*
*
Untuk sementara, Karina akan menggantungkan hidupnya pada berburu dan memancing. Meski lelah, Karina cukup menyukainya, selama tidak bertemu dengan binatang buas, sebab panah kayunya tidak akan bisa membunuh binatang jenis itu.
Selain itu, Karina belum menemukan ide apapun untuk menghasilkan uang. Lebih tepatnya, masih belum memikirkannya, sebab ia masih fokus pada peningkatan makanan dan barang-barang yang ada di rumah yang sudah harus diganti.
Terutama baju semua orang. Sudah tidak layak pakai. Tambalan setiap baju juga memenuhi baju itu sendiri. Ditambah, ia masih harus membeli herbal untuk Suami pemilik asli. Dan membawanya pergi memeriksakan ke dokter di kota.
"Buatkan aku satu juga." Ucap Deraga disela heningnya situasi di sungai di gunung. "Alat ini." Lanjut Deraga seraya menunjuk pancingan yang dipegang oleh Karina.
Karina tidak menjawab, "Bantu aku menjaganya, aku mau memetik selada air." Ucap Karina seraya menyimpan pancingan di atas kayu, sebagai penyangga agar pancingan tidak bergerak kemana-mana.
"Hmp!" Dengus Deraga sinis. Merasa kesal, karena selain ucapannya sebelumnya tidak dijawab, ia juga malah disuruh menjaga pancingan.
Tapi Karina tidak peduli, ia beranjak dan sedikit menjauh dari tempat memancing agar ikan di sekitar tidak pergi ketakutan ketika ia memetik selada air.
Karina mulai memetik. Dan Deraga mulai memerhatikan gerak-gerik Karina dengan tajam. Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang sama seperti Ganika. Ketika ia pertama kali melihat sifat dan sikap anehnya.
Sampai akhirnya alat pancing bergerak, dan membuat gemericik kecil di air, Deraga langsung mengalihkan perhatiannya pada pancingan. Kemudian ia mengangkatnya dengan stabil, mampu menggunakannya setelah melihat beberapa kali Karina menggunakannya.
Begitu berhasil mengangkat satu ikan berukuran sedang, Deraga tersenyum senang, karena kali ini dirinya sendiri yang menangkapnya.
Selesai memasukkan ikan ke dalam ember, Deraga kemudian memasang umpan lagi, kali ini di tempat berbeda yang agak jauh dari tempat barusan. Sesuai dengan apa yang dilakukan Karina sebelumnya.
3 kali melempar umpan sendiri, 3 kali pula Deraga mendapat ikan. Karina sendiri sudah selesai sejak lama, ia menyandarkan tubuhnya pada pohon dan memejamkan kedua matanya.
Setelah beberapa saat, Karina kemudian bangun, dan mulai beranjak dari tempatnya. "Ayo kembali." Ucapnya seraya mengambil barang-barangnya. Dan memakai kembali keranjang di punggungnya setelah mengecek jika rusa yang diburunya masih hidup.
"Cepatlah, sudah terlambat, kedua adikmu tidak akan makan siang hari ini, kau tega?" Ucap Karina setelah berdecak, karena Deraga bergerak lambat.
Karina tahu, Deraga enggan kembali, tapi Karina tidak bisa membiarkannya terus menerus disini sampai larut. Ia masih harus memasak makanan, memasak obat, dan menjual hasil buruannya. Lalu membeli banyak barang untuk rumah, termasuk senjata. Ia butuh busur dan panahan yang nyata, bukan sekedar kayu. Berjaga-jaga karena hari ini ia bertemu rusa, di masa depan bisa saja ia bertemu dengan binatang buas.
Ia butuh alat untuk perlindungan diri. Apalagi Deraga, ke depannya mungkin akan terus mengikutinya meski Karina enggan membawanya. Tapi lain waktu, Karina akan pergi lebih awal untuk mengelabui Deraga.
"Ibu!" Pekik Serena seraya melompat-lompat dengan senang. Suasananya berbeda kali ini, tidak ada kesedihan seperti kemarin.
Karina yang melihatnya hanya menghela nafas, kemudian mengedikkan bahunya. Malas senyum, tapi ketika melihat raut Serena, pada akhirnya ia menunjukkan senyum kecil dengan tangan terulur mengusap kepalanya.
"Adik! Lihat apa yang kubawa?" Ucap Deraga membuat perhatian Serena beralih padanya.
"Wow! Apa itu?!" Tanya Serena memekik senang, melompat dan berlari pada Deraga.
Deraga memeluk anak rusa, sedangkan sisanya Karina yang membawanya. Karina tidak tega jika membiarkan Deraga membawa ember berisi ikan dan air. Terlebih, ikan kali ini lebih banyak dari yang kemarin. Jadi, biarlah dirinya yang lelah, meski Karina tahu Deraga mampu membawanya, sebab kekuatan Deraga sama dengan kekuatan orang dewasa meski ia tidak bisa bela diri.
"Anak rusa! Kami menemukannya ketika berburu." Ucap Deraga seraya menurunkan anak rusa yang dipeluknya. "Dimana kakak Ganika?" Tanya Deraga seraya melihat ke dalam dimana pintu terbuka.
"Disini!" Ucap Ganika tiba-tiba keluar dari pintu dan bergabung dengan keduanya di halaman belakang.
Karina sendiri sudah memasuki dapur dan menata semua barang yang dibawanya. Memilah dan menyatukan buruan dengan jenisnya yang sama. Sedangkan induk rusa disimpan di atas meja, terkulai lemah karena terluka.
"Kakak, kau pergi tanpa pamit! Kami mencari mu kemana-mana pagi ini!" Omel Ganika yang terdengar sangat jelas di telinga Karina.
"Lupa memberitahumu." Balas Deraga seraya mengedikkan bahunya merasa tak bersalah. "Ngomong-ngomong bubur dan obat di mangkuk sudah diberikan pada Ayah?" Tanya Deraga pada Ganika.
"Bubur dan obat, semunya sudah diberikan. Kami juga sudah makan. Kau pergi pagi-pagi sekali, sarapan tidak?" Tanya Ganika setelah mendengus kesal karena mendengar jawaban acuh tak acuh Deraga.
Karina akhirnya berdecak. Ia ingat sekarang, Deraga pasti tidak sarapan tadi, karena begitu bangun ia mengejar dirinya. Tapi ia melihat Deraga memakan 2 butir telur selama di gunung, jadi ja tidak terlalu memperhatikannya setelahnya.
"Aku makan 2 telur pagi ini, lebih dari cukup." Balas Deraga yang membuat Karina menghela nafas.
Lebih dari cukup, sebab Karina tahu dari ingatan pemilik asli, ketiga anak ini sudah biasa tidak makan selama satu atau dua hari. Hanya bertahan dengan minum air mentah untuk melepas dahaga.
Sekalinya Deraga mendapat makanan, sudah pasti akan dirampas oleh pemilik asli. Ia memakan semuanya tanpa berbagi, enggan memberikan sebagian ada ketiga anak tersebut. Dengan egois memakannya sendiri, memikirkan dirinya sendiri.
"Bantu aku mencuci beras, siapapun!" Pekik Karina dari dalam dapur. Membuat Deraga hendak beranjak dan membiarkan Ganika serta Serena bermain dengan anak rusa di halaman belakang.
Tapi Ganika menghentikannya. "Kakak, aku saja. Kau istirahatlah, temani Serena disini." Ucap Ganika, kemudian berlari masuk dengan cepat. Tanpa menunggu balasan dari Deraga.
Karina melihat, Ganika lah yang datang. Lalu ia menunjuk beras di wadah yang membuat Ganika langsung mengambilnya tanpa bicara.
Seraya menunggu Ganika, Karina mulai menyiapkan bahan untuk memasak lauknya. Ikan, ayam pegar, serta satu hidangan sayur.
Kemudian ketika Ganika selesai, dan menunggu nasi matang, Karina menyisihkan bahan yang siap dimasaknya, dan mulai beralih pada tepung. Menguleni adonan untuk membuat roti kukus.
Sebagai bekal di jalan menuju kota nanti. Selain itu, jika dirinya terlambat kembali, maka anak-anak bisa memakan roti kukus sebagai makan malam.
"Bantu aku!" Teriak Karina, yang membuat ketiga anak kini langsung menghadapnya. Deraga sedikit lambat karena harus mengikat anak rusa agar tidak kabur.
"Bawa ke meja makan. Setelahnya cuci tangan kalian baru makan." Ucap Karina. Mengembangkan kebiasaan baru untuk ketiga anak, yang langsung mengangguk patuh.
Serena membawa mangkuk dan Sumpit, sedangkan dua lainnya membantu Karina membawakan beberapa hidangan yang baru saja matang. Dirinya membawa nasi. Kemudian kembali lagi menyiapkan bubur dan obat untuk Ayah ketiga anak.
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments