Aku mengarahkan pandangan teman-temanku pada layar HP Wijaya. Terlihat sebuah siluet atau bayangan yang tidak jelas muncul di tengah-tengah rekaman, di tengah-tengah jalanan itu. Bayangan itu seperti sosok yang mencolok dari lingkungan sekitarnya.
Seno dengan ekspresi heran berkata, "Nah lo, itu apa, bro? Kok gue gak sadar ada sesuatu di situ?"
Wijaya memperbesar gambar tersebut, dan kami semua mencoba memahami apa yang terlihat. Bayangan itu terlalu kabur dan samar untuk bisa diidentifikasi dengan jelas.
"Apa itu hantu atau sejenisnya ya?" Rio berspekulasi.
Aku memfokuskan pikiranku untuk mencari jawaban, "Bukan hantu, sepertinya. Itu lebih seperti sesuatu yang tidak biasa, mungkin terkait dengan kejadian-kejadian aneh yang terjadi belakangan ini."
"Jadi, ada makhluk atau sesuatu yang terlibat dalam kejadian ini?" tanya David dengan nada serius.
Aku merenung sejenak, "Mungkin. Kita harus mencari tahu lebih lanjut dan hati-hati. Ini bisa menjadi petunjuk untuk menyelesaikan misteri yang semakin rumit."
Wijaya mengungkapkan kebingungannya, "Gue gak nyangka bakal ada sesuatu di rekaman gue. Gue gak sadar waktu itu."
"Putar lagi, lalu perhatikan bayangan ini baik-baik," ucapku kembali kepada Wijaya untuk memutar rekamannya.
Sementara kami terpaku menyaksikan rekaman tersebut, terlihat bahwa saat bayangan muncul, kabut tiba-tiba menyelimuti sekitarnya. Setelah bayangan tersebut muncul, kabut yang seolah-olah muncul dari keberadaannya sendiri menyelimuti lingkungan di sekitarnya. Sebuah kesimpulan, bayangan ini menjadi penyebab utama kemunculan kabut. Aku segera menekan pause.
"Ternyata Kabut itu ulah dia?" jerit Wijaya dengan nafas tertahan.
Aku mengangguk membenarkan, "Sepertinya benar. Bayangan ini terkait dengan munculnya kabut yang membuat semua menjadi samar dan akhirnya menyebabkan mereka hilang dari rekaman. Kita perlu mencari tahu lebih lanjut tentang asal-usul dan sifat bayangan ini."
Seno menunjukkan ketidakyakinannya, "Tapi apa hubungannya dengan kehilangan Rangga di Kuburan Cina?"
Aku berpikir sejenak, "Mungkin bayangan ini memiliki kemampuan untuk menciptakan kondisi tertentu, seperti kabut, yang kemudian digunakannya untuk menyembunyikan atau menghilangkan sesuatu. Kita perlu mencari tahu maksud dan tujuannya."
Wijaya yang masih terkejut berkomentar, "Jadi, dia sengaja membuat kabut untuk menyembunyikan mereka? Untuk apa?"
"Jangan pikirkan itu. Coba kita lihat pada satu detik setelah kabut ilang, coba perhatikan baik-baik. Aku sempat liat sesuatu tadi secara tidak jelas," ucapku sambil memutar kembali rekaman itu.
Di dalam rekaman, begitu kabut hilang, perlihatkan sesuatu yang sangat jelas dan menyeramkan. Seekor laba-laba besar! Aku segera memencet pause sekali lagi.
Sesosok laba-laba besar yang muncul di tengah-tengah jalanan kini terlihat Ukurannya begitu mencolok dan menakutkan, memberikan kesan bahwa makhluk ini bukanlah laba-laba biasa. Bahkan laba-laba itu berlari dengan sangat cepat tadi.
"Bro, itu apa?" ucap Wijaya dengan ekspresi kaget.
"Lah, elu ga liat kemarin malam? Kan elu di di tempat kejadian?" tanyaku terheran.
"Kaga, bro. Sumpah! Pas itu, aku celingak-celinguk ke kiri dan kanan ga nemu apapun, lalu terpaksa tancap gas ketika sadar bahwa gue sendirian," jawab Wijaya.
Seno melihatnya dengan cermat, "Ini bukan laba-laba biasa. Ukurannya... gak masuk akal."
Aku mengerutkan kening, lalu menatap ke arah Ponsel, terlihat jelas sosok Laba-laba itu. Padahal aku fokus ke hal lainnya, dimana terlihat sesuatu yang benar-benar dapat menjawab pertanyaan di benakku.
Aku tentu tidak terlalu memperhatikan Laba-laba itu, karena yang jadi fokus aku adalah makhluk bersayap yang kelihatan jelas bawa orang di sana. "Lah, kalian malah liat laba-laba, ga liat ini apa?" tanyaku sambil menunjuk sesuatu yang membuat semua orang langsung membeku.
"Vampir membawa teman kita," jawab Wijaya yang. hampir tidak bersuara.
"Elu tau darimana bahwa ini adalah vampir? Bisa jadi makhluk lainnya, mungkin Siluman kelelawar atau sebagainya," jawabku. "Tidak heran kita merasa merinding tadi saat berada di kuburan Cina."
Wijaya menggigit bibirnya dengan ekspresi khawatir, "Aku baca beberapa cerita mistis yang menyebutkan bahwa vampir atau makhluk serupa bisa membawa orang ke tempat terpencil untuk tujuan tertentu. Tapi aku gak pernah mikir bakal nemuin bukti kayak gini."
Seno menambahkan, "Jadi, dia membawa Rangga ke mana? Dan apa hubungannya dengan laba-laba tadi?"
"Bukan itu yang pantas untuk kita tanyakan, bro. Sekarang, kita harus gimana?" tanyaku pada mereka.
"Ya, mau gimana lagi... kita cari dukun aja. Ga mungkin kita melawan mereka secara langsung, jadi harus membutuhkan bantuan. Sekalian buat ngusir siluman jahat yang ada di kompleks perumahan elu," ucap David memberikan ide, namun aku rasa itu terlalu berlebihan.
"Enggak-enggak. Fokus kita ke selamatkan Rangga dulu," ucapku. Entah mengapa, aku merasa hal buruk akan terjadi jika siluman itu marah.
****************************************
Siang hari, aku dan seluruh temanku kini tengah berada di rumah yang katanya dukun sakti. Hanya saja, rumah ini terlalu... sulit untuk aku jelaskan secara kata-kata.
"Ini beneran rumahnya?" tanyaku kepada teman-temanku.
"Ini memang rumahnya, bro. Katanya sih dukun ini cukup terkenal dan punya kemampuan yang luar biasa," tambah Wijaya dengan nada agak khawatir.
Aku melirik sekeliling, mencermati detail rumah ini yang terlihat begitu mistis. Tiba-tiba, pintu rumah terbuka sendiri, mengundang kami masuk ke dalam.
"Sepertinya dia sudah tahu kita datang," ucap David sambil melangkah masuk.
Kami diterima oleh seorang pria tua berjubah, dengan tatapan mata yang dalam. "Kalian mencari bantuan," ucapnya tanpa perlu kami memberitahu.
Aku mengangguk, "Ya, kami punya masalah dengan makhluk-makhluk aneh yang muncul di kompleks perumahan kami, dan teman kami diculik oleh sesuatu yang tak terlihat."
Dukun itu mengangguk paham, "Makhluk tak terlihat dan penculikan. Masalah yang serius. Mari, duduklah."
Kami pun duduk di dalam rumahnya yang penuh dengan barang-barang mistis. Dukun itu kemudian menyalakan dupa dan mulai memejamkan mata.
Keheningan mulai melanda di rumah ini, bahkan burung gagak yang dukun itu pelihara pun malah berbunyi. Sesaat kemudian, dia membuka mata dan menghela nafasnya.
"Aku melihat kehadiran makhluk-makhluk yang kalian bicarakan. Ada kekuatan yang lebih besar yang mengendalikannya. Jika penerawanganku tidak salah, itu ulah siluman Kelelawar dan siluman Laba-laba. Kedua siluman itu konon berasal dari dunia lain yang terhubung ke hutan terlarang, bermaksud mencari darah dan jiwa manusia sebagai santapannya. Jika aku tidak salah tebak, temanmu sudah meninggal," ucapnya yang membuat kami seperti tersambar petir.
"Rangga... meninggal?" tanyaku terbata-bata.
"Itu sangat besar kemungkinan, mengingat kedua Siluman itu berkarakteristik sangat rakus dan tidak sabaran," jawab sang dukun yang membuat tangis kami pecah.
"Itu tidak mungkin!" teriakku frustasi. Rangga adalah teman kami, bahkan sebelum geng ini dibentuk, kami telah bersumpah untuk saling menjaga satu sama lain sampai Geng ini dibubarkan. Namun kini Rangga telah ditebak sudah mati, tentu membuat kami merasa sangat sedih.
"Yah, mungkin saja. Akan tetapi, cobalah menyusuri Hutan di sebelah barat Kuburan Cina. Lakukanlah di siang hari karena biasanya mereka tengah bersembunyi dari sinar matahari yang menjadi kelemahan alaminya. Selain itu, sangat berbahaya untuk melakukannya di malam hari. Di sanalah sisa-sisa korban mereka. Jika temanmu itu tidak ditemukan, itu berarti dia masih hidup."
Kami semua terdiam sejenak, meresapi berita yang sulit dipercaya. Namun, semangat untuk menyelamatkan Rangga masih membara di dalam hati kami.
"Apa yang harus kami lakukan untuk melawan siluman Kelelawar dan Laba-laba itu?" tanya David dengan nada penuh tekad.
"Jangan terlalu impulsif, anak muda. Meskipun kau dibekali senjata dewa, jika jiwaku sangat lemah, aku tidak akan pernah berhasil. Tekadnya itu memang kuat, namun kau tidak memiliki sesuatu apapun yang membuat kau dapat mengalahkannya. Tetapi, masih ada satu harapan," ucap sang dukun sambil menatap mataku begitu intens.
"Dewi Rubah bisa melakukan itu untuk kalian, hanya saja dia bersembunyi di dunianya yang terhubung di hutan larangan dan ada kemungkinan, dia sudah ada di dunia ini," lanjut sang dukun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments