Dalam keadaan gelap gulita, aku mencoba menjelaskan pada teman-teman, "Ini bukan rencana kita, dia muncul begitu saja," ucapku dengan nada cemas.
Teman-teman yang sebelumnya asyik bermain PS, kini merasakan ketegangan yang menguasai ruangan. "Gue rasa kita harus segera keluar dari sini," ujar Seno dengan suara gemetar.
Namun, selanjutnya malah tidak terdengar suara apapun lagi, seolah semuanya telah dibungkam, membuatku bingung sekaligus takut.
Situasi semakin tegang, dan perasaan ketidakpastian kembali menyelimuti. Aku segera mengambil Ponselku dan menghidupkan senter, lalu aku mendapati bahwa temanku semuanya malah tertidur pulas begitu cepat!
Lampu mendadak menyala kembali, dan terlihat mereka semua tengah tertidur lelap. Ini sangat tidak normal, melihat bagaimana tadi mereka terlihat energik, kini malah tertidur pulas seperti kelelahan.
Mendadak, tubuhku dipeluk dari belakang, yang segera aku tahu siapa pelakunya. Nyaliku seketika menciut begitu sang pelaku menggerakkan ekornya dan mengelus pipiku. Terasa seperti elusan kucing, namun dia adalah siluman yang membuatku ketakutan.
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku kepada gadis siluman ini, yang malah membuat Siluman ini semakin menjadi-jadi dalam memeluknya.
"Jangan khawatir, Putra. Aku hanya ingin memberimu kenyamanan. Aku lihat dari kondisi fisikmu, sepertinya kau adalah lelaki yang mudah mati muda. Apa kau tidak tahu kalau sering begadang ditambah telat makan akan membuat tubuhmu akan lelah dengan cepat?" ujar gadis siluman dengan suara lembut, tetapi aku bisa merasakan kekuatan dalam kata-katanya.
Meskipun merasa takut, aku mencoba mempertahankan ketenangan. "Aku tidak perlu bantuanmu. Kenapa kau muncul tanpa pemberitahuan dan mengacaukan hidupku?"
"Hmm... Aku tidak suka kau menolak bantuan dariku. Jadi, aku akan memaksamu!" Tubuhku langsung dibopong begitu mudah olehnya, dan bagaimanapun aku meronta, aku tidak akan bisa lepas darinya.
"Lepaskan aku!" teriaknya menjerit saat melihat bagaimana dia dengan mudahnya membawaku keluar dari rumah ini.
"Akan aku lepaska kaun setelah kita tiba di hutan larangan!" ucapnya yang membuatku semakin ketakutan dan berusaha meronta, walaupun sia-sia saja.
Dalam keadaan tak berdaya, aku berusaha memahami situasi yang semakin rumit. Gadis rubah siluman ini tampaknya memiliki kekuatan yang sulit untuk ditandingi. Meskipun rasa takut melandaku, aku berusaha mempertahankan keberanian.
"Tolong, beri tahu aku apa yang kau inginkan. Kenapa kau harus membawaku ke tempat yang ingin aku jauhi?," ucapku dengan nada bercampur ketegangan.
"Sebenarnya aku akan memberikanmu pijatan di kaki dan jika aku melakukannya di rumahmu, mungkin saja temanmu akan segera terbangun akibat jeritanmu," jawabnya. "Tubuhmu bermasalah. Aku dapat melihat dengan jelas urat tubuhmu berposisi di tempat ysngbtudak seharusnya, jika dibiarkan akan merenggut umur kau sedikit demi sedikit."
Dalam keadaan tak berdaya, aku mencoba menenangkan diri sambil merenungkan kata-kata gadis rubah siluman. Meskipun cara dia menyampaikan kekhawatiran tentang kondisi fisikku terasa aneh, ada rasa kebaikan di balik kata-katanya.
"Aku tidak mengerti, mengapa kau peduli dengan kesehatanku?" tanyaku dengan kebingungan.
"Karena kau terikat denganku. Di suatu saat nanti, kau adalah tanganku untuk membantumu membereskan para siluman dan menariknya kembali dari hutan larangan," ucapnya yang akhirnya doa berhenti di dalam goa dan dia menurunkanku, namun dia segera mendorongku agar berbaring, lalu meraih kedua kakiku.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku ketakutan. Dia tidak akan mencabut kakiku, bukan?
Dia tersenyum, lalu mulai menekan telapak kakiku dengan jari tangannya. Entah mengapa, tubuhku langsung merespon dengan rasa sakit yang membuatku menjerit.
Rasa sakit menusuk memenuhi tubuhku, dan aku bergidik kesakitan. "Berhenti! Apa yang kau lakukan?" teriakku dengan putus asa.
"Ini hanyalah pijatan tradisional. Seharusnya pijatan ini tidak berpengaruh apa-apa pada kakimu jika dalam keadaan normal, namun sayangnya kondisimu tidak senormal itu. Tidak apa-apa, menjeritlah sekuat tenagamu karena tidak akan ada yang mendengarnya!" Dia terus memijat kakiku dan membuatku semakin menggelinjang karena kesakitan. Rasanya, tubuhku seperti terkena ribuan jarum oleh seseorang ahli tukang urut.
Di hutan larangan ini, aku terus menerus menjerit kesakitan hanya karena pijatannya itu. Aku sudah berupaya untuk melepaskan diri, namun dia mampu menahan tubuhku hanya dengan ekornya yang panjang itu. Hufft, sangat memalukan!
Sementara aku terus merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, gadis rubah siluman itu tetap tenang melakukan pijatan yang katanya "tradisional." Kesakitan membuatku semakin lemas, dan kebingungan tentang tujuannya masih menyelimuti pikiranku.
"Apakah kau yakin ini bermanfaat?" tanyaku dengan suara tertekan, mencoba mencari pemahaman tentang proses aneh ini.
"Sakit yang kau rasakan sekarang adalah akibat dari ketidakseimbangan energi dalam tubuhmu. Pijatan ini membantu memulihkan aliran energi yang terganggu," jawabnya tanpa melepaskan pegangan dari kakiku.
Meskipun penjelasannya masuk akal, cara yang dipilihnya sangat menyakitkan. Aku merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasanya seolah tubuhku diuji hingga batasnya
"Kau tahu, hanya dengan menekan bagian urat ini, jika kau menjerit, itu berarti kau kurang tidur," ucapnya sambil memencet bagian telapak kakiku, yang seketika membuatku kembali menjerit.
"Dan dengan menekan bagian ini, jika kau menjerit, itu berarti kau selalu terlambat makan," ucapnya lagi sambil menekan bagian lainnya yang semakin membuat kau merintih kesakitan sampai hampir membuatku ingin menangis!
Rasa sakit itu terus berlanjut, dan aku merasa seperti sedang menjalani penyiksaan fisik. Setiap penjelasan dan tindakan gadis rubah siluman semakin membuatku bingung, apakah ini benar-benar membantu atau hanya menciptakan lebih banyak pertanyaan.
"Kau mungkin merasa aneh sekarang, tetapi ini adalah bagian dari proses penyembuhan. Tubuhmu membutuhkan keseimbangan energi," ucapnya dengan suara yang tetap tenang meski aku berusaha menahan rasa sakit.
Sementara aku mencoba menerima proses aneh ini, gadis rubah siluman tampak fokus pada tugasnya. Anehnya, rasa sakit mulai berkurang secara perlahan, dan tubuhku terasa lebih ringan.
"Rasakan perbedaannya. Ini adalah energi yang kau butuhkan untuk menghadapi takdir yang menantimu," kata gadis rubah sambil berucap, "ah, inilah sumber masalahnya. Mati kau!"
Dia menekan salah satu titik uratku, dan gelombang rasa sakit yang sangat kuat langsung menyerang ke tubuhku, membuat tubuhku semakin bergetar menahan rasa sakit.
Perlahan tapi pasti, rasa sakit itu mulai mereda. Gadis rubah siluman itu menghentikan pijatan dan tersenyum, seolah berhasil mengatasi masalah yang ada di kakiku.
Tubuhku terasa lemah, namun gadis rubah siluman membiarkan rasa sakit itu berlalu. Dia kemudian berkata, "Kau akan merasa lebih baik sekarang. Lakukan istirahat yang cukup dan jangan lupa makan dengan teratur. Kesehatanmu akan menjadi kunci peranmu di masa depan. Sepertinya diharapkan, teriakanmu itu sangat keras dan itu membuatku sangat bersemangat tadi."
Gadis Rubah ini mulai meraih tubuhku yang lemah, lalu membawanya pergi dari hutan larangan dan kembali ke rumahku. "Lain kali, aku akan membantumu membuka Meridian tubuhmu. Jadi, persiapkan dirimu, oke?" ucapnya dengan nada manja yang hanya bisa aku respon dengan mengangguk begitu lemah. Tubuhku ini terasa terlalu lemas hampir pada batasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments