Pulang ke rumah dengan perasaan lelah dan bingung, aku mencoba merenung tentang pengalaman aneh tadi. Gadis rubah siluman itu seolah memiliki kendali atas takdirku, dan pijatan anehnya meninggalkan tubuhku dalam keadaan lemas.
Esok harinya, ketika berbicara dengan teman-temanku di perpustakaan kelas seperti biasa, aku menyampaikan kejadian tersebut. "Kemarin malam, gue dibawa gadis rubah siluman ke hutan larangan, dan dia melakukan sesuatu pada kaki gue, rasanya sakit banget sumpah!," ucapku, mencoba memberi gambaran.
Teman-teman terlihat bingung, dan David berkomentar, "Seriusan, bro? Elu yakin dia bukan cuma bercanda atau mungkin menakut-nakuti kita?"
Aku menanggapi, "Gue tidak yakin, sih. Rasa sakit yang kurasakan selama ini sekarang terasa mendingan, tapi pijatannya benar-benar mematikan, hampir nangis gue bjirr!."
Seno menambahkan, "Tapi dia bawa elo keluar dengan paksa setelah kejadian aneh. Apa dia punya tujuan tertentu?"
Aku terdiam sejenak, lalu aku putuskan untuk menyembunyikannya sebagian. "Kagak tau. Intinya ucapan David emang bener, dia incar gue!"
Rio, yang terlihat agak skeptis, bertanya, "Lalu, sekarang gimana? Elu percaya dia siluman baik?"
Sebelum aku bisa menjawab, Dian mencela, "semuanya aneh! David yang berhasil disekap seharian ga ditargetkan, tetapi elu yang mengabaikan dia malah diincer. Ko bisa gitu cok?"
David memotong, "semuanya emang aneh, sih bro. Ingat gak, pas kemarin malam lampu tiba-tiba mati? Setelah itu bagaimana bisa kita langsung terserang kantuk berat yang bikin kita tidur?"
Mendadak pintu perpus terbuka, terlihat Wijaya baru datang segera memberikan kabar buruk. "Gawat cok! Itu si anggota geng kita si Rangga ilang di Kuburan Cina!"
"Eh, buset? Seriusan elu?" tanyaku tidak percaya.
"Eh, iya! Kemarin malem si Rangga ga ikutan ke Rumah main PS ama elu Wijaya, jangan-jangan elu balapan ama mereka ya? Kan sudah kuta bilang, kita bukan geng balapan lagi?" tanyaku kesal.
"Sorry bro. Tapi masa iya kita diem aja saat mereka ngecek kita gitu aja? Cuman.... gue ga tau apa yang terjadi, tiba-tiba aja mereka ilang seketika pas lewat Kuburan Cina. Si Rangga salah satunya," jawab Wijaya sambil menundukkan kepala.
"Udah kita bilangin, jangan balapan malam-malam lagi! ngeyel banget elu! Sekarang, siapa yang susah?" tegur Dian.
"Duh, stres gue dah kalo gini terus ceritanya!" ucap Seno. "Sebelumnnya David sekarang Rangga. Putra, apa yang harus kita lakuin sekarang?"
"Ya.. lakuin apa lagi kalo engga pencarian? Dia temen kita juga, selain itu kasian orang tuanya. Udah, gini aja. Aksi kita cukup pas siangnya aja cari mereka. Sebelum malem tiba, mending cabut!" ucapku memutuskan.
"Jangan berpencar lagi kita. Takutnya teman kita ada yang ilang lagi," ucap Seno memberikan usulan.
"Pokoknya, kita fokus cari Rangga dulu. Nanti setelah ketemu baru kita pikirin yang lain," tambahku. "Yok, kita bolos!"
Teman-teman setuju dengan rencana itu, dan kami segera bersiap untuk memulai pencarian. Meskipun situasinya semakin kompleks dan misterius, kehilangan anggota geng membuat kami lebih menyadari urgensi keamanan.
Kami meninggalkan perpustakaan dan memulai langkah pencarian di sekitar kawasan Kuburan Cina. Perlu diketahui, sekolah ini memang dekat dengan Kuburan Cina sehingga kami tidak perlu pake motor ke lokasi itu. Langkah-langkah hati-hati kami menuju tempat tersebut, diiringi kekhawatiran dan kebingungan tentang kejadian-kejadian yang terus menghantui geng kami.
"Bro, ini bukannya Celana dalemnya si Rangga?" tanya Dian sembari menunjuk benda itu.
"Jangan sentuh, bro!" tegurku memperingatkan semua orang. "Gue ada rencana buat lapor ke polisi soalnya. Pamannya david kan Bhabinsa? Kalo elu sentuh itu, malah elu yang jadi tersangka."
"Elu libatkan polisi?" tanya Dian terkejut.
"Ya, mau gimana lagi? Jangan sok berani ambil keputusan sendiri deh, ingat kejadian di hutan terlarang," jawabku.
Dian kembali bertanya, "Bro, gue ragu. Ini beneran celana dalamnya Rangga, kan?"
"Kayaknya sih iya. Gak mungkin ada yang punya model kayak gini selain dia," jawab David dengan wajah serius.
Aku menyentuh Ponselku dan mencoba menelepon pamannya David yang merupakan Bhabinsa. "Paman, ini Putra. Ada situasi gawat. Salah satu teman geng hilang di sekitar Kuburan Cina. Kami menemukan barang pribadinya. Tolong bisa dikonfirmasi dan dibantu, paman."
Pamannya David menjawab serius, "Oke, Putra. Saya akan segera mencari informasi dan melibatkan polisi. Tetap waspada di sana dan jangan mencari-cari masalah."
"Sip, paman. Terima kasih," jawabku sambil menutup panggilan.
Teman-temanku terlihat gelisah, dan Rio berkomentar, "Gawat banget ini, bro. Harusnya kita gak boleh main-main di dekat Kuburan Cina lagi."
Seno menambahkan, "Kita harus tetap fokus mencari Rangga. Kalau dia benar di sini, mungkin masih ada harapan menemukannya."
Kami melanjutkan pencarian dengan harapan menemukan petunjuk atau tanda-tanda keberadaan Rangga. Setiap langkah hati-hati membawa kami lebih dalam ke kompleks kuburan yang terasa semakin menyeramkan.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki di antara kuburan terdengar. Hatiku berdebar keras, dan kami semua berhenti sejenak. Ternyata, itu adalah pamannya David yang datang bersama beberapa anggota polisi.
"Saudara-saudara, saya akan membantu dalam pencarian ini. Laporkan secara detail apa yang terjadi," ucap pamannya David, yang kemudian memberikan arahan kepada polisi.
Kami memberikan keterangan dengan sejelas mungkin tentang hilangnya Rangga dan menunjukkan barang pribadinya yang kami temukan. Polisi segera memulai penyelidikan, mencari petunjuk-petunjuk tambahan di sekitar kawasan Kuburan Cina.
Pamannya David memberikan semangat, "Tetap tenang dan kooperatif. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menemukan teman kalian. Sementara itu, kalian bisa kembali ke sekolah. Jangan menyebarkan panik di antara siswa lain."
Aku mengangguk setuju yang mengundang keterkejutan pada teman-temanku. "Bro, lu serius bakalan balik sekarang?" bisik Seno merasa tidak puas.
"Kita balik aja dulu. Biarkan mereka yang urus." jawabku yang dimana bulu kundukku mulai merinding "Kalian nyadar ga sih ada hawa mencekam yang mulai terasa? Ini peringatan buat kita agar mundur."
"He, iya Bro. Merinding banget, nih! Gue duluan ya!" ucap David yang malah ngibrit duluan, disusul oleh kami semua. "Tungguin woy!"
*******************************************
Dalam keadaan tegang, kami melarikan diri dari kawasan Kuburan Cina. Suasana yang semakin terasa mencekam membuat langkah-langkah kami semakin cepat, dan ketegangan masih terasa di udara. Meskipun kami berusaha menjauh, peristiwa-peristiwa misterius dan kehilangan teman terus menghantui pikiran kami.
Kembali di Sekolah, perasaan tak menentu masih menyelimuti hati. Kehilangan Rangga dan ketidakpastian tentang keberadaannya membuat suasana semakin tegang. Meskipun pamannya David dan polisi bertanggung jawab untuk pencarian, rasa tanggung jawab terhadap teman hilang masih terasa berat bagi kami.
"Pikirannya ke mana ya, Bro?" tanya Seno sambil melihat ke arah tembok.
Aku menggeleng, "Gue juga gak tau, Seno. Semuanya ini terlalu aneh. Kita harus bersiap-siap menghadapi apa pun yang akan datang."
Dian menambahkan, "Paling tidak, kita bisa doain yang terbaik buat Rangga. Semoga dia baik-baik saja dan segera ditemukan."
"Mungkin gue yang salah kemarin. Seharusnya gue sama Rangga ga termakan omongan mereka buat balapan bareng," ucap Wijaya dengan ekspresi tertunduk.
"Wijaya, elu kan biasanya suka ngevlog, tuh? Kejadian kemarin malem itu tidak elu rekam?" tanyaku padanya. "Siapa tahu kita bisa ngeliat hal aneh apa yang terjadi sebelum kejadian."
"Oh, tentu sempat gue rekam. Kok gue ga kepikiran yak?" Wijaya segera mengeluarkan HP nya, lalu mulai membuka folder Video dan mulai memutar rekamannya kemarin.
Terlihat jelas saat itu gelap jalanan diterangi lampu motor, lalu mereka saling menyalip satu sama lain. Teriakan mengintimidasi terdengar di antara mereka, yang memang sudah biasa di dalam balapan motor. Namun, berikutnya entah muncul darimana, ada kabut tebal dan itu mulai diterobos, begitu kabut hilang, semuanya terlihat sepi. Mereka semua hilang tanpa bekas!
Namun, mendadak aku menemukan sesuatu yang janggal. "Mundur lima detik sebelum ada kabut!" ucapku memerintahkan untuk memutar ulang rekaman tersebut.
Begitu diputar ulang, aku segera memencet tombol pause dan menunjuk sesuatu yang salah. "Ini apa?" tanyaku kepada mereka semua yang juga tampak tercengang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments