*
*
"Apa yang kau lihat? Tidakkah kau mau menjawab pertanyaan ku?!" Tanya Deraga akhirnya, merasa kesal sendiri karena tidak kunjung mendapat jawaban.
Bukannya menjawab, Karina malah mengulurkan tangannya ke kepala Deraga, dan menepuknya pelan sebanyak dua kali. "Kau tahu, setiap manusia punya hak untuk menjawab dan tidak menjawab, kan? Sekarang, aku memilih tidak menjawab." Balas Karina seraya tersenyum, hingga matanya menyipit.
Deraga terdiam mendapat balasan seperti itu, tapi setelah beberap saat, Deraga berdecak sebal. Dan Karina yang tersenyum sudah menghilang dari hadapannya, tergantikan oleh punggungnya.
Karina memunggungi Deraga, untuk mengambil alas tidur, selimut, dan senjata. Setelahnya ia kembali berbalik, menatap Deraga dan menghela nafas. "Tidurlah, sudah larut." Ucap Karina sedikit lembut, tidak lagi menggunakan desisan sinisnya pada Deraga.
Sebenarnya merasa lelah berpura-pura menjadi orang lain. Tapi, jika tidak begitu, bukankah ia akan cepat ketahuan? Ya, meskipun banyak perbedaan yang masih terlihat, tapi setidaknya tidak langsung ketahuan.
"Ambil ini." Ucap Karina lagi, seraya memasukkan belati yang disarungi ke tangan Deraga. Kemudian ia benar-benar pergi, memasuki kamar untuk tidur. Sudah sangat larut, ia lelah, dan ingin segera meluruskan punggungnya.
Meninggalkan Deraga sendirian. Dengan pikiran berkecamuk, yang semakin membuat dirinya merasa jika Karina sangat aneh. Tapi perlahan, ia menyembunyikannya, perlahan membentuk asumsinya sendiri, jika Karina ini bukanlah ibu tirinya di masa lalu.
Ia tidak tahu siapa dia, tapi Deraga jelas mengetahui jika Karina adalah orang yang sama sekali berbeda.
"Begitu misterius!" Decak Deraga sebal, kemudian berbalik setelah melihat Karina menghilang ke dalam kamarnya. Kembali ke kamar ayahnya untuk istirahat. Karena selain Karina, Deraga juga banyak kegiatan hari ini yang membuatnya lelah.
Begitu memasuki kamar, terlihat Ganika yang sudah tertidur memeluk lengan ayahnya. Deraga tersenyum kecil, tetapi kemudian ia juga naik ke atas dipan dan tidur di sisi lain ayahnya. Menjadikan ayahnya bantalan yang berada di tengah.
"Ayah, aku sudah memastikannya. Dia, orang lain dan bukan ibu tiri." Bisik Deraga tepat di telinga ayahnya. Setelah berbisik, kemudian ia memejamkan kedua matanya dan mulai tertidur.
Di sisi lain, Ganika yang berpura-pura tertidur, membuka kedua matanya. Posisinya tidak lagi menyamping, tetapi telentang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Mendengar bisikan Deraga, ia jelas tidak banyak bereaksi, karena sebelumnya ia juga menguping semua pembicaraan antara Deraga dan ibu tirinya. Seolah sudah menebak apa yang terjadi.
Ganika berumur 5 tahun, tapi karena situasi dan kondisi, ia sudah mengerti banyak hal. Termasuk perbedaan sikap ibu tirinya. Mendengar perdebatan Deraga sebelumnya, ia mampu menebak-nebak. Sampai Deraga menyatakan asumsinya, dan Ganika menjadi yakin.
Meski begitu, Ganika akhirnya tersenyum kecil. Merasa senang, karena ibu tirinya yang dulu telah berganti. Meski tampilannya sama, tetapi sifat dan perilakunya benar-benar berbeda. Membuat Ganika merasa lebih nyaman berada di sampingnya.
Ia bahkan sudah mulai ingin mengikuti perilaku Serena yang bersikap manja pada Karina. Tetapi, jika dipikir-pikir ia lelaki, jadi sedikit malu jika berbuat demikian. Alhasil, ia hanya bisa berperilaku baik di depannya beberapa waktu ke depan. Agar ibu tirinya merasa nyaman padanya, dan lebih terbuka seperti halnya dia pada Serena.
Begitu, pikirannya ditutup dengan pemikiran manjanya. Kemudian benar-benar terlelap setelahnya.
*
Keesokan paginya, semuanya bangun pagi-pagi sekali, tapi tidak dengan Karina. Ia masih terlelap, padahal Serena sudah menghilang dari atas dipan.
Deraga bahkan pergi ke dapur, memasak bubur dan telur rebus untuk sarapan. Ia tidak membangunkan Serena dan lebih berani bertindak di dapur.
Sampai akhirnya matahari mulai menunjukkan diri, Karina mulai membuka matanya perlahan. Tangannya menyentuh dipan di samping, kosong, Serena sudah bangun lebih dulu. Tapi ia sendiri tidak langsung beranjak, hanya menatap ke arah jendela yang terdapat sinar matahari.
"Blue, apa kau sedang mengalami kesulitan? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau masih belum datang?" Bisik Karina pada dirinya sendiri. Kemudian menghela nafas.
Sudah 3 hari, dan Blue masih belum menunjukkan dirinya sendiri. Banyak pertanyaan yang harus dipertanyakan, juga banyak hal yang masih menunggu untuk diselesaikan. Tapi Karina hanya bisa diam, dan menunggu sang penjaga dunia muncul untuk melakukan semuanya.
"Misi menungguku, bukan? Aku ingin cepat kembali, Blue... cepatlah datang." Bisik Karina lagi sebelum akhirnya beranjak dan keluar dari kamar.
Karina pikir, meski dirinya mau bermalas-malasan hari ini, tetapi ketiga anak dan suami pemilik asli menunggu untuk di urus, jadi ia masih harus bangun dan menyiapkan semuanya.
Tapi siapa sangka, begitu ia memasuki dapur semuanya telah selesai. Deraga dan Ganika bersama-sama memasak bubur dan telur rebus. Yah, meski sarapan sederhana, tetapi ia cukup puas, karena dua anak ini mandiri membuat sarapan tanpa diminta.
Matanya melirik pada Deraga yang sedang memasak obat. Kemudian pada Ganika yang menata telur rebus di mangkuk, akan dibawa ke ruang tengah untuk sarapan bersama.
Tersenyum kecil, dan pergi lagi, enggan mengganggu keduanya. Jadi, ia pelan-pelan memasuki halaman belakang dan pergi ke kamar mandi gubuk di sana.
Sebelum ke kamar mandi, terlihatlah Serena yang sedang jongkok, memberi makan anak rusa dan dua kelinci yang dibawanya tempo hari. Membuat Karina menganggukkan kepalanya puas sebelum benar-benar memasuki kamar mandi.
Di kamar mandi, Karina banyak berpikir. Ia bisa melakukan beberapa olahraga bermanfaat seperti panahan, ia tiba-tiba memiliki ide, untuk mengajarkan ketiga anak keahlian tersebut.
Tapi sebelum itu, Karina masih harus melatih dasarnya dulu. Mulai besok, Karina akan menyuruh ketiga anak mulai berolahraga di pagi hari. Berlari mengitari rumah juga sudah bagus. Selain panahan, ia juga bisa mengajarkan keahlian karate pada ketiga anak.
Meski berbeda dengan seni bela diri disini, tapi ia masih bisa membuat anak-anak melindungi dirinya sendiri dengan karate ini. Jadi, begitu waktunya tiba, ia pergi untuk misi, anak-anaknya sudah mandiri dan bisa hidup berdampingan sendiri.
Karina menganggukkan kepalanya, menyelesaikan kegiatan di kamar mandi, dan kembali ke dapur. Tapi semuanya telah selesai diangkut ke ruang tengah. Jadi ia masuk ke ruang tengah dan 3 anak sudah menunggunya di meja dengan masing-masing senyum terlihat.
Karina merasa heran, terutama Deraga dan Ganika. Tersenyum, menunggunya? Sedikit aneh, tapi yasudah lah. Ia berjalan maju dan mengelus kepala Serena begitu sampai.
"Kalian memasak? Boleh juga." Ucap Karina seraya menganggukkan kepalanya dengan ekspresi puas.
"Makanlah, ibu. Juga, ekhem, terimakasih atas baju barunya." Ucap Ganika berinisiatif membalas perkataan Karina pertama kali.
Kemudian Karina sadar, ketiganya sama-sama memakai baju baru yang dibelinya kemarin. Ia tersenyum puas melihat ketiganya. "Terlihat sangat baik." Puji Karina setelahnya.
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments