Episode 9. Kebimbangan

Tiba-tiba saja, Rangga muncul di depan kami. Kami akhirnya bernafas lega melihatnya, lalu segera bergerak hendak mendekatinya. Melihatnya masih sehat walafiat seperti itu, membuat kami merasa ingin sekali memeluknya. Hanya saja....

Dia terlihat datang tatapan kosong. Itu membuatku agak menahan diri dan merentangkan kedua tangan, menghentikan pergerakan semua temanku. Mungkin karena Meridianmu telah terbuka, membuatku merasa cukup peka.

"Ada apa bro?" tanya David yang terheran karena aku menghentikan mereka.

"Dia tidak seperti biasanya, seharusnya tatapannya tidak seperti itu," ucapku. "Ada aura aneh di sekitar tubuhnya."

Meskipun aku telah mengatakan hal itu, tidak semua temanku yang merasakannya, bahkan Si Seno sampai menyapa Rangga seperti biasanya. Astaga, mereka terlalu terbawa euforia kebahagiaan.

"Bro! Lu ngapain sih sampe ikut balapan ama mereka? Untung lu masih idup, tuh!" teriak Seno senang.

Mendadak, Rangga berbalik dan berjalan menjauhi kami, yang membuatku semakin berwaspada. Hanya saja, aku tidak sendirian. Temanku merasa tidak sabaran, lantas tidak mendengarkannya dan berlari ke arah Rangga.

Namun, sesuatu terjadi di luar dugaan. Dia mendadak hilang seperti bayangan dan muncul lebih jauh dari lokasinya berdiri, menandakan bahwa ini bukanlah Rangga yang biasa. Tatapan kosongnya semakin intens, dan sekarang, dia sepertinya adalah tubuh yang dikendalikan oleh siluman.

Semua temanku tertegun melihat kejadian itu, lalu mereka berhenti mengejar. Melihat itu juga membuat Aku segera mendekati semua rekanku ini. "Dia sepertinya terpengaruh oleh kekuatan siluman," ucapku dengan nada khawatir.

"Rangga, apa yang terjadi pada elu?" tanya Wijaya mencoba mendekatinya, namun segera aku halangi. Bahkan David sampai harus menjitak kepala temannya yang keras kepala ini. "Lu dengar ucapan Putra ga sih?

Rangga kembali berbalik meninggalkan kami, yang membuat semua temanku ingin mengejarnya, namun kini mereka tahu bahwa situasi sekarang sama sekali tidak kondusif.

"Putra, sekarang kita harus apa? Ikuti dia... atau Mundur?" tanya David yang mulai memahami keadaan.

"Gak, kita udah ketemu dia, masa kita harus Mundur?" ucap Wijaya yang langsung dihadiahi jitakan dari David.

"Elu paham situasi ga, sih?" tanya David kesal dengan temannya yang otaknya minus ini.

Aku mengepalkan tanganku, lalu berbalik. "Mundur," ucapku kepada mereka semua, mengundang rasa ketidakpuasan, namun mereka tahu bahwa ini demi keselamatan mereka juga.

"Gue rasa dia sudah dikendaliin dan jika mengikuti dia, pasti berakhir dijebak oleh siluman itu. Lihat aja kemana Rangga pergi. Dia ke hutan yang lebih gelap, tuh! Kalian ingat kan, Ki Ageng bilang bahwa kedua Siluman itu takut cahaya matahari?" tanyaku sambil berjalan keluar dari hutan di sebelah tenggara kuburan Cina.

Memang, Hutan ini posisinya agak aneh. Di bagian luar, Hutan ini sangat tembus dengan matahari. Akan tetapi, semakin ke dalam hutan, semakin sulit bagi sinar matahari untuk menembusnya. Lagipula, aku mulai merasakan aura yang cukup mengerikan saat dia muncul, sehingga membuatku berwaspada.

"Bener juga apa yang elu katakan. Encer banget otak lu, gak kek Wijaya sama Seno asal main terobos ae," cibir David yang mengundang kekesalan.

"Elu juga sama, Vid! Dasar otak Wibu!" teriak kerja mengumpat.

"Lalu, rencana sekarang, gimana? Masa iya kita harus cari dewi Rubah di hutan larangan?" tanya Dian.

Aku berfikir sejenak sambil berjalan. Memang, Dewi Rubah mungkin bisa membantuku. Hanya saja, ada kemungkinan dua akan menolak, mengingat sekarang, dia menggunakan aku sebagai ikatan, walaupun aku tidak mengerti apa maksudnya.

Setidaknya, melihat Rangga seperti itu, mungkin para siluman itu masih membiarkan Rangga hidup. Hanya saja, aku tidak yakin apa dia masih hidup atau tidak karena para Siluman menggunakan dia sebagai kail pancing untuk menjebak kami.

"Kita balik dulu ke rumah Ki Ageng, beritahu dia soal ini, lalu minta pendapat dia. Kalo memang Dewi Rubah harapan kita satu-satunya, biar gue yang urus," ucapku dengan tegas. Kami segera meninggalkan hutan dan menuju ke rumah Ki Ageng Dharma Pasek untuk berkonsultasi.

Ki Ageng terlihat serius mendengarkan cerita kami. "Ini adalah ujian yang lebih berat dari sebelumnya. Temanmu ternyata dijadikan kail pancing untuk menarik kail pancing untuk menarik kalian ke dalam permainan siluman Kelelawar dan Laba-laba. Setelah tidak berhasil, ada kemungkinan bahwa Rangga akan segera mereka habisi."

"Akan tetapi, aku pikir bahwa Temanmu itu tidak akan mereka habisi karena percaya kalian bakalan datang lagi," ucapnya sambil menghela nafas pelan. "Sepertinya inilah saatnya untuk Dewi Rubah masuk ke dalam permainan mereka."

"Selain meminta bantuan kepada Dewi Rubah, apa tidak ada cara lain?" tanyaku mencoba menanyakan solusi alternatif.

"Tidak ada, bahkan meminta bantuan Dewi Rubah pun rasanya masih belum cukup," jawabnya sambil menghela nafasnya.

"Namun, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita akan mencoba segala cara untuk menyelamatkan Rangga dan menghadapi siluman Kelelawar serta Laba-laba," ucapku dengan tekad.

Ki Ageng Dharma Pasek mengangguk mengerti. "Kalian memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Itu adalah modal penting dalam menghadapi kekuatan gelap. Namun, hanya itu saja tidaklah cukup," ucapnya sembari berdiri dari tempatnya duduk bersila dan mulai masuk ke dalam kamarnya.

Teman-temanku terlihat begitu kebingungan saat menyadari bahwa aku ikut duduk bersila seperti Ki Ageng, membuat mereka berucap, "Elu engga merasa kesemutan pas duduk kek gitu?"

"Kagak sih," jawabku.

Mendadak, Ki Ageng keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah sarung Keris. Aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan sekarang, namun entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa Ki Ageng pasti akan memberikan petunjuk.

"Ini adalah sarung dari Keris Pangeraksa Jiwa, Keris yang kini berada di hutan larangan. Aku merasa, kau akan membutuhkan Keris itu untuk melawan kedua Siluman itu, anak muda," ucapnya sambil menyerahkan Sarung Keris itu kepadaku.

"Jika kau punya nyali, Pergilah ke Hutan larangan seorang diri tepat di tengah malam dan bawalah Sarung itu bersamamu. Keris itu, biasanya terletak di tengah hutan larangan, lebih tepatnya di Goa tempat tinggal Sang Dewi. Jikalau tidak memiliki keberanian, sebaiknya kau menunggu Dewi Rubah datang menemuimu dengan sendirinya, walaupun tidak diketahui kapan itu,"ucapnya kepadaku.

Aku mulai merasa kebingungan sekarang, antara harus maju ambil resiko tinggi, atau menunggu dengan ketidakpastian. Melihat kebingungan di wajahku, Ki Ageng lantas berkata, "Anak muda, pilihan ada di tanganmu. Setiap tindakan memiliki risiko dan konsekuensi. Pergilah jika kau yakin bisa menghadapi ujian di hutan larangan, namun jika ragu, menunggu Dewi Rubah juga merupakan pilihan bijak."

Aku memegang sarung Keris Pangeraksa Jiwa dengan penuh pertimbangan. "Terima kasih, Ki Ageng. Saya akan mempertimbangkan baik-baik dan mengambil keputusan dengan bijak," ucapku.

Ki Ageng Dharma Pasek tersenyum, "Kekuatan sejati ada dalam kebijaksanaan. Ingatlah, anak muda, setiap langkah membawa kita pada takdir yang telah tertulis. Semoga kau menemukan jawabanmu."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Episodes
1 Episode 1. Bermula di Hutan terlarang
2 Episode 2. Dia itu Siluman Rubah?
3 Episode 3. Perubahan Besar pada Geng
4 Episode 4. Pijatan 'Tradisional' yang 'menyakitkan'
5 Episode 5. Lagi-lagi Rekan "menghilang!"
6 Episode 6. Sebuah petunjuk
7 Episode 7. Aku terikat dengannya?
8 Episode 8. Membuka Meridian
9 Episode 9. Kebimbangan
10 Episode 10. Keputusan
11 Episode 11. Rencana
12 Episode 12. Persiapan
13 Episode 13. Kejutan
14 Episode 14. Kemenangan
15 Episode 15. Berlatih sampai Tewas
16 Episode 16. Sampai pingsan
17 Episode 17. Misteri di balik sakit yang ibu derita.
18 Episode 18. ini Ulah Dukun yang lebih sakti daripada saya
19 Episode 19. Takdir membantuku
20 Episode 20. Terserang
21 Arc 1 telah Dimulai : Sang Pemburu
22 Episode 21. Pembantu baru?
23 Episode 22. Mereka memiliki Aura
24 Episode 23. Ilmu kanuragan
25 Episode 24. Mempelajari Kanuragan
26 Episode 25. perseteruan
27 Episode 26. Tantangan
28 Episode 27. Kemenangan
29 Episode 28. Purnama
30 Episode 29. Cara menghadapi Wanita?
31 Episode 30. Tentang Pernikahan Manusia-Dewi
32 Pengumuman: Perlambatan Update!
33 Episode 31. Contoh nyata dari Sang Dewi Naga
34 Episode 32. Aura yang tidak hilang? Kita kedatangan tamu tidak Diundang!
35 Episode 33. Dewi Kelinci
36 Episode 34. Rumah Kosong
37 Episode 35. Serangan Aura Pembunuh
38 Episode 36. Pengumpulan Sekutu
39 Episode 37. Perang di Dimensi
40 Episode 38. Puncak Serbuan ke Bangunan tua
41 Episode 39. Ocehan tiga dewi
42 Episode 40. Pesta kemenangan
43 Episode 41. Serangan lagi?
44 Episode 42. Jebakan?
45 Episode 43. Istana bulan
46 Episode 44. Kitab bulan permata Sutasoma
47 Episode 45. ternyata ada 3 jenis dewi Rubah?
Episodes

Updated 47 Episodes

1
Episode 1. Bermula di Hutan terlarang
2
Episode 2. Dia itu Siluman Rubah?
3
Episode 3. Perubahan Besar pada Geng
4
Episode 4. Pijatan 'Tradisional' yang 'menyakitkan'
5
Episode 5. Lagi-lagi Rekan "menghilang!"
6
Episode 6. Sebuah petunjuk
7
Episode 7. Aku terikat dengannya?
8
Episode 8. Membuka Meridian
9
Episode 9. Kebimbangan
10
Episode 10. Keputusan
11
Episode 11. Rencana
12
Episode 12. Persiapan
13
Episode 13. Kejutan
14
Episode 14. Kemenangan
15
Episode 15. Berlatih sampai Tewas
16
Episode 16. Sampai pingsan
17
Episode 17. Misteri di balik sakit yang ibu derita.
18
Episode 18. ini Ulah Dukun yang lebih sakti daripada saya
19
Episode 19. Takdir membantuku
20
Episode 20. Terserang
21
Arc 1 telah Dimulai : Sang Pemburu
22
Episode 21. Pembantu baru?
23
Episode 22. Mereka memiliki Aura
24
Episode 23. Ilmu kanuragan
25
Episode 24. Mempelajari Kanuragan
26
Episode 25. perseteruan
27
Episode 26. Tantangan
28
Episode 27. Kemenangan
29
Episode 28. Purnama
30
Episode 29. Cara menghadapi Wanita?
31
Episode 30. Tentang Pernikahan Manusia-Dewi
32
Pengumuman: Perlambatan Update!
33
Episode 31. Contoh nyata dari Sang Dewi Naga
34
Episode 32. Aura yang tidak hilang? Kita kedatangan tamu tidak Diundang!
35
Episode 33. Dewi Kelinci
36
Episode 34. Rumah Kosong
37
Episode 35. Serangan Aura Pembunuh
38
Episode 36. Pengumpulan Sekutu
39
Episode 37. Perang di Dimensi
40
Episode 38. Puncak Serbuan ke Bangunan tua
41
Episode 39. Ocehan tiga dewi
42
Episode 40. Pesta kemenangan
43
Episode 41. Serangan lagi?
44
Episode 42. Jebakan?
45
Episode 43. Istana bulan
46
Episode 44. Kitab bulan permata Sutasoma
47
Episode 45. ternyata ada 3 jenis dewi Rubah?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!