Episode 16. Sampai pingsan

Malam itu, aku bersama Dewi Rubah fokus pada sesi kultivasi. Meskipun awalnya sulit untuk merelakan ego dan keinginan duniawi, aku mencoba bersungguh-sungguh memahami konsep tersebut. Dewi Rubah terus memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran.

"Saat kultivasi, jangan hanya fokus pada kekuatan fisik, tetapi juga pada kebijaksanaan dan pemahaman batin. Itu yang akan membuatmu sejati," ujar Dewi Rubah dengan bijak.

Aku berusaha mengendalikan pikiranku dan membuka diri terhadap pembelajaran ini. Setiap sesi kultivasi membawa tantangan baru, namun aku semakin yakin bahwa ini adalah perjalanan yang akan membentuk diriku menjadi lebih baik.

Dewi Rubah tidak hanya mengajarkan teknik kultivasi, tetapi juga memberikan wawasan tentang keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan. Setiap langkahnya penuh makna, dan aku merasa beruntung dapat belajar langsung dari sosok sehebat Dewi Rubah.

Waktu berlalu begitu cepat dalam meditasi dan latihan. Saat melihat ke arloji, aku terkejut menyadari bahwa sudah larut malam. Dewi Rubah melihatku dengan senyuman lembut.

"Kau sudah melakukan dengan baik, Putra. Kultivasi memang memerlukan kesabaran dan ketekunan. Ingatlah, ini adalah investasi pada dirimu sendiri," katanya.

Aku mengangguk mengerti, merasa bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ini. Dewi Rubah memberikan panduan terakhir untuk menjaga keseimbangan energi batin dan elemen alam.

"Eh,, siapa yang menyuruhmu untuk mengakhiri Pelatihanmu? Cepat kultivasi lagi sampai Tewas!" Perintah sang Dewi Rubah dengan kejam.

"Dewi, aku ingin istirahat," ucapku merengek, namun sepertinya itu tidak mempan untuk Guru seukuran Dewi Rubah.

"Tidak ada! Tadi kau sudah molor 1 jam, jadi kau harus menerima tambahan satu jam pelatihan, baru istirahat," ucap Sang Dewi yang tidak mau mendengar alasan apapun.

"Sungguh kejam," ucapku tanpa sadar sehingga membuat Sang Dewi kesal. Segera dia menunjukkan kepalan tangannya sembari bertanya, "mau terus kultivasi, atau aku pukul?"

Aku langsung gemetaran mendengarnya, Lantas segera memilih, "kultivasi, ah ya! Aku akan berkultivasi sekarang!" Sang Dewi Rubah kalau marah, sangat menakutkan.

Dewi Rubah memandangku dengan tatapan tajam. "Baiklah, Putra. Aku harap kau mengambil pelajaran dari ini. Kultivasi memang memerlukan pengorbanan dan ketekunan."

Aku segera kembali fokus pada kultivasi, meskipun dengan hati yang masih terasa berat. Setiap gerakan dan pemikiran kini menjadi langkah untuk memperkuat kekuatan batin dan menjaga keseimbangan.

Walaupun sulit, aku berusaha melibatkan diri sepenuh hati dalam latihan. Dewi Rubah terus memantau dan memberikan arahan. Meski terasa melelahkan, aku menyadari bahwa ini adalah bagian dari perjalanan menuju pertumbuhan diri.

Tekad boleh besar, tetapi minimal harus perhatikan batasan juga. Karena terlampau kelelahan, tubuhku mulai beringsut ke tanah dan aku pingsan, tidak mampu melanjutkan kultivasiku, yang mungkin membuat Dewi Rubah dongkol bukan main. Kultivasi ini benar-benar melelahkan, apalagi sampai disuruh tambah 1 jam.

Pagi hari, aku berasa di sekolah, tengah sharing soal pengalamanku kemarin yang membuat mereka tertawa melihat penderitaanku.

Mereka terkekeh mendengar pengalaman kultivasiku yang melelahkan. "Woah, kultivasi kayaknya seru juga ya, Put! Gue jadi penasaran pengen coba," celetuk David sambil tertawa membayangkan bagaimana dia dipaksa berlatih sampai pingsan, lalu digendong bawa pulang.

"Seru apanya? Yang ada bikin bosen, tapi ungkapin dikit aja udah bikin Dewi Rubah marah, dan tatapan dia jadi horor banget " jawab ku kesal.

Teman yang lain ikut tertawa, dan aku pun tersenyum meskipun masih merasa lelah. Selama sharing itu, ada yang bertanya, "Eh, gimana rasanya kultivasi sampe pingsan? Senang nggak?"

"Ya, enggak lah! Mana ada itu hal menyenangkan?" tanyaku semakin kesal.

Teman-temanku tertawa lagi mendengar alasan dan setuju sekaligus. "Iya sih, emang bener juga. Tapi kultivasi sampe pingsan, berat banget ya, Put!" komentar Rangga sambil mengangguk-angguk.

"Aduh, sori ya, Put. Tapi seru aja denger ceritanya," kata David mencoba meredakan kekesalanmu.

"Apanya yang seru? Kalian saja yang nggak ngalamin, jadi gampang ketawa," sahutku sambil memiringkan kepala.

"Tuh, tubuh elu bau Rubah, tuh! Gak mandi ya?" tanya Rangga meledek.

"Sialan! Gue kesiangan, lalu terpaksa ganti baju cepat ga mandi! Padahal baunya ga menyengat amat, hidung elu terbuat dari apa, sih?" tanyaku semakin kesal bercampur malu.

"Tumben peduli sekolah, biasanya terlambat mulu sabtu aja elu," cibir David yang membuatku semakin kesal.

"Karena ibu gue bakal pulang ntar siang. Jadi harus nyamar jadi kucing menggemaskan dulu," jawabku. "Lagian kalian semua juga malah datang kepagian, pasti ortu kalian bakal pulang juga, kan?"

Teman-temanmu tertawa mendengar alasanmu yang unik. "Ya ampun, kau ini kucing apa Rubah, Put?" celetuk Rangga dengan wajah tak percaya.

"Apa hubungannya jadi kucing dengan ibumu pulang?" tanya David sambil mengangkat alis.

"Yaudahlah, gue kan pake bahasa becanda. Gak usah diambil serius," ujarku sambil tersenyum.

Mendadak aku menatap Seno yang sedari tadi menatap ke arah lain, membuatku mengerutkan kening, lalu ide jahil mulai timbul di pikiranku. Segera aku kejutkan dia.

"Liat apaan sih?" tanyaku.

"Coba deh liat anak baru itu," ucap Seno sembari menunjuk murid baru. "Cantik banget"

Aku segera menatap ke arah mana Seno lihat dan menemukan dua gadis cantik yang terlihat asing. Kedua Murid baru tersebut memang terlihat cantik dengan senyuman ramah di wajahnya, bahkan mereka ibarat buah pinang dibelah dua, mungkin itu karena dia kembar sehingga wajahnya mirip. Teman-temanku yang melihatnya juga ikut memperhatikan mereka.

"Yah, memang cantik" ucapku setelah sejenak mengamati murid baru itu. Hanya saja, aku merasa ada yang aneh. Mereka berdua memiliki Aura yang anehnya dapat aku deteksi. Ini seperti.... mereka belajar kultivasi juga, tetapi mungkin saja ini hanyalah dugaan sementara. Namun bagaimana bisa? Apa mungkin Dewi Rubah telah melakukan sesuatu padaku sehingga dapat mendeteksi aura?

Temanku mendadak menatapku dengan perasaan bingung, karena biasanya aku paling tertarik pada wanita cantik pada ini, tetapi aku bukan lelaki mesum, okay! Aku hanya tertarik saja. Namun kini aku merespon biasa saja.

"Ga seperti biasanya elu merespon seperti itu, bro," ucap Seno.

Aku tersenyum misterius pada Seno. "Mungkin aku sudah lelah setelah semalam kultivasi. Lagipula, ada hal yang lebih penting daripada sekadar penampilan fisik, bukan?"

Teman-temanku hanya mengangguk mengerti, seolah menerima penjelasanku. Aku masih memikirkan aura aneh yang kudeteksi dari murid baru itu, tetapi entahlah, mungkin hanya imajinasi atau efek dari kultivasi semalam.

"Sudahlah, biarkan saja. Yang penting sekarang, kita fokus ke pelajaran dan tetap menjaga keseimbangan hidup," tambahku sambil mencoba mengalihkan perhatian dari aura misterius yang masih menggelitik pikiranku.

"Gak-gak! Kita harus bangkit dan kenalan ama mereka. Siapa tau akrab. Ya, ga?" tanya Seno yang memang kalo soal cewek, dia nomor satu. "Put, ortu kita masih belum dateng. Nanti aja jadi alim-nya, sekarang jadi singa dulu," ucap mereka yang membuatku memutar bila mataku malas.

Entah mengapa aku kurang tertarik kali ini, mungkinkah karena aku terlalu mudah terpana oleh dewi Rubah, atau..... mungkin saja ini hasil dari pelatihan kemarin, yang membuat keinginanku terhadap kesenangan duniawi menjadi berkurang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Episodes
1 Episode 1. Bermula di Hutan terlarang
2 Episode 2. Dia itu Siluman Rubah?
3 Episode 3. Perubahan Besar pada Geng
4 Episode 4. Pijatan 'Tradisional' yang 'menyakitkan'
5 Episode 5. Lagi-lagi Rekan "menghilang!"
6 Episode 6. Sebuah petunjuk
7 Episode 7. Aku terikat dengannya?
8 Episode 8. Membuka Meridian
9 Episode 9. Kebimbangan
10 Episode 10. Keputusan
11 Episode 11. Rencana
12 Episode 12. Persiapan
13 Episode 13. Kejutan
14 Episode 14. Kemenangan
15 Episode 15. Berlatih sampai Tewas
16 Episode 16. Sampai pingsan
17 Episode 17. Misteri di balik sakit yang ibu derita.
18 Episode 18. ini Ulah Dukun yang lebih sakti daripada saya
19 Episode 19. Takdir membantuku
20 Episode 20. Terserang
21 Arc 1 telah Dimulai : Sang Pemburu
22 Episode 21. Pembantu baru?
23 Episode 22. Mereka memiliki Aura
24 Episode 23. Ilmu kanuragan
25 Episode 24. Mempelajari Kanuragan
26 Episode 25. perseteruan
27 Episode 26. Tantangan
28 Episode 27. Kemenangan
29 Episode 28. Purnama
30 Episode 29. Cara menghadapi Wanita?
31 Episode 30. Tentang Pernikahan Manusia-Dewi
32 Pengumuman: Perlambatan Update!
33 Episode 31. Contoh nyata dari Sang Dewi Naga
34 Episode 32. Aura yang tidak hilang? Kita kedatangan tamu tidak Diundang!
35 Episode 33. Dewi Kelinci
36 Episode 34. Rumah Kosong
37 Episode 35. Serangan Aura Pembunuh
38 Episode 36. Pengumpulan Sekutu
39 Episode 37. Perang di Dimensi
40 Episode 38. Puncak Serbuan ke Bangunan tua
41 Episode 39. Ocehan tiga dewi
42 Episode 40. Pesta kemenangan
43 Episode 41. Serangan lagi?
44 Episode 42. Jebakan?
45 Episode 43. Istana bulan
46 Episode 44. Kitab bulan permata Sutasoma
47 Episode 45. ternyata ada 3 jenis dewi Rubah?
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Episode 1. Bermula di Hutan terlarang
2
Episode 2. Dia itu Siluman Rubah?
3
Episode 3. Perubahan Besar pada Geng
4
Episode 4. Pijatan 'Tradisional' yang 'menyakitkan'
5
Episode 5. Lagi-lagi Rekan "menghilang!"
6
Episode 6. Sebuah petunjuk
7
Episode 7. Aku terikat dengannya?
8
Episode 8. Membuka Meridian
9
Episode 9. Kebimbangan
10
Episode 10. Keputusan
11
Episode 11. Rencana
12
Episode 12. Persiapan
13
Episode 13. Kejutan
14
Episode 14. Kemenangan
15
Episode 15. Berlatih sampai Tewas
16
Episode 16. Sampai pingsan
17
Episode 17. Misteri di balik sakit yang ibu derita.
18
Episode 18. ini Ulah Dukun yang lebih sakti daripada saya
19
Episode 19. Takdir membantuku
20
Episode 20. Terserang
21
Arc 1 telah Dimulai : Sang Pemburu
22
Episode 21. Pembantu baru?
23
Episode 22. Mereka memiliki Aura
24
Episode 23. Ilmu kanuragan
25
Episode 24. Mempelajari Kanuragan
26
Episode 25. perseteruan
27
Episode 26. Tantangan
28
Episode 27. Kemenangan
29
Episode 28. Purnama
30
Episode 29. Cara menghadapi Wanita?
31
Episode 30. Tentang Pernikahan Manusia-Dewi
32
Pengumuman: Perlambatan Update!
33
Episode 31. Contoh nyata dari Sang Dewi Naga
34
Episode 32. Aura yang tidak hilang? Kita kedatangan tamu tidak Diundang!
35
Episode 33. Dewi Kelinci
36
Episode 34. Rumah Kosong
37
Episode 35. Serangan Aura Pembunuh
38
Episode 36. Pengumpulan Sekutu
39
Episode 37. Perang di Dimensi
40
Episode 38. Puncak Serbuan ke Bangunan tua
41
Episode 39. Ocehan tiga dewi
42
Episode 40. Pesta kemenangan
43
Episode 41. Serangan lagi?
44
Episode 42. Jebakan?
45
Episode 43. Istana bulan
46
Episode 44. Kitab bulan permata Sutasoma
47
Episode 45. ternyata ada 3 jenis dewi Rubah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!