Sebuah gagang keris kini ada di depan meja yang kami kelilingi. Di ruang tamu rumahku yang lumayan mewah ini, seringkali menjadi tempat diskusi menarik soal jalanan saat masih aktifnya balapan bareng. Di hari ini, ini malah digunakan untuk diskusi pencarian orang Hilang layaknya tim SAR.
Yah, mau bagaimana lagi? Rumah ini hanya ada pembantu sebab kedua orangtuaku lagi sibuk di luar negeri mengurus bisnisnya. Jika pulang, paling hanya menginap sehari dan besoknya udah berangkat lagi. Sejak kecil aku kurang kasih sayang, setiap mengeluh kepada mereka, selalu saja hanya memintaku mengerti, lalu membentuk uang. Apakah mereka pikir uang yang mereka kasih bisa untukku membeli kebahagiaan dan kebersamaan?
Lupakan soal itu. Pada intinya, kami tengah berdiskusi soal ucapan Ki Ageng mengenai Keris Pangeraksa Jiwa. Dari kedengarannya saja terasa begitu mengerikan, yang berarti Keris merasakan jiwa. Hanya saja, apa yang harus kami lakukan sekarang?
"Huffttt, sekarang kita harus gimana? Apa perlu gue ke hutan larangan?" tanyaku kepada semua Rekanku.
"Gimana, yak? Kita-kita ini sebenarnya ga setuju kalo elu pergi ke hutan larangan, tapi..." ucap David sembari menghentikan ucapannya.
Tentu aku paham mengapa David berkata demikian. Dia adalah orang pertama yang hilang di sana, membuat kami panik dan mencarinya sampai larut malam. Tentu selama itu dia telah merasakan betapa ngeri di hutan larangan itu.
"Jadi aku harus tunggu sang Dewi Rubah datang kepadaku dulu?" tanyaku kepadanya.
"Kalo pendapat gue sih, pilihan kedua itu meragukan, ga ada jaminan bahwa dia bakal datang kapan, lagipula kita kehilangan Rangga kalo menunggu terlalu lama. Tapi, pilihan pertama terlalu beresiko," ucap Wijaya.
Memang, Kita tidak tahu kapan sang Dewi Rubah datang. Meskipun aku terkuat dengannya, bukan berarti aku dapat memanggilnya sesuka hati. Aku terlalu lemah untuk belajar telepati. Jika terlalu lama, Rangga bisa hilang selamanya.
"Ada saran?" tanyaku kepada Wijaya, membuat dia malah menggerutu kesal. "Jangan tanya gue, otak gue lagi buntu," jawabnya.
Aku mulai berfikir kritis dalam mengatasi soal ini. Demi temanku yang bernama Rangga, aku harus melakukan sesuatu. Dia adalah teman kami, lagipula kalau dia hilang, orang tuanya yang ada diluar negeri pasti akan sedih saat mereka pulang ke tanah air.
"Hufft, gini aja. Gue bakal ambil pilihan pertama," jawabku pada akhirnya, membuat semua temanku terbelalak kaget.
"Jangan lah bro! Lu kan tahu hutan larangan itu kek gimana?" tanya Dian.
Aku memahami kekhawatiran teman-temanku, tapi aku merasa harus bertindak cepat. "Gue tahu kok resikonya, tapi ga ada jaminan bahwa Dewi Rubah akan dateng secepatnya. Gue harus mencoba," ucapku mantap.
David menghela nafas, "lu bener-bener yakin, bro? Soalnya di sana bahaya banget, itu pun elu harus jalan sendirian ke situ."
Aku mengangguk, "Gue ngerti, tapi ini aku lakuin buat keselamatan Rangga. Lu tentu inget kan, kapan ortu kita bakalan pulang? Kalo dia ga berhasil kita selametin, pasti ortu dia bakal sedih, bisa-bisa kenakalan kita selama ini kebongkar, bahaya banget tuh!"
"Hufft, gini aja deh. Pake rencana awal tapi idupin GPS elu. Ntar, kita bakalan berada cukup jauh dari hutan larangan, bakal mantau elu. Jangan lupa kita Sambil Voice Call Whatsapp. Kalo ada bahaya, kita bisa tahu dan mungkin bakal cari elu," ucap Dian memberikan saran yang kedengarannya bagus, namun bagi David, itu saran idiot.
"Di hutan ga ada sinyal, bego!" teriaknya sambil menjitak kepala Dian.
"Ada sinyal, kok! Ingat terakhir kali, elu bisa nelpon Kusuma," bantah Dian lagi. "Udah bro, mending lu akui aja kalo gue jenius."
"Udah deh, jangan ribut mulu elu berdua. Putra, elu benar-benar yakin akan ngelakuin itu ?" tanya Wijaya serius.
Aku mengangguk tegas, "Gue yakin. Elu jangan khawatir, gue pasti bakal ati-ati dan balik kemari."
David menepuk pundakku, "moga beruntung, bro. Ingat, kita akan selalu memantau elu lewat GPS dan siap membantumu lewat doa."
"Iya-iya. Ayo kita pergi ke Desa Sarantika dulu sebelum masuk ke hutan larangan sana," ucapku lalu bangkit dari tempatku duduk.
Pertemuan ini menjadi salah satu pertemuan yang berbeda daripada biasanya. Memang, selama ini yang kita bicarakan hanyalah jalanan, lokasi balapan, dan tantangan balapan. Ini adalah pertama kalinya pertemuan membahas hal gaib yang selama ini kami hanya anggap Dongeng.
Aku ambil sarung Keris itu, lalu aku bawa. Benda ini memang sangat krusial sehingga Ki Ageng menyuruhku membawanya dan jangan sampai lepas dari tanganku. Kami bergerak menuju Desa Sarantika dengan langkah hati-hati, karena perasaan waspada dan tegang terus menyelimuti atmosfer.
Suara motor kami terdengar begitu ramai, karena nyatanya kami melangkah geng motor pada awalnya, dan karena hal ini, malah menjelma menjadi kawanan Campuran Tim SAR dan Densus 88 (perumpamaan). Perjalanan ini memakan waktu hampir dua jam, tidak disangka hari mulai begitu gelap.
Saat sampai di desa, aku memimpin langkah memasuki desa ini besama semua rekanku. Desa Sarantika, yang biasanya ramai dengan kegiatan sehari-hari, kini terasa sunyi. Penduduk desa sepertinya menghindari kami, entah karena mereka merasa ada kehadiran yang tak biasa atau karena hal lainnya.
Kami berhenti sejenak di pinggir desa, dan aku memandangi hutan larangan yang tampak misterius di kejauhan. "Ntar tengah malam, elu semua bisa pantau gue lewat GPS dan tetep komunikasi lewat voice call," ucapku pada teman-temanku.
Wijaya menepuk pundakku, "Inget, bro. Kalo ada hal aneh, langsung kabarin. Jangan terlalu nekat."
Aku mengangguk seraya menyisir rambutku dengan tangan, mencoba menenangkan diri. "Gue tau. Sekarang kita cari penginapan dulu. Masih punya sekitar 5 jam untuk beraksi"
Langit sudah mulai gelap dan suasana di Desa Sarantika semakin sunyi. Kami berjalan menuju penginapan setempat, mencoba mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke hutan larangan. Setelah mencari beberapa tempat, akhirnya kami menemukan penginapan kecil yang terbuka.
Pemilik penginapan menyambut kami dengan ramah, meskipun terlihat agak canggung. "Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan senyum sopan.
Apa ada kamar kosong untuk malam ini?" tanyaku sambil memberi tahu jumlah orang di rombongan kami.
Pemilik penginapan mengangguk, "Iya, kami punya beberapa kamar kosong. Silakan pilih yang kalian suka. Harganya juga terjangkau."
Kami segera mencoba melihat kamar-kamar yang tersedia. Saat ini, aku merasa atmosfer di desa ini semakin aneh, bahkan aku lihat, tatapan pemilik penginapan itu tampak.agak kurang bersahabat. Entah apa yang terjadi, aku tidak mengerti.
"Sebenarnya kalian mau kemana?" tanya sang pemilik penginapan.
"Itu..." Aku kesulitan menjawab pertanyaan yang ini. Entah mengapa, aku merasa ada yang salah dengan rawut wajahnya itu.
"Ke.. hutan larangan, bukan?" tebak sang pemilik penginapan, membuat kami terkejut setengah mati.
"Aku peringatkan kepada kalian, anak muda pembuat onar, hutan larangan adalah hutan yang angker. Konon, jika ada yang masuk ke sana, mereka pasti tidak mampu untuk kembali. Sebaiknya kalian pulang saja," ucapnya.
Aku dan teman-teman saling pandang sejenak, mencoba menimbang-nimbang ucapannya. Rasanya agak ragu untuk memberitahu mereka tujuanku yang sebenarnya.
"Ini...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments