Dewi Rubah bersama-sama aku menuju ruangan tempat ibuku dirawat. Tatapan Dewi Rubah penuh dengan kepekaan dan kebijaksanaan, seolah-olah dia dapat membaca energi di sekitarnya. Sesampainya di depan pintu kamar ibuku, Dewi Rubah berhenti sejenak sebelum masuk.
Dia mendekati tempat tidur ibuku dengan lembut dan meletakkan tangannya di dahi ibuku. Mata Dewi Rubah menyala dengan cahaya lembut, seolah-olah dia melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar penglihatan manusia biasa.
"Ada kekuatan gelap yang mencoba merangkul jiwa ibumu, anak muda. Namun, jangan khawatir. Aku akan mencoba membersihkan energi yang tidak seharusnya ada di sini," ucap Dewi Rubah dengan suara lembut, seakan-akan berbicara kepada jiwa ibuku. Entah darimana, Keris Pangeraksa Jiwa muncul di tangannya, padahal aku menyimpan benda itu di rumahku.
Di kamar ini, Sang Dewi terlihat tertegun. Aku tidak tahu apa yang akan beliau lakukan pada ibuku sekarang dengan Keris Pangeraksa Jiwa di tangannya itu.
"Humm, rupanya Ajian gelap Sesha Sagara, huh? Ini mudah," ucapnya sambil mencabut Keris Pangeraksa jiwa dan mengarahkan energinya ke tubuh ibuku. Seketika ada kabut asap yang muncul dari tubuh ibuku mencoba membalas, namun kami dan dia melesat pergi.
Dewi Rubah melepaskan Ajian pembalasan kepada pelaku itu, yang entah apa yang akan terjadi, aku tidak tahu. "Itu adalah jalan peringatan kepada dukun itu agar dia tidak lagi berani melukai keluargamu. Meski begitu, bisa saja dia akan semakin marah. Hanya saja, itu tiada gunanya."
Dewi Rubah kemudian meletakkan Keris Pangeraksa Jiwa dengan lembut, mengembalikannya ke dimensi yang sesungguhnya. Dia memandangku dengan tajam, sambil berucap, "aku suruh kau menempatkan Keris itu dengan aman, tetapi kenapa kau malah menempatkan nya di laci meja belajar? Sudahlah, untuk sementera, Keris ini biar aku yang pegang. Sekarang. Kita keluar dulu," ucapnya memberi isyarat untuk meninggalkan kamar ibuku.
Kami berdua keluar dari kamar, dan Dewi Rubah berkata, "Energi gelap tersebut tidak akan lagi menghantui ibumu. Namun, kau nasih perlu tetap waspada. Ada kemungkinan pelaku akan mencoba lagi, dan kita harus siap menghadapi itu."
Aku mengangguk penuh keyakinan. "Terima kasih banyak, Sang Dewi. Aku berhutang budi atas bantuanmu. Kami akan tetap waspada dan menjaga keluarga kami."
Dewi Rubah tersenyum, "baiklah, cukup temani aku menikmati malam purnama. Kemarilah! Akan aku bawa kau ke tempatku menikmati malam purnama."
Kami berdua meninggalkan rumah sakit dan berjalan di bawah rembulan bersinar terang. Dewi Rubah, dengan kecantikan dan keanggunannya, tampak seperti penari malam yang menghiasi keindahan alam.
"Dunia gaib dan dunia manusia saling terkait, dan malam adalah saat di mana batas antara keduanya menjadi tipis," ucap Dewi Rubah sambil melangkah ringan. "Saat seperti ini, kita dapat merasakan keajaiban yang tersembunyi di balik kenyataan yang tampak."
Aku memandangi sekitar, mencoba meresapi keindahan malam. Dewi Rubah kemudian mengajakku menuju hutan yang terletak di pinggiran kota.
"Hutan ini penuh dengan energi alam dan makhluk gaib. Di sini, kita bisa merasakan getaran kehidupan yang tak terlihat oleh mata manusia biasa," ujar Dewi Rubah.
Selama perjalanan, Dewi Rubah menceritakan berbagai kisah dan mitos tentang hutan yang kami lewati. Aku merasa beruntung bisa mendengarkan cerita-cerita ini langsung dari sosok mistis seperti Dewi Rubah.
Ketika kami tiba di sebuah pohon besar yang kelihatannya sangat tua, Dewi Rubah mengajakku untuk duduk di bawahnya. Di sanalah kami berdua saling berbagi pengalaman, harapan, dan beban hati yang selama ini kubawa.
"Dalam kegelapan, terkadang kita menemukan kecerahan yang tak terduga. Kejadian yang menimpa ibumu adalah ujian berat petamamu dan ujian lainnya akan menunggumu, namun kita akan melewati ini bersama-sama karena kita sudah terikat," ujar Dewi Rubah dengan bijaksana.
Aku merasa semakin tenang mendengarkan kata-kata Dewi Rubah. Kebersamaan malam ini memberikan ketenangan dan memudahkan pikiranku untuk sejenak melupakan masalah yang menimpa keluargaku.
Ketika malam semakin larut, Dewi Rubah mengajakku untuk berdiri. "Sudah saatnya kembali. Esok hari kita akan bersama-sama menghadapi kekuatan gelap tersebut. Ingatlah, kekuatan terbesar datang dari keberanian dan tekad yang kuat."
Kami kembali ke rumah sakit dengan langkah yang ringan, dan hatiku dipenuhi rasa syukur atas kehadiran Dewi Rubah. Meski tantangan masih menanti esok hari, malam ini telah memberikan kekuatan baru dalam menghadapi perjalanan yang rumit ini.
"Aku berterima kasih, Dewi Rubah. Kau memberikan cahaya di tengah kegelapan ini," ucapku penuh rasa terima kasih.
Dewi Rubah tersenyum ramah. "Kita akan menghadapi ini bersama-sama. Sekarang, istirahatlah dengan tenang. Esok hari akan menjadi awal dari hidup kita melawan kekuatan gelap."
Kami berpisah di depan rumah sakit, dan aku kembali ke kamar ibuku. Meski perjalanan ini belum selesai, namun setidaknya malam ini memberikan sedikit pelarian dan kekuatan untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keesokan harinya, aku hanya bisa tersenyum dalam diam begitu para perawat menemukan ibuku dalam keadaan baik begitu cepat, padahal sebelumnya mereka hampir kesulitan menjelaskan keadaan ibuku yang lukanya tidak biasa. Tidaklah mengherankan jika aku cukup senang saat ini
Sang dokter mendekatiku, "Ibumu pulih dengan cepat, sepertinya keajaiban terjadi. Kami tidak bisa memberikan penjelasan medis yang pasti, tapi yang terpenting, ibumu sehat dan tidak ada tanda-tanda cedera."
Aku mengangguk penuh syukur. "Terima kasih, Dokter. Ini benar-benar keajaiban. Saya bersyukur ibu bisa pulih dengan cepat."
"Biarkan dulu ibuku di sini untuk menjalani masa pemulihan. Nanti siang, kau boleh membawanya pulang, saat dia sudah sadar." ucap Sang dokter yang terlihat sangat kebingungan.
***************************************
Di sekolah ini, aku tengah tersenyum bahagia setelah apa yang telah terjadi. Takdir benar-benar membantuku untuk kesembuhan ibuku. Terlihat semua temanku membicarakan misteri aneh itu, namun aku hanya bisa tersenyum untuk merahasiakan hal itu.
"Elu ga ngerasa aneh, Bro? Kok bisa sembuh begitu cepat? Padahal kita udah siaga loh menyiapkan GPS buat elu ke hutan larangan," ucap David terheran.
"Yang penting ibu gue udah sembuh, itu udah cukup buat gue seneng. Ga usah mikirin hal aneh-aneh," jawabku santai.
Temanku lantas memasang rawut curiga kepadaku, lantas kerja saling menatapku dengan ekspresi yang sangat aneh, membuatku mengerutkan kening. "Jangan-jangan, elu...."
"Tidak kok! Ini ga ada hubungannya dengan Dewi Rubah!" ucapku panik saat mendengar ucapan mereka, namun sejenak aku mulai menyadari sesuatu.
Mereka memang tidak melanjutkan ucapannya, hanya saja aku yang terlalu mudah terpancing untuk menjawab sehingga mereka tahu penyebabnya.
"Ooh, jadi begitu?" ucap Semua rekanku kompak sambil tersenyum menggoda, membuatku merasa malu.
"Tapi kan, dia lagi menikmati keindahan alam, bukankah mustahil dia bantu gue?" ucapku mencoba berbohong , namun sayangnya rawut wajahku mengkhianatiku.
"Pantesan senyum-senyum ga jelas, rupanya diajak kencan sama Dewi Rubah," ucap David yang membuatku ingin membekap mulutnya itu.
"Percuma elu boong. Tingkah elu yang ga jelas dan mendadak gugup udah ngasih tau kita!" Semua temanku kini tertawa. Kegugupanku adalah sang penghianat hidupku di hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments