Tiba-tiba saja, Rangga muncul di depan kami. Kami akhirnya bernafas lega melihatnya, lalu segera bergerak hendak mendekatinya. Melihatnya masih sehat walafiat seperti itu, membuat kami merasa ingin sekali memeluknya. Hanya saja....
Dia terlihat datang tatapan kosong. Itu membuatku agak menahan diri dan merentangkan kedua tangan, menghentikan pergerakan semua temanku. Mungkin karena Meridianmu telah terbuka, membuatku merasa cukup peka.
"Ada apa bro?" tanya David yang terheran karena aku menghentikan mereka.
"Dia tidak seperti biasanya, seharusnya tatapannya tidak seperti itu," ucapku. "Ada aura aneh di sekitar tubuhnya."
Meskipun aku telah mengatakan hal itu, tidak semua temanku yang merasakannya, bahkan Si Seno sampai menyapa Rangga seperti biasanya. Astaga, mereka terlalu terbawa euforia kebahagiaan.
"Bro! Lu ngapain sih sampe ikut balapan ama mereka? Untung lu masih idup, tuh!" teriak Seno senang.
Mendadak, Rangga berbalik dan berjalan menjauhi kami, yang membuatku semakin berwaspada. Hanya saja, aku tidak sendirian. Temanku merasa tidak sabaran, lantas tidak mendengarkannya dan berlari ke arah Rangga.
Namun, sesuatu terjadi di luar dugaan. Dia mendadak hilang seperti bayangan dan muncul lebih jauh dari lokasinya berdiri, menandakan bahwa ini bukanlah Rangga yang biasa. Tatapan kosongnya semakin intens, dan sekarang, dia sepertinya adalah tubuh yang dikendalikan oleh siluman.
Semua temanku tertegun melihat kejadian itu, lalu mereka berhenti mengejar. Melihat itu juga membuat Aku segera mendekati semua rekanku ini. "Dia sepertinya terpengaruh oleh kekuatan siluman," ucapku dengan nada khawatir.
"Rangga, apa yang terjadi pada elu?" tanya Wijaya mencoba mendekatinya, namun segera aku halangi. Bahkan David sampai harus menjitak kepala temannya yang keras kepala ini. "Lu dengar ucapan Putra ga sih?
Rangga kembali berbalik meninggalkan kami, yang membuat semua temanku ingin mengejarnya, namun kini mereka tahu bahwa situasi sekarang sama sekali tidak kondusif.
"Putra, sekarang kita harus apa? Ikuti dia... atau Mundur?" tanya David yang mulai memahami keadaan.
"Gak, kita udah ketemu dia, masa kita harus Mundur?" ucap Wijaya yang langsung dihadiahi jitakan dari David.
"Elu paham situasi ga, sih?" tanya David kesal dengan temannya yang otaknya minus ini.
Aku mengepalkan tanganku, lalu berbalik. "Mundur," ucapku kepada mereka semua, mengundang rasa ketidakpuasan, namun mereka tahu bahwa ini demi keselamatan mereka juga.
"Gue rasa dia sudah dikendaliin dan jika mengikuti dia, pasti berakhir dijebak oleh siluman itu. Lihat aja kemana Rangga pergi. Dia ke hutan yang lebih gelap, tuh! Kalian ingat kan, Ki Ageng bilang bahwa kedua Siluman itu takut cahaya matahari?" tanyaku sambil berjalan keluar dari hutan di sebelah tenggara kuburan Cina.
Memang, Hutan ini posisinya agak aneh. Di bagian luar, Hutan ini sangat tembus dengan matahari. Akan tetapi, semakin ke dalam hutan, semakin sulit bagi sinar matahari untuk menembusnya. Lagipula, aku mulai merasakan aura yang cukup mengerikan saat dia muncul, sehingga membuatku berwaspada.
"Bener juga apa yang elu katakan. Encer banget otak lu, gak kek Wijaya sama Seno asal main terobos ae," cibir David yang mengundang kekesalan.
"Elu juga sama, Vid! Dasar otak Wibu!" teriak kerja mengumpat.
"Lalu, rencana sekarang, gimana? Masa iya kita harus cari dewi Rubah di hutan larangan?" tanya Dian.
Aku berfikir sejenak sambil berjalan. Memang, Dewi Rubah mungkin bisa membantuku. Hanya saja, ada kemungkinan dua akan menolak, mengingat sekarang, dia menggunakan aku sebagai ikatan, walaupun aku tidak mengerti apa maksudnya.
Setidaknya, melihat Rangga seperti itu, mungkin para siluman itu masih membiarkan Rangga hidup. Hanya saja, aku tidak yakin apa dia masih hidup atau tidak karena para Siluman menggunakan dia sebagai kail pancing untuk menjebak kami.
"Kita balik dulu ke rumah Ki Ageng, beritahu dia soal ini, lalu minta pendapat dia. Kalo memang Dewi Rubah harapan kita satu-satunya, biar gue yang urus," ucapku dengan tegas. Kami segera meninggalkan hutan dan menuju ke rumah Ki Ageng Dharma Pasek untuk berkonsultasi.
Ki Ageng terlihat serius mendengarkan cerita kami. "Ini adalah ujian yang lebih berat dari sebelumnya. Temanmu ternyata dijadikan kail pancing untuk menarik kail pancing untuk menarik kalian ke dalam permainan siluman Kelelawar dan Laba-laba. Setelah tidak berhasil, ada kemungkinan bahwa Rangga akan segera mereka habisi."
"Akan tetapi, aku pikir bahwa Temanmu itu tidak akan mereka habisi karena percaya kalian bakalan datang lagi," ucapnya sambil menghela nafas pelan. "Sepertinya inilah saatnya untuk Dewi Rubah masuk ke dalam permainan mereka."
"Selain meminta bantuan kepada Dewi Rubah, apa tidak ada cara lain?" tanyaku mencoba menanyakan solusi alternatif.
"Tidak ada, bahkan meminta bantuan Dewi Rubah pun rasanya masih belum cukup," jawabnya sambil menghela nafasnya.
"Namun, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita akan mencoba segala cara untuk menyelamatkan Rangga dan menghadapi siluman Kelelawar serta Laba-laba," ucapku dengan tekad.
Ki Ageng Dharma Pasek mengangguk mengerti. "Kalian memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Itu adalah modal penting dalam menghadapi kekuatan gelap. Namun, hanya itu saja tidaklah cukup," ucapnya sembari berdiri dari tempatnya duduk bersila dan mulai masuk ke dalam kamarnya.
Teman-temanku terlihat begitu kebingungan saat menyadari bahwa aku ikut duduk bersila seperti Ki Ageng, membuat mereka berucap, "Elu engga merasa kesemutan pas duduk kek gitu?"
"Kagak sih," jawabku.
Mendadak, Ki Ageng keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah sarung Keris. Aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan sekarang, namun entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa Ki Ageng pasti akan memberikan petunjuk.
"Ini adalah sarung dari Keris Pangeraksa Jiwa, Keris yang kini berada di hutan larangan. Aku merasa, kau akan membutuhkan Keris itu untuk melawan kedua Siluman itu, anak muda," ucapnya sambil menyerahkan Sarung Keris itu kepadaku.
"Jika kau punya nyali, Pergilah ke Hutan larangan seorang diri tepat di tengah malam dan bawalah Sarung itu bersamamu. Keris itu, biasanya terletak di tengah hutan larangan, lebih tepatnya di Goa tempat tinggal Sang Dewi. Jikalau tidak memiliki keberanian, sebaiknya kau menunggu Dewi Rubah datang menemuimu dengan sendirinya, walaupun tidak diketahui kapan itu,"ucapnya kepadaku.
Aku mulai merasa kebingungan sekarang, antara harus maju ambil resiko tinggi, atau menunggu dengan ketidakpastian. Melihat kebingungan di wajahku, Ki Ageng lantas berkata, "Anak muda, pilihan ada di tanganmu. Setiap tindakan memiliki risiko dan konsekuensi. Pergilah jika kau yakin bisa menghadapi ujian di hutan larangan, namun jika ragu, menunggu Dewi Rubah juga merupakan pilihan bijak."
Aku memegang sarung Keris Pangeraksa Jiwa dengan penuh pertimbangan. "Terima kasih, Ki Ageng. Saya akan mempertimbangkan baik-baik dan mengambil keputusan dengan bijak," ucapku.
Ki Ageng Dharma Pasek tersenyum, "Kekuatan sejati ada dalam kebijaksanaan. Ingatlah, anak muda, setiap langkah membawa kita pada takdir yang telah tertulis. Semoga kau menemukan jawabanmu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments