Malam itu David berdiri di balkon kamarnya memegang secangkir kopi latte. Namun tidak sedang menikmati kopinya, melainkan tatapannya terlihat kosong hingga tidak menyadari kopinya mulai dingin tanpa ia cicipi walau seteguk.
Rautnya datar, auranya dingin menekan. Setelah terdiam beberapa saat barulah ia mulai meneguk kopinya, dan menemukan rasa yang tidak biasa. Meski aroma yang terhirup merupakan kopi latte favoritnya anehnya ia seperti tidak menemukan manisnya latte, melainkan pahitnya expresso yang melekat kuat.
Tak cukup sampai disitu, David meletakkan secangkir kopinya lalu duduk. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakan pemantik berwarna gold miliknya. Hatinya gelisah, pikirannya bercabang perlahan menghisap rokoknya mencoba mencari ketenangan.
Selama beberapa saat ia duduk seorang diri di tengah kepulan asap rokoknya yang memutih. Selang beberapa saat, nyonya Kamelia menghampirinya.
Sebelum berbicara nyonya Kamelia cukup lama berdiri memandangi putranya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. Rautnya sedikit sendu, sudah 6 tahun sejak perpisahannya dengan Maura, David tidak banyak bicara, wajahnya selalu saja datar dan lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Selain kerjaan, tidak ada lagi hal yang terlihat begitu menarik baginya.
Sesekali ia akan berbicara dengan Athar, lalu akan memilih menghabiskan malam-malamnya di depan laptop ditemani kepulan asap rokoknya. Bahkan kehadiran Valen pun tidak membawa perubahan dalam hidupnya selama 6 tahun terakhir. Jujur saja, nyonya Kamelia menyimpan rasa sedih yang dalam setiap kali melihat keadaan sang putra.
"David.." Tegurnya.
"Mama?" Segera mematikan rokoknya.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"David tidak apa-apa ma?" Tersenyum kecil.
Nyonya Kamelia menggenggam tangan David, "Sudah 6 tahun berlalu, Valen sudah menemani mu sejauh ini dan Athar sudah semakin besar. Apa kamu masih belum bisa membuka hatimu nak?" Menatap lekat.
David terdiam sejenak, "Maafkan David ma. David juga tidak ingin semua ini, tapi.." Kembali terdiam ingatannya tentang Maura dan Elio kembali terlintas.
Nyonya Kamelia mengangkat dagu sang putra mensejajarkan pandangan mereka. Sangat jelas kesedihan juga emosi yang terpancar dalam netranya.
"Mama harap kamu tidak salah mengambil keputusan kelak!"
"Semua begitu mendadak ma, sudah lama berlalu kepala David ingin menolak mengingat semua dan melupakannya. Tapi hati David masih saja berada pada masa itu dan terkadang kembali sakit."
"Ini semua salahku ma karena dahulu terjatuh terlalu dalam dengannya. Hingga setelah kepergiannya aku sulit untuk keluar. Aku belum mampu untuk melupakan sepenuhnya dan masih takut untuk melangkah lebih jauh." Memandang mamanya dengan mata memerah.
Tanpa sepengetahuan mereka, Valen diam-diam berdiri di balik pintu balkon mendengarkan pembicaraan mereka. Tubuhnya terasa lemas, ia merasakan kesedihan. Waktu yang diberikan untuk David tidaklah sedikit tapi mengapa ia masih sangat sulit untuk menyentuh hatinya.
Terkadang berpikir seperti apa sebenarnya arti keberadaannya bagi David? Meski ia hadir setelah perpisahannya dengan Maura, namun mengapa dalam waktu 6 tahun ia masih saja membiarkan dirinya berada di samping David kalau memang ia tidak mampu memberikan hatinya.
Valen terkadang sedikit lelah karena sudah jelas hanya dirinya yang berjuang. Namun karena separuh hatinya terlanjur ada pada David, maka ia akan selalu memutuskan untuk menunggu lagi dan lagi.
*
*
*
(RUMAH MAURA)
Kini Maura duduk di tepi ranjang, sedangkan Elio sendiri sudah tertidur pulas sambil memeluk tangan kiri maminya. Beberapa kelereng berceceran di dekat bantalnya.
Maura mengambil satu kelereng berukuran kecil lalu memandangi secara bergantian dengan wajah putranya.
(FLASH BACK)
"Di dunia ini aku terlahir hanya memiliki mami yang paling aku cintai, dan kelereng benda yang kusukai setelah mami."
"Don't cry mami! Elio anak kuat meskipun tidak memiliki papi tapi dengan adanya mami juga kelereng ini Elio bahagia." Mengangkat kelerengnya.
"No mami.. Elio hanya mencintai mami jadi Elio akan menemani mami selamanya. Hie.Hieh."
(FLASHBACK END)
"Apa benar kamu tidak menginginkan yang lain selain mami? Apa benar kamu bahagia selama beberapa tahun hanya bermain kelereng?" Batinnya memandang lekat wajah Elio.
"Berapa umurmu? Hem?! Kenapa terlalu pintar menyembunyikan kesedihanmu sendiri? Hiks. Hiks. Hiks. Maura mencium tangan mungil itu sambil terisak kecil.
Walau ia berhasil membesarkan Elio dengan sehat, cerdas, memiliki perilaku positif juga finansial yang terbilang cukup. Namun, tetap saja akan ada celah. Maura pun menyadarinya namun ia memilih untuk menutup mata menyembunyikan kesedihannya dan rasa kasihannya untuk Elio yang terpaksa menjalani kehidupan keluarga berbeda dari teman-temannya.
**
"Derrt.. Derrt.."
Suara getaran ponsel milik Maura berbunyi. Dengan cepat ia menyeka wajahnya lalu meraba ponselnya diatas kasur.
Panggilan masuk dari Dirga malam itu. Maura menarik napas panjang lalu menjawab panggilan.
"Halo Assalamualaikum." Serak.
"Waalaikumsalam, Maura ada apa, kamu sakit?" Tanya Dirga saat mendengar suara Maura yang sedikit berbeda.
"Ah nggak, aku nggak apa-apa. Bagaimana kabarmu di sana?"
"Syukurlah. Aku baik - baik saja. Bagaimana dengan Elio dan kerjaan mu?"
"Dia sudah tidur. Akhir - akhir ini aku sibuk jadi jarang menghubungi mu."
"Tidak masalah. Oh yah aku sudah mengajukan cuti dan kemungkinan bulan depan aku akan ke Indonesia" Ucapnya dengan nada bahagia.
"Oh yah? Elio pasti akan senang mendengarnya."
"Apa? Jadi hanya Elio yang senang tapi maminya tidak?" Pura - pura bersedih.
"Bukan begitu. Aku sangat senang!"
"Heheheh." Kompak.
Malam itu mereka berbicara dan saling berbagi pengalaman selama beberapa hari ini sambil tertawa bersama.
*
*
*
(MEGANTARA GROUP)
Beberapa hari telah berlalu, David sedang memimpin rapat dalam ruangan luas full AC bernuansa abu rokok itu dilapisi beberapa dinding kaca.
Sama seperti biasanya ia termasuk orang yang tidak banyak basa-basi, setiap kali memasuki ruang rapat wajah lebih banyak memasang raut datar, terlihat cuek namun pandangannya tajam meneliti setiap orang dihadapannya sehingga menjadikan auranya lebih dingin mendominasi di setiap tempat keberadaannya.
Menariknya, ia berwajah tampan oriental walau tidak banyak bicara namun selalu terlihat berwibawa. Selain itu ia selalu bijak dalam setiap keputusannya sehingga menjadi kan orang - orang disekitarnya kagum.
"Baiklah untuk rapat hari ini kita akhiri sampai di sini!" Ucapnya lalu melangkah keluar dari ruangan.
Sontak seluruh staff berdiri memberikan hormat dan membuka jalan untuk pemimpin mereka. Setiap langkahnya menebarkan aroma wangi berpadu tobacco yang serupa tembakau. Wangi yang tajam, macho tapi juga memberikan kesan soft bertebaran sehingga menjadi lebih misterius.
Terutama staf wanita, mereka selalu saja mengagumi sosoknya itu dan terpana walau hanya menghirup aromanya.
Langkahnya yang lebar didampingi oleh Haris berjalan menuju ruangan kerjanya.
"Bagaimana dengan yang aku perintahkan kemarin?" Sambil memasuki ruangan saat Haris membuka pintu.
"Hasilnya sudah bisa di ambil hari ini pak!"
"Em, baiklah kamu segera ambil dan berikan saat makan malam di hotel nanti!"
"Baik pak!" Segera berbalik..
"Oh yah!" Tegurnya menghentikan langkah Haris diambang pintu.
"Tolong bantu siapkan mobil untukku!"
"Bapak mau kemana? Hari ini tidak ada jadwal meeting-meeting dengan klien." Haris sedikit bingung.
David tidak menjawab namun pandangannya bertemu dengan Haris mampu memberikan tekanan. Haris yang menyadari aura dingin bosnya itu spontan mengangguk"Baik pak." Dia tidak berani lagi bertanya kembali melanjutkan langkahnya.
"Ck!" Decak-nya memukul kecil bibirnya karena merasa salah ngomong.
Sejak kejadian hari itu bosnya berubah menjadi lebih kaku hingga ia harus pandai dalam memilih kata yang tepat setiap kali ngobrol. Meski begitu sampai saat ini Hari masih menjadi orang terdekat dan kepercayaan di perusahaan.
(TK PENERUS BANGSA)
"Papi?" Teriak Athar berlari saat melihat David berjalan menghampiri.
Elio berdiri menyaksikan raut bahagia Athar yang berlari dan melompat kedalam pelukan David. Sungguh membuatnya iri melihat interaksi mereka. Di dunia ini hal paling diinginkan setiap anak adalah memiliki orang tua yang lengkap, ngobrol, makan, jalan dan bermain bersama.
Tapi nyatanya sudah 5 tahun, Elio masih saja belum merasakan 1 pun dari setiap keinginannya itu. Elio sedikit goyah, kedua tangannya bergerak meremas kelereng berukuran besar miliknya.
Netranya menatap David sedikit gelap, senyumannya lebih kecil dan terlihat lebih mirip dengan wajah ingin menangis. David pun seakan dapat melihat kesepian putranya.
Rautnya yang tersenyum menggendong Athar perlahan memudar saat pandangannya tertuju kepada sosok Elio yang berdiri beberapa meter dari mereka.
"Athar masuk ke dalam mobil dulu!" Menurunkan dari gendongan dan Athar pun berlari masuk ke dalam mobil.
Kini tinggal Elio dan David, perlahan David melangkah menghampiri putranya. Dadanya berdebar dan hatinya bergetar mengantar rasa sakit juga gelisah setiap kali memandangi wajah Elio.
Elio tidak berbicara, mendongak menatap David yang sudah berdiri tepat di hadapannya. David semakin merasa sakit dalam hatinya kian menusuk saat netra hitam itu terlihat lebih gelap dan berkaca-kaca. Perlahan menelan saliva merasakan cekatan pada tenggorokannya.
David tersenyum kecil. Baru saja mengangkat tangannya ingin menyentuh kepala Elio...
"Elio?"
Sontak Elio berbalik saat Maura memanggilnya. Tatapannya kembali berbinar.
"Mami..." Teriaknya melompat dalam pelukan maminya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
Huaaa
2024-01-11
1
RossyNara
tisu mana tisu, othor tega bangat kasih bawang.
2023-12-22
1
tia
cerita ny berbau bawang
2023-12-10
1