Hari itu berlalu dengan sibuknya pelajaran dan interaksi dengan teman-teman baru. Meskipun sempat terpana oleh kecantikan murid baru, aku tetap berusaha menjaga keseimbangan antara pelajaran dan kehidupan sehari-hari.
Siang harinya, aku kembali ke rumah dengan harapan ibu sudah pulang. Namun, aku kembali disambut oleh suasana sepi. Rasanya sedikit kecewa, tapi aku mencoba untuk tetap bersyukur karena ibu mengatakan bahwa dia pasti bakal pulang. Hanya saja, perasaannya mendadak tidak enak sedari tadi.
Mendadak Ponselku berbunyi, terlihat itu adalah panggilan suara dari nomor yang tidak dikenal. Perasaanku semakin tidak enak saat melihatnya. Sejenak, aku merasa ragu untuk mengangkatnya, karena biasanya dia hanya menerima telepon melalui Whatsapp. Namun ini berbeda.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mengangkat panggilan itu. "Halo, siapa ini?" tanyaku.
"Halo. Apa ini dari keluarga ibu Sriasih?" suara yang terdengar cukup serius.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" jawabku agak waspada.
"Iya, ini dari pihak rumah sakit Pharama Sidhi. Ini benar keluarganya bu Sriasih, benar?" lanjut suara itu.
Segera saja hatiku berdegup lebih cepat. "Ya, betul. Saya anaknya. Ada apa dengan ibuku?" tanyaku khawatir.
"Ibu Sriasih sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas. Kami perlu saudara Putra untuk segera datang ke sini," jelasnya dengan suara serius.
Aku merasa dunia ini tiba-tiba berhenti berputar sejenak. Sesaat setelah itu, aku mencoba untuk tetap tenang. "Baik, saya akan datang secepatnya," jawabku dengan suara bergetar.
Secepat kilat, aku merapikan diri dan segera menuju rumah sakit. Pikiranku penuh dengan kekhawatiran terhadap kondisi ibu. Ketika tiba di rumah sakit, aku langsung menuju ruangan yang disebutkan di telepon.
"Permisi, apa bibi mengetahui kamar Bhurloka 4?" tanyaku kepada seorang Suster.
"Oh, pergi saja ke arah sana dik, lalu masuk ke Lift dan naik ke lantai 3. Nah, ketika bari keluar ke Lift langsung tengok ke tenggara. Disanalah kamar Bhurloka 4," jawab suster itu.
Dengan hati yang berdebar, aku mengikuti petunjuk suster menuju kamar Bhurloka 4. Setiap langkah terasa begitu berat, dan ketakutan merayap di setiap sudut pikiranku. Begitu sampai di lantai 3, aku bergegas menuju lift.
Sesampainya di lantai 3, aku mengikuti petunjuk suster dan menemukan kamar Bhurloka 4. Aku mengetuk pintu dengan hati yang penuh kegelisahan. Pintu terbuka, dan aku melangkah masuk.
Di dalam, terlihat suasana yang cenderung hening. Ibu terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat dan tampak lelah. Seorang dokter dan beberapa perawat sedang berada di sekitarnya.
"Anda keluarganya Sriasih?" tanya seorang perawat ketika melihatku.
Aku mengangguk, "Iya, saya anaknya. Bagaimana keadaan ibu daya?"
Dokter memberikan kabar, "Ibu Sriasih mengalami luka parah akibat kecelakaan. Kami telah melakukan beberapa tindakan medis, namun perlu perawatan lebih lanjut. Saat ini, kondisinya masih kritis."
Dokter menjelaskan kondisi ibu dengan serius, dan rasanya sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa ibu sedang sakit. Aku mencoba untuk tetap kuat di depannya, namun dalam hati, kekhawatiran dan ketakutan menghantuiku.
Rasa cemas menyelimuti hatiku. Aku menatap ibu yang terbaring lemah, mencoba menahan air mata yang hampir menetes. "Apa yang harus kita lakukan, Dokter?" tanyaku dengan suara gemetar.
Dokter menjelaskan, "Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk merawat ibu Sriasih. Keluarga yang terdekat sebaiknya tetap di sini untuk memberikan dukungan dan mendapatkan informasi terkini. Semua keputusan terkait perawatan akan kita diskusikan bersama."
Aku mengangguk, mencoba menjaga ketenangan di tengah keadaan yang sulit ini. Setelah beberapa saat, aku duduk di samping tempat tidur ibu, meraih tangannya yang terasa dingin. Air mataku tidak bisa kutahan lagi.
"Saya di sini, ibu. Aku akan selalu di sini," bisikku pada ibu, sambil menahan rasa sedih yang meluap.
Telepon berbunyi, dimana aku lihat itu adalah panggilan Whatsapp dari Dian. Aku mulai mengangkatnya dan panggilan mulai tehubung. "Bro, lu ada dimana? Ibu gue bilang ibu elu kecelakaan!"
Aku memandang layar ponselku dengan mata berkaca-kaca, mendengar kabar yang sama dari Dian. "Iya, Dian. Gue di rumah sakit sekarang. Kondisi ibu cukup serius," ucapku dengan suara parau.
Dian terdengar khawatir, "Bro, gue sama ibu gue langsung ke sana sekarang. Lu tahan dulu, ya, mau undang satu rekan juga? Kata ibu gue, ibu elu sebelum kecelakaan sempat kejang-kejang gitu."
Aku mengangguk lemah, merasa terhanyut dalam gelombang perasaan yang tak menentu. "Iya, Dian. Bawa mereka ke sini. Gue bakal tunggu di ruangan Bhurloka 4," jawabku sambil mencoba menahan tangis.
Aku dan semua orang tengah berkumpul di ruang tunggu. Ibu Dian menceritakan kronologi aneh yang terjadi kepada Ibuku sebelum kecelakaan waktu itu. Maklum, sebelumnya dia naik di mobil ibuku dan sebenarnya, ibuku terluka bukan karena kecelakaan, melainkan karena sesuatu.
Ibu Dian menjelaskan bahwa sebelum kecelakaan, ibu saya mengalami kejadian aneh saat dalam perjalanan. Ibu terlihat kejang-kejang dan tampak kesakitan. Ibu Dian dan beberapa saksi lainnya mengaku melihat cahaya aneh yang menyelimuti ibu saya saat itu
"Saat itu, ibu kamu tiba-tiba saja kejang-kejang di dalam mobil, seperti sedang diganggu oleh sesuatu. Saya langsung panik dan berusaha menenangkan, tapi kejadiannya sangat cepat," jelas Ibu Dian dengan nada khawatir.
"Makanya kita langsung bawa ke rumah sakit dengan alasan Kecelakaan, karena kondisinya semakin memburuk. Tapi, dokter sini bilang luka-luka di tubuhnya seperti bukan dari kecelakaan biasa," ujar ibu Dian dengan ekspresi khawatir.
Mendengar penjelasan itu, wajahku penuh dengan pertanyaan. "Apa yang bisa menyebabkan kejadian itu, Ibu?" tanyaku dengan khawatir.
Ibu Dian menggelengkan kepala, "Saya sendiri juga tidak tahu, Nak. Tapi saya yakin ini bukan kecelakaan biasa. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi pada ibu kamu."
Rekan-rekan sekolahku saling bertatapan, mencoba memahami situasi yang tidak biasa ini. Mereka menawarkan dukungan dan siap membantu sebisa mungkin. Aku merasa bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka di saat-saat sulit seperti ini.
Rangga mengernyitkan dahi, "Aneh. Sepertinya kita perlu mencari tahu lebih lanjut. Apakah ada yang tahu tentang hal-hal mistis atau gaib yang terkait dengan keluarga Elu?"
"Coba kita tanyakan Ki Ageng Dharma Pasek. Siapa tahu dia tahu sesuatu yang menimpa ibu elu. Sekarang kita ga usah ngeremehin hal gaib lagi, bahaya." saran Dian yang selalu akan lanjut berucap, "sudah, gue tahu gue pinter kok. Ga usah menyanjung."
Wajahku terasa pucat mendengar saran Dian. Ide untuk mencari bantuan dari Ki Ageng Dharma Pasek terdengar masuk akal, mengingat keterlibatan hal-hal gaib dalam kejadian yang menimpa ibuku.
Jangan lupakan Bahwa tanpa petunjuk darinya, mungkin Rangga tidak mungkin ditemukan dan berhasil kami bebaskan dari pengaruh kedua Siluman itu. Mungkin saja, memang ada sesuatu yang menimpa Ibuku secara gaib.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments