*
*
Keesokan harinya, Karina bangun sebelum langit terang. Menatap Serena yang tertidur nyenyak, kemudian beranjak dari dipan setelah mengusap kepalanya sekali.
Ia bergerak sepelan mungkin, dan lebih pagi dari waktu ia bangun terakhir kali untuk berburu, yang mana Deraga mengikutinya saat itu.
Bangun lebih pagi agar ia bisa menyelesaikan urusan rumah lebih awal, dan lebih cepat pergi ke gunung, tidak diikuti Deraga adalah tujuan utamanya. Karena kali ini, ia berniat masuk lebih dalam, berniat memburu beberapa hewan besar seperti rusa yang di dapatkannya tempo waktu secara beruntung.
Resiko masuk lebih dalam ke gunung lebih besar, ditakutkan Karina bertemu hewan buas. Jadi ia sengaja akan pergi diam-diam. Karena jika membawa Deraga, jika ia menemui bahaya saat waktunya, ia tidak yakin bisa melindungi dirinya seraya melindungi Deraga.
Jadi, ketika Karina menyelesaikan masakan dan menyiapkan kebutuhan suami pemilik asli, ia pergi secepat kilat meninggalkan rumah seraya membawa keranjang punggung, dan panahan baru miliknya. Tidak lupa, pisau, air dan makanan secukupnya untuk mengisi perut.
Di sisi lain, Deraga dan dua adiknya sebetulnya tidur dengan sangat lelap. Mungkin karena ketiganya kelelahan bekerja kemarin. Memasak, membersihkan rumah, menanam, dan menyiram. Ganika bahkan ikut pergi ke kota. Jadi, kecemasan Karina sebetulnya tidak akan terjadi, karena ketiganya bangun lebih siang hari ini.
Tapi begitu ketiganya bangun, dan ketiganya tidak menemukan Karina di rumah, suasana di rumah menjadi tidak nyaman. Ganika dan Serena jelas ingin bertemu Karina. Deraga sendiri hanya bisa mengeluh dan berdecak, sudah menebak dalam pikirannya jika ia pasti pergi berburu tanpa membawa dirinya.
Deraga tahu Karina kehabisan uang, karena selain membeli benih, ia membawa pulang 4 senjata baru kemarin. Dan Deraga tahu, harga ke empat senjata tersebut menghabiskan semua uang yang dipegang Karina, berkat informasi dari Ganika yang mengikutinya ke kota.
"Ibu pergi? Bukankah dia bilang akan mengajari kita bela diri pagi ini?" Tanya Ganika, lebih ke bergumam pada dirinya sendiri, karena ia tahu, Karina belum membicarakannya pada kakak dan adiknya.
Mungkin lupa, karena kesibukan kemarin mengharuskan semuanya bekerja sampai gelap.
Deraga menatap semuanya sudah selesai, dan menghela nafas,"Ayo makan dulu. Ibu tiri pergi ke gunung, berburu." Balas Deraga, mengajak dua adiknya ke meja yang sudah tertata banyak masakan di atasnya. "Setelah makan, Ganika bantu aku mengurus ayah, lalu kita semua akan menyiram tanaman dan memberi makan hewan peliharaan di halaman belakang." Lanjut Deraga kemudian duduk lebih dulu.
Ganika dan Serena mengikuti, setelahnya menganggukkan kepala tanpa banyak bicara. Ketiganya pun makan dalam diam.
Setelah beberapa saat, Serena di biarkan pergi lebih dulu ke halaman belakang untuk memberi makan kelinci dan rusa lebih dulu. Karena sebelumnya ia terbiasa memberi makan sendirian, jadi Deraga juga tidak terlalu khawatir membiarkannya sendiri.
Dan Ganika serta Deraga mulai memberi makan ayahnya, tidak lupa meminumkan obat. Untuk luka di kaki, karena sudah mengering dan tinggal diolesi salep, alhasil keduanya juga sekalian mengoleskannya setelah membersihkan badan ayahnya bersama-sama.
*
Di sisi lain, Karina sudah lama memasuki gunung, sedikit lebih dalam dari biasanya, dan masih terus berjalan, di sepanjang perjalanan, ada beberapa kelinci dan ayam pegar, yang tentu saja tidak ia lewatkan begitu saja. Sekalian diburu dan dimasukkan ke keranjang punggung setelah mendapatkannya.
Sampai ia menghentikan langkahnya setelah mendengar raungan keras tidak jauh dari tempatnya, segera membuatnya terdiam dengan tatapan waspada, mengintai ke segala penjuru.
Tetapi karena tidak kunjung menemukannya, akhirnya ia nekat naik ke atas pohon untuk melihat, agar lebih jelas, karena ada beberapa tempat dengan rumput tinggi di sekitarnya.
Dan pada akhirnya, Karina melihatnya. Tepat di dalam rumput tinggi di sisi kanan, sedikit jauh dari posisinya. Ada seekor harimau dan serigala yang saling menatap dengan tatapan ganasnya. Keduanya hanya berjarak beberapa langkah, dengan kondisi masing-masing yang terlihat tidak cukup bagus.
Harimau terluka di bagian perut kiri, terlihat dari adanya darah yang masih menetes dari bekas cakaran disana. Mungkin auman barusan berasal dari harimau tersebut, yang mana baru saja mendapat luka dari serigala.
Karina diam dan tidak bergerak, tidak ingin membuatnya dalam bahaya, kalau-kalau dua hewan buas disana mengetahui keberadaannya. Karina bahkan berniat memburu rusa bukan dua hewan buas tersebut, ia sendiri tidak yakin bisa mengalahkan keduanya.
Kalau hanya satu, dan harimau, Karina sedikit percaya diri dapat membuatnya terluka parah, tetapi jika dua, ia menyerah di awal. Bahkan serigala, ia paling takut, karena hewan tersebut suka berkelompok.
Nyatanya, saat ini hanya ada satu serigala, Karina tidak tahu, dan tidak mau tahu, yang terpenting adalah bersembunyi lebih dulu sampai keduanya pergi. Atau bisa saja keduanya sama-sama terluka parah, dan Karina bisa memburunya, itupun jika keberuntungannya bagus.
Kembali ke dua hewan buas, keduanya kembali mendekat dan mulai bertarung dengan kuat. Karina menahan nafas melihat pertarungan sengit dari atas pohon.
Sampai akhirnya, harimau lah yang menang, serigala mendapat luka yang sangat parah dan tergeletak di atas tanah tidak bergerak. Mungkin mati. Di sisi Harimau juga tidak begitu bagus, tetapi harimau masih bisa berdiri tegap meski mengaum kesakitan.
"Ular!"
Bruk!
Setelah memekik terkejut karena tiba-tiba di hadapan wajahnya ada ular, Karina akhirnya terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup keras.
ROARGGH!
"Sial! Tidak mungkin akan menghampiriku, bukan?" Tanya Karina sedikit gugup, dmtaoi disisi lain juga bersemangat.
Mengingat Harimau terluka parah, ia akan mendapatkan kesempatan memburunya secara akurat, kan?
Roarrgh! Brak!
Auman kembali terdengar, dan terpampanglah harimau di hadapan Karina yang masih terduduk. Karina memekik terkejut, karena harimau tersebut melompat keluar dari rumput tinggi dan langsung berada tepat di depannya. Ada sedikit jarak, tetapi untuk ukuran harimau, terlihat lebih dekat.
"Sialan! Aku belum siap!" Pekik Karina, seraya mencoba berdiri tetapi ia kembali terjatuh. "Sialan! Kenapa disaat seperti ini?!" Pekiknya lagi dengan marah. Kepercayaan dirinya menghilang seketika. Tetapi ia tetap mengeluarkan busur dan panah, serta menyimpan pisau di samping. Sedangkan keranjang punggung masih berada di atas pohon, karena sebelumnya Karina lepas dan simpan disana.
Harimau menatap Karina dengan ganas, dan Karina sendiri merutuki kebodohannya. Ia juga bersiap dengan busur dan anak panah yang siap ditembakkan kapanpun ia mau.
Sebelum Harimau maju lebih dekat, Karina melepaskan anak panah, berturut-turut, sebanyak dua kali. Mengenai kaki kanan dan kaki kirinya.
ROARRGH!
Harimau mengaum kesakitan, dan menatap Karina dengan tatapan yang semakin ganas, marah pada Karina yang menyakitinya.
"Sial, kau sudah terluka parah, kenapa tidak tumbang?!" Pekik Karina marah. Sedetik kemudian, Harimau melompat dan menerkam Karina.
"AH!"
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments