KEHADIRAN ELIO

David pun penasaran dengan sosok yang dipanggil mami olehnya. Dia berusaha mengintip dari balik pintu dan melihat seorang wanita yang menggandeng tangannya. Elio diam-diam berbalik melambaikan tangannya membuat David tersenyum.

Tapi entah kenapa saat dia melihat sosok wanita itu membuatnya sedikit kecewa. Padahal siapapun ibu dari Elio tidak ada hubungannya dengannya bukan? Tapi nyatanya yang David liat saat itu bukanlah Maura, melainkan salah satu perawat yang dipercaya Maura untuk menjaga Elio saat dia melakukan visite kepada pasiennya.

*

*

*

Malam itu Maura bersama Tania duduk di atas ayunan besi yang berada di halaman depan. Keduanya kerap melakukan hal itu beberapa tahun lalu sambil menghitung bintang sebanyak mungkin. Sebuah kebiasaan konyol yang menjadi khas pertemanan mereka.

"Tania,"

"Em!" Menatap Maura.

"Saat aku sedang kesepian, aku selalu menghitung bintang seorang diri selama berada di Singapura." Menatap bintang.

Tania ikut menatap bintang di langit, "Dan aku pun tidak pernah melewatkan menghitung bintang saat mengingatmu."

"Terima kasih karena telah terlahir menjadi sahabatku, terima kasih juga karena telah merawat ibu dengan baik!" Menatap Tania dengan mata berkaca-kaca.

"Saat kamu memutuskan untuk pergi tanpa pamit, ibu selalu murung dan saat itu aku pun berjanji untuk tidak meninggalkannya sampai kamu kembali."

Secara tidak sadar Maura tersenyum sambil meneteskan air mata.

"Sudah jangan bersedih, sekarang ceritakan kehidupan mu setelah memiliki Elio!"

Maura pun mulai menceritakan kehidupannya selama di Singapura. Dimana saat itu usia kehamilannya 2 bulan, beruntung dirinya bertemu dengan Dirga yang membantunya mendaftar di salah rumah sakit. Sebenarnya akan sulit jika saja direktur rumah sakit itu bukan tantenya Dirga.

Namun setelah diterima, Maura pun membayarnya dengan kinerja yang memuaskan. Sehingga dapat membuktikan kalau dia bekerja bukan karena memanfaatkan relasi semata. Selama hamil Maura menjalani seorang diri sambil bekerja di rumah sakit.

Saat persalinan pun hanya Dirga yang bisa dia jadikan sebagai kerabat dekat saat itu. Dirga selalu setia membantunya jika berada dalam kesulitan.

Bahkan dia harus meninggalkan anaknya kepada baby sitter selama bekerja. Beruntung selama bekerja dia selalu disiplin dan mendapatkan kebijakan dari pimpinan dengan mengurangi shift malamnya selama beberapa tahun. Ketika Elio berumur 4 tahun dan mulai sekolah, Maura baru mendapatkan shift malam kembali.

Elio pun terlahir menjadi anak yang tidak rewel sehingga tidak menyusahkan Maura yang notabenenya single mom. Elio selalu memahami jika dia hanya bisa tidur bersama dengan sang baby sitter saat maminya shift malam. Elio tidak pernah merajuk saat melihat teman dan anak-anak sebayanya yang setiap kali berlibur atau jalan bersama dengan orang tua yang lengkap.

Elio tetap bahagia disaat pulang sekolah meski hanya maminya menjemput, sementara anak yang lain dijemput oleh ayahnya atau bahkan kedua orangtuanya.

Dia selalu berusaha ceria meskipun tidak memiliki sosok papi dalam 5 tahun. Setiap  pertemuan orang tua hanya Maura yang selalu menjemputnya dan terkadang bersama dengan Dirga. Beberapa temannya sering merundungnya sebagai anak yang tidak diinginkan dan tidak memiliki ayah. Namun dia tidak pernah memberitahu kepada maminya, karena dia takut jika maminya bersedih.

Elio akan berlari bersembunyi lalu diam-diam menangis setiap kali dirinya dirundung. Namun, seiring berjalannya waktu hingga usianya memasuki 5 tahun dia semakin kuat, kecerdasannya pun semakin terlihat bahkan karena terbiasa memendam masalahnya sendiri hingga membuatnya bersikap lebih dewasa dari usianya.

Tania bergetar sampai meneteskan air mata saat Maura menceritakan habis beberapa kehidupannya selama ini.

"Lalu bagaimana jika David mengetahui keberadaannya? Wajah mereka sangat mirip tentu akan sulit menyembunyikan!"

Mendengar perkataan Tania membuat Maura terdiam sejenak, perlahan menelan saliva. 

"Benar. Keberadaannya mungkin tidak bisa aku sembunyikan selamanya. Bahkan meski dia tidak menginginkannya, tapi tidak dengan Elio. Dia bocah yang lebih cerdas dari seusianya, meski dia tidak pernah memberitahuku tapi aku sering menemukan beberapa gambar buatannya, sebuah keluarga yang lengkap namun sengaja dia sembunyikan di dalam kamar."

Maura mendongak menahan agar air matanya tidak kembali jatuh. "Huffth.." menarik napas.

"Aku bisa melihat seperti apa tatapannya setiap kali kami jalan bersama ketika dia melihat anak-anak lain berlari memanggil papinya, melompat dalam gendongannya, makan juga bermain bersama mami dan papinya dengan bahagia. Kedua matanya selalu menyiratkan kerinduan juga kesedihan yang muncul bersamaan." Perlahan menyeka air matanya.

"Tapi dengan tegar-nya dia akan selalu tersenyum lalu mengatakan, mami i'm ok!" Tersenyum kecut.

Kedua mata Tania ikut berlinang melihat dan mendengar kemalangan sahabatnya.

"Aku mungkin egois, tapi aku melakukannya agar aku tidak kehilangan dirinya 6 tahun lalu." Menggigit bibir bawahnya

Tania menggenggam tangan Maura yang terasa dingin lalu mengelus kecil bahunya.

*

*

*

(RS MEDICAL CENTER)

Hari itu David diperbolehkan pulang setelah 3 hari mendapatkan perawatan akibat asam lambungnya yang kambuh. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lupa waktu makan teratur.

David mengenakan kemeja biru berdiri diambang pintu. "Aku akan menemui uncle besok!" Entah mengapa perkataan bocah yang kemarin menemuinya terus terngiang bahkan dia sampai berharap kalau Elio benar-benar datang.

"David!" Seru Valen.

David pun hanya pasrah dan melanjutkan langkahnya yang terasa lebih berat mengikuti Valen juga Athar. Sangat jelas rautnya menyiratkan rasa kecewa bahkan sampai membuat hatinya gelisah. Apa ini? perasaan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Elio?

**

Elio sendiri tidak melupakan janjinya itu, namun saat ini sangat sulit baginya untuk keluar dari ruangan petugas karena perawat yang sedang beristirahat itu menjaganya dengan ketat.

Elio tidak hentinya memandangi jam tangannya, sebentar lagi maminya akan kembali tentu akan semakin sulit baginya untuk keluar. Karena keadaan mendesak dan semakin membuatnya gelisah, terbesit dalam hatinya kenakalan kecil.

Diam-diam Elio mengeluarkan segenggam kelereng dari sakunya lalu dengan sengaja melemparkan ke lantai.

"Tante kelerengku!" Menunjuk kelereng yang bergelinding memenuhi ruangan.

Tanpa berpikir panjang perawatan itu berjongkok bermaksud membantu untuk memungutnya. Kesempatan itupun digunakan Elio yang dengan cepat berlari membuka pintu.

"Tante maafkan aku!" Berlari meninggalkan ruangan.

"Eh, Elio? Elio?" Perawat itu berdiri bermaksud mengejar namun dia tidak sengaja menginjak beberapa kelereng hingga membuatnya terhuyung dan hampir terjatuh.

Elio berlari menyusuri lorong sambil melirik keberadaan maminya. Takut kepergok atau dia tidak akan memiliki kesempatan bertemu dengan orang yang dia yakini kemungkinan besar papinya.

Elio berjalan melewati apotik dan kedua kaki kecilnya itu terhenti saat dia melihat sosok David yang duduk di kursi tunggu. Tatapannya berbinar berjalan menghampiri.

Sementara David yang setengah melamun duduk memandangi kelereng berukuran besar ditangan kanannya, sampai tidak menyadari keberadaan Elio yang sudah berdiri di depannya. Sementara Valen dan Athar bersiap menebus obat hingga tidak melihatnya.

"Uncle apa kamu menungguku?"

Suara menggemaskan khas bocah membuyarkan David, sontak mengangkat kepalanya dan mendapati kedua mata yang menyipit saat Elio melebarkan senyum dari balik maskernya.

David mengulas senyum lalu membelai lembut kepala Elio. Hatinya selalu saja hangat setiap bertemu dengannya.

"Uncle sudah sembuh?" David hanya mengangguk.

Elio lagi-lagi merogoh sakunya mengeluarkan secarik kertas yang sudah dia lipat kecil.

"Ingat ini rahasia kita. Jika mami tahu dia mungkin tidak akan memperbolehkan ku bertemu denganmu lagi!" Perkataan polos dengan mulut yang mengerucut membuat David mengerutkan dahi.

"Memangnya kenapa?" David sedikit penasaran.

**

"Elio?"

Suara Maura yang tiba-tiba memanggil namanya terdengar dari belakang sontak membuat Elio terkejut membulatkan mata, saat melihat Maura yang berjalan ke arahnya.

"Mami?" Mendongak.

"Elio mami sudah bi.."

Maura menghentikan perkataannya saat melihat sosok David yang duduk di dekat Elio. Tubuhnya bergetar, tatapannya menyiratkan emosi yang dalam bahkan dadanya terasa perih saat itu juga.

Tak kalah terkejutnya dengan Maura, David pun merasakan getaran dalam hatinya setelah 6 tahun Maura menghilang menyisakan selembar surat cerai hingga membuat hidupnya dalam kepahitan. Kini wanita yang memberinya luka telah hadir kembali dihadapannya.

Keduanya tidak berbicara namun saling menatap selama beberapa saat. Elio dapat melihat ketegangan dari raut mereka.

Perlahan David memandangi wajah Elio, rasa penasarannya mengenai Elio pun semakin besar. Kalau kemarin dia hanya berpikir wajahnya mungkin saja hanya mirip dengannya, tapi kali ini mungkin keadaannya telah berbeda setelah melihat siapa sosok mami Elio yang sebenarnya.

Maura menarik kasar tangan Elio lalu melangkahkan kaki jenjangnya dengan lebar. Sontak David mengikutinya.

"Maura aku ingin bicara denganmu!"

Maura tidak menggubris David yang masi mengikutinya.

"Maura!" David menahan tangan Maura.

Maura akhirnya menghentikan langkahnya tanpa melepas gandengannya dengan Elio.

"Aku ingin bicara denganmu!"

"Tapi aku tidak ingin berbicara denganmu!" Kembali menarik Elio lalu melangkah dengan terburu-buru.

Elio pun sedikit takut melihat perdebatan mereka, hanya terdiam sampai tidak berani bersuara saat Maura menariknya hingga kedua kaki kecilnya terasa sakit dan kewalahan menyesuaikan langkahnya.

"Maura dengarkan aku, kita harus bicara!" David terus mengikuti hingga tidak sadar posisi mereka sudah jauh dari apotek.

"Maura?"

"Maura?"

"Maura kamu bisa menyakitinya!" Tegurnya saat melihat sang putra yang mulai tidak nyaman.

Perkataan David kembali membuat Maura menghentikan langkahnya. Perlahan menunduk melihat Elio yang memegangi pahanya, dia terlalu emosi hingga lalai membuat anaknya kesakitan tanpa dia sadari.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

Anak yang kuat itu mah, menjadi semangat buat mamanya

2024-01-09

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 66 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!