Kali ini, Rania keluar rumah tanpa harus mengendap-endap. Amira dan Hamid telah mengijinkan Rania dengan syarat "tidak boleh lama-lama" dan syaratnya itu tentu saja di sanggupi oleh Rania, karena niat Rania keluar rumah pun hanya untuk mengambil mobilnya di tempat karaoke dan tak ada rencana lain.
Sebenarnya di rumah ada empat mobil koleksian orang tua Rania. Tapi Rania lebih memilih memesan taksi saja dari pada memakai mobil-mobil itu. Meskipun Hamid berulang kali menawarinya, Rania kekeh tidak mau. Bukan tanpa alasan Rania menolaknya. Siapa tahu sang papa mengontrol pergerakan nya melalui alat pelacak di mobil-mobilnya yang Rania tidak ketahui.
Taksi yang Rania tumpangi pun membawanya ke tempat karoke dimana mobil Rania ditahan. Tiba di sana, tempat itu nampak masih sepi karena jam masih menunjukan pukul sembilan pagi.
Sorot mata Rania diarahkan ke tempat parkir. Dan disaat itu pula kening Rania mengkerut." Lho, kok mobilku tidak ada di sana!" bathin Rania. Setelah tidak melihat keberadaan mobilnya diparkiran dan dengan perasaan mulai cemas, Rania buru-buru masuk ke gedung tempat karoke tersebut.
"Maaf kak, tempat ini belum dibuka. Kakak boleh menunggunya diluar." Kedatangan Rania yang baru saja membuka pintu langsung disambut oleh salah satu staf karaoke. Rania tahu tempat karoke ini belum beroperasi. Biasanya mulai beroperasi jam sepuluh pagi. Tapi Rania tidak peduli. Karena kedatangan nya kali ini untuk mengambil mobilnya bukan untuk berkaraoke.
"Aku ingin bertemu dengan, pak Reno." Rania langsung to the point. Agar staf itu tak lagi mengusirnya secara tak langsung.
"Pak manager!" ucap staf yang berjenis kelamin perempuan itu. Rania pun mengangguk.
"Pak Reno belum datang, kak."
"Biasanya jam berapa dia datang?"
"Tidak tau pasti. Pak Reno biasanya datang nya sesuka hati. Atau bisa saja hari ini beliau tidak datang."
Mendengar kalimat ucapan yang entah benar atau tidak, Rania hanya diam termangu menatap wanita itu.
"Kalau saya boleh tau, ada urusan apa dengan pak Reno? nanti akan saya sampaikan kalau beliau datang. Kalau kakak menunggunya sendiri belum tentu orangnya datang kan!"
"Aku mau menebus mobilku yang ditahan dua hari yang lalu disini."
"Mobil yang ditahan!"
Rania mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Oh, jadi kakak ini yang.....ah ya, maaf. Saya baru ingat. Em, tapi mobilnya tidak ditahan disini, kak."
"Dimana?"
"Pak Reno membawa pulang mobil kakak."
"Apa!" Bola mata Rania membesar seketika. Kok bisa si pria kurus itu membawa keluar mobilnya tanpa seijin pemiliknya? meskipun mobil itu sebagai jaminan, hal itu tidak lah dibenarkan. Rania menggertak giginya dengan geram.
Karena informasi kedatangan Reno yang masih abu-abu, terpaksa Rania meminta alamat rumahnya saja. Rania berniat untuk menyambangi pria itu ke rumahnya. Awalnya, staf itu merasa keberatan memberitahu alamatnya. Tapi berkat Rania mengancamnya akan melaporkan ke polisi karena ini sudah masuk ke ranah hukum, akhirnya staf itu pun memberitahu.
Rania terpaksa menyewa taksi kembali. Dalam hatinya, Rania menyesali tolakan nya terhadap tawaran hamid padanya. Tahu begini, Rania tidak akan menolak ketika sang papa menawari pinjaman mobil.
Taksi itu membawa Rania ke sebuah perumahan komplek sederhana. Selama menyusuri jalanan komplek, Rania memasang matanya dengan jeli, agar nomer rumah yang tertera di alamat tak terlewatkan.
"Nah itu, berhenti pak." Rania menyetop taksi didepan rumah minimalis sederhana berpagar setengah orang dewasa.
"Tolong tunggu ya, pak." Setelah berkata dan disetujui oleh sang sopir, Rania pun langsung turun.
Di depan pintu gerbang yang hanya sebatas dadanya, Rania memperhatikan halaman berukuran kecil yang dalam keadaan kosong. Jangankan mobil, sepeda pun tidak ada di sana.
"Kok, mobil ku juga tidak ada disini!" ucap Rania dengan lirih. Perasaan Rania semakin was-was saja.
Melihat tidak ada mobilnya di rumah itu, Rania dengan tidak sabar berseru sambil menggebrak-gebrak pintu gerbang memanggil si pemilik rumah agar keluar.
Brak
Brak
"Permisi, permisi!"
Berulang kali Rania lakukan itu, namun hasilnya nihil. Bukan pemilik rumah yang keluar, malah tetangga samping rumahnya yang nongol. Ya, perbuatan Rania jelas saja mengganggu para tetangga di sekitar. Tak hanya satu tetangga, namun ada beberapa tetangga yang menyembulkan kepala menonton aksinya.
"Neng, cari siapa?" Tanya seorang wanita yang sedang berdiri dibalik pintu pagar rumahnya tepat di samping rumah Reno.
Rania langsung menoleh ke arah wanita itu." Wah, kebetulan sekali," bathin Rania.
"Apa benar ini rumahnya pak Reno?" Tanya Rania tanpa basa basi.
"Benar, neng. Tapi orangnya sedang di rumah sakit."
"Rumah sakit! siapa yang sakit?"
"Pak Reno sendiri. Tadi malam beliau kecelakaan tabrakan sama Dum truck."
Rania terdiam dan termangu dengan mata membesar serta mulut yang terbuka mendengar keterangan wanita itu. Rania langsung berpikir ke arah mobilnya bukan ke arah Reno nya. Karena yang Rania khawatirkan adalah mobilnya, bukan orang yang sudah dengan lancang membawa mobilnya.
"Tidak mungkin, tidak mungkin. Itu pasti bukan mobilku," ucap bathin Rania sambil geleng-geleng kepala, menyangkal kemungkinan buruk yang belum pasti terjadi dan tidak boleh terjadi.
Dengan perasaan yang semakin cemas, Rania mendatangi rumah sakit yang sebelumnya sudah diberitahu oleh wanita baya tadi. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya Rania mendapat informasi bahwa pasien yang bernama Reno korban kecelakaan tadi malam sedang dalam keadaan kritis diruang ICU. Mendengar itu, semakin hancur saja hati Rania, karena tidak ada yang bisa Rania tanyakan kemana mobilnya.
Ketika Rania sedang kebingungan di depan ruang ICU, seorang polisi yang menangani kasus kecelakaan Reno menghampirinya. Polisi itu pun bertanya dan Rania menjawab setiap pertanyaan polisi itu kepadanya. Sekalian Rania pun menceritakan mobilnya yang dibawa oleh Reno.
Deg
Jantung Rania berdetak tak karuan saat polisi menceritakan ciri-ciri mobil yang dikemudikan oleh Reno sebelum kecelakaan.
"Apa bapak bisa menunjukkan dimana mobil itu?" Dengan berat Rania meminta polisi itu untuk mengantarnya kesana. Dan polisi itu pun menyanggupinya.
Satu tetes.
Dua tetes.
Hingga tiga tetes airmata Rania berjatuhan melihat mobil kesayangannya dalam keadaan remuk seremuk perasaannya.
"Apa ini yang di namakan karma karena aku sudah membohongi papa sama mama?" Ucap Rania, lalu tangisnya meledak.
Sore hari.
"Non Rania, Non Rania..!"
Bi Arum tergopoh gopoh memanggil majikannya yang sedang berjalan 3L ( lemah, letih, lesu ) ke arah tangga.
Rania pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh kebelakang. Jangankan untuk memutar lehernya, untuk mengedipkan matanya saja rasanya sulit, saking 3L nya.
"Non, bibi cuma mau ngasih tau. Anu, itu kata bapak sama ibu, katanya mereka malam ini nginap di rumah Eyang. Pulangnya besok."
Keterangan bi Arum seolah memberikan daya lima Watt untuk tubuhnya. Tubuh Rania seketika berdiri tegak, mata melotot, lalu bibir tersenyum. Ya, meskipun daya ini hanya sesaat, setidaknya lumayan lah sebelum Rania menghadapi caci makian sang papa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
itu namanya istri yg derhaka pd suaminya dan anak yg derhaka kpd ortunya.... Mobil Rania bener2 rosak dan remuk akibat kecelakaan dan kini berada dibengkel... dasar suka berbohong... maka karma itu pasti ada ya Rania...
2023-12-29
1
Yani
Betul bangwt itu karma terlalu banyak ngebohongin mmh papa kamu
2023-12-29
1
Yunita Faiz
lanjut Thor makin seru dan penasaran nie???
2023-12-17
1