Rania sibuk menumpuk beberapa bantal ditengah ranjang tidur sebagai batas pemisah antara dirinya dan suaminya, Dave. Biasanya Dave masa bodoh apapun yang istri kecilnya itu lakukan. Tapi untuk kali ini tidak. Dave protes ketika Rania hanya memberikan secuil bagian untuknya." Sekecil itu mana muat buat tubuh saya, Rania!" Tanpa terlihat oleh Dave, Rania memutar bola matanya dengan sebal serta bibir yang bergerak-gerak.
"Di muat-muat kan saja, Om. Kalau perlu kecilkan dulu badannya biar muat," ketus Rania tanpa melihat ke arah Dave.
Mendengar itu, Dave tak lagi protes melainkan hanya menghela nafas panjang. Semenjak menikahi Rania, Dave lebih meningkatkan extra sabarnya menghadapi sikap Rania yang kekanak-kanakan. Setiap hari ada saja drama yang Rania ciptakan. Entah itu ketika mau tidur, mau mandi atau pun mau makan. Dan Dave harus benar-benar bersabar.
Rania memejamkan matanya di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Tapi tidak untuk telinganya yang masih terjaga. Di ruangan itu sama sekali tidak terdengar suara pergerakan. Bahkan ranjang tidur pun tidak bergoyang. Kemana laki-laki tua itu? Penasaran, Rania membuka sedikit selimutnya di area mata, mengintip apa yang sedang dilakukan suaminya. Tapi ternyata, pria itu sudah tak nampak lagi di kamarnya. Kening Rania mengkerut. Kemana perginya suaminya? Apa dia ngambek lalu pulang ke rumahnya? Ah, masa bodoh. Justru itu lebih baik. Jika tidak ada suaminya, Rania bebas berekspresi dan tidak perlu repot menutup kepala nya dengan selimut.
Tring
Tring
Mendengar suara weker yang berbunyi cukup nyaring, Rania menggeliat tapi tubuhnya terasa berat. Rania berusaha membuka matanya yang lengket agar dapat melihat beban apa yang sedang menimpa tubuhnya. Setelah terbuka, bola mata Rania membelalak." Aaaaakkkk." Tak hanya berteriak, Rania juga menghempas kasar sebuah tangan kekar dari perutnya. Akan tetapi, pemilik tangan itu tidak merasa terusik malah mengubah posisi tidurnya membelakangi Rania.
Rania pikir, semalam Dave merajuk lalu pulang ke rumahnya. Tapi ternyata, Dave malah tidur di bagian tempat tidur Rania yang semestinya tidak boleh dijangkau olehnya. Pembatas yang Rania buat semalam pun malah menjadi bantalan kepala, kaki serta perut Dave. Rania sangat kesal melihat pria tua itu tidur dengan nyenyak dan telah melanggar aturan.
Saat Rania menahan rasa kesal, tiba-tiba teringat jika dirinya belum memeriksa tubuhnya. Takut pria itu menyentuhnya saat sedang tidur. Rania menghempas selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, lalu mulai memeriksa dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tak selang lama, Rania menghela nafas lega, sebab tidak ada satupun yang cacat. Bahkan, piyamanya saja masih utuh menempel di badannya.
Rania terpaksa menerima pernikahan nya.Tapi bukan berarti, Rania menerima Dave sebagai suaminya. Bahkan, Rania membuat perjanjian dengan Dave di atas materai. Salah satunya, Dave tidak boleh menyentuhnya meskipun tidur satu kamar. Yah, sudah seminggu Rania tidur satu kamar dengan Dave, tapi selama itu pula mereka belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri.
Rania tidak sudi di sentuh oleh Dave. Selain beralasan Dave sudah tua, Rania juga tidak mencintainya. Cinta nya hanya untuk Kevin seorang, yang hingga saat ini masih diharapkan sosoknya. Diam-diam Rania sedang mencari keberadaan Kevin menyewa seorang detektif.
Kenapa pernikahan yang tidak ada cinta ini bisa terjadi? Seminggu sebelum hari pernikahan yang naas, Rania kepergok tengah berduaan di kamarnya dengan seorang pria yang sama sekali tidak disukai oleh Hamid dalam keadaan setengah terbuka. Hamid shock. Begitu pula dengan Amira, istrinya. Rania pun dicaci maki oleh Hamid. Begitu pula dengan kekasih Rania yang habis babak belur di hantam Hamid.
"Kalau begitu, papa nikahkan saja kami."
Dinikahkan? Oh, jadi ini rencana Rania. Agar Hamid menikahkan nya, putrinya itu rela berbuat asusila agar dinikahkan dengan kekasihnya yang selama ini dihalang-halangi hubungannya.
Meskipun shock dan sangat marah, Hamid tidak punya pilihan lain selain terpaksa menuruti kemauan Rania. Bagaimana jika dia kekeh tidak menikahkannya lalu Rania hamil? bukan kah itu akan menjadi semakin aib saja bagi keluarganya nanti?
Menjelang hari pernikahan yang semestinya menikah, apa yang terjadi ? Rania seolah membuang kotoran ke muka Hamid. Mempermalukan Hamid sedemikian rupa. Saat Dave berulang kali meminta maaf atas kelakuan putranya, timbul ide di otak Hamid untuk menikahkan Dave dengan Rania. Toh, Dave nampak tidak terlalu tua. Masih pantas-pantas saja menjadi menantu dadakannya.
Awalnya, Dave menolak keras permintaan Hamid. Dia sangat keberatan. Bagaimana mungkin dia yang sudah tua menikahi gadis kecil yang mestinya menjadi menantunya. Tapi, karena Hamid mengancam Dave akan menyebar luas scandal putranya, dan sebagai pengusaha mobil yang butuh kepercayaan dari client atau masyarakat luas, tentu Dave tak ingin hal itu terjadi. Rumor scandal beredar luas lalu menyudutkan Dave dan akan berdampak pada perusahaan yang dia bangun dari nol.
"Mana suami mu, Ran?" Tanya Amira saat melihat Rania datang. Rania tidak menjawab pertanyaan Amira melainkan menarik kursi lalu duduk dengan wajah cemberut. Lalu dengan malas, Rania menyendok nasi goreng buatan bibi Arum.
Melihat sikap Rania yang acuh, Amira hanya menghela nafas panjang. Setelah sehari pernikahan nya, Rania berubah sikap secara total. Biasanya Rania akan bermanja-manja pada Amira. Tapi sudah seminggu ini tidak. Jangankan bermanja-manja, bicara saja hanya seperlunya.
Hamid menyoroti Rania tanpa berkata, biarkan saja Rania seperti itu. Mau sampai kapan? terserah. Hamid pun sama, dia bersikap cuek pada Rania.
Melihat sikap ayah dan anak yang saling diam -diaman, membuat Amira ingin menyalakan musik DJ biar rame. Di meja makan itu ada tiga orang, tapi sepi seperti kuburan. Masih mending kuburan, terkadang ada suara hewan seperti burung, jangkrik, kodok. Bahkan kalau malam ada suara cekikikan kuntilanak. Nah di meja makan ini, jangankan suara manusia, suara dentingan sendok yang biasanya ikut meramaikan pun tak terdengar lagi. Rania makan pelan-pelan. Menyendok nasi gorengnya juga tak sampai menyentuh piring. Sementara Hamid, menyeruput kopinya tanpa suara.
"Selamat pagi, pak Hamid, Bu Amira." Di tengah keheningan, Dave menyapa dengan penampilan yang sudah sangat Rapih. Tak lupa pula berikut jas ala CEO di film-film menempel di badannya yang tegap. Amira memberikan senyuman pada pria dewasa yang baru seminggu menjadi menantunya. Sementara Hamid hanya mengangguk pelan saja.
Setelah menyapa, Dave menarik kursi lalu duduk di samping Rania yang sedang mengunyah dalam diam. Aroma wangi menguar dari tubuh Dave dan menembus hidung Rania. Pria ini sudah tua, tapi masalah selera parfumnya jago juga. Dia memilih wewangian yang disukai kaula muda terutama wanita muda seperti dirinya. Jujur, Rania menyukai aroma wangi suami tuanya.
"Trek" Rania meletakkan sendok nya dengan kasar. Tiba-tiba mood nya kembali kesal. Padahal baru saja dia memuji Dave dalam hatinya. Tapi ternyata, aroma wangi parfum Dave itu tidak mampu memikat hati Rania yang seperti batu karang. Setelah meletakkan sendok, Rania menggeser kursinya hendak beranjak.
"Duduk."
Amira tersenyum. Setelah sekian lama mogok bicara pada Rania, akhirnya Hamid berbicara meskipun hanya satu kata. Sementara Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jika orang nomer satu di rumah ini sudah berkehendak, Rania bisa apa selain harus manut pada perintahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
RizQiella
Rania Rania😁
2024-06-11
0
rhicantix dewy
hahaha/Facepalm/
2024-01-13
1
Yani
Seru ni
2023-12-29
1