"Selamat datang Elio!" Tersenyum kecil. Elio berbinar saat Valen menyapanya.
"Dimana mama?"
"Ada di halaman belakang!"
"Ayo bertemu nenek!" Ajak David dibalas anggukan oleh Elio.
**
Dihalaman belakang, wanita paru baya yang terlihat elegan sedang merapikan tanaman hiasnya di tamani pelayan wanita.
"Tolong pangkas sedikit agar tidak terlalu panjang yah!"
"Baik nyonya."
Wanita itu kemudian menyemprot beberapa tanaman lain yang berjejer di depannya.
"Ma..?"
Sontak berbalik saat mendengar suara putranya yang tiba-tiba memanggil. Tidak seperti biasanya dia datang di sore hari.
"Tumben sek..."
Nyonya Kamelia melongo saat melihat sosok David berdiri didepannya menggandeng bocah laki-laki yang tampan mirip dirinya. Begitu juga dengan pelayan itu, Elio pun mendongak kearah papinya saat melihat reaksi neneknya yang masih melongo.
"Ma jangan seperti ini, putraku jadi bingung!"
"Bug!"
Sontak saja nyonya Kamelia semakin terkejut membulatkan mata sampai menjatuhkan penyemprot tanaman yang dipegang.
Tak kalah mengejutkan, Elio ikut membulatkan mata saat melihat kondisi wajah neneknya yang terlihat syok.
**
Kini mereka duduk di depan meja besi bundar yang berada di pinggir kolam. Nyonya Kamelia tak hentinya menatap wajah Elio yang sangat mirip dengan David bahkan mengingatkannya pada David kecil.
Kini bahkan beberapa pelayan ikut mendekat melihat wajah anak itu. Elio pun menunjukkan sikap sopan dan terlihat anteng.
"Nenek are you ok?" Celetuknya dengan suara khas bocah sambil tersenyum.
Nyonya Kamelia semakin tersentuh saat pertama kali mendengar suara menggemaskan cucunya.
"Siapa namamu nak?" Membingkai wajah kecilnya.
"Elio, umurku 5 tahun dan sudah bersekolah."
Nyonya Kamelia menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh tidak menyangka jika ia memiliki cucu dari Maura dan David.
"David? Menatap David, "Mengapa dia terlalu mirip denganmu? Bahkan cerdas." Kembali memandangi Elio.
"Kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!"
"Hehehe!" Sontak membuat semua orang yang ada terkekeh.
"Bi tolong siapkan makan malam lebih cepat yah. Aku ingin cucuku menikmati hidangan lezat!"
Dengan Cepat ke empat pelayan wanita itu bergegas ke dapur.
(RS MEDICAL CENTER)
Setelah beberapa jam melakukan penanganan, kini Maura hampir menyelesaikan semua pekerjaannya. Wajahnya terlihat lelah meski tertutup masker namun sorot matanya terlihat sayu.
"Maura melepaskan handscoon yang dipenuhi darah. "Sus tolong pantau keadaan pasien dan berikan injeksi dosis kedua 8 jama kemudian!" Serunya sambil menyempatkan hand sanitizer pada keduanya tangannya.
"Baik dok."
"Jangan lupa pindahan segera pasien lain ke ruang rawat inap!" Lanjutnya lalu berjalan meninggalkan UGD.
"Ceklek."
Saat membuka pintu UGD kedua sahabatnya sudah berdiri menunggunya. Dengan gesit Zam menyodorkan sebotol air mineral sedangkan Tania memberikan sebungkus roti.
Maura pun meraihnya lalu memeluk keduanya, "Terima kasih, kali memegang yang terbaik." Memeluk keduanya.
"Lebih baik dari David sekali pun?" Canda Zam.
"Heheh! Kompak.
Ketiganya melangkah ringan meninggalkan UGD, Maura mengganjal perutnya dengan sebungkus roti juga sebotol air mineral sambil berjalan mendengarkan cerita kedua sahabatnya.
"Oh yah dimana Elio?" Tanya Tania.
"Dia bersama David, sepulang dari sini aku akan menjemputnya."
**
"Saat diparkiran Maura menghubungi David untuk menanyakan putranya. Ia berpikir jika David membawanya ke hotel.
"Cek." Decak-nya usai memutus telepon.
"Ada apa Maura?"
"David membawa Elio ke kediaman utama." Zam dan Tania hanya saling melirik.
"Lalu bagaimana? Kamu mau menjemputnya?"
"Tidak Zam. Rasanya aku tidak perlu kesana, David bilang dia akan mengantar Elio setelah makan malam."
"Ya sudah sekarang kita pulang saja, kamu juga harus istirahat!"
(KEDIAMAN KELUARGA DAVID)
"David bagaimana bisa kamu menemukan cucuk?"
"Kami tidak sengaja bertemu di rumah sakit ma. Maura bekerja di sana. Aku bahkan sudah melakukan tes DNA dan tingkat kecocokan kami 99%."
"Apa selama ini mereka hidup dengan baik?"
"Melihat karier Maura dan pertumbuhannya aku yakin mereka cukup baik ma. Elio dilahirkan di Singapura 5 tahun lalu, dia lebih cerdas dari anak seusianya ma." Memandangi Elio yang duduk di pinggir kolam menikmati cemilannya.
"Hanya saja ia kekurangan sosok ayah ma. Bahkan ia sulit memiliki teman disekolah sebelumnya karena status Maura sebagai single mom." Mata David sedikit memerah sedangkan nyonya Kamelia sudah mulai menyeka air matanya.
"Dia bahkan sering diremehkan oleh teman-temannya. Ini salahku ma karena tidak menemaninya selama ini."
"Ini bukan salahmu. Yang terpenting sekarang kamu harus melindunginya. Melihatnya mengingatkan mama saat dirimu seusianya. Mama sekarang seperti sedang melihat kembali pertumbuhanmu." Tersenyum menggenggam tangan David.
"Terkadang mama merindukan masa itu diaman dirimu akan selalu merengek kepada mama dibelikan mainan untuk dipamerkan kepada anak tetangga, namun mama tetap membanggakan mu karena selalu juara kelas." Tertunduk menitihkan air mata.
Diam-diam ada Athar yang mendengar obrolan mereka sedari tadi membuat mereka terkejut.
"Athar?" Lirih David terkejut, sedangkan nyonya Kamelia segera menyeka air matanya.
"Athar sini nak!" Panggil nyonya Kamelia.
Elio berbalik saat mendengar nama Athar disebut, ia tidak berbicara hanya berdiri memandangi Athar yang berjalan pelan menghampiri mereka.
Athar tidak berbicara namun memandangi wajah papinya secara bergantian dengan wajah Elio memang sangat mirip. Nyonya Kamelia dan David mulai terlihat panik.
"Apa benar Elio anak papi dengan tante Maura? Awalnya aku hanya mengira wajah kalian sedikit mirip." Menatap papinya dengan mata bulat yang jernih.
"Athar maafkan papi nak."
"Jadi benar Pi?" David tidak tega melihat tatapan putranya, perlahan mengangguk kecil.
**
Sontak Athar melebarkan senyuman, berarti Elio akan tinggal di sini kan? Kami bisa bermain bersama sepuasnya Athar bosan setiap hari main sendiri Pi."
David dan nyonya Kamelia terlonjak. Ia tidak menyangka Athar bisa menerima keberadaan Elio begitu saja.
"Athar tidak marah kan nak?"
Menggeleng kecil, "Kami berteman baik disekolah, Elio selalu memberiku ayam goreng bikinan tante Maura hie.hieh." Tertawa kecil.
Elio pun tersenyum menghampiri mereka.
"Papi menyayangi kalian!" Memeluk kedua putranya.
Terlihat sangat harmonis, tapi tidak bagi Valen. Ia menatap sendu dari balik dinding kaca, hatinya gelisah menyaksikan Athar yang bisa dengan mudahnya menerima sementara dirinya sedikit tidak rela.
**
Makan malam telah siap, keluarga itu pun duduk dimeja makan, Elio melihat seluruh isi meja yang tertata diatas meja yang menggiurkan. Namun ia tidak mengatakan apapun hanya duduk berpangku tangan.
Pelayanan itu pun mulai menyajikan beberapa makan di piring mereka. Elio mengambil kesempatan itu untuk mengamati setiap orang di dalam rumah termasuk Valen, wajahnya cantik terlihat mirip dengan Athar.
"Elio ayo makan!" Seru nyonya Kamelia.
"Terima kasih!" Balasnya membuat neneknya tersenyum.
"Tuan muda, anda benar-benar sopan!" Puji salah satu pelayan.
"Terima kasih bibi." Sontak pelayanan yang lainnya ikut tersenyum, sedangkan Athar sudah sibuk dengan makanannya.
Valen pun mulai membanding Athar dan Elio, harus ia akui Maura membesarkan seorang putra dengan baik bahkan tahu sopan santun.
"Athar Elio coba makan ini!" Nyonya Kamelia memberikan lobster kepada kedua cucunya."
"Maaf nek, Elio alergi lobster. Jika Elio makan badan Elio akan terasa gatal, Elio tidak ingin merepotkan mami!" Balasnya mengedipkan matanya.
"Kamu benar-benar anak David, bahkan memiliki alergi yang sama."
Mereka pun melewati makan malam bersama dengan baik, Valen tidak menyinggung apapun prihal kedatangan Elio. Terlebih Athar sangat menyukai Elio yang juga sangat baik kepadanya.
**
"Athar aku harus pulang, sampai jumpa besok disekolah!" Melambaikan tangannya.
"Em, hati-hati!" Ikut melambaikan tangan.
David pun membawa Elio kembali ke rumah Maura. Sepanjang jalan bocah itu berbicara dengan cerdasnya saat melihat setiap bangunan dan tempat yang mereka lalui sepanjang jalan.
"Papi lihat itu kantor papi kan?" Menunjuk gedung menjulang tinggi. Menoleh kearah Papinya.
"Hem? Kamu tahu kantor papi?"
"Tentu saja aku sering melihatnya di artikel!" Kembali menempelkan wajahnya ke kaca mobil.
"Oh yah?"
"Hem, aku sering melihat fotonya juga membaca artikel mengatakan David Megantara merupakan pemimpin Megantara Group." Balasnya ringan.
David mengelus kecil kepala anaknya sambil tersenyum.
"Mm lalu apa Elio ingin menjadi pengusaha seperti papi?"
"Tentu saja aku akan menjadi lebih hebat dari papi, agar bisa menghasilkan uang yang banyak untuk mami!" memperbaiki posisi duduknya menatap serius kepada David.
"Kalau sudah besar nanti Elio mau bantu papi di perusahaan atau mau bikin perusahaan sendiri?" Tanyanya iseng.
Bocah itupun dengan polosnya menanggapi perkataan papinya, "Emm,,," Memiringkan kepala berpikir sejenak.
"Memang boleh nanti bikin perusahaan sendiri?"
"Perusahaan kelereng." Candanya.
"Hehehh!"
"Hie. Hieh." Bocah itupun sontak ikut tertawa.
Sejak mereka bertemu, perlahan keduanya lebih sering tertawa bersama tanpa beban. Sangat berbeda dengan karakter David ketika bersama orang lain sebelum kedatangan Elio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
1 iklan buat mu thor
2024-01-16
0
💞Amie🍂🍃
Kebanyakan mahh🤭
2024-01-16
0
Lady Ev
mksih kk
2023-12-18
0