*
*
Karina pada akhirnya menggendong Serena yang terlihat kelelahan setelah berjalan lama. Meski dalam perjalanan ia digendong oleh Karina, tetapi begitu memasuki kota, Serena turun dan berjalan sendirian dengan tangan yang bertaut dengan Karina.
Cuaca panas, ini juga tengah hari, Serena tidak mengeluh dan dengan bijaksana diam memperhatikan apa yang dilakukan Karina. Tapi karena Karina tidak tahan melihat wajah lesunya, Karina pun menggendongnya.
Karina berjalan menuju toko kelontong, bersiap belanja bahan pokok yang dibutuhkan di rumah. Terutama dapurnya yang saat ini sangat kosong. Bahkan garam sudah habis dipakainya siang ini.
Berkat ingatan pemilik aslinya, Karina sampai dalam waktu 10 menit. Ia masuk dan langsung menghampiri penjaga toko. "Harganya apa masih sama?" Tanya Karina.
"Ada beberapa yang sama, ada beberapa yang naik. Nona, sebut apa yang kau butuhkan dan aku akan menyebut harganya setelahnya." Jelas penjaga toko.
"Beras, tepung, tepung kanji, telur ayam, bumbu dapur lengkap, juga beberapa sayur ini. Aku pilih kubis, kentang, lobak, dan ubi jalar." Ucap Karina menyebutkan satu persatu apa yang hendak dibelinya.
"Nona, Beras masih 25 tembaga per kg, tepung dan tepung kanji 15 tembaga per kg, telur ayam 2 tembaga per butir, bumbu dapur 10 tembaga per 1/2kg. Untuk gula dan garam 15 tembaga 1/2kg, minyak 20 tembaga 1/2kg lebih mahal dari yang lain. Sayur yang kau pilih semuanya berharga 4 tembaga per kg. Berapa yang kau butuhkan?" Tanya penjaga toko seraya tersenyum ramah. Tahu jika Karina hendak membeli banyak dari pertanyaannya saja.
"Beri aku 5kg beras, tepung dan tepung kanji masing-masing 5kg, bumbu dapur semuanya 1/2kg, untuk gula, garam, dan minyak beri masing-masing 1kg, telur beri aku 20 butir, dan sayuran masing-masing 1/2kg, serta ubi jalar 1 kg saja." Ucap Karina tanpa menatap penjaga toko, karena kedua matanya memindai yang ada di dalam toko tersebut, takut-takut ada yang masih dibutuhkannya.
Penjaga toko tidak langsung menjawab, tetapi kedua tangannya dengan cepat menggeser sempoa yang ada ditangannya. Menghitung semua harga dari barang yang Karina beli. "Semuanya 475 tembaga, nona. Kau bisa menghitungnya lagi untuk memastikan hitunganku benar." Jelas Penjaga toko seraya tersenyum.
Karina diam-diam telah menghitung semuanya meski sedari tadi ia tidak diam. Dan hitungan penjaga toko telah sesuai dengan yang dihitungnya. "Sudah sesuai, tambah paprika dan jeruk manis ini 1kg." Balas Karina.
"Jeruk manis 15 tembaga per kg, Paprika lebih murah 5 tembaga. Tapi karena nona membeli banyak, maka cukup bayar tambahan 15 tembaga saja. Jadi nona bisa membayar 490 tembaga saja untuk semuanya." Jelas penjaga toko, membuat Karina tersenyum senang.
Kemudian Karina membayar semuanya, setelahnya ia dibantu penjaga toko memasukkan semua belanjaannya ke dalam keranjang satu persatu, di akhiri oleh telur yang disimpan paling atas.
Setelahnya, meski berat, Karina tetap berjalan dengan tegak, hanya saja Serena tidak lagi di gendong olehnya.
Sebelum pulang, Karina mampir ke toko obat di kota untuk membeli herbal. Mengobati luka sayatan suami pemilik aslinya. Agar lebih cepat mengering dan berkeropeng, lalu ganti kulit baru. Untuk koma nya, Karina tidak tahu menahu, berpikir menunggu Blue datang untuk memeriksanya.
Menghabiskan 100 tembaga untuk obat yang membuat hati Karina sedikit sakit. Tidak di dunia ini, tidak di dunia asli, harga obat memang benar-benar mahal.
Sepanjang jalan kembali banyak kios kecil di sisi kiri dan kanan. Kemudian matanya tak sengaja menatap permen, melirik Serena, akhirnya ia tergerak membelikannya untuk Serena. 1/2 kg permen berharga 20 tembaga. Betapa mahalnya. Tapi ketika melihat senyum senang Serena, ia merasa itu sepadan.
"Bajingan kecil ini! Masih tidak mengaku?!"
Teriakan nyaring seorang wanita membuat Karina menghentikan langkah kakinya. Tiba-tiba ia merasa tertarik dan ingin melihat. Tetapi Serena terlalu lelah, jadi ia hendak pergi dan lebih memilih tidak melihat kesenangan tersebut.
"Ibu, itu kakak Deraga! Ayo pergi, ayo pergi, bantu kakak!" Pekik Serena dengan suara nyaring khas anak kecil. Serena bahkan menarik tangannya dan menunjuk ke arah dimana orang-orang berkumpul. Tepat di keseruan yang Karina sebut sebelumnya.
Karina mengerutkan keningnya. "Ayo pergi dan lihat." Ajak Karina akhirnya. Menuntun Serena untuk mendekat dengan keranjang punggung yang terasa lebih berat.
"Keluarkan! Keluarkan barang yang kau curi! Dasar bajingan!" Teriaknya lagi, semakin nyaring dengan raut memerah emosi.
"A-aku tidak mencuri apapun!" Pekik Deraga akhirnya menjawab.
"Masih berani menyangkal?! Kau benar-benar bajingan!" Teriak wanita itu lagi dengan tangan terangkat, hendak menampar Deraga.
Karina yang baru sampai, langsung maju dan menahan tangan yang hendak menampar Deraga. Deraga yang menutup kedua mata, yang tidak kunjung merasakan sakit, akhirnya membuka mata, dan tertegun di tempat ketika melihat Karina di depannya.
"Siapa kau, berani sekali ikut campur urusanku?!" Teriaknya lagi.
"Aku ibunya, apa yang kau lakukan dengan menampar anak kecil seperti ini?!" Tanya Karina dengan raut datar dan dingin.
"Dia mencuri roti kukus dari kios ku! Kau ibunya? Bagus! Kalian bekerja sama untuk memerasku, bukan?!" Teriaknya semakin marah.
"Berapa harganya, aku akan membayarnya!" Ucap Karina.
"Dia mencuri 3 roti! Beri aku 9 tembaga!" Pekiknya.
"Aku tidak mencurinya! Kau bahkan tidak bertanya padaku apakah aku benar-benar mencurinya atau tidak?" Ucap Deraga marah.
"Diam." Desis Karina, seraya mengeluarkan 9 tembaga dan pergi membawa Serena meninggalkan kerumunan yang sudah mulai membubarkan diri.
Deraga semakin marah, tapi ia tetap mengikuti Karina dari belakang, karena Serena ada ditangannya.
"Kau membuang uang! Aku bahkan tidak mencurinya!" Desis Deraga.
"Lalu yang di tas mu itu, apa?" Tanya Karina, berbalik dan menatap Deraga dengan datar.
Deraga mengerutkan bibirnya, secara tidak sadar meremas kecil tas nya, dan merasa malu. Jadi sejak awal dia sudah ketahuan.
"Ikuti aku pulang." Titah Karina, mengabaikan reaksi Deraga setelahnya. Tidak peduli bahkan jika Deraga tidak setuju.
"Kakak Deraga, ayo ikut pulang, aku dan kakak Ganika merindukanmu." Bujuk Serena, ia diam sejak tadi, dan langsung membujuk begitu melihat wajah tidak senang Deraga. Tangannya terulur dan menggoyangkan tangan Deraga, menatapnya dengan wajah memelas yang terlihat imut.
Deraga menatap Serena, dengan sedih ia langsung menganggukkan kepalanya. Lagipula sudah beberapa hari ia tidak pulang dan mengecek kondisi semua orang.
Lalu, orang di depannya, bagaimana situasi dan kondisinya, mari tanyakan pada Ganika. Ibu tirinya terlihat sangat aneh. Juga, ia punya uang dan rela membaginya untuk menolong dirinya. Padahal di masa lalu, ia pernah meminta uang untuk membeli obat tapi malah dipukuli.
Deraga menatap punggung Karina dengan perasaan rumit.
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Ana_Exo
Sistem nya Kemana? Blue dimana?
2024-03-20
0