Malam hatinya, aku tengah terbaring di tempat tidur, tidak henti-hentinya memikirkan hal itu. Bagaimana cara aku meminta bantuan Dewi Rubah? Apa yang seharusnya aku lakukan?
Aku mencoba berkonsentrasi dan memanggil Dewi Rubah dengan hati dan pikiranku. Namun, tidak ada tanda-tanda atau pertanda apa pun. Aku merasa sedikit frustrasi karena tidak tahu apa langkah selanjutnya.
Tiba-tiba, suasana di kamar berubah. Cahaya keemasan memenuhi ruangan, dan aroma harum bunga mawar tercium di udara. Aku segera merasa kehadiran yang kuat di sekitarku.
Gadis Rubah Putih berekor sembilan itu muncul di hadapanku dengan paras wajah yang begitu memikat, dengan warna putih mendominasi. "Ah. Kau memanggilku," ucapnya dengan suara yang lembut.
Aku terkejut bukan main saat melihat fenomena ini, melihat gadis yang aku sangka siluman ini ternyata adalah Dewi Rubah, kini muncul di kamarku ini. "Kau?"
Dewi Rubah tersenyum, "bagaimana, kini kau sudah mengerti semuanya, bukan?" tanya dia sambil tersenyum, seolah dia tahu segalanya.
"Dewi, sejak kapan kau telah mengujiku?" tanyaku kebingungan.
"Ujian yang telah kau lalui, ya? Bukankan Ki Ageng Dharma Pasek sudah memberitahu semuanya. Kau telah menjalani ujian keberanian dan kebijaksanaan dariku, dan kau lolos. Kau ingat Rubah berekor sembilan yang terperangkap? Kau telah membebaskan. Kau ingat aura horor yang membuatmu merinding itu? Kau terus memutuskan maju. Kau bahkan ingat aku yang tiba-tiba mengenakan pakaian mengundang hawa nafsu? Kau bahkan lebih tertarik pada tujuan yang kau capai. Itulah caraku menguji keberanian, kelembutan, sekaligus keteguhanmu, dan kau lolos semuanya."
"Namun, sekarang tujuanmu lebih berat. Kau akan menyelamatkan temanmu dari cengkeraman siluman Kelelawar dan Laba-laba. Tentu aku akan membantumu, sebab mereka telah bersekongkol untuk menyebabkan kekacauan di dunia manusia."
Aku mengangguk, "itu benar, dewi. Kami memang membutuh bantuanmu."
Dewi Rubah menjawab, "yah, itu juga tidaklah gratis. Aku akan memberimu kekuatan dan perlindungan untukmu, dan ingatlah, kekuatan sejati ada di dalam hati kalian. Namun, ada harga yang harus kau bayar, tahu! Kau harus mengikuti petunjuk dan perintahku tanpa melawan, sebab aku membutuhkan bantuannya sebagai hubungan saling membantu. Mulai hari ini, aku adalah Gurumu, kau bersedia?",
Aku mengangguk tegas, "Ya, Dewi Rubah. Aku bersedia mengikuti petunjuk dan perintahmu sebagai guru, dan aku berjanji akan menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya."
Dewi Rubah tersenyum puas, "Baiklah. Untuk hari ini, aku akan membawamu ke hutan larangan lagi untuk membuka titik Meridian kamu. Pelatihan ini memang berat dan menyakiti, namun percayalah, di masa depan kau akan menjadi hebat."
Malam itu, Dewi Rubah membimbingku kembali ke hutan larangan. Suasana begitu tenang, namun terasa juga energi yang begitu kuat memenuhi udara. Kami berhenti di suatu tempat yang dikelilingi oleh pepohonan tua dan hawa mistis.
Sang Dewi mendadak menggambar semacam lingkaran di tanah, yang membuatku tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan. "Sekarang, duduklah bersila di tengah-tengah ini," perintah Dewi Rubah sambil menunjuk ke lingkaran di tanah itu
Aku duduk dengan penuh konsentrasi, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mendadak Dewi Rubah berseru, "caramu bersila itu salah!"
Dia mendadak duduk bersila, seolah menunjukkan caranya dengan benar. "Seperti ini cara bersila. Cepatlah lakukan," ucapnya.
Aku menurut, lalu melakukan duduk bersila dengan cara demikian, namun rasa tidak nyaman mulai menyerang. "Jangan bergerak. Rasa tidak nyaman itu memang hal yang wajar," ucapnya yang menegurku.
Diam-diam aku menggerutu kesal, karena merasa ini seperti pelatihan paksa, namun sepertinya sang dewi mendengar ucapanku, lantas mengambil ranting dan memukul ku dengan itu. "Beraninya kau menggerutu!" bentaknya yang membuat nyaliku ciut.
Dewi Rubah mulai menyanyikan mantra-mantra kuno, dan seiring itu, aku merasakan adanya energi yang mengalir melalui tubuhku. Rasanya tidak nyaman, namun aku mencoba untuk tetap fokus.
"Kau sedang melewati proses pembukaan titik Meridian. Ini akan meningkatkan energimu dan menghubungkanmu lebih erat dengan dunia mistis," jelas Dewi Rubah.
Namun beberapa lama kemudian, dahi Dewi Rubah mengkerut. Mendadak dia menghentikan nyanyian kuno dan melangkah ke arahku dan memberikan Totokan pada tubuh, "Tubuhmu payah, setelah aku bacakan matra, bukannya titik meridianmu membuka, ini malah menutup. "
Proses itu terasa seperti sebuah perjalanan melalui dimensi lain. Ada kilatan cahaya dan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saat itu, aku merasa lebih dekat dengan kekuatan alam dan dunia siluman.
Setelah proses tersebut selesai, aku merasa berbeda. Ada kekuatan baru yang terasa dalam diriku. Dewi Rubah tersenyum melihatku, "Kau telah berhasil melewati ujian ini. Kau sekarang sudah punya fondasi dan selanjutnya, kau sudah bisa menyerap energi spiritual. Proses yang lama, namun dengan ketekunan, aku yakin kau pasti bisa melakukannya."
Dewi Rubah kemudian memberikan beberapa petunjuk tentang cara menyerap energi spiritual dan menjelaskan bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan antara kekuatan alam dan hati yang tulus.
"Sekarang, kau sudah memiliki dasar yang kuat. Tapi, perlu diingat, dengan kekuatan ini, juga datang tanggung jawab besar. Gunakanlah kekuatanmu dengan bijaksana dan jangan pernah melupakan nilai-nilai kebaikan dan keadilan," kata Dewi Rubah sambil menatapku dengan serius.
Aku meresapi setiap kata yang diucapkannya. Kini, dengan kekuatan baru ini, aku harus bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar untuk menyelamatkan Rangga dan menghadapi siluman Kelelawar serta Laba-laba.
"Terima kasih, Dewi Rubah. Aku akan berusaha semaksimal mungkin dan tidak akan mengecewakan kepercayaanmu," ucapku dengan penuh tekad.
Dewi Rubah tersenyum puas, "Berjuanglah dengan hati yang tulus. Dan sekarang, kamu memiliki kemampuan untuk memanggilku ketika membutuhkan bantuanku. Ingat, kita sekarang terhubung dengan ikatan yang kuat. Sekarang, aku antar kau pulang."
Dewi Rubah mendadak meraih tubuhku dan membopong nya seperti membawa karung. "Aku peringatkan satu hal padamu, bahwa kau menjadi salah satu orang yang beruntung. Namun, aku harap kau menguatkan hatimu dan jangan sampai terlena oleh rasa kagum dan kelana oleh keluarbiasaan yang aku miliki. Aku harap kau benar-benar mampu mengendalikan diri," ucapnya sambil melesat pergi membawaku pulang.
Malam itu, Dewi Rubah membawaku pulang dengan cahaya keemasan yang memenuhi sekitar kami. Saat sampai di rumah, Dewi Rubah melepas pegangannya dan tersenyum, "Ingatlah, kekuatan sejati ada di dalam hatimu. Jadilah pribadi yang bijak dan teguh, anak muda."
Dewi Rubah kemudian menghilang begitu saja, meninggalkanku dalam keheningan. Aku merasa beruntung, namun juga merasa bertanggung jawab atas kekuatan yang telah diberikan. Kini, tugas besar menanti di hadapanku.
\*
Keesokan harinya, kami memutuskan untuk mencari Rangga di sekitar Kuburan Cina. Ini adalah hari minggu, membuat kami merasa leluasa untuk melakukan ini. Setelah perjalanan yang cukup lama, kami tiba hutan yang dimaksud. Aroma mistis dan aura yang menakutkan segera terasa begitu masuk ke dalamnya.
"Kita harus hati-hati dan tetap bersama. Jangan terpisah-pisah," peringatku kepada teman-temanku.
Kami memasuki hutan, mengikuti petunjuk dari Ki Ageng Dharma Pasek. Jejak-jejak aneh dan simbol-simbol muncul di depan kami, menunjukkan bahwa kami berada di jalur yang benar.
Saat kami menjelajahi hutan, tiba-tiba terdengar suara-suara aneh di sekitar kami. Bayangan-bayangan gelap melintas di antara pepohonan, menciptakan ketegangan di udara.
"Ada yang ga beres di sini," ucap Seno dengan suara waspada.
"Abaikan itu," ucapku kepada mereka. "Ki Ageng bilang, mereka sedang bersembunyi karena takut matahari. Jangan terlalu risau!" ucapku. Namun, sesuatu terjadi begitu cepat membuat kami merasa sangat terkejut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments