapa centi. Sementara Elio sudah mulai benar-benar tertidur saat itu.

"Katakan! Mengapa aku tidak bisa memberikan apapun kepada putraku sendiri?! Katakan mengapa kamu seperti sengaja membatasi aku dengan putraku?! Dan Katakan mengapa kamu menyembunyikannya?!" Ucap David dengan dingin.

Maura bergetar perlahan menelan saliva saat tenggorokannya tercekat. Kedua kelopak matanya bergetar merasakan pedih dikedua sudut matanya saat semakin menatap mata David, begitu juga dengan David yang tiba-tiba merasakan sakit bagian dadanya kala berada begitu dekat dengan Maura.

Lambat laun perasaan rindu diantara keduanya seakan tumbuh hingga mata mereka masih saling memandang lekat. Bahkan kedua jantung mereka berdetak lebih kencang saat itu juga.

Maura berlinang saat menghirup aroma khas David, bahkan sudah bertahun-tahun berpisah aroma parfum itu masih saja sama dan selalu menjadi aroma favoritnya. Sementara David semakin memandang wajah Maura yang masih saja selalu membuatnya terpanah lalu akan terhanyut begitu saja jika semakin memandanginya.

David mencengkram pada dinding tertunduk memejamkan mata, mengatur emosinya. Sedangkan Maura yang masih berada didepannya bersandar pada dinding hanya memandang dengan perasaan lemas.

David berbalik melangkah keluar dengan sedikit emosional.

"Aku hanya tidak ingin Elio menjadi serakah jika kamu terus memanjakannya! Aku tidak ingin dia tumbuh menjadi orang yang mementingkan diri sendiri karena terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah tanpa ia ketahui jika ada banyak orang yang harus berjuang begitu keras hanya demi mendapatkan sesuatu yang lebih kecil namun begitu berharga bagi mereka." Ucapnya bergetar namun penuh penekanan.

Sontak membuat David menghentikan langkah.

"Dari kecil ia selalu hidup lebih sederhana, ia terbiasa dengan sesuatu yang lebih sederhana juga. Jadi aku tidak ingin jika suatu saat nanti ia tiba-tiba hanya mementingkan kemewahan." Mata Maura kembali berkaca-kaca sedangkan David hanya mengepalkan tangannya tanpa berbalik menatap begitu juga dengan Maura yang terus memunggungi.

"Ia sudah cukup kesepian selama hidupnya, tubuh kecilnya menanggung beban yang lebih berat. Masa kecil yang harusnya hanya berlari bermain bersama temannya, berlibur bersama orang tua yang lengkap bahkan tidak pernah benar-benar ia rasakan. Hiks." Maura menyeka air matanya.

Saat itu juga air mata David mengalir, perlahan berbalik memandangi punggung Maura.

Maura pun ikut berbalik memperlihatkan air matanya, "Elio hanya butuh hal sederhana seperti ini untuk merasakan lebih bahagia." Lanjutnya mencengkram ujung bajunya.

"Lalu bisa tolong jelaskan mengapa kamu meninggalkan ku begitu saja?" Tanya David dengan air mata yang semakin berderai.

Tatapan Maura sendu, jika mengingat alasan kepergiannya maka rasa bencinya untuk David begitu besar. Namun malam itu entah mengapa kebenciannya sedikit tersamarkan saat melihat tangisan David. Namun tidak membuat Maura membuka mulut melainkan semakin mencengkram ujung bajunya.

David mengikuti pandangan pada cengkraman nya. Meski ia tidak tahu pasti namun ia sedikit memahami jika alasan kepergiannya tidak sesederhana yang ia pikirkan selama ini. Maura mungkin saja mengalami tekanan besar saat itu.

"Jika memang aku bersalah, aku minta maaf! Tapi demi Tuhan aku tidak pernah berniat meninggalkan kalian!" Ucap David bersama dengan tetesan air matanya membasahi wajahnya, lalu berbalik meninggalkan Maura.

Untuk pertama kalinya setelah 6 tahun ia menanggung penderitaannya, David mengucapkan kata maaf. Maura hanya memejamkan mata sambil menelan saliva yang terasa pahit saat mendengar kata maaf dari David.

Meski ia tidak memaafkan begitu saja hanya dengan satu kata maaf tapi sedikit menghilangkan rasa sakit dihatinya. Ia juga masih bingung dengan David yang selalu mengatakan jika ia tidak pernah ingin kehilangan mereka. Lalu bagaimana dengan kejadian 6 tahun lalu? Maura lagi-lagi dilema.

*

*

*

(TK PENERUS BANGSA)

"Mami,, apa mami memiliki shift di hari minggu?" Tanyanya sambil mengayunkan tangan yang berada dalam gandengan maminya.

"Mm, seperti tidak!" Balasnya ringan membawa Elio menuju gerbang sekolahnya.

"Kalau begitu aku ingin mami membawaku ke tempat bermain!"

"Tentu saja!"

"Tapi dengan papi juga!"

Maura sontak menghentikan langkahnya diikuti oleh Elio.

"Mami boleh tidak?" Menggoyang kecil lengan maminya.

"Boleh!" Tersenyum menunduk mengelus kecil kepala putranya.

"Asyik!" Mengangkat tangan kirinya kegirangan.

**

"Sana masuk gih!"

"Bye mami!" Melambaikan tangan lalu berlari kecil melewati gerbang.

Baru saja ingin melangkah namun seketika terhenti saat sosok Valen yang berjalan ringan menuju depan gerbang. Ia baru saja mengantar Athar ke dalam kelas. Keduanya saling menatap tanpa berbicara.

*

*

*

(CAFE)

Kedua ibu cantik itu kini duduk didalam sebuah cafe sekitar sekolah. Keduanya memegang minuman ditangan masing-masing.

Suasana begitu canggung diantara mereka. Selama beberapa saat tidak ada sapaan, Maura melirik cincin kawin yang melingkar dijari Valen. Sementara Valen memilih mengamati penampilan Maura yang memang cantik juga berkelas sebagai seorang dokter.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Valen canggung.

"Baik." Tersenyum kecil lalu memandangi bunga kembang kertas yang warna warni dihalaman cafe.

"Kudengar Elio lahir di Singapura, dan usianya satu bulan lebih muda dari Athar." Masih mengamati wajah Maura.

"Pasti sangat sulit." Lanjutnya lalu meneguk minumannya.

Maura memandangi minuman ditangannya meredam kekacauan dalam hatinya, sebelum menegakkan kepala menatap Valen.

"Hidup kami mungkin tidak sempurna tapi aku tetap bersyukur bisa berada sampai dititik ini." Balasnya tersenyum kecil.

Valen pun ikut tersenyum sambil mengangguk.

"Bagaimana denganmu apa kalian cukup bahagia?" Lanjut Maura menatap Valen.

Seketika Valen tersentak, hatinya gelisah namun berusaha menekan emosinya. Dibandingkan Maura, ia jauh lebih kesepian dan tidak bahagia karena berada dalam lingkaran kemewahan namun kekosongan hati bahkan tidak pernah dapat kasih sayang layaknya seorang istri.

"Keluarga kami cukup harmonis semenjak kelahiran Athar!" Bohongnya kembali tersenyum dan Maura pun ikut tersenyum lalu meneguk minumannya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

tia

tia

sepertinya david di jebak sama valen ??

2023-12-18

2

Kasih Bonda

Kasih Bonda

next Thor semangat

2023-12-18

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 66 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!