Malam harinya, aku tengah asyik melakukan Kultivasi secara mandiri, mengingat kejadian seperti itu telah membuatku semakin berwaspada dengan hal berbau gaib dan mistik. Situasi tampak sepi sejenak,aku kini lebih memaksakan diri melawan rasa ketidaknyamanan yang menyerang.
Ini sudah pukul 10 malam. Ibuku saat Ini sudah tertidur pulas di kamarnya membuatku senantiasa untuk berlatih tanpa gangguan. Hanya saja aku mulai merasakan sesuatu yang aneh mulai menyerang.
Mendadak, aku merasakan aura yang terlalu kuat memasuki kamarku. Jendela mendadak terbuka sendiri dan aku merasakan angin yang tidak biasa mengganggu pelatihanku. Sejenak, aku membuka mataku dan menemukan semacam api yang beterbangan di luar sana, membuatku mengerutkan kening.
"Apa itu?" tanyaku sambel menatap ke jendela.
Ini bukanlah sesuatu yang wajar untuk dilihat olehku, dan tiba-tiba saja aura itu mulai menekan tubuhku, mulai menyakitiku semakin kuat. Saat ini, aku terlalu lemah untuk berhadapan dengannya.
Aura yang mencekam tubuhku semakin intens, dan aku merasakan kehadiran sesuatu yang tidak terlihat. Aku segera menyadari bahwa ini adalah serangan dari kekuatan gaib yang mungkin mencoba membalas atas apa yang sang Dewi Rubah lakukan tadi. Namun, bagaimana dia bisa tahu aku punya hubungan dengan Dewi Rubah?
Tidak-tidak. Aku rasa ini Ulah Dukun itu yang memang berniat merongrong kami satu persatu dari keluargaku karena dibayar seorang yang mungkin itu adalah pesaing bisnis keluarga kami dan kini aku adalah incarannya kali ini.
Tanpa peringatan, aku merasakan ada serangan energi hitam yang meluncur ke arahku. Sementara itu aku juga merasakan tubuhku terselubung sesuatu yang melindungiku. Ini adalah Ajian pelindung tolakan suci yang dewi tenpatkan di tubuhku untuk melindungi diri dari serangan gaib seperti ini.
Tetapi serangan itu terus meningkat, seolah-olah kekuatanku tidak cukup untuk menahan serangan ini. Sementara tubuhku terasa melemah, aku mencoba berkonsentrasi untuk memanggil bantuan Dewi Rubah.
"Dewi Rubah, tolong!" seruku dalam hati, mencoba menggunakan telepati meski aku masih belajar teknik tersebut. Tiba-tiba, suasana berubah, dan aku merasakan kehadiran Dewi Rubah di sekelilingku.
Dewi Rubah muncul dengan cepat, wajahnya tampak serius. "Kau harus bertahan, anak muda. Kekuatan gelap ini memang kuat, tetapi bersama-sama, kita dapat mengatasinya."
Dewi Rubah mengeluarkan Ajian pertahanan tambahan, menciptakan perisai energi yang melindungi kami dari serangan gaib. Itu sudah cukup untuk melindungiku secara sempurna.
Bukannya menghilang, serangan tersebut malah berkumpul dan membentuk siluet manusia di hadapanku. Sebuah entitas gaib yang penuh kebencian dan kegelapan, mengancam untuk merobohkanku.
"Kau telah mengusik kedamaian kami. Sekarang, kau akan merasakan kekuatan kami!" desis suara gaib itu, menusuk telingaku seperti silet tajam.
"Dasar bodoh! Menggunakan Sukma untuk memancingku keluar, sama saja dengan membuatmu mati terbunuh di hadapanku. Beraninya kau melukai muridku!" teriak Dewi Rubah gusar lalu memancarkan aura Surgawi miliknya.
Aku mulai batuk-batuk berdarah akibat serangan sebelumnya, malah membuat Sang Dewi semakin murka. "Apa yang kau lakukan pada muridku, akan aku balas berkali lipat!" teriaknya sembari membakar sukma tersebut dengan ajian api suci Surgawi yang membara.
Panas api ini melebihi panas matahari walaupun masih kalah jauh dibandingkan api gelap neraka, itu cukup untuk membuat sukma itu merintih kesakitan dan akhirnya terbakar menjadi abu tidak tersisa. Benar-benar mengerikan!
Setelah Dewi Rubah berhasil mengusir entitas gaib yang menyerang, aku merasa tubuhku terasa lemas dan penuh luka. Dewi Rubah memandangku dengan tatapan prihatin.
"Kau berjuang dengan baik, anak muda. Namun, kekuatan gaib ini ternyata lebih kuat dari yang kubayangkan," ucap Dewi Rubah sambil meraih tanganku.
Aku mengangguk lemah. "Terima kasih, Sang Dewi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang tepat waktu."
Dewi Rubah tersenyum lembut. "Kau muridku, putra. Kami akan selalu melindungi dan membimbingmu dalam perjalanan kultivasi ini. Namun, kau perlu berlatih lagi sampai menjadi kuat."
Aku setuju dan merasa semakin bertekad untuk memahami dan mengembangkan kekuatan kultivasi yang dimiliki. "Aku akan melakukan segalanya untuk melindungi ibu dan keluargaku. Dewi, bagaimana caranya agar aku bisa lebih kuat?"
Dewi Rubah tersenyum puas melihat tekadku. "Kultivasi memerlukan latihan yang konsisten dan pemahaman yang mendalam terhadap energi alam. Aku akan membimbingmu dalam perjalanan ini, dan kau harus bersiap menghadapi berbagai ujian."
Selanjutnya, Dewi Rubah memberikan sebuah pil, sembari berucap, "makanlah ini. Kau mengalami luka dalam yang tidak kecil."
Aku menerima pil tersebut dan menelannya dengan hati-hati. Rasanya aneh, namun aku merasakan energi penyembuhan memenuhi tubuhku. Dewi Rubah kemudian menjelaskan, "Pil ini akan membantu mempercepat proses penyembuhanmu. Tetaplah fokus pada latihan kultivasi, dan jangan biarkan kekuatan gelap mengambil alih."
Dewi Rubah kemudian mengajarkan beberapa gerakan kultivasi tambahan yang dapat memperkuat pertahananku. Aku dengan tekun mempraktikkannya, merasakan energi alam mengalir melalui tubuhku.
"Ingatlah, kekuatan sejati berasal dari keseimbangan dan kedamaian batin. Jangan biarkan kebencian dan amarah meracuni hatimu," pesan Dewi Rubah dengan bijaksana.
Aku menganggukkan kepala sembari menjawab, "aku akan mengikuti nasihatmu, dewi."
Dewi Rubah segera menggelengkan kepalanya. Sembari menyentil Hidungnya, dia menegur, "aku adalah gurumu, kenapa kau tidak memanggilku Guru saja, hmm?"
Aku langsung memalingkan muka karena merasa pipiku sangat panas. "Maaf, Dewi. Eh, maksudku.. Guru."
Dewi Rubah tersenyum dan mengangguk puas. "Baiklah, itu lebih baik. Sekarang, lanjutkan latihan kultivasi dengan tekad yang kuat. Aku yakin, kelak kau akan menjadi pejuang yang tangguh."
"Umm.... Guru, tadi kau bilang dia adalah Sukma. Apa itu sukma?" tanyaku merasa tertarik.
"Umm, itu adalah.... sangat sulit untuk aku jelaskan karena kau tidak akan bisa mengerti dengan pengetahuannya yang terbatas. Namun, mungkin kau tahu seseorang bisa menjadi lebih dari satu layaknya amoeba. Nah, itulah yang namanya sukma. Mungkin dengan kata lain, aku hanya bisa mengatakan sukma itu jiwamu lain yang ada pada dirimu."
Aku mendengarkan penjelasan Dewi Rubah dengan penuh perhatian, meskipun masih ada banyak hal yang belum sepenuhnya kumengerti. Kultivasi, energi gelap, dan konsep sukma membuka dunia baru bagiku.
Dewi Rubah melanjutkan, "Sukma adalah inti spiritualmu, pusat kehidupan yang lebih dalam dari sekadar tubuh fisik. Dengan memahami dan menguasai sukma, kau dapat mengarahkan energi alam untuk melindungi dirimu dan orang-orang yang kau cintai. Nah, itulah penjelasan mengenai sukma. Apa kau mengerti?"
Aku segera menggaruk kepala yang Tidak gatal. "Tidak terlalu, tetapi, kelihatannya sangat hebat! Apa aku bisa menguasainya?"
"Bisa, namun kau harus punya kemampuan dahulu. Orang yang menguasai Sukma itu biasanya ilmunya tinggi sekali, bahkan tingkatan yang dimiliki Ki Ageng Dharma Pasek masih jauh untuk mencapainya. Kau punya potensi yang bagus, cukup dengan berlatih, aku yakin kau pasti akan menguasai kemampuan tersebut suatu hari nanti. Sudahlah, ini sudah malam. Aku harus kembali dan jika kau butuh bantuan di saat seperti tadi, jangan ragu untuk menyebut namaku," ucapnya sambil menghilang begitu cepat.
Malam itu, sambil menatap langit yang dipenuhi bintang, aku merenung tentang perjalanan yang telah kulalui. Kekuatan gaib, entitas mistis, dan pertemuan dengan Dewi Rubah telah membuka mataku terhadap dunia yang lebih luas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments