Aku kembali melangkah meninggalkan gua Dewi Rubah, menyusuri jalan yang sama dengan perasaan yang lebih lega karena Dewi Rubah bersedia membantuku. Saat itu, teman-temannya yang khawatir sudah terlihat mulai hendak memasuki Hutan ini, membuatku berseru. "Hey, gue balik!"
Semua temanku tercengang saat melihatku, seolah mereka seperti melihat sesuatu. "Ada apa?" tanyaku kebingungan, lalu celingak-celinguk ke kiri maupun ke kanan.
"Enggak-enggak! Engga ada apa-apa," ucap Wijaya sambil menggelengkan kepalanya. "Btw, elu ngapain matiin hpnya, Tolol!"
"Hp gw mendadak matot, ngegas amat lu jadi orang," ucapku kesal.
Segera aku keluarkan Ponselku dan aku coba hidupkan kembali, akhirnya, Ponselku akhirnya menyala lagi, namun sesuatu yang aneh terjadi saat aku mencoba mengaktifkan kembali GPS di ponselku. Layar ponsel terlihat berkedip-kedip dan mencoba untuk mendapatkan sinyal.
"Ada masalah dengan ponsel elu?" tanya David sambil menatap Ponselku.
"Iya, sepertinya ada masalah teknis. GPS-nya nggak bisa diaktifkan," jawabku kesal
"Dasar, ponsel tiba-tiba rusak. Itu baru beli kemarin, loh. Sudah aku bilang, belilah merk Redmi atau XiaoMi, eh elu malah beli Poco," cibir Dian yang membuatku segera menjitak kepalanya.
"Terserah gw lah, kocak!"gerutuku kesal.
"Coba restart dulu, mungkin bisa bantu," usul Wijaya.
Aku mencoba mematikan dan menyalakan kembali ponselku, tetapi tetap saja tidak ada perubahan. Perangkat ini benar-benar mengecewakan sekali. Untung saja misi sudah selesai.
"Dipalu aja HP nya bro, lalu beli yang baru. Ngapain sih, elu beli poco?" gerutu Wijaya kesal kepadaku karena bukannya balik dari sini, malah sibuk mengurus ponsel. "Nanti aja urusannya itu. Sekarang kita harus kembali ke Desa Sarantika dan beristirahat. Besok kita lanjutkan misinya."
Aku setuju dengan saran Wijaya. Memperbaiki ponsel di sini bukanlah ide yang baik, dan istirahat juga sangat diperlukan mengingat besok kami akan menyusuri hutan dan berhadapan dengan siluman Kelelawar dan Laba-laba.
Kami berjalan kembali menuju Desa Sarantika dengan langkah hati-hati, tetap waspada terhadap sekeliling. Tidak ada lagi kejadian aneh seperti sebelumnya, dan suasana desa nampaknya kembali normal. Kami memilih penginapan yang sama untuk menginap.
Pemilik penginapan mendadak menatapku senam begitu aneh. Dia menatapku naik turun sebelum kembali menyapa kami begitu ramah. Karena ini sudah terlalu malam, aku tidak bisa banyak bertanya soal itu.
"Besok pagi kita bersiap-siap, ya. Target kita adalah hutan di sebelah barat Kuburan Cina. Besok kita gas balapan ke kota dulu," ucapku memimpin rapat singkat sebelum kami bubar ke kamar masing-masing.
Aku terus merenung di kamarku. Terlepas dari segala kejadian yang aneh, aku merasa yakin bahwa Dewi Rubah dan Keris Pangeraksa Jiwa akan membantu kami menghadapi siluman Kelelawar dan Laba-laba.
*******************************************
Pagi hari, kami sudah bersiap untuk kembali ke kota, lebih tepatnya menuju ke Kuburan Cina yang letaknya tidak jauh dari sekolah kami. Namun, sebagai anak motor yang menganggap jalanan cuma milik kami, seperti biasanya kita mulai berulah lagi. Di jalanan ini seolah menjadi tempat yang bagus untuk ugal-ugalan lagi seperti dulu dan tololnya ini dilakukan di pagi hari, seolah ga takut dikejar polisi
"Udah lama ga balapan lagi, kita." ucapku sembari memacu gas, menyalip temanku. "Cemen lu bro!" ucapku kepadanya sambil memberikan jempol kebalik.
"Wah, nantangin elu!" teriak temanku yang kemudian balik menyalip. Jalanan desa yang biasanya sepi jadi terdengar sangat bising karena ulah kami. Biasa lah, jiwa anak muda si paling geng Motor.
"Gas poll, guys! Kita rebut juara!" seru David, memacu motornya dengan semangat. Aroma bensin bercampur dengan semilir angin pagi, menciptakan suasana yang begitu khas.
"Bro, waspada ama Polisi ntar," ucap Wijaya yang membuat kami semua tertawa.
Dua jam telah berlalu. Akhirnya kami tiba di rumahku di kota seperti biasa. Masalahnya, perut kami sudah keroncongon, untung saja sempat mampir warung sebelah buat beli nasi bungkus.
Disinilah kami akan rapat lagi, membicarakan soal Rencana yang akan dijalankan. Semua orang kini tengah makan bersama sambil membicarakan sesuatu yang menjadi pokok dari rencana kami
Sambil menikmati nasi bungkus, kami duduk bersama dan memulai rapat kecil. "Jadi, kita harus fokus pada rencana kita untuk menyelamatkan Rangga dan menghadapi siluman Kelelawar dan Laba-laba di hutan barat Kuburan Cina. Dewi Rubah bilang bahwa itu adalah lokasi persembunyian mereka. Ntar siang kalo matahari udah begitu tinggi, kita gas ke Hutan larangan. Saat itu adalah titik rentan mereka," ucapku serius.
"Lalu rencana Sang Dewi Rubah gimana?" tanya Dian merasa penasaran.
"Rencananya begini..." Aku mulai menceritakan rencana Sang Dewi Rubah yang ternyata, mereka semua malah tidak mengerti.
"Maksudnya gimana, bro? Lu masuk ke tengah hutan lalu gimana-gimana?" tanya Seno ngawur.
"Ngerti gak sih kalian?" tanyaku terheran.
"Kaga," jawab mereka kompak, membuatku ingin sekali menjitak kepala mereka semua. "Masa cuma gue doang yang ngerti?" tanyaku kesal
Walaupun teman-temanmu tampak bingung dengan rencana Dewi Rubah, aku tetap menjelaskan dengan sabar dan rinci. Setelah mendiskusikan lebih lanjut, akhirnya mereka mulai memahami rencana yang akan dijalankan.
"Intinya, kita perlu fokus dan tetap waspada. Dewi Rubah akan membantu kita menghadapi siluman Kelelawar dan Laba-laba, dan kita harus bersiap mengikuti petunjuknya," tambahku
"Aku paham. Tugas kita sebagai pancingan doang, sisanya biar dewi Rubah yang urus, gitu kan?" tanya Dian. "Sudahlah bro, akui aja gue paling cerdas."
"Iya-iya. Syukurlah elu ngerti," jawabku dengan nada malas.
"Lalu, gimana perasaan elu pas ketemu dia?" tanya David yang membuatku kembali teringat kemarin malam.
Perasaanku masih campur aduk. Mengingat Dewi Rubah kemarin malam, terutama saat dia memelukku, membuatku merasa antara malu dan terkesan. Aku mencoba menyembunyikan rasa gugup itu dari teman-temanku.
"Hmm, biasa aja sih. Kan cuma Dewi, bukan apa-apa," ucapku mencoba meremehkan.
"Yakin tuh? Aku lihat elu kayaknya agak gugup gitu," goda David.
"Aduh, bercanda aja lu pada. Kita fokus ke misi aja, gak usah ngomongin Dewi Rubah terus," seruku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Bro, coba lihat bentuk Keris Pangeraksa Jiwa-nya. Penasaran gue," ucap David.
Aku mulai merasa ragu untuk mencabut Keris itu, mengingat Dewi Rubah telah memperingatkanku agar tidak menggunakannya saat ini karena aku masih lemah, membuatku merasa ragu untuk mencabutnya.
Aku dengar bahwa Keris Pangeraksa Jiwa itu sangat berbahaya jika dipegang oleh anak biasa. Minimal, kekuatan Jiwa mereka harus kuat hanya sekedar untuk mencabut Senjata itu dari sarungnya dan lebih parah lagi, kekuatan Keris Pangeraksa Jiwa sangatlah berbahaya.
Aku memberikan pandangan ragu pada teman-temanku. "Mungkin lebih baik tidak mencoba mencabutnya sekarang. Dewi Rubah sudah memperingatkan bahwa aku belum cukup kuat untuk mengendalikan kekuatannya," kataku berhati-hati.
"Emang berbahaya ya?" tanya Wijaya dengan wajah serius.
Aku mengangguk, "Iya, menurut Dewi Rubah, Keris Pangeraksa Jiwa ini memiliki kekuatan magis yang sangat besar. Kalau tidak dipegang oleh orang yang tepat, bisa menimbulkan masalah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments