Rania hamil ?

Di pagi hari, Bi Arum menghembuskan nafas besar kala melihat makanan diatas meja dalam keadaan masih utuh tak tersentuh barang secuil pun. Padahal, Bi Arum sudah menyiapkan nya pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke pasar. Bi Arum sengaja, takut sang majikan bangun sebelum dirinya sampai di rumah.

"Apa Non Rania dan tuan Dave belum bangun ya? padahal sudah jam sembilan," gumam bi Arum, sorot matanya mengarah ke lantai atas.

Melihat jam yang sudah semakin siang dan nasi goreng yang kian dingin, terbesit dipikiran Bi Arum untuk membangunkan kedua majikan nya itu.

Kini, Bi Arum sudah berada di depan pintu kamar Rania yang masih tertutup rapat. Berulang kali tangan nya naik turun, hendak mengetuk pintu tapi tidak jadi-jadi. Bi Arum seketika bingung. Di satu sisi, bi Arum takut mengganggu kedua pengantin baru itu. Tapi disisi lain, sebentar lagi siang dan putri majikannya itu sudah melewatkan waktu sarapannya. Bi Arum khawatir, karena Rania memiliki riwayat penyakit magh.

Eeem...eem

Uchh...Sshhhh

Sontak Bi Arum bergerak mundur. Terkejut, tiba-tiba mendengar suara de sa han keenakan sepasang suami istri ketika bercinta di atas ranjang. Bi Arum seketika saja berpikir ke ranah sana. Meskipun usianya sudah tua, jika menyangkut urusan begituan, Bi Arum sudah lebih banyak pengalaman. Apalagi majikannya itu pengantin baru yang lagi hangat-hangatnya. Jadi wajar saja kalau mereka bertempur sampai siang hari.

"Hampir saja," gumam Bi Arum, lalu beranjak pergi sambil tersenyum geleng-geleng kepala.

Sementara didalam kamar, Rania menahan perutnya yang terasa mual dan berulang kali muntah-muntah.

"Aku kenapa?" Rania bertanya pada dirinya sendiri. Menyeka air keringat yang terus saja mengucur dari wajahnya. Tak hanya wajahnya, sekujur tubuhnya pun berkeringat hingga menyebabkan piyama yang Rania pakai menjadi basah.

Entah mengapa kondisi tubuhnya tiba-tiba jadi begini, Rania sendiri tak mengerti. Padahal tadi pagi-pagi sekali, Rania merasa tubuhnya baik-baik saja.

Siang hari, Bi Arum melihat ke atas meja makan yang lagi-lagi dalam keadaan masih utuh. Setengah jam lalu, Bi Arum menyuguhkan menu makan siang di meja itu sebelum ditinggal menguras kolam renang. Dan ternyata setelah kembali, makanan itu belum juga disentuh oleh majikannya.

"Ya ampun Non Rania, Non Rania. Di jeda dulu atuh. Di isi dulu perutnya biar tenaganya makin kuat baru lanjut lagi sepuluh ronde." Bi Arum menggerutu sambil berjalan ke arah kamar Rania. Untuk kali ini, Bi Arum tidak akan membiarkan Rania dan suaminya melewatkan makan siang mereka. Bi Arum khawatir jika dibiarkan magh Rania akan kambuh.

Baru saja Bi Arum mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu, pintu itu lebih dulu terbuka. Dibuka oleh Rania yang masih dalam keadaan memakai piyama, rambut aut-autan tak karuan serta wajah yang pucat pasi. Bi Arum menatap bengong pada Rania.

"Kebetulan banget ada Bibi. Aku boleh minta tolong tidak?"Tanya Rania dengan suara pelan mendayu.

Pertanyaan Rania menyadarkan Bi Arum dari kediamannya, lantas Bi Arum pun balik bertanya," mau minta tolong apa ya, non?"

"Perutku mual terus, Bi. Tolong belikan rujak yang waktu itu bibi beli, ya!"

"Rujak!" Kening Bi Arum mengkerut hingga nampak beberapa lipatan di kulit tuanya. Rania mengangguk-angguk kan kepalanya.

Meskipun Bi Arum masih agak bingung, tapi bi Arum secepatnya menjalankan perintah Rania. Menunggu penjual rujak yang biasa menjajakan dagangan nya di area komplek perumahan elit itu.

Saat Bi Arum sedang menunggu tukang rujak di depan pintu gerbang rumah Hamid, sebuah mobil mewah melintas dan hendak memasuki gerbang. Akan tetapi, pada saat pintu gerbang sudah di buka oleh seorang satpam, mobil itu tidak langsung masuk melainkan diam ditempat.

"Bi Arum, sedang apa disitu? Amira menyembulkan wajahnya dari kaca mobil yang telah dibukanya.

"Bu Amira," Bathin Bi Arum.

Sadar akan sang majikan sedang bertanya padanya, Bi Arum pun menjawab," saya sedang menunggu pedagang rujak, Bu."

Amira manggut-manggut mengerti." Tolong belinya dua ya! saya mau. Nanti uangnya saya ganti."

Bi Arum mengangguk. Dan mobil yang dikemudikan oleh Hamid langsung masuk ke dalam rumahnya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pedagang yang di tunggu Bi Arum pun datang. Bi Arum langsung memesan dua porsi rujak untuk ibu dan anak majikannya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ibunya doyan rujak, anak nya pun sama doyan nya.

Hamid menyimpan mobilnya di garasi mobil. Akan tetapi saat Hamid hendak beranjak, Hamid merasa ada yang aneh di garasi mobilnya itu. Hamid menghitung jumlah mobil kesayangan nya, dan ternyata jumlahnya berkurang satu.

"Siapa yang memakai mobil ku?" Bathin Hamid. Pikirannya langsung mengarah pada Rania, karena jika Dave rasanya tidak mungkin. Toh, Dave itu seorang pengusaha mobil mana mungkin memakai mobil-mobilnya yang tak seberapa itu.

"Ini Bu rujaknya." Bi Arum menyodorkan sekotak rujak pada Amira saat mereka berpapasan.

"Aha, terima kasih, Bi." Amira dengan mata berbinar menerima rujak itu. Perjalanan yang cukup memakan waktu lama membuat Amira lumayan pusing. Dan Amira pikir kalau memakan rujak pasti otaknya segar kembali.

"Yang itu untuk siapa, Bi?" Amira menanyakan rujak satunya yang masih ditenteng Bi Arum.

"Oh, yang ini untuk Non Rania, Bu."

"Rania!" ucap Amira, menatap Bi Arum bengong.

Bi Arum mengangguk anggukan kepalanya.

"Kata Non Rania tadi, dia muntah-muntah dan sekarang minta dibelikan rujak.

Amira terdiam dan langsung berpikir ke arah ' apa Rania sedang hamil?'

"Jadi, Rania ada di kamarnya, Bi?" Tanya Hamid.

"Ada, Pak."

"Suaminya?"

"Ada juga, pak."

Hamid mengusap wajahnya. Padahal baru saja Hamid akan menyambangi Rania untuk menanyakan mobilnya. Tapi mendengar ada Dave, niat Hamid jadi diurungkan.

Rania menatap rujak ulek itu dengan mata berbinar serta mulutnya meliur. Rujak yang baru saja Bi Arum berikan. Rasanya tidak sabar ingin segera menyantapnya. Sejak pagi, perut Rania mual terus dan siapa tahu rujak ini bisa mengurangi rasa mualnya yang entah kenapa.

Amira dan Hamid terpaksa menyambangi kamar Rania karena Rania yang tak turun-turun ke lantai dasar.

Setelah mengetuk pintu berulang kali, akhirnya pintu itu terbuka. Amira sempat terkejut melihat penampilan Rania yang semeraut.

"Ran..."

Hueeekkk

Rania menutup hidungnya." Mama sama papa bau banget."

Hueekkkk

Lalu Rania menutup pintunya dengan kasar dan berlari ke arah kamar mandi.

Perbuatan Rania spontan membuat kedua orang tuanya saling mengendus badan mereka satu sama lain.

"Bau gimana sih, wangi gini di bilang bau," kata Amira.

"Tau tuh anak mu aneh."

"Iya, Rania memang aneh hari ini. Seperti ciri-ciri mama saat lagi hamil Rania dulu."

"Maksud mama Rania hamil?"

"Kemungkinan besar, pa. Mual, muntah, makan rujak, terus ngatain kita bau. Bukan nya itu ciri-ciri wanita hamil? Kan mama juga dulu begitu."

"Hamil, Rania hamil? Jadi ini alasan Rania yang terus mencari keberadaan Kevin? karena dia hamil anak....."

Rasanya sulit untuk melanjutkan praduganya. Tak bisa terbayangkan jika hal itu beneran terjadi. Tanpa hamid dan Amira sadari, Dave yang awalnya hendak memasuki kamar Rania, mendengar obrolan mertuanya yang cukup mengiris hatinya.

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

apa bener Rania hamil anak Kevin... kasihan Dave terluka lg seperti tersayat sembilu...

2023-12-30

1

Yani

Yani

Kan jadi cucu anak Dave

2023-12-29

1

Diah Elmawati

Diah Elmawati

Sepwrtinya Rania lagi bermasalah perutnya bukan karena hamil tetapi sering terlambat makan sehingga asam lambung naik dan menyebabkan mual-mual.

2023-12-24

1

lihat semua
Episodes
1 Pengantin Pengganti
2 Saling Diam
3 Panggil papa dan mama
4 Dicafe
5 Kartu kredit diblokir
6 Desakan teman-teman
7 Minta Nafkah
8 Karoke
9 Sandiwara
10 Terpesona
11 Diamnya Dave
12 Perasaan aneh
13 Perasaan aneh 2
14 Nasib mobil Rania
15 Kegundahan hati Rania
16 Marahnya Dave
17 Wanita bernama lidya
18 Nabrak pohon
19 Foto Kevin
20 Rania hamil ?
21 Seblak
22 Aroma seblak
23 Ego dan Perasaan Rania
24 Mengejar Kevin
25 Pria gi la
26 Sosok misterius
27 Gara-gara kecupan
28 Akting Rania
29 Kerak telor
30 Kepergian Dave
31 Rania sakit
32 Mengunjugi rumah Dave
33 Obat perangsang
34 Godaan Rania
35 Di atas king size
36 Setelah di atas king size
37 Daster
38 Menggoda Dave
39 Album foto
40 Album foto 2
41 Daster robek
42 Switer
43 Pembelaan Dave
44 Ingin perhatian
45 Bertemu Agatha
46 Membuntuti Dave
47 Apartemen Lidya
48 Salting
49 Perubahan sikap Rania
50 Perubahan sikap Rania 2
51 Chatan
52 Chatan 2
53 Menghadiri undangan Wilona
54 Pengakuan Dave
55 Masuk rumah sakit
56 Kepergok suster
57 Burak Ozcivit
58 Pulang
59 Gagal Unboxing
60 Pembalut
61 Hutan belantara
62 Kabar kematian Risa
63 Soto Lamongan
64 Mengunjungi kampung Risa
65 Rumah orang tua Risa
66 Bertemu keluarga Risa
67 Babi hutan
68 Penginapan
69 Sarung
70 Tetangga meresahkan
71 Kedatangan Danu
72 Cemburu
73 Perhiasan
74 Bertemu Kevin
75 Atas Awan
76 Bintang-bintang
77 ID Dave
78 Jones
79 Mencetak baby
80 Pesan Dave
81 Mengunjungi kantor Dave
82 Di atas sofa
83 Cabe-cabean
84 Kedatangan Hamid dan Amira
85 Amanah mertua
86 Di tolong Kevin
87 Honeymoon
88 Honeymoon 2
89 Insecure
90 Penampilan baru Dave
91 Dara Junior
92 Mengunjugi rumah Agatha
93 Mengejar Agatha
94 Mengunjungi rumah Jack
95 Kematian Kevin
96 Pemakaman Kevin
97 Kabar bahagia
98 Jack mengunjungi rumah Agatha
99 Agatha sakit
100 Kejutan Rania
101 Wilona positif HIV
102 Obrolan dua pria
103 Pernikahan Agatha
104 Peristiwa tak terduga
105 Rania diculik
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Pengantin Pengganti
2
Saling Diam
3
Panggil papa dan mama
4
Dicafe
5
Kartu kredit diblokir
6
Desakan teman-teman
7
Minta Nafkah
8
Karoke
9
Sandiwara
10
Terpesona
11
Diamnya Dave
12
Perasaan aneh
13
Perasaan aneh 2
14
Nasib mobil Rania
15
Kegundahan hati Rania
16
Marahnya Dave
17
Wanita bernama lidya
18
Nabrak pohon
19
Foto Kevin
20
Rania hamil ?
21
Seblak
22
Aroma seblak
23
Ego dan Perasaan Rania
24
Mengejar Kevin
25
Pria gi la
26
Sosok misterius
27
Gara-gara kecupan
28
Akting Rania
29
Kerak telor
30
Kepergian Dave
31
Rania sakit
32
Mengunjugi rumah Dave
33
Obat perangsang
34
Godaan Rania
35
Di atas king size
36
Setelah di atas king size
37
Daster
38
Menggoda Dave
39
Album foto
40
Album foto 2
41
Daster robek
42
Switer
43
Pembelaan Dave
44
Ingin perhatian
45
Bertemu Agatha
46
Membuntuti Dave
47
Apartemen Lidya
48
Salting
49
Perubahan sikap Rania
50
Perubahan sikap Rania 2
51
Chatan
52
Chatan 2
53
Menghadiri undangan Wilona
54
Pengakuan Dave
55
Masuk rumah sakit
56
Kepergok suster
57
Burak Ozcivit
58
Pulang
59
Gagal Unboxing
60
Pembalut
61
Hutan belantara
62
Kabar kematian Risa
63
Soto Lamongan
64
Mengunjungi kampung Risa
65
Rumah orang tua Risa
66
Bertemu keluarga Risa
67
Babi hutan
68
Penginapan
69
Sarung
70
Tetangga meresahkan
71
Kedatangan Danu
72
Cemburu
73
Perhiasan
74
Bertemu Kevin
75
Atas Awan
76
Bintang-bintang
77
ID Dave
78
Jones
79
Mencetak baby
80
Pesan Dave
81
Mengunjungi kantor Dave
82
Di atas sofa
83
Cabe-cabean
84
Kedatangan Hamid dan Amira
85
Amanah mertua
86
Di tolong Kevin
87
Honeymoon
88
Honeymoon 2
89
Insecure
90
Penampilan baru Dave
91
Dara Junior
92
Mengunjugi rumah Agatha
93
Mengejar Agatha
94
Mengunjungi rumah Jack
95
Kematian Kevin
96
Pemakaman Kevin
97
Kabar bahagia
98
Jack mengunjungi rumah Agatha
99
Agatha sakit
100
Kejutan Rania
101
Wilona positif HIV
102
Obrolan dua pria
103
Pernikahan Agatha
104
Peristiwa tak terduga
105
Rania diculik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!