*
*
"Disana!"
"Sial! Blue, masa pakai Pixie dust sudah habis. Cepat berikan aku Pixie dust lagi! Mereka hampir mengejarku!" Pekik Karina dengan keringat di sekujur tubuh.
Ia berhasil melarikan diri dari penjara. Tapi setelah sedikit jauh berlari dalam keadaan hilang, akhirnya orang-orang yang menjaga penjara sadar dan menemukan Karina tidak ada di dalam penjara.
Kemudian semua tentara dikerahkan di seluruh ibukota. Dan Karina yang memang belum keluar dari ibukota malah langsung ketahuan ketika bubuk Pixie Dust milik Blue hilang, karena saking banyaknya orang yang mencarinya.
"Nona! Pixie Dust ku tidak ada lagi. Tadi sudah dipakai untuk beberapa penjaga di penjara. Yang terakhir adalah untukmu. Dan ada waktu untuk menampung Pixie Dust lagi. Itu dalam 6 jam!" Jelas Blue yang terbang dengan raut cemas di samping Karina yang berlari dengan raut tegang.
Mengumpat dalam hati, ia tidak banyak bertanya lagi dan terus berlari dengan perasaan gelisah dan cemas yang tinggi. Ingin menangis meratapi nasib pun rasanya sulit.
"Sistem! Cari barang yang berguna, tolong, Blue." Ucap Karina tiba-tiba teringat. Karena selain Blue, ada Sistem juga yang datang bersama dengannya untuk membantu Karina.
"Oh benar, ada bubuk Pixie juga di sistem. Tapi, nona, harganya 3 kali lipat dari harga gergaji tadi. Juga, isinya hanya sedikit. Kau yakin mau membelinya?" Tanya Blue.
"Beli saja! Nanti aku bayar ketika mendapat poin. Di depan ada kereta yang melaju. Mari naik kesana dan bersembunyi untuk sementara waktu. Selagi menunggu bubuk Pixie bekerja." Ucap Karina dengan nafas terengah.
Begitu sampai di depan kereta, ia akhirnya menetralkan nafas terengahnya. Tidak ada suara apapun selain suara nafas Karina. Tengah malam, ibukota sepi, tapi tidak benar-benar sepi karena para tentara sedang mencarinya.
Sudah 3 jam sejak dirinya melarikan diri dari penjara. "Bergerak cepat. Kita harus menuju gerbang ibukota agar bisa keluar dari ibukota." Bisik Karina susah payah. Ia kelelahan.
"Pakai bubuk Pixie nya lebih dulu, nona. Mari gunakan kereta ini. Aku akan mengendalikannya. Biarkan orang lain mengira ini kereta berhantu. Yang terpenting kita sampai ke gerbang ibukota." Ucap Blue.
Kemudian kereta melaju di tengah heningnya malam. Tapi kereta tetap kereta, suaranya sedikit kencang dan menarik perhatian beberapa tentara. Membuat Blue mempercepat laju keretanya.
Sampai akhirnya, kereta hampir sampai di gerbang, tapi tentara sudah menghadang. Membuat Blue menghentikan keretanya.
"Nona turun, mari lari ke gerbang. Aku akan membuka paksa gerbangnya." Pekik Blue. Pada Karina yang sudah dalam keadaan tak terlihat.
Melihat Blue kesulitan, Karina pun mau tak mau menjadi sangat ketakutan, sampai air mata menetes dari matanya. Tapi ia menahan diri, meski gelisah dan cemas, juga gugup, ia tetap dengan patuh mengikuti instruksi Blue yang berusaha menyelamatkannya.
Gerbang akhirnya terbuka, para tentara yang berjaga seketika termundur, terkejut karena gerbang tiba-tiba terbuka sendiri. Sedetik kemudian, para penjaga gerbang memekik dan mendekati gerbang untuk kembali menutup gerbang dengan cepat.
Karina berhasil keluar bersama Blue, keduanya kemudian kembali berlari. Tapi bubuk Pixie yang dibelinya sangat sedikit. Sudah satu jam setengah sejak ia memakainya. Ketika hampir mencapai ujung hutan di luar ibukota, Karina kembali terlihat.
"OH TIDAK, DIA TIBA-TIBA DI LUAR IBUKOTA! DI SANA! UJUNG JALAN!"
Teriakan nyaring tentara yang berada di atas benteng membuat para penjaga dan tentara lain yang sedang mencari dan menutup gerbang seketika teralih perhatiannya.
"BUKA GERBANGNYA!"
Sejak itu, Karina kembali berlari dengan susah payah. Berlari sekuat tenaga menghindari kejaran tentara. Setelah satu jam berlari kencang, Karina semakin lama semakin kesulitan melihat jalanan yang gelap. Cahaya Blue juga memudar karena kekuatannya terkuras.
"BLUE! KENAPA KAU MEMASUKKANKU KE TUBUH BURONAN BESAR INI?! ARGH, SIALAN!" Teriak Karina emosi dengan keringat bercucuran. Lelah, dan gelap.
Karina kesulitan melihat jalan sampai tidak sadar ada batu di depannya. Tersandung dan berguling. Sialnya, Karina mengarah ke arah tebing. Membuatnya terjun, berguling, dan terbentur beberapa kali. Di sisi lain, Blue berusaha menyelamatkan Karina. Ia mengerahkan kekuatan terakhirnya, membungkus jiwa Karina dengan cahaya agar jiwanya tidak ikut menghilang. Karena blue bisa memastikan, tubuh yang baru saja dihuni Karina tidak akan bisa ditempati lagi setelah ini.
"B-blue... sa-akit, s-sakit sekali..." Lirih Karina dengan kepala berdarah dan sekujur tubuh penuh luka.
Dengan lemah menatap Blue yang semakin meredup. Tangannya dengan lemah berusaha meraih Blue yang juga tergeletak tak jauh darinya.
*
"Hah... Hah..."
Karina terbangun dengan rasa sakit di kepala. Sekujur tubuhnya berkeringat. Jantungnya berdebar keras. Gelisah, gugup, dan cemas.
"Oh tidak! Ibu tiri bangun lagi! Cepat, cepat panggil kakak Deraga untuk mengatasinya." Pekik seorang bocah laki-laki berusia sekitar 5 tahun. "Oh tidak, aku lupa, Serena! Cepat ikut, kita sembunyi, jangan sampai dipukuli lagi olehnya." Pekiknya lagi seraya menarik adik perempuannya ke arah kamar, menutup pintu dan langsung bersembunyi di kolong dipan.
"Serena takut, kakak Ganika" Bisik Serena pada Ganika, bocah yang membawa adiknya bersembunyi.
"Tidak apa-apa, peluk kakak saja." Balas Ganika dengan perasaan gelisah.
Di sisi lain, orang yang ditakuti keduanya, kini sedang memegangi kepalanya yang sakit. Ada darah kering bekas pemukulan di kepalanya.
"Ugh, sial! Sakit, apa yang terjadi? Bukankah aku jatuh dari tebing? Dimana ini?" Gumamnya. "Lalu apa tadi? Ibu tiri? Aku?!" Tanyanya pada dirinya sendiri. "Blue! Dimana Blue?" Bisiknya kemudian kepalanya semakin sakit, dan ingatan dari pemilik tubuh perlahan berputar di kepalanya. Karena tidak kuat dengan rasa sakitnya, Akhirnya Karina kembali tak sadarkan diri.
"Serena, kemarilah, ibu tiri mungkin benar-benar mati kali ini. Lihat, dia tidak sadarkan diri lagi. Kita akan bebas ke depannya, bukan?" Ucap Ganika dengan senyum senang di wajahnya.
Serena berlari dengan kaki kecilnya, menghampiri Ganika yang tersenyum menunjuk ke arah dimana seorang wanita tergeletak di tanah.
"Benarkah, kakak?" Tanya Serena Dengan dua mata bulat yang bersinar.
Ganika mengangguk dengan semangat. "Mari tunggu Kak Deraga dulu, agar kita bisa membuangnya dari rumah. Dan mari urus Ayah dengan baik setelah ini." Ucap Ganika. Mengingat Ayahnya, seketika air mata turun dari kedua matanya.
Ayahnya sudah koma sejak saat dinikahkan dengan ibu tirinya. Sudah 3 tahun, dan keadaannya semakin memburuk, karena meskipun ada orang dewasa di rumah, ia hanya tahu memukuli anak-anaknya. Mengabaikan orang sakit sendirian.
Terlebih, karena keluarganya dari luar, orang-orang di desa bahkan mengucilkan keluarganya. Membuat ibu tiri semakin membenci hidup suami dan anaknya karena ia merasa, sejak ia dinikahkan hidupnya semakin hancur.
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Aaron
lanjut
2024-01-03
2
mira asmara yanti
semangat author jangan lupa mampir juga ya di cerita ku
2023-12-27
1