Dewi Rubah berdiri di hadapan kami dengan tatapan tajamnya. Kedua Siluman terlihat kesakitan dan terkejut oleh serangannya.
"Kalian meremehkan kekuatan manusia terlalu jauh. Ini adalah pertaruhan yang kalian sendiri pilih," ucap Dewi Rubah dengan suara tenang.
Kami yang tadinya ketakutan, kini merasa lega melihat Dewi Rubah hadir. Kepercayaan dan harapan mulai tumbuh kembali di hati kami.
"Tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian," ujar Siluman Laba-laba sambil berusaha bangkit.
Namun, Dewi Rubah dengan cepat bergerak dan memutar tubuhnya. Seakan tanpa terlihat, dia mengeluarkan sebuah sinar cahaya yang membuat kedua Siluman itu terdiam dan kemudian jatuh tak berdaya.
"Kalian lupa, ada kekuatan yang lebih besar di luar kemampuan kalian," kata Dewi Rubah sambil mengarahkan pandangannya ke arah kami.
"Kami datang untuk mengakhiri kejahatan kalian. Rangga harus dibebaskan," ucapku dengan tegas.
Dewi Rubah mengangguk, "Kita tidak punya waktu untuk berlama-lama. Mari kita selesaikan ini."
Dengan sigap, Dewi Rubah mengarahkan kami menuju tempat persembunyian kedua Siluman tersebut. Hutan barat Kuburan Cina yang semula gelap dan mencekam, kini terasa lebih terang dengan kehadiran Dewi Rubah.
Perjalanan kami melalui hutan berlanjut, dan Dewi Rubah terus memberikan arahan agar kami tidak tersesat. Kami merasa ada kekuatan yang mendukung kami, dan itu memberikan semangat baru untuk menyelesaikan misi ini.
Tiba di tempat persembunyian, kami disuguhi pemandangan yang sulit dipercaya. Tempat ini dihiasi oleh kegelapan dan energi negatif yang begitu kuat. Rangga terlihat terdiam dan terikat di sebuah pohon besar.
Dewi Rubah berbicara, "Ini adalah pusat kekuatan mereka. Kalian harus memutus sumber energinya untuk melemahkan mereka."
Kami mengangguk dan bersiap-siap. Dewi Rubah memimpin serangan dengan kekuatan magisnya, sedangkan kami menggunakan keberanian dan kerja sama. Setiap kali Dewi Rubah mengirimkan serangan, kami mengikuti dengan serangan fisik.
Terdengar suara gemuruh dan energi negatif yang menguap saat Dewi Rubah berhasil memutuskan sumber energi tersebut. Kedua Siluman terlihat semakin lemah.
Saat energi negatif terputus, Rangga terlihat membebaskan diri dari ikatan dan tersungkur. Kami segera menghampirinya.
Segera kami mendekatinya, dan kami tepuk pipi nya untuk menyadarkannya, namun sepertinya Rangga masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Cek nadinya, coba," ucap Wijaya, membuatku mulai menyentuh denyut nadinya. "Normal," jawabku.
"Untung dia bisa kita selametin sekarang," ucap David dengan senyum lelah.
"Untung ada Dewi Rubah yang nanti kita. Kalo kaga, entah sampai kapan temen kita diginiin oleh kedua Siluman laknat itu," jawabku sambil menatap Dewi Rubah yang tengah bersiap untuk menyelesaikan kedua Siluman.
Dewi Rubah mengeluarkan mantra dan memindahkan kedua Siluman ke dimensi lain yang tidak dapat diakses oleh manusia. "Mereka akan mendapatkan hukuman sesuai perbuatan mereka di sana."
Dewi Rubah tampak tenang setelah berhasil memindahkan kedua Siluman. Dia kemudian mendekati kami yang tengah merawat Rangga.
"Terima kasih, Dewi Rubah. Tanpa bantuanmu, kami tidak akan bisa menyelesaikan ini," ucapku penuh rasa syukur.
Dewi Rubah tersenyum, "Kalian telah membuktikan bahwa keberanian dan tekad dapat mengatasi bahkan kekuatan supernatural. Kalian adalah pilihan yang tepat untuk menghadapi mereka."
Kami bahu-membahu merawat Rangga yang masih tidak sadarkan diri. Dewi Rubah dengan lembut menyentuh dahinya, dan tiba-tiba Rangga membuka mata dengan perlahan.
"Jangan gerak dulu, bro. Lu masih lemah," tegur Wijaya kepada Rangga.
"Putra, ingatlah untuk menyisakan waktu mulai malam besok untuk pengajaranku. Tidak peduli apa alasanmu, aku tidak akan mentolerir apapun. Ingatlah dengan janjimu," ucap Dewi Rubah yang kemudian dia berbalik.
Aku mulai menggaruk kepalaku, sambil tertawa konyol. "Jangan khawatir, Dewi. Mulai besok akan aku pastikan untuk menerima pengajaran darimu."
"Baguslah kalau begitu," ucapnya lalu menatap ke atas awan. "Aku akan kembali, namun besok malam, akan aku jemput dirimu." Dewi Rubah kemudian menghilang dengan cahaya samar, meninggalkan kami dalam suasana yang damai.
Aku tersenyum dengan semua ini, namun mendadak temanku menatapku dengan perasaan iri. "Beruntung banget lo sumpah, ampe dapet ajaran dari si Cantik seperti Dewi Rubah," cibir David cemburu..
"Tenang aja lu, David. Bakal gue akan sharing ilmunya pada elu semua," ejekku sambil tertawa.
"Ya ampun, gak sabar nunggu malam nanti!" celetuk Wijaya dengan mata berbinar-binar. "Buat balapan lagi," lanjutnya yang kami tertawa mendengarnya.
"Yah, tapi hanya untuk Malam ini doang besok gue udah siap menerima pengajaran," ucapku.
"Jangan lupa Sharing bro, apa aja yang Dewi Rubah ajarin ke elu sama perasaan elu ama dia," ledek Dian. "Sejak ketemu Dewi Rubah, elu selalu salah tingkah."
"Apanya yang salah tingkah? Gue biasa aja," jawabku mencoba pura-pura cuek sambil merahasiakan perasaanku pada Dewi Rubah. "Yuk balik ke rumah gue. Kita pesta buat rayain kemenangan kita. Bisa ngibulin Siluman sekaligus ngalahin mereka, termasuk pencapaian luar biasa, loh!"
Tapi teman-temanku tidak terkecoh, mereka tersenyum-senyum dengan jelas mengetahui bahwa ada sesuatu di balik ketenanganku.
Rangga yang tadinya hanya diam, kini terlihat sangat bersyukur, akhirnya bisa lepas dari jeratan Siluman itu. Saat malam itu, dia tidak menyangka terseret oleh Siluman itu dan ngerasain tidak ada harapan.
"Gas pesta, beli Pizza dan Coca-cola. Putra yang traktir," ucap Seno seenak jidat begitu saja, membuatku kesal.
Kami segera kembali dari Kuburan Cina dan di sana ditemukan suasana tidak lagi menakutkan seperti sebelumnya. Semuanya telah berakhir dan aku bersama semua temanku sebagai geng motor kini lebih aman menikmati situasi jalanan.
"Kota ini geng motor atau Tim SAR, sih? Udah dua kali kita nyari orang Hilang, kek bukan geng Motor aja, kita," ucap Dian mengingat semua perjalanan hidup kami baru-baru ini.
"Keduanya," ucapku sambil meraih helm dan menaiki motor serta melakukan Starter.
Tidak aku sadari, Dewi Rubah memandang kami dari kejauhan. Senyuman indahnya terukir di sudut bibirnya, jika seseorang melihatnya, dia pasti akan terpana "Putra, kau memang berbeda dari orang lainnya," ucapnya.
Akhirnya, kami pulang dengan perasaan lega dan penuh syukur. Semua perjuangan dan rintangan akhirnya terlewati. Setibanya di rumah, kami merayakan kemenangan kami dengan penuh sukacita.
Pesta kecil di rumahku menjadi momen yang menyenangkan. Pizza, Coca-cola, tawa, dan cerita-cerita lucu mengisi kegiatan Sore kami. Rangga, yang sudah pulih sepenuhnya, ikut merayakan kemenangan bersama kami.
"Minum, bro!" ucap David sambil mengangkat gelas Coca-cola.
"Jangan kebanyakan minum, entar elu mabok. Putra juga yang repot," cibir seno yang membuat semua orang tertawa.
"Ini Cola, bukan Bir, kocak! Mana bisa bikin mabok!" gerutu David kesal
"Ntar malam jadi balapan? Sebagai ucapan perpisahan kita karena si Putra udah ga bisa lagi nimbrung malem-malem bareng, soalnya bakal diajak kencan sama Dewi Rubah. Benar gak, put" tanya Dian kepadaku yang membuat semua orang kembali meledak dengan tawa.
"Iya-iya, cibir aja gue terus ampe kenyang," ucapku kesal. "Gue cuma belajar ama dia doang, elu katakan kencan. Iri bilang, boss!"
"Btw, Rangga, dimana perasaan elu pas dibawa siluman itu?" tanya Wijaya penasaran.
"Buruk banget rasanya, sumpah. Gue ga bisa ngejelasinnya kek gimana, dah. Rasanya tuh, ga ada harapan buat bisa keluar," cerita Rangga.
"Makanya kalo udah di larang jangan balapan, jangan dilanggar," ucap David. "Untung calon bini Putra bantu tuh.
Mendengar ucapan David sontak membuatku bersemu merah, segera aku tutupi dengan perasaan marah. Aku gerakkan tanganku untik menjitak kepalanya. "Calon bini kepalamu! Dia itu Dewi dan gue cuma manusia biasa," jawabku kesal.bercampur malu.
Tawa riuh kembali menggema di antara kami. Meskipun telah melewati situasi yang sulit, kami bisa tertawa bersama. Kebersamaan ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments