Persiapan berburu

*

*

Setelah melihat semuanya telah terjemur, Karina menatapnya dengan puas.

Masih banyak waktu sebelum makan siang, dan Karina bingung mau melakukan apalagi agar dirinya tidak berdiam diri dan kebosanan.

Kemudian ia berjalan ke arah dapur. Mengambil Murbei dan Ciplukan. Membasuh Murbei dan menyimpannya di mangkuk, begitupun dengan Ciplukan, mengupas cangkang dan menyimpannya di mangkuk yang berbeda. Yang satu berwarna ungu dan yang satu berwarna kuning. Dua buah liar yang berbeda, tapi Karina cukup menyukainya karena pemilik asli sendiri jarang memakan buah. Bahkan tidak pernah?

Karina membawa dua mangkuk ke depan, dan menyimpannya di meja di ruang tengah. Memanggil Serena dan Ganika, kemudian memakannya bersama. Meski canggung dan kaku, Karina mengabaikan Ganika yang terus menatapnya dengan tatapan aneh. Ia mengurus Serena dan bahkan memberinya Ciplukan dengan inisiatif.

"Enak?" Tanya Karina pada Serena.

"Um! Sangat enak." Balas Serena menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Apa ini, ibu?" Tanya Serena membuat Karina terbatuk kecil. Karina dipanggil ibu dan bukan ibu tiri, apa artinya ini?

"Ciplukan, buah liar, tumbuh tidak jauh dari tanah." Balas Karina. "Aku akan membawamu memetiknya lain kali." Lanjut Karina.

"Ya!" Balas Serena Dengan semangat, antusias karena ini pertama kalinya ia diajak oleh ibu tirinya.

Ganika lagi-lagi tertegun, apa artinya ini?

"Sudah hampir waktunya makan siang, aku akan memanaskan makanan." Ucap Karina, mengabaikan tatapan aneh dan tanya Ganika.

*

Setelah menyelesaikan makan siang di bawah tatapan kedua anak yang bertanya dan menatapnya aneh, juga memberi minum air sup lagi pada suami pemilik asli, Karina akhirnya bisa bernafas lega.

Karena ketika makan ia merasa diintimidasi, itu membuatnya canggung.

Kini, Karina berada di halaman, dengan pisau besar dan kayu. Karina hendak membuat seperangkat alat panah. Kemarin ia melihat burung tapi tidak bisa menangkapnya karena tidak membawa alat atau jebakan apapun.

Sekarang, ia akan membuat senjata untuk sekedar berburu burung puyuh dan ayam pegar. Anak-anak terlihat sangat kurus, mereka membutuhkan nutrisi. Membeli makanan yang baik, ia tidak punya uang, jadi mari manfaatkan kekayaan gunung saja untuk menambah nutrisi semua orang. Selain itu, jika mendapat banyak, masih bisa dijual dan mendapat uang untuk membeli beras dan tepung. Serta bahan dapur lainnya.

Memahat dengan alat seadanya, Karina cukup kesulitan. Meski ia berpengalaman membuat busur dan panah, tapi alat yang dipakainya dulu sangat lengkap, jenis kayu dan tali yang dipakai juga bagus.

Saat ini, hanya ada kayu oak dan tali rami. Karina mau tidak mau hanya bisa membuat panah dan busur seadanya. Yang ia selesaikan dalam waktu yang cukup lama. Sekitar 4 jam tanpa beranjak.

Tanpa pembakaran dan dibuat seadanya. Ujung panah juga tidak akan dapat membunuh hewan lebih besar seperti rusa apalagi hewan buas.

Tapi Karina cukup puas, dengan ini saja, ia masih bisa memburu burung dan ayam pegar. Selain itu, jika beruntung ia juga dapat memburu kelinci.

Karina beranjak, berdiri dan meregangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal karena terus duduk. Melihat hari, sudah hampir gelap, jadi ia dengan cepat memasukkan busur dan panahan ke dalam, setelahnya ia mengangkat jemuran dan langsung melipatnya. Tanpa memedulikan dua tatapan mata yang sedari awal terus menerus menatapnya, mengawasinya.

Setelahnya, ia kembali ke dapur, menatap makanan yang ada di sana, ia menghela nafas. 3 kali makan makanan yang sama, ia merasa jika besok makan makanan yang sama lagi, maka dirinya akan memuntahkannya.

Tapi, tidak ada pilihan lain. Jadi mau tidak mau, Karina kembali mamakannya meski enggan. Berbeda dengan dua anak yang terlihat lahap-lahap saja dengan makanannya. Mungkin karena sebelumnya keduanya kekurangan makanan. Hati Karina merasa sakit mengingat semuanya. Pemilik asli benar-benar kejam bahkan pada anak-anak yang tidak tahu apa-apa.

Selain berburu, sepertinya besok dirinya harus memetik beberapa sayuran liar digunung. Menurut ingatan pemilik asli, ada sungai di gunung, dan ada selada air disana. Karina akan memetiknya agar makanan besok lebih bervariasi. Juga, memancing ikan jika beruntung. Ikan di sungai di gunung banyak, tapi semuanya lincah, warga desa hanya satu dua orang yang bisa menangkapnya, itupun menghabiskan waktu. Sepertinya Karina juga harus menyiapkan pancingan sederhana untuk besok.

"Bukankah kalian bilang Deraga akan kembali siang ini? Kenapa sampai sekarang masih belum datang?" Tanya Karina merasa heran. Wajah datarnya dibuat sedikit kesal agar dua anak merasa takut dengan sengaja. Sesekali menyuapkan sesendok sup ke mulutnya.

"B-biasanya hanya butuh dua hari. Kalau tidak, bisa sampai 3 atau 4 hari." Jawab Ganika dengan gugup.

Karina menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menyelesaikan makannya, begitu pula Serena dan Ganika. Setelah memberi makan suami pemilik asli, ia berjalan keluar dengan mangkuk di tangan.

Menatap dua anak di depannya, Karina mendengus. "Serena ikut aku." Ucap Karina setelah menyimpan mangkuk di dapur. "Hanya Mandi." Lanjutnya agar Ganika tidak berpikir macam-macam.

"Cepatlah, adik, ikuti ibu tiri." Bisik Ganika yang dengan jelas masih terdengar oleh Karina.

Setelah selesai mandi dan memandikan Serena, Karina merasa lebih segar setelah bekerja seharian.

"Ganika, giliranmu. Pergi mandi dan tidur dengan ayahmu. Serena tidur denganku malam ini dan seterusnya." Jelas Karina tanpa melihat wajah Ganika yang kembali tertegun. Banyak kejutan hari ini, ia belum mampu mencerna semuanya di pikirannya.

Melihat Ganika terdiam, Karina mendengus. "Serena perempuan, sudah waktunya tidur terpisah." Ucap Karina membuat Ganika akhirnya menjawab ya, karena perkataan Karina masuk akal. "Kalau begitu, kunci pintu setelah mandi." Lanjutnya.

Keduanya berlalu, meninggalkan Ganika yang berjalan menuju tempat mandi. Karina berbaring di dipan, ada kasur dan seprai, tapi sangat tipis. Karina masih bisa merasakan kekerasan dipannya.

"Tidurlah." Bisik Karina pada Serena. Serena sendiri seharian tidak tidur, jadi begitu berbaring, ia mendekatkan diri pada Karina, mencari kehangatan dan jatuh tertidur.

Seorang anak dalam pelukan, Karina benar-benar tidak terbiasa dengan ini. Ia tidak bisa tidur sampai dini hari ia baru bisa terlelap. Selain karena merasa sangat asing, ia juga gelisah karena Blue tidak kunjung muncul. Karina ditinggalkan sendiri, dan menjadi takut diam-diam.

Kalau bukan karena dirinya mempunyai beberapa kebiasaan, pengetahuan dan keahlian di dunia aslinya. Ia benar-benar tidak tahu akan menjalani kehidupan di dunia ini seperti apa ke depannya. Terlebih, orang yang membawa dirinya masuk menghilang begitu saja. Karina tidak tahu apa-apa tentang dunia baru dan tubuh baru yang dimasukinya. Hanya ada ingatan pemilik asli yang bahkan banyak tidak tahunya. Pemilik asli tidak berpengetahuan luas.

"Blue... cepatlah datang." Gumam Karina sebelum ia benar-benar terlelap.

*

*

Episodes
1 Prolog
2 Lari dari Penjara
3 Ibu Tiri?!
4 Naik Gunung
5 Mengurus Suami
6 Persiapan berburu
7 Prasangka Ganika
8 Menjual hasil buruan
9 Bertemu Deraga
10 Kecurigaan Deraga
11 Deraga ikut Berburu
12 Semangat Serena
13 Omelan Deraga
14 Belanja Besar
15 Deraga Tertekan
16 Ibu tiri berubah
17 Meminta Jawaban
18 Pemikiran Ganika
19 Bekerja Bersama
20 Bertemu Harimau
21 Sedikit Kebenaran
22 Bertanggung Jawab
23 Mulai Saling Menerima
24 Permintaan Manajer Restoran
25 Kaya
26 Bola-bola Daging
27 Menagih Ucapan Karina
28 Sate Kelinci
29 Berlatih panah
30 Naik gunung bersama
31 Tenggelam
32 Bersikap Lembut
33 Susu Kambing
34 Membeli tanah
35 Beruang dan Cabai
36 Memasak untuk Pekerja
37 Menjual Beruang
38 Menyewa Kedai
39 Daftar Sekolah
40 Membereskan Kedai
41 Kunai
42 Keanehan
43 Keanehan (2)
44 Kami Setuju
45 Menasehati tiga anak
46 Menerima Berkah
47 Sangat Beruntung
48 Membuka Kedai
49 Sangat Ramai
50 Belanja Bahan
51 Penghasilan Pertama
52 Berbagi Dividen
53 Merekrut Pegawai
54 Peringatan Evaluasi
55 Kedai di Hari kedua
56 Sangat Ramai (2)
57 Beli kendaraan baru
58 Ibu Luar Biasa
59 Penghasilan Kedai dihari Kedua
60 Take away ala-ala
61 Pertimbangan pegawai baru
62 Jari Ayah Bergerak
63 Menikmati Hidup
64 Ke kota dengan tiga anak
65 Membeli Baju
66 Jalan-jalan Bersama
67 Bersalah dan Berbaikan
68 Kehebohan Warga Desa
69 Gelombang Kejut
70 Pangeran Pertama
71 Ujian telah Selesai
72 Hubungan dengan Kunai
73 Memulai Perjamuan
74 Rencana Deraga yang Gagal
75 Pengumuman Ujian
76 Karina tak sadarkan Diri
77 Deraga sudah Dewasa?
78 Penjelasan
79 Permintaan Sulit
80 Ulah Danuka
81 Pertengkaran Kecil
82 Launching, Souffle Pancake
83 Yang Mulia
84 Godaan ala Danuka
85 Pintu No 2
86 Mencoba Pakaian
87 Pertemuan Rahasia
88 Perhatian Kecil
89 Pembuat Onar
90 Diserang
91 Tepat Waktu
92 Blue Muncul
93 Mempekerjakan Danuka
94 Misi Baru
95 Aku sudah tahu
96 Kegelisahan Deraga
97 Latihan Bersama
98 Mempersiapkan
99 Timur dan Kerajaan 9
100 Melawan Perampok
101 Kamp Pengungsi
102 Ayo Makan Bersama
103 Membagikan Bubur
104 Menemukan Prajurit
105 Menyelesaikan Semuanya
106 Penyelamatan
107 Penghianat?
108 Mencari Danuka
109 Menyelinap Masuk
110 Apakah Ibu Akan Tetap Bersama Kita?
111 Menjatuhkan Jenderal Cu
112 Kembali ke Kerajaan 10
113 Pulang ke Rumah
114 Meninggalkan Desa
115 Persiapan
116 Pengepungan
117 Nyonya, jangan Masuk
118 Bertahanlah, Karina
119 Meninggalkan dan Kembali (End)
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Prolog
2
Lari dari Penjara
3
Ibu Tiri?!
4
Naik Gunung
5
Mengurus Suami
6
Persiapan berburu
7
Prasangka Ganika
8
Menjual hasil buruan
9
Bertemu Deraga
10
Kecurigaan Deraga
11
Deraga ikut Berburu
12
Semangat Serena
13
Omelan Deraga
14
Belanja Besar
15
Deraga Tertekan
16
Ibu tiri berubah
17
Meminta Jawaban
18
Pemikiran Ganika
19
Bekerja Bersama
20
Bertemu Harimau
21
Sedikit Kebenaran
22
Bertanggung Jawab
23
Mulai Saling Menerima
24
Permintaan Manajer Restoran
25
Kaya
26
Bola-bola Daging
27
Menagih Ucapan Karina
28
Sate Kelinci
29
Berlatih panah
30
Naik gunung bersama
31
Tenggelam
32
Bersikap Lembut
33
Susu Kambing
34
Membeli tanah
35
Beruang dan Cabai
36
Memasak untuk Pekerja
37
Menjual Beruang
38
Menyewa Kedai
39
Daftar Sekolah
40
Membereskan Kedai
41
Kunai
42
Keanehan
43
Keanehan (2)
44
Kami Setuju
45
Menasehati tiga anak
46
Menerima Berkah
47
Sangat Beruntung
48
Membuka Kedai
49
Sangat Ramai
50
Belanja Bahan
51
Penghasilan Pertama
52
Berbagi Dividen
53
Merekrut Pegawai
54
Peringatan Evaluasi
55
Kedai di Hari kedua
56
Sangat Ramai (2)
57
Beli kendaraan baru
58
Ibu Luar Biasa
59
Penghasilan Kedai dihari Kedua
60
Take away ala-ala
61
Pertimbangan pegawai baru
62
Jari Ayah Bergerak
63
Menikmati Hidup
64
Ke kota dengan tiga anak
65
Membeli Baju
66
Jalan-jalan Bersama
67
Bersalah dan Berbaikan
68
Kehebohan Warga Desa
69
Gelombang Kejut
70
Pangeran Pertama
71
Ujian telah Selesai
72
Hubungan dengan Kunai
73
Memulai Perjamuan
74
Rencana Deraga yang Gagal
75
Pengumuman Ujian
76
Karina tak sadarkan Diri
77
Deraga sudah Dewasa?
78
Penjelasan
79
Permintaan Sulit
80
Ulah Danuka
81
Pertengkaran Kecil
82
Launching, Souffle Pancake
83
Yang Mulia
84
Godaan ala Danuka
85
Pintu No 2
86
Mencoba Pakaian
87
Pertemuan Rahasia
88
Perhatian Kecil
89
Pembuat Onar
90
Diserang
91
Tepat Waktu
92
Blue Muncul
93
Mempekerjakan Danuka
94
Misi Baru
95
Aku sudah tahu
96
Kegelisahan Deraga
97
Latihan Bersama
98
Mempersiapkan
99
Timur dan Kerajaan 9
100
Melawan Perampok
101
Kamp Pengungsi
102
Ayo Makan Bersama
103
Membagikan Bubur
104
Menemukan Prajurit
105
Menyelesaikan Semuanya
106
Penyelamatan
107
Penghianat?
108
Mencari Danuka
109
Menyelinap Masuk
110
Apakah Ibu Akan Tetap Bersama Kita?
111
Menjatuhkan Jenderal Cu
112
Kembali ke Kerajaan 10
113
Pulang ke Rumah
114
Meninggalkan Desa
115
Persiapan
116
Pengepungan
117
Nyonya, jangan Masuk
118
Bertahanlah, Karina
119
Meninggalkan dan Kembali (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!