Malam itu, aku bersama Dewi Rubah fokus pada sesi kultivasi. Meskipun awalnya sulit untuk merelakan ego dan keinginan duniawi, aku mencoba bersungguh-sungguh memahami konsep tersebut. Dewi Rubah terus memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran.
"Saat kultivasi, jangan hanya fokus pada kekuatan fisik, tetapi juga pada kebijaksanaan dan pemahaman batin. Itu yang akan membuatmu sejati," ujar Dewi Rubah dengan bijak.
Aku berusaha mengendalikan pikiranku dan membuka diri terhadap pembelajaran ini. Setiap sesi kultivasi membawa tantangan baru, namun aku semakin yakin bahwa ini adalah perjalanan yang akan membentuk diriku menjadi lebih baik.
Dewi Rubah tidak hanya mengajarkan teknik kultivasi, tetapi juga memberikan wawasan tentang keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan. Setiap langkahnya penuh makna, dan aku merasa beruntung dapat belajar langsung dari sosok sehebat Dewi Rubah.
Waktu berlalu begitu cepat dalam meditasi dan latihan. Saat melihat ke arloji, aku terkejut menyadari bahwa sudah larut malam. Dewi Rubah melihatku dengan senyuman lembut.
"Kau sudah melakukan dengan baik, Putra. Kultivasi memang memerlukan kesabaran dan ketekunan. Ingatlah, ini adalah investasi pada dirimu sendiri," katanya.
Aku mengangguk mengerti, merasa bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ini. Dewi Rubah memberikan panduan terakhir untuk menjaga keseimbangan energi batin dan elemen alam.
"Eh,, siapa yang menyuruhmu untuk mengakhiri Pelatihanmu? Cepat kultivasi lagi sampai Tewas!" Perintah sang Dewi Rubah dengan kejam.
"Dewi, aku ingin istirahat," ucapku merengek, namun sepertinya itu tidak mempan untuk Guru seukuran Dewi Rubah.
"Tidak ada! Tadi kau sudah molor 1 jam, jadi kau harus menerima tambahan satu jam pelatihan, baru istirahat," ucap Sang Dewi yang tidak mau mendengar alasan apapun.
"Sungguh kejam," ucapku tanpa sadar sehingga membuat Sang Dewi kesal. Segera dia menunjukkan kepalan tangannya sembari bertanya, "mau terus kultivasi, atau aku pukul?"
Aku langsung gemetaran mendengarnya, Lantas segera memilih, "kultivasi, ah ya! Aku akan berkultivasi sekarang!" Sang Dewi Rubah kalau marah, sangat menakutkan.
Dewi Rubah memandangku dengan tatapan tajam. "Baiklah, Putra. Aku harap kau mengambil pelajaran dari ini. Kultivasi memang memerlukan pengorbanan dan ketekunan."
Aku segera kembali fokus pada kultivasi, meskipun dengan hati yang masih terasa berat. Setiap gerakan dan pemikiran kini menjadi langkah untuk memperkuat kekuatan batin dan menjaga keseimbangan.
Walaupun sulit, aku berusaha melibatkan diri sepenuh hati dalam latihan. Dewi Rubah terus memantau dan memberikan arahan. Meski terasa melelahkan, aku menyadari bahwa ini adalah bagian dari perjalanan menuju pertumbuhan diri.
Tekad boleh besar, tetapi minimal harus perhatikan batasan juga. Karena terlampau kelelahan, tubuhku mulai beringsut ke tanah dan aku pingsan, tidak mampu melanjutkan kultivasiku, yang mungkin membuat Dewi Rubah dongkol bukan main. Kultivasi ini benar-benar melelahkan, apalagi sampai disuruh tambah 1 jam.
Pagi hari, aku berasa di sekolah, tengah sharing soal pengalamanku kemarin yang membuat mereka tertawa melihat penderitaanku.
Mereka terkekeh mendengar pengalaman kultivasiku yang melelahkan. "Woah, kultivasi kayaknya seru juga ya, Put! Gue jadi penasaran pengen coba," celetuk David sambil tertawa membayangkan bagaimana dia dipaksa berlatih sampai pingsan, lalu digendong bawa pulang.
"Seru apanya? Yang ada bikin bosen, tapi ungkapin dikit aja udah bikin Dewi Rubah marah, dan tatapan dia jadi horor banget " jawab ku kesal.
Teman yang lain ikut tertawa, dan aku pun tersenyum meskipun masih merasa lelah. Selama sharing itu, ada yang bertanya, "Eh, gimana rasanya kultivasi sampe pingsan? Senang nggak?"
"Ya, enggak lah! Mana ada itu hal menyenangkan?" tanyaku semakin kesal.
Teman-temanku tertawa lagi mendengar alasan dan setuju sekaligus. "Iya sih, emang bener juga. Tapi kultivasi sampe pingsan, berat banget ya, Put!" komentar Rangga sambil mengangguk-angguk.
"Aduh, sori ya, Put. Tapi seru aja denger ceritanya," kata David mencoba meredakan kekesalanmu.
"Apanya yang seru? Kalian saja yang nggak ngalamin, jadi gampang ketawa," sahutku sambil memiringkan kepala.
"Tuh, tubuh elu bau Rubah, tuh! Gak mandi ya?" tanya Rangga meledek.
"Sialan! Gue kesiangan, lalu terpaksa ganti baju cepat ga mandi! Padahal baunya ga menyengat amat, hidung elu terbuat dari apa, sih?" tanyaku semakin kesal bercampur malu.
"Tumben peduli sekolah, biasanya terlambat mulu sabtu aja elu," cibir David yang membuatku semakin kesal.
"Karena ibu gue bakal pulang ntar siang. Jadi harus nyamar jadi kucing menggemaskan dulu," jawabku. "Lagian kalian semua juga malah datang kepagian, pasti ortu kalian bakal pulang juga, kan?"
Teman-temanmu tertawa mendengar alasanmu yang unik. "Ya ampun, kau ini kucing apa Rubah, Put?" celetuk Rangga dengan wajah tak percaya.
"Apa hubungannya jadi kucing dengan ibumu pulang?" tanya David sambil mengangkat alis.
"Yaudahlah, gue kan pake bahasa becanda. Gak usah diambil serius," ujarku sambil tersenyum.
Mendadak aku menatap Seno yang sedari tadi menatap ke arah lain, membuatku mengerutkan kening, lalu ide jahil mulai timbul di pikiranku. Segera aku kejutkan dia.
"Liat apaan sih?" tanyaku.
"Coba deh liat anak baru itu," ucap Seno sembari menunjuk murid baru. "Cantik banget"
Aku segera menatap ke arah mana Seno lihat dan menemukan dua gadis cantik yang terlihat asing. Kedua Murid baru tersebut memang terlihat cantik dengan senyuman ramah di wajahnya, bahkan mereka ibarat buah pinang dibelah dua, mungkin itu karena dia kembar sehingga wajahnya mirip. Teman-temanku yang melihatnya juga ikut memperhatikan mereka.
"Yah, memang cantik" ucapku setelah sejenak mengamati murid baru itu. Hanya saja, aku merasa ada yang aneh. Mereka berdua memiliki Aura yang anehnya dapat aku deteksi. Ini seperti.... mereka belajar kultivasi juga, tetapi mungkin saja ini hanyalah dugaan sementara. Namun bagaimana bisa? Apa mungkin Dewi Rubah telah melakukan sesuatu padaku sehingga dapat mendeteksi aura?
Temanku mendadak menatapku dengan perasaan bingung, karena biasanya aku paling tertarik pada wanita cantik pada ini, tetapi aku bukan lelaki mesum, okay! Aku hanya tertarik saja. Namun kini aku merespon biasa saja.
"Ga seperti biasanya elu merespon seperti itu, bro," ucap Seno.
Aku tersenyum misterius pada Seno. "Mungkin aku sudah lelah setelah semalam kultivasi. Lagipula, ada hal yang lebih penting daripada sekadar penampilan fisik, bukan?"
Teman-temanku hanya mengangguk mengerti, seolah menerima penjelasanku. Aku masih memikirkan aura aneh yang kudeteksi dari murid baru itu, tetapi entahlah, mungkin hanya imajinasi atau efek dari kultivasi semalam.
"Sudahlah, biarkan saja. Yang penting sekarang, kita fokus ke pelajaran dan tetap menjaga keseimbangan hidup," tambahku sambil mencoba mengalihkan perhatian dari aura misterius yang masih menggelitik pikiranku.
"Gak-gak! Kita harus bangkit dan kenalan ama mereka. Siapa tau akrab. Ya, ga?" tanya Seno yang memang kalo soal cewek, dia nomor satu. "Put, ortu kita masih belum dateng. Nanti aja jadi alim-nya, sekarang jadi singa dulu," ucap mereka yang membuatku memutar bila mataku malas.
Entah mengapa aku kurang tertarik kali ini, mungkinkah karena aku terlalu mudah terpana oleh dewi Rubah, atau..... mungkin saja ini hasil dari pelatihan kemarin, yang membuat keinginanku terhadap kesenangan duniawi menjadi berkurang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments