"Ah, ibu akan pulang besok?"
Suara ibu terdengar di Ponselku ini, yang dimana ibuku menelfonku bahwa mereka akan pulang lebih cepat. Itu membuatku sangat senang bukan main, susah lama ibunya tidak pulang.
Perlu diketahui bahwa malam ini adalah malam yang sangat damai setelah tidak lagi merasa dipusingkan karena kehilangan sosok teman. Seharusnya, malam ini sang dewi Rubah datang menjemputnya untuk pergi ke hutan larangan untuk menerima pengajaran. Namun ini baru pukul delapan dan Aku juga masih berkutat pada ponselku, tetap terhubung dengan ibuku yang ada di seberang.
"Ayahmu ini agak sibuk sekarang, jadi hanya ibu yang pulang. Tetapi maaf, ibu hanya bisa menemaniku sehari saja, maklum pekerjaan ayahmu ini benar-benar merepotkan," gerutu sang ibu yang membuatku terkekeh.
Ingatlah satu hal, jika ibuku tidak ada, berulah seperti Harimau ganas adalah Prioritas. Namun, jika ibuku ada, bertingkah seperti Kucing menggemaskan adalah Keharusan.
"Jangan khawatir, aku mengerti, kok," jawabku, meskipun sebenarnya aku merasa kurang.
Panggilan ditutup. Aku mulai menghela nafas pelan sejenak, merasakan bahagia karena sang ibu akhirnya pulang, walaupun sehari saja. Bagaimanapun, Kasih sayang adalah sesuatu yang luar biasa dan menurutku, itu lebih aku butuhkan daripada sekedar uang.
Beruntunglah masalah Rangga telah diselesaikan kemarin, jika tidak.... entah apa yang akan terjadi. Aku segera mengetik di grup WA dan memberi tahu semua rekanku rentang hal ini.
Namun, mendadak aku merasakan tangan halus melingkar di pinggangku dan aku lihat Ekor Rubah yang panjang mengelus pipiku, yang membuatku terkejut. Sang Dewi Rubah ternyata telah datang dan kini malah berulah.
"Dewi?" tanyaku terkejut. Sejak kapan dia berada dibelakangku?
"Sudah selesai menelfon, huh? Kau tahu ini pukul berapa?" tanya dia yang membuatku meneguk saliva.
"Pukul delapan," jawabku sambil terkekeh sedikit.
"Kalau sudah tahu, baguslah. Kau telah membuatku menunggui di sini hampir selama satu jam. Bisa-bisanya kau menelfon sampai hampir lupa waktu, " ucapnya kesal.
Memang, seharusnya pengajaran dimulai pukul tujuh. Hanya karena keasyikan menelfon, ini jadi molor satu jam. Sepertinya Dewi Rubah tidak akan memberikannya pengampunan.
"Maaf, Dewi. Aku tidak bermaksud membuatmu menunggu. Aku hanya senang karena ibuku akan pulang besok," jelasku mencoba meminta pengertian.
Dewi Rubah melihatku dengan tatapan tajam, namun kemudian ia tersenyum lembut. "Kehadiran ibumu memang penting, Putra. Aku mengerti. Tapi, kita tak boleh terlalu lama mengabaikan waktu untuk pelajaran kita."
Aku mengangguk setuju, merasa bersalah karena membuat Dewi Rubah menunggu. "Baiklah, kita mulai saja sekarang. Aku siap menerima pengajaranmu," ujarku dengan tekad.
Dewi Rubah mengangguk puas. "Baiklah, Putra. Pertama, kita akan membahas tentang menetap energi di sekitarmu. Kini penting untuk pembentukan kekuatannya ke depannya. Katakanlah, ini bernama Kultivasi."
"Kultivasi," ulangku seraya memperhatikan setiap kata yang diucapkan Dewi Rubah.
Dewi Rubah menjelaskan dengan penuh kesabaran, "Kultivasi adalah proses mengumpulkan dan mengarahkan energi batin serta elemen alam untuk memperkuat dirimu sendiri. Ini melibatkan konsentrasi, disiplin, dan pemahaman mendalam terhadap energi di sekitarmu."
Aku mencoba memahami konsep tersebut dan bertanya, "Bagaimana cara memulai kultivasi, Dewi?"
Dewi Rubah tersenyum, "Langkah pertama adalah menyadari keberadaan energi di sekitarmu. Rasakan aliran energi yang lewat melalui tubuhmu dan di sekitarmu. Biarkan dirimu terbuka terhadap keberadaan energi ini."
Aku mencoba mengikuti panduan Dewi Rubah, fokus merasakan aliran energi di sekitarku. Setelah beberapa saat, aku mulai merasakan keberadaan energi yang sebelumnya tak terpikirkan.
"Bagus, Putra. Kini, saat kau merasakan energi itu, cobalah untuk mengarahkannya ke dalam dirimu. Bayangkan seperti kau menarik energi dari udara dan menyerapnya ke dalam tubuhmu," lanjut Dewi Rubah.
Dengan penuh konsentrasi, aku mencoba mengikuti petunjuknya. Sungguh terasa aneh pada awalnya, tetapi lama kelamaan, aku merasakan semacam kehangatan dan kekuatan mengalir ke dalam diriku.
Dewi Rubah memberikan arahan lebih lanjut, "Saat energi batinmu terkumpul, biarkan dia berkumpul di pusat kekuatan di dalam dirimu. Ini akan menjadi sumber kekuatanmu dalam menghadapi tantangan."
Aku merasa semakin terhubung dengan energi di sekitarku dan merasakan kekuatan batin yang tumbuh. Dewi Rubah mengamati perjalanan ini dengan senyum puas.
"Sekarang, Putra, kultivasi tidak hanya tentang memperkuat diri, tetapi juga menjaga keseimbangan. Jangan pernah menggunakan kekuatanmu dengan sembrono. Kekuatan yang sesungguhnya datang dari pemahaman dan keseimbangan."
Aku mencerna setiap kata Dewi Rubah dengan serius. Proses kultivasi ini terasa seperti membuka pintu baru pada pemahaman dan potensi yang selama ini tersembunyi.
Dewi Rubah menyimpulkan, "Selanjutnya, kita akan melibatkan elemen alam dalam kultivasi. Mereka akan menjadi mitra setiamu dalam mengasah kekuatan batin. Bersiaplah untuk memahami dan merasakan kedekatan dengan elemen-elemen alam, Putra."
Aku mengangguk penuh semangat, siap untuk melanjutkan perjalanan kultivasi ini bersama Dewi Rubah. Dengan bimbingannya, aku yakin akan dapat mengembangkan kekuatan batin yang lebih besar.
"Dewi, berapa lama aku harus melakukan Kultivasi di setiap harinya? Aku sudah merasa bosan," tanyaku yang membuat Mata Dewi Rubah langsung menyala, membuat kesan horor yang menakutiku.
"Bosan?" tanya Dewi Rubah yang membuatku semakin takut. "Bosan adalah ujian untuk kesabaranmu, Putra. Sejatinya, kultivasi memerlukan ketekunan dan kesabaran yang tinggi. Jangan pernah menganggap remeh proses ini, karena setiap momen kultivasi membawa pertumbuhan yang berarti bagi dirimu."
Aku menundukkan kepalaku, yang membuat Dewi Rubah memutar bola matanya malas. "Jika kau tidak bisa bersabar, jangan berfikir bahwa Kau akan mendapatkan keberhasilan. Lagipula, jangan memasang tampang bersalahmu padaku, karena itu tidak ada gunanya," ucapnya.
"Dewi, maafkan aku. Aku akan berusaha lebih baik. Aku memahami pentingnya kesabaran dalam kultivasi," ucapku dengan rendah hati.
Dewi Rubah melihatku sejenak sebelum akhirnya tersenyum. "Baiklah, Putra. Ingatlah, setiap langkah kecil dalam kultivasi membawa dampak besar. Sekarang, fokuslah pada perjalanan ini dengan tekad yang kuat. Sekarang, Teruslah berlatih hingga tewas sebagai hukumanmu."
Aku terbelalak kaget mendengar ini. "Sampai tewas?" tanyaku tergidik.
"Dewi Rubah mengangguk serius. "Ya, sampai tewas. Tewas dalam arti merelakan ego dan keinginan duniawi. Kultivasi bukan hanya tentang memperoleh kekuatan fisik, tetapi juga tentang pembersihan batin dari beban-beban yang membatasi potensi sejati kita."
"Harus?" tanyaku merasa tidak rela melakukan hal itu. Namun, sang dewi kembali menatapku dengan tatapan Horor, membuatku kembali tergidik. Dia tampak marah!
"Dewi, maafkan aku jika ada kesalahan yang aku katakan. Aku akan sungguh-sungguh fokus dan bersabar dalam proses kultivasi ini," ucapku dengan tekad.
Dewi Rubah menghela nafas, dan ekspresinya yang awalnya marah mulai memudar. "Baiklah, Putra. Kultivasi memang tidak mudah, tapi kau memiliki potensi besar. Jika kau benar-benar bersungguh-sungguh, hasilnya akan luar biasa."
Diam-diam aku menghela nafas lega. Tidak disangka bahwa tatapan Sang Dewi sangat tajam dan horor sampai aku tidak berani menatapnya. "Tunggu apa lagi? Ayo bersila!" ucap Sang Dewi yang mendadak tidak sabaran.
Malam ini adalah malam penyiksaan menurutku, dimana aku dipaksa berlatih sampai tewas dalam artian mematikan ego dan keinginan duniawi. Itu benar-benar sulit!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments