Tepat tengah malam! Dengan langkah yang mantap, aku memasuki hutan larangan. Suasana hutan begitu sunyi, hanya dihiasi suara riak angin dan desir dedaunan yang bersentuhan. Cahaya matahari kesulitan menembus pepohonan, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam.
Aku mengaktifkan GPS di ponselku dan juga melakukan Voice Call, sambil mulai berjalan menuju pusat hutan. Serangkaian pohon rindang dan semak belukar menjelma menjadi rintangan yang harus kuhadapi. Namun, langkahku tidak terhenti, karena tekad untuk menyelamatkan Rangga memandu perjalananku.
"Bro, aman ga?" tanya temanku di seberang melalui panggilan suara.
"Masih aman. Tetep aja pantau gue lewat GPS," ucapku.
Beberapa kali aku mendengar suara aneh dan melihat bayangan-bayangan tak jelas di sekitar, namun aku mencoba untuk tetap fokus pada tujuan. Saat melalui lorong pepohonan yang lebih gelap, aku merasa adanya perubahan energi di sekitarku.
"Suasana di sini mulai mencekam, bro," ucapku sambil menggigit bibir. Hal itu membuat temanku di seberang panggilan suara langsung khawatir.
"Keluarkan sarung Kerisnya, bro. Kan Ki Ageng yang bilang gitu," ucap seseorang yang aku kenal suaranya dari Seno.
"Aku langsung mengeluarkan sarung Keris itu dan aku pegang di tangan, lalu melanjutkan perjalanan. Saat menggenggam sarung Keris Pangeraksa Jiwa, energi di sekitarku semakin intens. Aku bisa merasakan getaran yang terasa begitu kuat dari sarung itu. Langkahku semakin hati-hati, dan perasaan takut mulai menyelinap di benakku.
"Bro, hati-hati ya! Kalo ada sesuatu, langsung kabarin," peringatan David terdengar jelas.
"Siap," jawabku singkat. Aku melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan setapak yang semakin gelap. Sesekali, suara gemerisik daun dan suara tak wajar menggema di antara pepohonan. Aku tahu, ini bukanlah hutan biasa.
Sarung Keris tetap kupegang erat, seperti menjadi pemandu di tengah kegelapan. Aku mendengar bisikan-bisikan pelan yang sulit diidentifikasi, dan cahaya redup mulai muncul di kejauhan. Hatiku berdebar-debar, namun tekadku tidak luntur.
Tetapi, sarung Keris Pangeraksa Jiwa mendadak bertindak, dia seperti ingin berontak dari genggamanku. Sarung Keris itu seolah ingin lepas di tangan dan pergi ke suatu tempat.
"Ada apa, Put? Gimana perasaan elu?" tanya Dian cemas.
Aku mulai mencoba mengendalikan sarung keris dan mendadak mulai meresapi energi yang kurasakan. "Ada sesuatu di sini, entah apa. Tapi, sarung Keris ini merespon dengan cara yang aneh."
Suasana semakin tegang, dan teman-temanku di sisi telepon memberikan berbagai saran dan pertanyaan. Aku melanjutkan langkah dengan lebih waspada, mencoba mengikuti insting dan keberanian yang tersisa.
"Eh?" Aku mulai merasa seperti ditarik ke suatu arah tertentu oleh sarung Keris itu. Mengingat saran Ki Ageng, aku tidak boleh melepaskannya, apapun yang terjadi.
"Bro, lu aman? Bro? Jawab bro!"
Aku mulai terseret semakin ke dalam hutan larangan, dimana Sarung keris ini seolah merespon sesuatu. Suara temanku di seberang panggilan suara mulai terdengar mencoba memanggilnya, namun aku tidak bisa menjawabnya saking fokus dengan menahan Keris itu yang semakin lama semakin kuat menarik tubuhku.
Aku merasakan getaran dan aura yang semakin intens seiring dengan pergerakan sarung Keris. Rasanya seolah ada kekuatan magis yang memimpin jalanku. Hutan larangan semakin kelam, dan aku tidak bisa lagi melihat jalan yang telah kudatangi.
"Bro, putar balik aja! Ini udah terlalu berbahaya," desak suara David lewat panggilan suara, namun mendadak, panggilan terputus dan Ponselku juga mati mendadak.
Namun, aku merasa seolah dipanggil oleh sesuatu yang lebih besar. Beberapa langkah lagi, dan aku melihat cahaya yang memancar dari kejauhan. Hutan ini bukan sekadar tempat gelap dan menyeramkan, tapi juga dipenuhi energi yang aneh.
"Sarung Keris, apa yang sedang terjadi?" bisikku pada sarung Keris yang tetap berada di tanganku. Namun, tak ada jawaban yang kudapat. Aku terus bergerak mendekati sumber cahaya itu.
Cahaya semakin terang, dan aku akhirnya sampai di suatu tempat yang cukup terbuka. Aku terperangah melihat sejenis gua yang dipenuhi cahaya kebiruan. Gagang keris ini semakin mencoba berontak dan menyeretku masuk ke Goa itu.
"Apa mungkin tempat ini yang dimaksud oleh Ki Ageng Dharma Pasek?" tanyaku sembari kebingungan.
Namun, mendadak seseorang dari belakang memeluk tubuhku begitu saja sambil memegang gagang keris yang tengah berontak ini. Seketika Gagang keris ini seperti kehilangan getaran.
Belum berhenti sampai di situ, aku juga menemukan ada ekor Rubah yang mulai mengelus pipiku yang membuat hatiku berdesir. Seketika aku tahu bahwa dia adalah sang Dewi Rubah.
"Putra, kau ternyata punya keberanian juga untuk mendatangiku. Padahal aku mulai berfikir untuk menjemputmu tadi," ucapnya.
"Dewi Rubah?" Mendengar hal itu membuatku merasa bahwa diriku ini benar-benar bodoh. Seharusnya aku menunggu saja tadi kalau begitu, namun nasi sudah menjadi bubur.
Dewi Rubah masih terus mengusap pipiku, tanpa sadar dia telah membaca pikiranku. "Tidak usah menyesal, Putra. Keberanianmu untuk datang ke sini sangat berarti. Namun, sekarang kita harus fokus pada tugas yang mendesak. Kau tentu ingin menyelamatkan temanmu, kan?" ucap Dewi Rubah dengan suara lembut.
Aku mengangguk mengerti, merasa bersyukur bahwa Dewi Rubah bersedia membantuku. "Benar, Dewi. Aku ingin menyelamatkan temanku dari cengkeraman kedua siluman itu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyaku.
"Mereka memang pembuat kekacauan di Kuburan Cina, bahkan lokasi persembunyiannya telah dipasang formasi perisai sehingga aku tidak mampu menembusnya. Namun, karena kau sudah ada di sini, aku jadi punya rencana," ucap Dewi Rubah sambil tertawa jahat.
"Rencananya adalah... kau harus datang besok siang ke Hutan di sebelah barat Kuburan Cina bersama semua rekanmu. Di situlah tempat persembunyian asli mereka. Lalu kita.....#$€£₩¥$#@^%€¥@$" bisik dewi di telingaku, mengatakan begitu banyak hal yang dia rencanakan kini membuatku mulai mencerna apa yang dia ucapkan. Beruntunglah, aku dapat dengan cepat memahami rencananya
"Wow, kau benar-benar memiliki pemahaman yang sangat tinggi. Itu membuatku semakin suka denganmu," ucapnya lagi yang mendadak semakin erat memeluk tubuhku, membuatku semakin malu. Sepertinya dia kembali membaca pikiranku.
Astaga, apa ini benar-benar seorang Dewi? Rasanya, sang Dewi Rubah dikatakan tenang seperti air, tetapi ini.... mungkin Ki Ageng tidak pernah melihat bagaimana dia bertingkah layaknya gadis manja.
"Sudahlah, jangan menggerutu begitu. Apa aku tidak tahu bahwa sesungguhnya aku masih berusia seribu tahun dan itu masih termasuk Dewi yang masih terlalu muda?" tanya dia yang membuatku bengong.
"Biasanya Dewi Rubah berumur puluhan Ribu tahun, loh!" ucapnya dengan nada manja, membuatku semakin ingin tertawa konyol.
Seribu tahun masih terbilang muda? Manusia yang berumur 50 tahun saja sudah terbilang tua, memang hal ini terdengar sangat gila. Namun, aku segera mengabaikan pikiran itu dan mulai fokus dengan rencana Sang Dewi Rubah.
"Sebenarnya aku ingin mengajarimu satu hal untukmu, mengingat kau kini adalah muridmu, namun apa yang kau lakukan sekarang telah membuatku terpaksa menunda ajaran untukmu. Benar-benar berfikiran cerdas, dengan datang kemari sendirian, tetapi terhubung melalui tekhnologi itu. Aku yakin temanmu kini merasa cemas karena koneksi terputus, oleh karena itu, kita harus kembali," ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Yah, aku memang harus kembali, namun izin kan aku mengambil senjata Keris Pangeraksa Jiwa," ucapku meminta izin.
"Baiklah, akan aku ambilkan untukmu, namun jangan pernah kau gunakan sekarang karena kau sangat lemah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments