*
*
Karina menyimpan barang bawaannya satu persatu. Sebelum mengurus semuanya, ia kemudian mendekati Serena dan mensejajarkan tingginya dengan Serena.
"Siapa yang menyakitimu, hm? Katakan padaku, aku akan memukulnya untukmu." Ucap Karina dengan tangan mengusap kepala Serena lembut.
Bukannya mengadu, Serena kemudian tertawa kecil. Mungkin karena merasa lucu, sebab orang yang membuatnya menangis adalah orang yang berada di depannya, yang berkata akan memukul.
Apakah maksudnya ibu tirinya akan memukul dirinya sendiri? Bagaimana itu bisa?
Akhirnya Serena menggelengkan kepalanya. "Aku merindukan ibu." Bisik Serena kemudian melompat ke dalam pelukan Karina, membuat Karina hampir terjungkal ke belakang karena tidak siap menerima pelukan yang tiba-tiba.
Karina menghela nafas, kemudian memeluk Serena. "Aku hanya mencari makanan ke gunung. Jamur dan rebung kemarin hampir habis." Ucap Karina, memberi penjelasan. "Kali ini masuk lebih dalam untuk menemukan hewan kecil, agar Serena bisa memakan daging, jadi lebih lama untuk kembali." Ucap Karina lagi.
Setelah menerima penjelasan yang cukup, Serena akhirnya melepaskan pelukannya. Ia sangat masuk akal meski usianya masih kecil. "Ibu mendapatkannya?" Tanyanya kemudian.
Karina menganggukkan kepalanya, "Tentu saja, aku bahkan dapat banyak!" Ucap Karina membuat Serena bersemangat. "Ayo, biarkan aku memperlihatkannya padamu." Lanjut Karina.
Kemudian Karina menunjukkan satu persatu hasil yang dibawanya dari gunung. Termasuk Ikan yang berjumlah 6 ekor, yang ada di ember. Setelahnya memperlihatkan 3 anak kelinci pada Serena.
"Masih hidup, maukah Serena mengurusnya?" Tanya Karina seraya tersenyum.
"Mau! Serena mau! Akan menjaganya dengan baik!" Peliknya dengan semangat besar.
"Baiklah, ayo masukkan ke dalam kandang lebih dulu." Ucap Karina seraya berjalan ke arah kandang Ayam yang sudah tidak terpakai tapi masih layak pakai.
Karina membersihkan kandang dan menyimpan beberapa kain tidak terpakai sebagai alas tidur tiga kelinci kecil tersebut. Lalu menyimpan daun-daun sebagai makanan kelinci.
"Selesai, mulai sekarang Serena punya tambahan teman bermain. Senang tidak?" Tanya Karina.
Serena mengangguk dengan binar mata cerah. "Ya! Sangat senang, terimakasih ibu." Ucap Serena seraya mengecup pipi Karina. Membuat Karina terbatuk, merasa terkejut.
Setelah beberapa saat terkejut, Karina akhirnya mengajak Serena kembali membongkar hasil buruannya yang lain. Di bongkarnya satu persatu, dan di simpan di keranjang kecil sesuai jenis hewannya.
Ada 4 keranjang kecil, satu berisi kelinci, satu berisi burung puyuh, satu berisi ayam pegar, satu lagi berisi telur dan sayuran liar yang dipetiknya.
Serena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sampai mulutnya terbuka kecil. Karina menoleh dan tertawa melihat ekspresi Serena.
"Mari ambil dua ayam pegar untuk di rumah. Sisanya akan dijual, kita akan punya uang untuk membeli beras dan tepung nanti!" Ucap Karina.
"Bolehkah aku ikut ke kota, ibu?" Tanya Serena Dengan nada pelan, menatap Karina dengan takut-takut.
"Tentu, mari pergi bersama." Ucap Karina seraya tersenyum. "Sekarang, Serena duduk dan makanlah ciplukan dengan tenang. Aku akan memasak untuk makan siang." Lanjut Karina.
Serena pun mengangguk, dan dia dengan cepat duduk, menunggu Karina menyajikan ciplukan di mangkuk yang sedikit pecah. Seraya makan, Serena terus memerhatikan Karina yang tidak berhenti bergerak.
Di sisi lain, Ganika mengintip semuanya, ia sama tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya. Diam-diam juga meneguk ludah ketika Serena memakan satu persatu ciplukan. Ia ingin, tapi ia sedang marah dan kesal, oke?
Karina juga tahu, jika sedari awal Ganika mengawasinya. Terlihat jelas dari sudut mata Karina. Tapi ia mengabaikan Ganika, enggan membujuk bocah nakal yang hanya tahu marah.
Ia bahkan sengaja melembutkan ucapannya pada Serena, agar Ganika sadar sebetulnya Serena berperilaku baik padanya, dan dirinya mulai luluh dengan tingkah laku baiknya. Tapi sayangnya, Ganika tidak melihat semua yang dilakukan Karina. Ia lebih fokus pada hasil buruan Karina yang sangat banyak.
Beberapa saat kemudian, Karina telah selesai memasak. Karena masih ada jamur di dapur, jadi Karina menambahkan jamur pada sup ayam yang dibuatnya. Untuk rebung, masih bisa bertahan beberapa hari lagi, jadi Karina menyimpannya. Sayuran liar dan ikan juga disimpan untuk makan malam nanti.
Karina memberi satu mangkuk untuk Serena, dan menyimpan mangkuk lainnya untuk dirinya dan Ganika di atas meja. Sebelum ia makan, ia berjalan membawa mangkuk lain ke kamar suami pemilik asli. Berpapasan dengan Ganika, Karina menatapnya beberapa saat. "Temani Serena makan." Ucapnya, kemudian berlalu.
Melihat orang yang terbaring di dipan, Karina lagi-lagi menghela nafas. "Ada apa denganmu? Luka kakimu tidak akan membuatmu mati, bukan? Itu hanya luka sayatan dan tidak ditangani dengan baik saja. Setelah aku mengurusnya dalam 7 hari, lukanya akan mengering dan sembuh." Ucap Karina. Ia masih berdiri di samping dipan.
Terdiam beberapa saat, kemudian ia mendekat dan membuka mulut laki-laki di depannya. Memberinya minum sup ayam. "Cepatlah sadar, anak-anak membutuhkanmu. Aku tidak bisa selamanya mengurus mereka untukmu." Ucap Karina setelah meminumkan sup padanya.
*
"Patuh, diam dan jaga rumah. Aku membawa Serena ke kota untuk menjual hasil buruan. Akan kembali sebelum gelap." Jelas Karina kemudian pergi, tidak berniat menunggu balasan dari Ganika.
Karina membawa keranjang punggung berisi hasil buruan dan 4 ikan segar di wadah yang sama-sama disimpan di keranjang punggungnya.
Sudah siang dan tidak ada gerobak sapi yang bisa membawanya ke kota, jadi ia hanya bisa berjalan selama satu jam untuk sampai ke kota.
Bolak balik, butuh waktu dua jam, ditambah menjual dan belanja, Karina rasa hanya butuh tiga jam setengah untuk dirinya kembali pulang.
Sampai akhirnya keduanya sampai di kota, Karina langsung mencari satu restoran disana dan mendatanginya.
"Kelinci 80 tembaga per ekor, Ayam pegar 70 tembaga per ekor, dan burung puyuh 50 tembaga per ekor. Untuk ikan, karena segar dan gemuk aku hargai 75 tembaga per ekor, bagaimana?" Tanya manajer restoran yang sebelumnya dipanggil oleh salah satu pelayan.
Karina terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyetujuinya. Menurut ingatan pemilik asli tentang harga bahan pokok, harga yang ditetapkan sangat masuk akal.
"Setuju. Kelinci 3 ekor, ayam pegar 2 ekor, burung puyuh 3 ekor, dan ikan 4 ekor. Semuanya 830 tembaga." Ucap Karina membuat manajer restoran tertegun.
"Gadis, betapa cepatnya kau menghitung! Dan jumlahnya... benar, benar, 830 tembaga." Ucap Manajer restoran, seraya menyuruh salah satu pelayan mengambilkan uang untuk membayar hasil buruannya.
Karina menerima uang, dan ia mengangguk puas. "Terimakasih manajer." Ucap Karina. "Kedepannya, jika aku menjual hasil buruan lagi, maukah restoran kalian menerimanya lagi?" Tanya Karina.
"Tentu! tentu! Hasil buruanmu bagus, tidak ada kerusakan besar dan ikannya bahkan segar. Kau bisa membawanya kemari lain kali." Ucap manajer restoran, membuat Karina berterimakasih.
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Aaron
bagus lanjut tor
2024-01-03
2