Setelah mendengar kata-kata dukun tersebut, kami mulai merenung. Dewi Rubah? Dunia terhubung di hutan larangan? Semua ini terdengar sangat mistis dan sulit dipercaya, namun kami tidak punya banyak pilihan.
"Apa yang harus kami lakukan untuk menemui Dewi Rubah dan mendapatkan bantuan darinya?" tanyaku pada sang dukun.
Sang dukun malah menunjuk aku, sembari menjawab, "kau seharusnya tahu hal itu, karena kalian berdua telah terikat."
Semua orang sontak menoleh ke arahku dengan tanda tanya yang besar di otak mereka. Sang dukun juga terlihat mengeluarkan sesuatu dari kotaknya, dan itu hanyalah semacam kertas. "Kau adalah penghubung untuk meminta bantuan kepadanya. Aku juga dapat mengetahui bahwa kau telah bertemu dengannya sebanyak dua kali. Aku paham apa yang kau pikirkan, namun kau tidak bisa membohongiku, anak muda," ucapnya.
"Tunggu! Aku tidak memiliki ikatan dengan Dewi Rubah, Hanya saja Sosok siluman Rubah putih mengaku terikat denganku" ucapku.
"Sungguh lancang, kau anak muda, berani sekali menyebut sang dewi Rubah Suci yang merupakan pemuja dewi kesuburan dan kemakmuran dengan sebutan siluman!" ucapnya marah lalu segera berdiri dan melayangkan tapak tangannya, membuat aku langsung terkejut dan ketakutan. "Aku, Ki Ageng Dharma Pasek, menghukum kau akibat kelancanganmu menghina dewi ini!"
Aku langsung meringsut ke lantai, melihat dia mulai menyerangku. Situasi ini semakin rumit. Ki Ageng Dharma Pasek sangat marah dan aku harus menemukan cara untuk menjelaskan kebingungan ini.
"Ampun, Ki Ageng Dharma Pasek. Saya tidak bermaksud menyinggung atau mencela. Sosok yang saya sebutkan adalah sosok gadis Rubah berekor sembilan, dan aku tidak tahu kalau dia itu ternyata adalah Sang Dewi. Maafkan aku!" ucapku dengan hati-hati, mencoba meredakan kemarahannya.
Itu tidak bekerja! Sekarang, aku hanya bisa menerima pukulannya dan berharap masih hidup dan sehat walafiat. Akan tetapi, keajaiban datang. Sebelum dia berhasil berhasil, entah energi darimana asalnya, itu menghempaskannya dan membuatnya membentur tembok. "Apa yang terjadi?" tanyaku terheran.
"Bro, elu diselimuti cahaya putih," jawab David yang membuatku segera menatap tubuhku sendiri.
"Anak muda, tubuhmu terselubung kekuatan putih, memungkinkanmu bertahan dari serangan langsung. Namun, itu adalah kekuatan langsung dari Dewi Rubah. Alangkah beruntung sekali dirimu," ucap Ki Ageng Dharma Pasek sambil menggosok kepalanya yang terasa sakit.
Aku merasa aneh dengan apa yang dia katakan. Bagaimana dia bisa melihat sesuatu seperti itu? Tapi kemudian, aku menyadari bahwa aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari dukun ini.
"Baiklah, aku akui bahwa aku bertemu dengan sosok Rubah putih dan dia mengaku terikat denganku. Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi," ucapku jujur.
"Beliau adalah Dewi Rubah, sang dewi yang selalu diutus untuk mengatasi siluman di muka bumi dan menyeret mereka agar kembali ke dunianya. Namun, akhir-akhir ini, para siluman dibantu oleh makhluk gelap untuk membebaskan diri dari dunianya dan memulai melakukan pengacauan di dunia manusia."
"Meskipun dia sangat luar biasa, namun pada dasarnya, dia selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk membantunya. Untuk mencari orang itu, dia akan melakukan serangkaian ujian. Kau tudak sengaja masuk ke dalam sana, dan au lulus dari ujian tersebut. Dengan alasan itulah, kau terikat dengannya."
"Sepertinya, sang dewi menaruh harapan besar kepadamu, sampai dia menempatkan Ajian pelindung tolakan suci pada tubuhmu. Oleh karena itulah, sepertinya aku juga telah bersikap lancang kepadanya karena telah mencoba membunuh kepercayaannya."
Ki Ageng Dharma Pasek memandangku dengan tatapan yang penuh makna. Aku mencoba memahami betapa rumitnya situasi ini. Dewi Rubah, kekuatan putih, ajian pelindung—semua ini terasa seperti masalah yang tak pernah kuimpikan.
"Sang dewi telah menempatkan kepercayaannya padamu, anak muda. Ini adalah tanggung jawab besar," ucap Ki Ageng Dharma Pasek dengan serius. "Ikutilah petunjuk maupun ajarannya. Dengan ini, kau dan sang dewi berhasil menjalankan tugas ini "
"Ini adalah potongan dari kitab langit yang diturunkan oleh sang Dewi Rubah untuk dipelajari oleh orang yang dia ikat. Dulu, aku mendapatkan keberuntungan itu, sayangnya aku terlalu naif sampai akhirnya sang dewi memutus ikatan kami. Hanya ini yang dia tinggalkan untukku dan sekarang, aku sudah menguasainya. Sekarang, ini giliranmu untuk mempelajarinya karena kau memiliki ikatan dengan Dewi Rubah," ucapnya sambil menyerahkan kertas itu.
"Potongan dari kitab langit?" tanyaku begitu bingung.
"Tidak perlu bingung, cukup temui saja sang Dewi dan minta beliau untuk mengajarimu. Satu hal lagi, sang dewi memang cantik, namun jangan sesekali kau menginginkannya, sebab itu hanya akan membuat sang Dewi Rubah melepaskan ikatan denganmu. Lagipula, perasaan yang timbul itu hanyalah karena kau terpana oleh keluarbiasaan beliau. Jadi, jangan kau ikuti jejakku jika kau masih ingin melayaninya," ujarnya.
Setelah mendengar penjelasan dari Ki Ageng Dharma Pasek, aku semakin merasa terbebani dengan tanggung jawab yang ada di pundakku. Dewi Rubah, kekuatan putih, dan sekarang kitab langit—semuanya menjadi bagian dari petualangan dan ujian yang harus aku hadapi.
"Terima kasih, Ki Ageng Dharma Pasek, atas penjelasannya dan pelajaran yang diberikan. Saya akan mencoba memahami dan menjalani tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya," ucapku dengan penuh rasa hormat.
Ki Ageng Dharma Pasek tersenyum, "Jadilah pribadi yang bijak dan teguh, anak muda. Semoga kau berhasil melewati ujian ini dan membantu Dewi Rubah menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia siluman. Titip juga salam hormatku kepada beliau "
Dengan itu, aku akhirnya kembali dari Rumah milik orang yang katanya merupakan seorang dukun ternyata ilmunya diajarkan langsung oleh dewi Rubah, bersama teman-temanku, yang masih memandangku dengan campuran antara penasaran dan keterkejutan. Aku menghela nafas pelan, akhirnya menceritakan semua yang terjadi kepada temanku tanpa aku tutup-tutupi."...kek gitu kejadian aslinya,"
"Sialan elu, bro! Kenapa ga cerita dari awal aja, sih?" tanya David merasa kesal.
"Lupain soal itu deh. Sekarang kita harus ngapain? Ini sudah pukul 3 sore, mungkin untuk pergi ke Kuburan Cina, rasanya memakan waktu sejam, sepertinya masih sempat," tanya Dian.
"Enggak, ini sudah sore, pencarian dilakukan besok aja. Kita engga tau sejauh apa lokasi yang Ki Ageng sebutkan, namun biasanya itu jauh di dalam hutan," ucapku. "Takutnya keburu malam, maka akan semakin membahayakan kita."
"Lalu selanjutnya gimana, bro? Apa kita perlu ke hutan larangan?" tanya Seno, sontak membuatku tidak setuju.
"Ga perlu! Kalian ga ada hubungannya dengan sang Dewi, lagian sangat bahaya untuk masuk kesitu," ucapku.
"Terus, elu tau cara manggil sang Dewi buat bantu elu?" tanya Wijaya.
Aku terdiam. Memang, tidak ada cara yang dapat aku pikirkan untuk hal itu, namun aku merasa pergi bersama temanku mengundang resiko kehilangan sahabat juga, mengingat betapa menyeramkan hutan larangan itu.
"Kesampingkan itu dulu. Fokus pertama kita cuma buat pastiin apa si Rangga masih idup atau sudah mati. Soal meminta bantuan Dewi Rubah, biar gue yang urus," jawabku pada akhirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments