Kuburan Cina, 12.00 WITA...
Kami tiba di lokasi yang dijanjikan, tepat di hutan barat Kuburan Cina. Suasana hutan terasa semakin mencekam dengan rimbunnya pepohonan dan suara desiran angin yang menggema. Rasanya seolah ada sesuatu yang mengintip dari balik setiap bayangan.
"Baik, kita sudah sampai. Ingat, kita harus hati-hati dan ikuti petunjuk Dewi Rubah. Fokus pada misi kita untuk menyelamatkan Rangga dan menghadapi siluman Kelelawar dan Laba-laba," ingatku kepada teman-teman.
Aku pimpin perjalanan menuju ke hutan larangan dan tidak disangka Rangga terdiam di situ. Aku tersenyum tipis melihat nya dan dia mendadak berbalik arah menuju ke hutan lebih gelap.
"Kusuma, dia ke sana. Apa kita yakin akan maju?" tanya David sang sebenarnya terlalu ragu dengan rencana ini.
Aku mulai menimbang sejenak. Pada saat itu, kami tidak memiliki persiapan sehingga memilih mundur. Namun... kali ini berbeda. Aku telah membawa persiapan untuk bermain di permainan yang kedua Siluman itu buat.
"Maju," ucapku kepada mereka.
Langkah-langkah kami semakin mendalam ke dalam hutan yang semakin gelap dan mencekam. Suasana menjadi semakin hening, hanya terdengar desiran angin dan suara langkah-langkah kami di atas dedaunan. Kami berjalan dengan hati-hati, memperhatikan setiap petunjuk yang diberikan Dewi Rubah.
Tiba-tiba, suasana hutan berubah. Udara terasa lebih dingin, dan suara-suara aneh mulai terdengar di sekeliling. Kami berhenti sejenak, menatap satu sama lain dengan ketegangan.
"Ini sudah pasti persembunyian mereka. Kita harus tetap waspada," kataku, mencoba menguatkan semangat teman-teman.
Aku mengerutkan kening saat merasakan seperti telah menembus lapisan aneh saat ini. Mungkin inilah lapisan pelindung yang Sang Dewi Rubah katakan sehingga dia tidak mampu menembusnya untuk menangkap mereka.
Mendadak, timbul kabut yang mulai bergerak hendak menyapu kami. Itu adalah kabut yang sama persis aku lihat di rekaman Wijaya. Sejenak, aku lihat Wijaya yang gemetar, namun masih saja membawa kamera. Seorang Vlogger memang beda.
Aku segera menutup mataku, kemudian berucap, "dewi, ijinkan aku meminjam kekuatanmu."
Segera aku cabut Keris Pangeraksa Jiwa yang ternyata dapat memicu gelombang yang kuat. .Gelombang energi ini membantu menerobos kabut yang menyelimuti. Kabut tersebut seolah terkoyak dan membentuk lorong di antara kami. Sementara kabut melingkar di sekeliling, kami melangkah maju dengan hati-hati.
"Jangan panik, teman-teman. Kita harus tetap fokus pada misi," ucapku dengan penuh keyakinan.
Namun sesuatu mulai terasa di balik kabut, mungkin karena kemampuan persepsiku mulai terbentuk atau mungkin juga karena aku sudah membuka titik Meridian sehingga merasakan aura ini.
"Ada sesuatu. Semuanya, jangan berpisah!" perintahku kepada mereka semua.
Aku arahkan gelombang ini ke depan untuk menyapu Kabut itu dan terlihat kedua Siluman itu yang hendak mencoba menyergap kami dari kabut, mereka terpental kebelakang karena terkena gelombang ini.
Lihat mereka membuat kami semua tertegun. Mereka benar-benar siluman, lihat saja mereka bertubuh sebagian manusia dan sebagian laba-laba, bahkan siluman Kelelawar itu, tubuhnya manusia namun bersayap dan berkepala kelelawar.
Semua temanku merasa merinding. Pada dasarnya, kami semua adalah manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan apa-apa, dihadapkan dengan kedua Siluman itu, membuat kami langsung ciut oleh rasa takut.
Hanya saja, rencana telah berhasil. Kaubtelah menembus lapisan formasi pelindung mereka dan sekaligus memancing mereka berdua agar muncul. Itu sudah cukup untuk tugas kami.
"Wah, mangsa kita ternyata ada yang cukup berani, ya," cibir siluman kelelawar sambil menyeka darah dari mulutnya. Darah yang berwarna hitam itu benar-benar terlihat menjijikkan!
"Sayang sekali. Aku pikir mereka tidak berani datang lagi, ternyata mereka baru berani hanya bermodalkan senjata Keris itu. Lemah sekali," cibir Siluman Laba-laba sambil bangkit berdiri.
"Bagaimanapun, ingatan Rangga telah memberitahu kita bahwa akan ada mangsa yang datang kemari. Ternyata itu benar adanya," ucap mereka sambil menjilat bibirnya.
Kami lantas merada ketakutan, namun senyum tersembunyi terukir di sudut bibirku. "Apa kalian pikir senjata ini adalah satu-satunya persiapanku?" kataku dengan tegas, sambil memperlihatkan sarung Keris Pangeraksa Jiwa yang masih aku pegang erat.
Melihat sarung Keris itu, kedua Siluman itu tampaknya merasa terancam. Mereka yang tadinya cenderung meremehkan kami sekarang terlihat lebih waspada.
"Kami bukanlah mangsa mudah. Kami datang untuk menyelamatkan teman kami dan mengakhiri perbuatan jahat kalian," ucap David dengan penuh tekad.
"Tentu saja, selain kalian, Dewi Rubah juga membantu kami," tambahku, berusaha membuat mereka semakin waspada.
Mereka berdua saling pandang sebentar, lalu tertawa dengan nada yang mencemooh. "Dewi Rubah? Kalian benar-benar terlalu percaya diri. Kita sudah mengamati setiap gerak-gerik kalian sejak awal," ujar Siluman Laba-laba dengan suara merendahkan.
Namun, kami tidak terpengaruh. Kami tahu bahwa Dewi Rubah pasti memiliki rencana yang belum terungkap sepenuhnya.
"Apa kalian pikir Dewi Rubah hanya berdiam diri? Kita lihat saja nanti," ucapku dengan percaya diri.
Kedua siluman itu lantas tertawa berbahak-bahak. "Astaga, bocah bodoh! Dewi Rubah tidak akan mampu menembus perisai yang kami buat! Kau berharap kepadanya? Mimpi saja sana!"
Semua temanku tampak agak terkejut mendengar hal itu, namun aku tetap tenang. Mungkin, mereka pikir bahwa Dewi Rubah tidak akan mampu menembus perisai ini, lalu dia tidak akan mampu menyelamatkan kami namun itu salah besar.
Aku tidak menjawab pertanyaan ini, karena rasanya buang-buang waktu untuk menjelaskannya. Mereka pasti tidak akan percaya soal itu. Jika mereka percaya pun, rencana ini tidak akan berjalan dengan sempurna.
Flashback: Hutan larangan, tengah malam.....
"Mereka memang pembuat kekacauan di Kuburan Cina, bahkan lokasi persembunyiannya telah dipasang formasi perisai sehingga aku tidak mampu menembusnya. Namun, karena kau sudah ada di sini, aku jadi punya rencana," ucap Dewi Rubah sambil tertawa jahat.
"Rencananya adalah... kau harus datang besok siang ke Hutan di sebelah barat Kuburan Cina bersama semua rekanmu. Di situlah tempat persembunyian asli mereka. Lalu kita akan bermain didalam permainan mereka. Aku memang tidak mampu menembus perisai mereka, namun kau bisa. Untuk itu, aku akan menempatkan diriku ke dalam tubuh fisikmu ini. Lalu, kau hanya perlu ikut masuk ke dalam permainan nya. Masuki lapisan perisai itu dan pancing mereka agar muncul di hadapanku. Sisanya, biar aku yang menyelesaikannya," bisik dewi di telingaku.
Kembali ke Story.....
"Kalian kalo berani, maju sini!" ucapku sambil bertingkah seolah ingin membabat mereka. "Akan aku kalahkan kalian"
Ini hanyalah tekhnik pancingan seperti rencana Sang Dewi Rubah. Kedua Siluman itu ternyata sangat mudah terpancing dengan tingkahku. "Kau benar-benar berani, manusia kecil," cibir Siluman Kelelawar.
Mereka mulai mendekati kami dengan langkah mengancam. Semua rekanku tampak ketakutan, namun aku percaya, keajaiban pasti akan terjadi.
Begitu mereka mendekat, mendadak tubuhku merasa sedikit panas, lalu Sang Dewi Rubah yang bersembunyi di dalam tubuhku seketika keluar dan langsung menghantam mereka berdua hingga jatuh tersungkur. Teknik pancingan yang berjalan sukses.
"Kalian berdua terlalu percaya diri," ucap sang Dewi Rubah dengan senyum misterius. Itu membuat mereka berdua terkejut setengah mati, tidak menyangka bahwa Dewi Rubah menggunakan cara itu untuk menembus perisai yang menghalanginya masuk ke hutan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments